Miles Sterling hanyalah seorang menantu miskin yang dihina dan direndahkan oleh istri dan keluarganya. Saat ibunya sakit parah dan butuh biaya operasi $250.000, istrinya justru menghabiskan $300.000 untuk pesta mantan kekasihnya.
Namun takdir berkata lain. Miles ternyata adalah satu-satunya pemilik 50 koin NexaChain—mata uang kripto yang nilainya kini melonjak menjadi $40 miliar. Dalam semalam, ia berubah dari pengemis menjadi miliarder sekaligus CEO NexaChain Global. , perusahaan raksasa di balik koin tersebut.
Kini, dengan kekayaan dan kekuasaan yang tak terbayangkan, Miles siap membalas semua penghinaan. Tapi akankah ia mampu mempertahankan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Adil!
Miles melangkah keluar dari Kantor Pusat NexaChain, sementara pintu kaca yang menjulang tinggi menutup perlahan di belakangnya.
Laura berjalan di sampingnya saat mereka menghampiri mobil Maybach.
Laura meliriknya sambil tersenyum puas. "Selamat, Tuan," katanya dengan suara hangat. "Penampilanmu dalam rapat hari ini benar-benar luar biasa. Dewan direksi sudah membicarakan betapa percaya diri dan strategisnya kau."
Miles tersenyum tipis, merasa sedikit lega sekaligus bangga. "Terima kasih," katanya. "Aku hanya melakukan semampuku."
Saat mereka mendekati mobil, Miles baru saja hendak meraih gagang pintu ketika mereka berdua mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.
Miles menoleh sedikit, dan Laura mengikuti arah pandangannya.
Kelvin Stewart muncul, hampir berlari kecil ke arah mereka. Dia mengenakan kemeja desainer yang sudah kusut dan basah oleh keringat.
Dasi Kelvin miring, dan penampilannya jauh lebih berantakan daripada biasanya. Dahinya dipenuhi keringat, sementara matanya bergerak ke sana kemari dengan panik. Begitu melihat Laura, senyum lebar langsung muncul di wajahnya.
"Syukurlah," kata Kelvin sambil terengah-engah ketika akhirnya sampai di hadapan mereka. "Nona Agnes! Aku sudah berusaha menghubungimu sejak pagi. Kau tidak tahu betapa beruntungnya aku bisa bertemu denganmu di sini!"
Laura berkedip, alisnya terangkat karena bingung. "Benarkah?" tanyanya perlahan.
Kelvin kemudian menoleh kepada Miles yang berdiri di samping Laura. Seketika wajahnya berubah menjadi penuh rasa jijik. Dia mengamati Miles dari ujung kepala hingga ujung kaki beberapa kali sebelum berdecak sinis.
"Apa yang dilakukan orang ini di sini?" tanya Kelvin dengan bibir melengkung penuh amarah. "Kenapa kau malah bersama dia? Kau bahkan tahu tidak siapa pria ini?"
Miles tidak bereaksi sedikit pun, tetapi wajah Laura langsung mengeras, terutama karena cara Kelvin berbicara tentang Miles.
"Aku sarankan kau berbicara dengan sopan," kata Laura dengan tenang. "Kenapa kau berkata seperti itu?"
Kelvin tertawa pendek penuh ejekan. "Sopan? Kepada pecundang ini?" Dia mengibaskan tangannya ke arah Miles dengan meremehkan. "Ayolah, Laura. Orang tidak berguna ini bahkan tidak tahu arti kata 'hormat'. Dia benar-benar sampah. Bahkan istrinya sendiri, yang sekarang menjadi tunanganku, meninggalkannya karena dia pecundang yang menyedihkan."
Rahang Laura mengeras. Dia ingin segera mengatakan kepada Kelvin siapa sebenarnya pria yang sedang berdiri di sampingnya, tetapi ada sesuatu yang menahannya. Dia melirik Miles sekilas, dan Miles memberinya anggukan kecil yang nyaris tak terlihat. Tangannya juga menepuk pelan punggung Laura. Saat itu juga Laura mengerti bahwa Miles tidak ingin identitasnya dibocorkan.
Kelvin sama sekali tidak menyadari isyarat yang diberikan Miles. Dia terlalu sibuk membanggakan dirinya sendiri.
Miles melangkah mundur, lalu bersandar santai di sisi Maybach sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Aku akan membiarkan kalian berdua berbicara," katanya kepada Laura. "Aku akan menunggu di sini saja. Silakan bicara dengan rekan kerjamu."
Laura mengangguk sekali. Wajahnya kembali datar dan profesional, tetapi di dalam hati dia sedang menahan amarah. Dia kembali menatap Kelvin lalu berkata dengan suara singkat dan tegas.
"Sebenarnya untuk apa kau datang ke sini, Tuan Stewart?"
Kelvin tertawa kecil sambil menyibakkan rambutnya yang basah oleh keringat.
"Dengar, aku tahu kau yang mengirim pesan itu atas nama CEO baru... siapapun dia. Aku sudah menerima emailnya, mengerti? Aku bahkan sudah mengembalikan uang itu kemarin. Tapi aku hanya ingin bilang kalau semua ini benar-benar tidak adil."
"Tidak adil?" tanya Laura sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ya, Laura. Tidak benar kalau pinjaman yang selama ini sedang kuusahakan tiba-tiba ditarik kembali," katanya, suaranya mulai meninggi. "Aku akan menikah beberapa minggu lagi! Aku sudah membuat banyak sekali rencana. Aku sudah berjanji kepada tunanganku akan membelikannya sebuah mansion seharga satu miliar dolar dan mengadakan pesta pernikahan senilai lima ratus juta dolar. Aku sudah memesan dekorator, vendor, tempat acara... dan semua itu membutuhkan biaya yang sangat besar, tidak kurang dari tiga miliar dolar.”
