Alena tidak menduga kekasihnya tega mengkhianatinya dan tidur bersama wanita lain di dalam apartemen yang Ia beli sendiri. Hubungan yang terjalin beberapa tahun, kandas dalam sehari.
Apa yang kau harapkan Alena, semua ini sudah terlihat jelas di matamu, aku tak perlu lagi mengatakan apa pun. Karena setiap kata yang keluar dari bibir seseorang yang tak berstatus tak akan ada gunanya- Alandra.
Aku berharap satu penjelasan darimu, meski itu hanya satu kata - Alena.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Reuni
Alena tersenyum paksa sebagai tanggapan untuk ucapan sang calon Ayah mertua, "Papah benar, Alena memang sedikit pemalu," kekeh Jack sembari menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Ah, kalau begitu lain kali aku akan memisahkan meja kalian, agar Alena tidak malu," ujar Edmun.
"Seharusnya tidak begitu Tuan Ed, justru aku ingin Alena bisa berbaur dengan keluarga kalian dengan baik." Jelas Martin.
"Haha, kau benar Tuan Martin, kita sudah seperti keluarga Alena, jadi santai saja," Alena hanya tersenyum sebagai tanggapan, dia sama sekali tidak ingin berpura-pura atau mencari perhatian apa pun dari Edmund, Alena adalah Alena dia akan tetap sama seperti sekarang ini, dia tidak akan mau berubah karena apapun.
"Alena, Papah ingin tanya padamu, kapan kiranya kamu siap untuk menikah? Usia kalian sudah cukup matang untuk membina rumah tangga, kita sama-sama dari keluarga yang berkecukupan, sebenarnya apalagi yang kamu tunggu?" dengan susah payah Alena menelan sisa makanan dalam mulutnya, diam melirik Martin sang Ayah.
"Tuan Ed, saya mengerti apa maksud Anda, tapi seperti yang sebelumnya saya bilang, jawaban Alena pun sama seperti saya. Itu adalah syarat, saat dia menerima pertunangan ini. Aku tidak ingin memaksa putriku untuk secepatnya menikah, kalau memang dia belum siap." jelas Martin.
Jack tampak mengeratkan genggamannya pada garpu dan pisau di tangannya, dari tadi memang dia tak banyak bicara, dia hanya membiarkan Ayahnya yang terus bicara mewakili dirinya.
"Baiklah, jika memang itu keinginan Alena, aku juga tidak dapat memaksa, tapi tolong pikirkan sekali lagi, jujur saja aku dan Ariana sudah ingin menimbang cucu," kekehnya pelan, "kami sudah tidak sabar ingin mendengar suara tangisan anak kecil di rumah kami." ucapnya mengutarakan keinginannya.
"Ya, aku pun sama denganmu tuan Ed, tapi apa daya kita jika anak-anak belum siap kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada mereka, karena merekalah yang akan menjalani pernikahannya, Aku hanya takut jika kita memaksakan kehendak kita pada mereka pernikahan mereka, tidak akan bahagia."
"Kau benar tuan, kalau begitu biarkan saja mereka saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu." dan perbincangan pun berakhir saat makanan mereka telah tandas.
Alena dan Martin dalam perjalanan kembali ke kantor mereka, Alena duduk dengan diam, semenjak tadi dia tak banyak bicara.
"Ada apa nak, apa ucapan tuan Edmund mengganggumu?" tanya Martin.
"Tidak Pah, aku hanya sedang merenung saja," dalih Alena memberi alasan.
"Merenungkan apa?" tanya Martin sedikit penasaran.
"Banyak sekali, tapi aku tidak bisa mengatakannya pada Papah." ujar Alena, sembari mengangkat bahunya ringan.
"Kenapa? Apa Papah tidak bisa menjadi temanmu?"
"Mana bisa Papah jadi temanku, Papah ada-ada saja," kekeh Alena pelan.
Meski hubungan Alena dan Martin cukup dekat, namun tak bisa setiap hal Alena bicarakan secara terbuka pada Ayahnya itu, tetap saja rasanya akan sangat canggung.
"Baiklah, kalau kau tidak ingin bicara dengan Papah, kau bisa bicara pada Stanley."
"Papah yang benar saja, kenapa Stanley?" keluh Alena tak terima, bicara dengan Stanley sama saja dengan dia bicara pada Ayahnya, dia bak mata kedua bagi Ayahnya, dia sudah seperti kamera CCTV yang akan menyoroti langkah Alena kemanapun dia pergi, dan setiap kata yang keluar dari mulut Alena sudah pasti akan sampai ke telinga sang Ayah.
"Karena hanya Stanley lah yang bisa kita percayai. Nak, walaupun banyak orang yang terlihat baik di dekatmu, namun tak semua orang itu bisa dipercaya, jadi jangan bicarakan masalah pribadimu dengan orang sembarangan." Martin mengingatkan.
"Baik Pah, Alena mengerti."
Alena mendapatkan sebuah notifikasi di ponselnya, sebuah notifikasi undangan dari teman-teman SMA-nya.
'Alena, malam ini kita mengadakan acara reuni, kau akan datang kan?' bunyi pesan tersebut.
Alena tak langsung membalas, dia berpikir sejenak menimbang keputusan apa yang bisa diambilnya, "ada apa nak?" tanya Martin saat melihat putrinya termenung.
"Teman SMA-ku mengadakan reuni Pah, dan mereka mengundangku, apa sebaiknya aku tidak datang ya?"
"Kenapa kau tidak ingin datang? Pergilah, dan bersenang-senanglah bersama teman-temanmu, acara seperti ini sangat jarang diadakan, siapa tahu bisa membuat perasaanmu lebih baik." usul sang Ayah.
'*Baiklah Jes, aku akan datang,' balas Alena pada temannya itu.
'Oke, aku tunggu kedatanganmu*.'
Akhirnya Alena memutuskan untuk pergi, walau dia tahu pasti akan ada Alandra disana.
Malam pun tiba, Alena menepikan mobilnya di salah satu Cafe tempat acara diadakan, Alena mengamati sekitar dan memutuskan untuk tetap berada di dalam mobil untuk sementara waktu. Teman-temannya sudah datang satu persatu, namun setelah sekian lama Alena menunggu orang yang dia enggan temui pun ternyata tidak hadir, membuat Alena sedikit lega, dia pun lantas turun.
Saat Alena hendak melangkah menaiki tangga Cafe, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di hadapannya, lampunya menyorot tepat ke wajah Alena, membuat Alena refleks menghalangi mata dengan telapak tangannya karena silau.
Dua orang berbeda gender pun turun, dia adalah Alandra dan Sandra, mereka tampak terkejut saat melihat Alena ada disana.