Blurb :
"Aku rela berkorban demi dirimu, Mas. Bahkan, dengan sukarela memberikan uang gajiku kepadamu. Tapi kenapa, teganya dirimu memberikan semuanya kepada selingkuhanmu!"
Airin benar-benar merasa kecewa atas apa dilakukan oleh Aldi suaminya. Airin merasa di lecehkan dan tidak dihargai.
Hingga Airin berpikir untuk mengakhiri pernikahannya dan berniat untuk balas dendam.
Akankah rencananya berhasil atau ia berubah pikirannya dan menerima Sonia untuk jadi istri kedua suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipihpermatasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Serius?
'Aku harus secepatnya mengerjakan tugasku sebelum waktunya pulang,' guman Airin sambil menatap jam dinding menunjukan pukul 7 malam. Hari ini Airin harus lembur sampai setengah 8 malam.
Lembar demi lembar, wanita itu mengerjakan berkasnya hingga akhirnya, pekerjaan pun kini selesai dia kerjakan.
'Akhirnya, beres juga,' Airin merasa senang.
Karena jam menunjukan pukul setengah delapan kurangan, wanita itu segera membereskan tempat kerjanya karena sebentar lagi waktunya pulang.
"Ayo, kita pulang," ajak Bram pada Airin.
"Lima menit lagi, Pak," ucap Airin.
"Udah enggak apa-apa, ayo, kita pulang," ajak Bram.
"Baiklah."
Wanita itu pun tidak masalah bila harus pulang sekarang. Lagian yang menyuruh dia pulang atasannya.
Mereka pun segera berjalan pergi dari ruangan tersebut.
Bram segera menjalankan mobilnya menuju rumah Airin. Di perjalanan tiba-tiba Bram sudah tidak kuat menahan ingin buang air kecil dan mobil tersebut berhenti di sebuah pom bensin.
"Enggak apa-apakan berhenti dulu disini?" tanya Bram.
"Engga apa-apa, kok. Lagian kalo habis bensin mana mungkin bisa berjalan mobilnya," jawab Airin.
"Bukan ingin isi bensin sih, tapi kebelet pipis," bisik Bram.
"Dih," Airin mengelengkan kepalanya.
Bram segera keluar dari mobilnya dan segera berjalan menuju toilet yang ada disana. Airin pun hanya diam saja di dalam mobil sambil menatap seluruh pom bensin yang ada disana. Tidak sengaja wanita itu mengenal seseorang yang ada disana.
'Aku harus samperin dia dan kasih tau semuanya.' gumam Airin sambil menatap wanita yang sedang duduk di mini market.
Airin pun segera keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri wanita itu.
"Hallo, apa kabar?" sapa Airin pada wanita tersebut.
"Mau ngapain kamu kesini!" wanita itu menatap sinis Airin.
"Biasa aja dong kalo lihatku. Lagian aku ingin memberitahu sesuatu penting untukm," ucap Airin.
"Sesuatu penting? Yang benar aja," wanita itu menyilangkan kedua tangannya dan menatap sinis wanita itu.
"Asal kamu tau ya? Kalo suamimu telah selingkuh dengan wanita lain!" jelas Airin.
"A-apa?"
Sonia merasa terkejut saat mendenggar perkataan Airin. Kemudian, tertawa terbahak-bahak.
"Terus aku harus percaya dengan apa yang kamu ucapkan? Enggak!" sentak Sonia menatap sinis Airin.
"Kalo saja aku enggak peduli sama kamu enggak akan berani mengatakan semua ini! Aku marasa kasihan aja sama kamu karena punya suami enggak pernah berubah dan tetap selingkuh!" Airin menatap Sonia.
"Stop, hentikan omong kosongmu, itu! Aku tau kamu cuma ingin menghancurkan rumah tanggaku kan? Lagian aku enggak akan pernah percaya dengan ucapanmu!" Sonia menatap tajam Airin.
"Emangnya kamu punya bukti kalo suamiku selingkuh, hah?" tanya Sonia.
"Emang aku enggak punya bukti!Tapi aku liat dengan mataku sendiri kalo suamimu sedang bermesraan dengan wanita lain!" jelas Airin.
Sonia masih belum percaya dengan perkataan wanita itu. Bisa jadi, Airin hanya beralasan saja dan ingin membuat rumah tangganya hancur.
"Sekarang pergi dari sini!" sentak Sonia sambil menatap Airin.
"Baiklah, aku pergi dari sini! Ingat, aku udah kasih tau sama kamu jadi jangan menyesal nanti!" Airin menatap Sonia.
Sonia memutarkan matanya dengan malas dan tidak habis pikir Airin bisa mengatakn semuanya pada dirinya.
Wanita itu segera pergi dari hadapan Sonia dan berjalan menuju mobil yang ada disana.
Sebenarnya Sonia dan Airin tenyata sahabat masa kecilnya. Dia baru tahu saat Pak Romlan dan Sonia ada di acara hari jadi perusahaan. Airin pun tidak menyangka, ternyata Sonia sahabat yang dulu terpisah karena harus melanjutkan sekolahnya di luar negeri.
Andai saja dia bukan sahabatnnya, mana mungkin Airin peduli pada Sonia dan memilih bersikap masa bodoh.