Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Operasi untuk sahabatku sudah dimulai, aku yang menunggu keadaanya merasa kuatir.
Duduk, sesekali berdiri sambil berjalan bolak balik kesana kemari, perasaanku sudah tak karuan.
Gina hanya punya aku saja, keluarganya sudah lama meninggal dunia. Ia seorang anak yatim yang tak mempunyai kekurangan soal materi.
Dokter keluar dari dalam ruangan, dimana lelaki itu menghela napas dengan berkata, " Operasi berjalan baik, hanya saja pasien mengalami koma. "
Deg ….
Menutup mulut yang menganga membuat aku tak percaya, mengira jika penderitaan ini akan berakhir. Namun pada kenyataannya tidak.
"Kok bisa dok. "
Dokter terlihat kelelahan, ia berusaha menjelaskan semuanya padaku. " Sepertinya trauma yang dialami pasien cukup parah, sampai pasien mengalami ketegangan saat mendapatkan suntikan bius dari kami. Hanya saja kami juga belum tahu pasti, pasien akan bertahan lama atau tidak, karena kondisi yang tiba tiba lemah pada pasien Gina. "
Aku benar benar terkejut dengan perkataan dokter, membuat hati dan perasaanku bimbang, bagaimana bisa sahabatku mengalami hal ini. Menangis, menyalahkan diri atas semuanya.
Dokter kini berpamitan padaku," Saya permisi dulu. "
"Baik dok. "
Perlahan berjalan, melihat pada kaca ruangan Gina. Wanita yang menjadi penyelamat dalam hidupku tertidur dalam masa kritisnya.
"Gina, aku tak tahu jika kamu akan mengalami nasib ini, maafkan aku. "
Berusaha tetap tenang, walau sebenarnya perasaan bimbang. " Gina. " Tangan bergetar, sampai satu panggilan datang.
"Dari kantor polisi, ada apa ya. Tumben nelpon. "
Perasaan tak menentu kini bercampur aduk menjadi satu, aku mulai mengangkat panggilan dari kantor polisi.
"Halo, dengan Ibu Kaira?"
"Iya, saya sendiri!"
"Kami ingin mengkonfirmasi tentang tahanan bernama Shireen. Wanita itu terus mengamuk dan melukai banyak tahanan disini!"
Mendengar perkataan sang dokter membuat aku terkejut.
Mendengarkan kembali.
"Kami ingin mengalihkan tahanan bernama Shireen ini masuk ke rumah sakit jiwa untuk diamankan. "
Mendengar perkataan polisi, aku iya iya saja. Tak peduli dengan hal yang lainnya yang terpenting wanita itu mendapatkan ganjaran yang setimpal atas kelakuannya.
"Baik jika anda setuju. " Bernapas lega, aku mulai mengusap pelan dadaku, perasaanku sedikit tenang dan sekarang tinggal fokus pada penyembuhan Gina.
********
Dokter belum juga mengijinkan aku masuk, membuat aku hanya duduk menunggu, sampai dimana.
Sosok lelaki berbadan kekar datang ke.arahku, ia terlihat panik, berlari dan kini berhadapan denganku.
"Ini ruangan pasien bernama Gina kan?"
Aku menganggukkan kepala, menunjuk ke arah ruangan Gina.
Namun dengan sigap aku berusaha menahan lelaki itu agar tidak masuk ke ruangan Gina.
"Suster dan dokter belum mengizinkan kita masuk. "
Mengacak rambut dengan kasar, lelaki itu terlihat gagah, membuat aku bertanya. " Anda siapanya Gina. "
Lelaki itu terlihat jutek, ia memandang wajahku sekilas, " saya kakak Gina. "
Deg ....
Setahu aku Gina itu tidak punya saudara atau keluarga lagi, tapi kenapa lelaki itu mengaku sebagai kakaknya.
"Anda tidak sedang berbohongkan. "
Wajah lelaki itu begitu dekat ke arahku, membuat aku berusaha menghindar.
"Apa kamu melihat jika wajahku ini seperti pembohong?"
Aku menggelengkan kepala, berusaha tetap tenang. Dimana lelaki itu duduk dengan gaya coolnya, aku yang merasa salah tingkah hanya berdiri.
Dimana lelaki itu tiba tiba menarik tanganku, hingga aku duduk di sebelahnya.
Deg ....
Tatapannya begitu dekat, apa yang akan ia lakukan. Jantungku rasanya mau copot, saat tatapan tajamnya tak henti melihat kearahku.