Mata Kelvin membelalak saat berbicara. Tangannya bergerak ke sana kemari karena begitu putus asa. "Tolong. Aku mohon padamu. Bantu aku bicara dengan CEO. Bujuk dia agar memberikan kembali pinjaman itu kepadaku. Beri aku sedikit waktu lagi. Aku berjanji akan mengembalikan seluruhnya setelah pernikahanku selesai. Hanya beberapa minggu lagi."
Laura tetap mempertahankan ekspresi sopan tanpa menunjukkan emosi sedikit pun. "Tuan Stewart, maaf, tetapi aku tidak memiliki wewenang sebesar itu. Hanya CEO yang dapat mengambil keputusan tersebut."
Kelvin mengatupkan bibirnya rapat. "Tepat sekali! Itu sebabnya aku buru-buru datang ke sini. Aku harus berbicara langsung dengannya. Tatap muka. Ini menyangkut kepentingan pribadiku. Tolong, tunjukkan saja di mana kantornya. Aku akan masuk dan menjelaskan semuanya. Aku yakin dia akan mengerti."
Laura menggeleng pelan. "Maaf, Tuan Stewart, tetapi CEO sedang tidak bisa ditemui. Saat ini dia tidak menerima pertemuan dengan staf tingkat bawah."
"Staf tingkat bawah?" ulang Kelvin dengan nada tersinggung. "Apa maksudmu aku ini staf tingkat bawah? Nona Agnes, aku salah satu konsultan utama di divisi keuangan!"
"Kau hanyalah asisten Tuan Lucky, yang juga telah diberhentikan kemarin. Mungkin memang begitu," jawab Laura tenang, "tetapi waktu CEO sangat terbatas. Jika kau memiliki urusan yang mendesak, silahkan tuliskan secara resmi dan kirimkan melalui jalur perusahaan."
Ekspresi Kelvin mengeras karena frustrasi. Dia membuka mulut untuk membantah lagi, tetapi sebelum sempat berbicara, suara Miles terdengar dari samping.
"Kelvin," kata Miles sambil melepaskan sandarannya dari mobil dan meregangkan tubuh dengan santai, "bagaimana kalau kau mengelola satu miliar dolar yang masih tersisa itu saja? Gunakan untuk pesta pernikahanmu yang megah."
Kelvin langsung berbalik dengan wajah penuh keterkejutan.
Miles berdiri di hadapannya dengan kedua tangan bersilang dan wajah tanpa ekspresi.
Kelvin mundur selangkah. "A... apa yang baru saja kau katakan?"
"Kau sudah mendengarnya," jawab Miles datar. "Satu miliar dolar. Hanya itu yang tersisa padamu, bukan? Setelah kau menghamburkan seluruh uangmu demi mengesankan Lily dan keluarganya. Sebaiknya kau mengelolanya dengan bijak. Kalau tidak, tidak lama lagi kau akan menjadi sama 'menyedihkannya' seperti yang selama ini kau tuduhkan kepadaku."
Mulut Kelvin terbuka. Wajahnya seketika pucat pasi. Dia membayangkan dirinya menjadi semiskin Miles dulu, lalu buru-buru menggelengkan kepala.
Dia menatap Miles seolah baru pertama kali melihatnya. Dia berusaha memahami bagaimana pria yang selama ini dia anggap tidak berguna, pria yang baru saja dia hina beberapa saat lalu, bisa mengetahui dengan tepat jumlah uang yang tersisa di rekeningnya.
"B... bagaimana kau bisa tahu?"
Miles melangkah mendekat. "Aku tahu banyak hal, Kelvin."
Suara Kelvin bergetar saat dia tergagap. "Tunggu. Sebenarnya... siapa kau?"
Laura melangkah berdiri di samping Miles, menatap Kelvin dengan sorot mata yang begitu tajam hingga membuat bulu kuduk merinding.
"Seharusnya kau menanyakan itu sebelum asal bicara," katanya dingin.
Kelvin memandang mereka berdua secara bergantian. Kini dia tampak seperti ingin menghilang dari tempat itu. Kesombongannya lenyap, digantikan oleh kepanikan dan kebingungan.
Miles tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berbalik lalu berjalan menuju kursi belakang Maybach.
Laura memberi Kelvin satu tatapan terakhir.
"Kau sebaiknya pergi, Tuan Stewart. Aku harus mengantar pria ini."
Laura kemudian masuk ke dalam mobil bersama Miles, dan pintunya pun tertutup.
Saat Maybach itu perlahan meninggalkan tepi jalan, Kelvin tetap berdiri membeku di tempatnya. Kemejanya menempel di tubuh karena keringat, sementara sinar matahari kini terasa begitu menyengat. Jantungnya berdetak keras di dalam dada.
"Pengemis itu... baru saja masuk ke dalam Maybach? Kenapa Laura mau mengantar orang sekotor itu?"
Jantungnya terus berdegup kencang karena semakin bingung.
"Aku akan membalas dendam, Miles... karena kau membuatnya tidak mau mendengarkanku. Aku akan membereskanmu. Aku akan menghancurkanmu," gumamnya penuh kebencian.
miles ceo dingin dn kejam,agar lebih menarik membacanya thorr👍👍