Terlempar ke tahun dimana Fania bertemu kembali dengan Iwan, orang yang membuat dirinya harus balas berada di situasi yang paling dia benci namun Fania sangat berterima kasih bisa hidup walau dalam tubuh orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelupa
Fania melihat kedua orang itu masih berada di sini, dengan langkah yang santai Fania berjalan ke arah dia orang yang saling cek cok.
"Sudah, ngobrolnya?" Tatapan kedua orang itu seketika melirik ke arah yang sama, memasang wajah yang tidak menduga, mengapa di sini juga ada dia sih?
" Bukan kah aku sudah meminta kamu untuk mengantarkan selingkuhan mu keluar ya suami ku?" Bola mata Erna membuat sempurna, memang siapa kok sampai berani berani membuat keputusan sendiri.
" Berani kau mengusir ku!!!! " Tatapan mata tajam,
Sebelum terjadi perang Dunia antara selingkuhan dan istrinya lebih baik Iwan membawa Eren untuk pergi, setidaknya jangan membuat keributan di kantor. Apalagi tatapan mata karyawan melihat ke arah keduanya.
" Ayo pergi.... "
" Lepaskan aku!! " Eren melepaskan tangan Iwan dengan kasar, mengapa dia sangat lemah padahal dia kan bisa dengan mudah membunuh wanita yang lemah itu.
Iwan mengejar Eren.
" Nona..... Mengapa Tuan sangat penurut beberapa hari ini?" Fania tidak merespon apa yang jadi pertanyaan Al. Padahal dia sangat ingin tahu, apa kah jangan jangan ada sesuatu yang tidak ia ketahui dan sekarang Nona sudah main rahasia padanya?
" Entahlah.... " Jawaban yang membuat Al tidak puas mendengar nya pasti ada hal lain yang membuat Nona terlihat berbeda apa lagi gayanya itu loh sangat mirip dengan... Ah tidak dia kan sudah lama tiada jangan mengingatnya Al jangan bisa tidak kerja jika terus memikirkan teman mu yang telah tiada itu.
Namun belum juga melangkah kan kalinya pergi Rahma sudah di serang Eren dengan menjambak rambut Rahma dengan kuat.
Rahma pun tidak kalah kuat menarik baju Eren berusaha untuk melepaskan tubuh nya dari hewan buas seperti Eren, entah mengapa manusia ini tidak mau kalah dengan dirinya.
" Akan aku pastikan kau menyesal... " Kedua orang itu saling jambak menjambak dan kedua orang pria mencoba untuk memisahkan keduanya namun yang ada keduanya malah terkena pukulan keduanya.
Waduh, bisa babak belur ini aku mah....
Al mencoba memisahkan keduanya begitu dengan Iwan mencoba menarik kekasihnya untuk mundur saja. Tapi keduanya tampak sangat kuat dan bertenaga.
" Pergi dari kantor ku!! " Teriak Eren membuat Rahma kesal dan mendorong Eren hingga terjatuh.
Rupanya kali ini Rahma sangat kuat, apakah ini dia yang sebenarnya? Tapi aku tidak akan kalah kali ini.
Iwan mencoba untuk membujuk Eren namun tampaknya itu juga tidak berguna.
Plak
Tamparan keras mendarat di pipi Eren.
" Sudah tidak tahu diri, sekarang kau berteriak di depan ku? IWAN BAWA SELINGKUHAN MU PERGI ATAU KU SERET DIA DARI SINI. "
"BERANI KAU MENGUSIR KU!! " Iwan segera menarik selingkuhan nya pergi tidak ingin jika Selingkuhan nya di tampar lagi oleh istrinya.
Buset, padahal sudah jelas Nona ada di hadapan Tuan, loh. Kenapa Tuan malah membela selingkuhan nya, eh tunggu bukan kah selama ini. Nona Rahma tidak pernah sekali pun di bela Tuan ya? Pasti Nona sangat sakit melihat hal ini?
"AKAN AKU BALAS KAU!!!!
" Sudah lah sayang sudah.... " Tatapan mata Eren berbeda kali ini Eren nyang kesal karena Iwan tampak lebih membela Rahma di bandingkan dengan dirinya.
" Apa? Lepaskan aku.. "
" Pulang yuk..... " Ajak Iwan mencoba membujuk Eren namun tampaknya bujukan nya tidak berhasil, Eren melangkah pergi meningkatkan kekasihnya yang lebih membela Rahma di bandingkan dia.
