NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Nasi Goreng

Selama dua hari setelah insiden botol garam, Erlyn menghindari berdiri terlalu dekat dengan rak bumbu.

Itu konyol.

Rak bumbu tidak bersalah. Botol garam juga tidak bersalah. Yang bersalah adalah Chisen yang bisa bergerak tanpa suara, berdiri terlalu dekat, lalu mundur seolah tidak terjadi apa-apa. Yang lebih menyebalkan, Chisen benar-benar bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.

Les tetap berjalan.

Sarapan tetap berjalan.

Di meja makan, ia tetap berkata pendek. Di ruang belajar, ia tetap mengetuk kertas dengan ujung pensil. Di dapur, jika Jing meminta bantuan, ia tetap mengambil piring atau gelas dari rak tinggi tanpa menatap Erlyn.

Erlyn jadi merasa hanya dirinya yang mengingat panas tubuh di belakang punggungnya.

Perasaan itu membuatnya marah.

"Hari ini kamu masak sendiri," kata Jing pada Jumat sore.

Erlyn langsung menatap Mama. "Sendiri?"

"Mama awasi."

"Itu bukan sendiri."

"Kalau benar-benar sendiri, dapur ini mungkin tinggal nama."

Erlyn menekan bibir. Dari meja kecil dekat jendela, Chisen yang sedang minum air mengeluarkan suara sangat pelan. Bukan tawa. Lebih seperti napas yang gagal disembunyikan.

Erlyn menunjuknya dengan spatula. "Koh tidak boleh komentar."

"Aku belum komentar."

"Wajah Koh komentar."

"Wajahku efisien."

Jing tertawa sambil menyiapkan bahan. "Sudah, mulai. Nasi goreng dulu. Kalau berhasil, minggu depan mi goreng."

Erlyn memakai celemek yang sama, kali ini mengikatnya lebih rapi. Bawang sudah diiris Jing, mungkin karena Mama masih menyayangi jari-jarinya. Cabai, telur, udang kecil, nasi dingin, dan kecap manis disusun di dekat kompor.

"Api sedang," kata Jing.

"Iya."

"Minyak jangan terlalu banyak."

"Iya."

"Garam sedikit."

Erlyn membeku.

Dari arah meja, Chisen menunduk ke gelasnya.

Erlyn pura-pura tidak melihat.

Lima menit pertama berjalan baik. Bawang harum. Udang berubah warna. Telur tidak gosong. Erlyn mulai percaya diri, lalu kepercayaan diri itu membuatnya menambahkan kecap terlalu banyak. Warna nasi berubah lebih gelap daripada yang seharusnya.

"Ma..."

Jing mendekat. "Tidak apa-apa. Aduk terus."

"Ini seperti tanah basah."

"Jangan hina makanan sendiri."

Chisen lewat di belakang mereka untuk mengambil air. Erlyn langsung bergeser setengah langkah tanpa sadar. Gerakan itu kecil, tetapi Chisen melihatnya. Tangannya yang memegang gelas berhenti sebentar.

Erlyn menyesal.

Chisen tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengambil air, lalu menjauh ke sisi meja.

Itu lebih buruk daripada kalau ia menggoda.

Saat nasi goreng akhirnya matang, bentuknya tidak seburuk yang Erlyn takutkan. Warnanya memang terlalu gelap, tetapi aromanya wangi. Jing mencicipi, mengangguk penuh dukungan seorang ibu.

"Enak."

"Mama bias."

"Sedikit."

Malam itu, Erlyn membawa piring nasi goreng ke meja makan dengan tegang. Om Changli pulang lebih awal. Chisen duduk di kursinya. Jing sengaja tidak mengatakan siapa yang memasak sampai semua orang mengambil suapan pertama.

Om Changli mengunyah pelan, lalu mengangguk. "Lumayan."

Erlyn menahan napas. "Lumayan berarti bisa dimakan?"

"Berarti kalau restoran menjual ini, belum tentu tutup hari pertama."

"Om!"

Jing tertawa. Chisen diam, makan suapan kedua.

"Koh Chisen dulu pertama kali masak bagaimana?" tanya Erlyn tiba-tiba, lebih karena ingin mencari sekutu daripada benar-benar penasaran.

Om Changli langsung melihat putranya.

Chisen meletakkan sendok. "Tidak relevan."

"Berarti buruk," kata Erlyn.

Jing ikut menatap Om Changli, jelas ingin tahu. Om Changli menahan senyum sebelum menjawab, "Dia pernah mencoba membuat telur mata sapi waktu umur sebelas. Alarm asap berbunyi."

Mata Erlyn membesar. "Serius?"

"Wajan terlalu panas," kata Chisen datar.

"Telurnya?"

"Tidak selamat," jawab Om Changli.

Erlyn tertawa sampai bahunya bergetar. Untuk pertama kalinya, ia bisa membayangkan Chisen kecil berdiri di dapur, wajah tetap dingin sementara asap memenuhi ruangan. Bayangan itu membuat Chisen yang sekarang terasa sedikit lebih manusiawi.

"Lalu setelah itu dia belajar diam-diam," tambah Om Changli. "Tiga bulan kemudian bisa membuat sarapan sendiri."

Erlyn menoleh pada Chisen. "Koh malu gagal?"

"Aku lapar," jawab Chisen.

"Alasan yang sangat mulia."

"Lebih mulia daripada nasi terlalu manis."

Erlyn hampir tersedak.

Jing tertawa.

Erlyn memperhatikannya. "Koh?"

"Apa?"

"Komentar."

"Kamu yakin?"

"Tidak jadi."

"Terlambat."

Ia menaruh sendok, lalu menatap piringnya seperti juri kompetisi yang kejam. "Terlalu manis. Garam kurang rata. Udangnya agak lama dimasak."

Erlyn mengangkat dagu. "Tapi?"

Chisen menatapnya. "Tapi tidak membuat orang sakit perut."

Om Changli tertawa. Jing menggeleng sambil tersenyum. Erlyn ingin kesal, tetapi Chisen kembali makan, dan kali ini ia makan sampai piringnya kosong.

Piring kosong itu lebih menyenangkan daripada pujian.

Setelah makan, Erlyn membawa piring ke dapur. Chisen muncul di belakangnya dengan piringnya sendiri.

"Aku bisa cuci," kata Erlyn.

"Piringku, aku cuci."

"Koh takut keracunan lalu ingin memastikan bukti hilang?"

"Kalau keracunan, bukti utamanya kamu."

Erlyn menyipratkan sedikit air ke arahnya. Chisen mundur selangkah, terlambat untuk menghindar sepenuhnya. Setitik air mengenai lengan kemejanya.

Mereka berdua terdiam.

Lalu Chisen menatap noda air itu dan berkata, "Murid mulai melawan guru."

"Guru terlalu galak."

"Ajari murid, guru mati kelaparan."

Erlyn tertawa sebelum sempat menahan diri. Suaranya memantul kecil di dapur yang sudah sepi.

Chisen mengambil serbet, mengeringkan lengannya, lalu berjalan keluar. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar.

"Besok coba lagi. Kecapnya setengah dari tadi."

Erlyn menatap piring kosong di rak.

"Berarti Koh mau makan lagi?"

Chisen tidak menoleh.

"Kalau tidak gosong."

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!