" Non.... " Ingin bertanya tentang keadaan Nona Rahma namun tampaknya ada yang berbeda deh. Kok enggak nangis gitu loh, biasanya kan Nona Rahma akan nangis jika Tuan lebih membela Nyonya Eren yang gila itu.
Apa yang terjadi dengan Nona? Kok jadi takut sendiri sih.
" Hahaha..... " Al terkejut, nih Nona ketawa? Hah apa iya yang dia lihat ini? Matanya bermasalah kali ini kah?
" Nona.... Jangan membuat saya takut... "
" Puas aku.... Seharusnya aku menjambak Eren itu dengan keras.... Dan menampar nya dengan tamparan keras juga. U....... " Yang jelas Al ngeri sendiri.
Bahkan Al sampai merinding di buatnya.
Nona Rahma masih waras kan ya? Kok aku jadi ngeri sendiri...
" Nona..... Sudah jangan seperti ini.... "
" Apa sih, menurut mu Eren pasti akan marah besar kan pada tuh tetengik satu?" Al jadi bingung? Siapa yang di bilang itu?
" Maksudnya Nona?" Seakan tidak tahu, ya memang yang di maksud Nona Rahma Al tidak tahu kok.
" Jangan lemot Aldi, maksud ku suami ku.. Eh bukan. Dia tidak pantas di sebut suami. Sudah membela orang lain memangnya aku ini siapa? " Al hanya tersenyum saja tampaknya Nona Rahma tidak sedih lagi deh Al senang memang pria seperti itu tidak boleh lah di tangisi. Tapi apakah sebentar lagi Nona akan menangis?
" Nona.... Jangan bilang Nona akan nangis setelah ini.... " Jika memang yang ada di dalam tubuh Nona nya adalah teman nya si Fania pasti setelah ini dia akan makan deh.
Tapi apakah bakalan berpengaruh? Soalnya dia kan ada di dalam tubuh orang lain. Yang jelas tubuh milik Nona besar yang kaya.
Aldi tak bisa berkata kata lagi, bukan nya Nona pulang ini malah mampir di warung pinggir jalan. Memang benar sih Nona Rahma tidak akan mungkin mampir di warung seperti ini jika bukan Al yang mengajak dan memaksa Nona dan kali ini tampaknya ada yang berbeda.
Al melihat cara makan Non Rahma yang tampak seperti Fania, sudah kaki di angkat sebelah dan dia masih percaya diri makan buset, kena setan apaan nih Nona.
" Non... Bisa tidak Nona turunkan kaki Non, di lihat orang Non. " Al bahkan tidak bisa berkata kata lagi.
" Apaan sih, aku laper! Sudah makan saja. Dan jangan lupa bayar? " Dengan senyuman di akhir kalimat Al bahkan hanya memandang Nona Rahma yang makan. Melihat Nona Rahma rasa laparnya jadi hilang sudah. Al merasa kenyang sendiri melihat tingkah laku Non Rahma yang sangat bar bar. Sudah deh ampun.
" Nona, bukan kah yang seharusnya bayar itu Nona?" Jika dompetnya tidak di tangan Al pasti Fania tidak akan mengatakan hal itu.
" Kamu lupa? Siapa yang sebelum berangkat meminta HP dan dompet ku, jangan membuat heboh deh. " Al tersenyum rupanya kan dia ya yang meminta dompet Nona dan HP, ya bukan tanpa alasan melainkan karena dulunya tahu sendiri kan Tuan Iwan itu bagaimana? Ya setidaknya uang Nona tidak keluar masuk seenaknya kan??
Dia yang memintanya dia yang melupakan hal ini.
" Maaf Nona... "
" Masih muda, sudah pikun. " Al malu sendiri biasanya nih Nona akan marah loh setiap kali dia membawa dompet apalagi ponselnya tapi kali ini kok biasa saja.
" Maaf Nona... lupa. " Fania melanjutkan makan siangnya, nih anak memang selalu saja pelupa dan tidak pernah berubah sama sekali, tapi yang membuat Fania kesal adalah sulit membuat Al percaya padanya ya karena dia juga tahu apa alasan Al tidak bisa percaya pada orang-orang. Ya mungkin karena masa lalunya yang membuat Al seperti ini.
Nih anak bukannya makan? Malah melihat ku makan? Memangnya melihat ku makan bisa kenyang ya?