Ini hanyalah kehaluan dan kegabutan author saja. Dan sedang belajar menulis cerita. Semoga kalian suka dengan ceritanya. Mohon maaf bila masih banyak kekurangannya🙏
🌹🌹🌹
Fatmawati biasa di panggil Wati gadis cantik, dengan hidung mancung, bibir mungil dan berkulit putih. Berusia dua puluh enam tahun adalah gadis sebatang kara yang telah di tinggal selamanya oleh kedua orang tuanya. Wati mempunyai kekasih yang bernama Reno pria berusia dua puluh sembilan tahun yang bekerja di tempat yang sama dengannya. Mereka berdua sudah lama menjalin kasih.
Hingga suatu hari tempatnya bekerja kedatangan seorang pria berusia tiga puluh lima tahun yang gagah, tampan dan rupawan bak pahatan patung dewa Yunani idaman kaum wanita.
Siapakah gerangan pria berusia tiga puluh lima tahun yang gagah, tampan dan rupawan itu?.
Adakah yang akan terjadi antara Wati dan Reno kekasihnya?.
Simak ceritanya di sini. Jangan lupa tinggalkan jejak Like,Vote,Comment & Hadiah.
Follow ig : srilestarikolopaking
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MKA 27
Tiga hari dua malam sudah Tuan Jaka di rawat di rumah sakit, selama di rawat belum ada tanda-tanda ia akan sadar. Untungnya hasil CT Scan menunjukkan tidak ada masalah yang serius di kepala Tuan Jaka. Selama itu pula Wati, Siti, Pak Diman dan Pak Rizal bolak balik ke rumah sakit. Hasil penyelidikan polisi juga belum menunjukkan hasil apa penyebab Tuan Jaka mengalami kecelakaan.
Wati merasa sedih melihat suaminya terbaring tak berdaya di rumah sakit. Saat di mansion dan sendirian di dalam kamar tidur ia merindukan pelukan suaminya di sampingnya. Ia merindukan aroma tubuh suaminya juga kejahilan dan perhatiannya. Ia kini menyadari telah mencintai suaminya dan tidak ingin kehilangan dirinya.
Esok harinya dengan penuh semangat Wati bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit bersama Siti dan Pak Diman. Ia memutuskan akan mengakui perasaannya di hadapan Tuan Jaka sebelum semuanya terlambat.
Di dalam perjalanan ia duduk dengan gelisah tak sabar sampai di tujuan. Saat mobil masuk ke area rumah sakit dan berhenti, tanpa menunggu Pak Diman membukakan pintu mobil, Wati langsung membukanya dan bergegas keluar mobil. Melihat sikap Nyonyanya yang aneh, Siti dan Pak Diman buru-buru menyusulnya, mereka khawatir terjadi apa-apa dengan Nyonya mereka.
Tiba di depan pintu ruang rawat inap, Wati langsung membuka pintu dan berlari ke arah tempat tidur di mana Tuan Jaka terbaring. Ia langsung memeluk dan menangis di dada suaminya.
“Bangun Mas ... Jangan tinggalkan aku dan anak-anak. Aku tidak mau kehilangan dirimu. Ak – Aku ... Me – Mencintaimu,” ucap Wati dengan terbata-bata dan air mata yang bercucuran hingga membasahi dada Tuan Jaka.
Tanpa Wati sadari mata Tuan Jaka terbuka, pria itu mengulas senyum saat mendengar pengakuan dari bibir mungil istrinya. Dan ia membelai rambut istrinya dengan lembut.
“Kamu barusan bilang apa, Sayang?.”
Mendengar suara yang ia rindukan, Wati terdiam dan menengadahkan kepalanya. Bola matanya terbelalak melihat suaminya sedang menatap dan tersenyum padanya.
“Mas ... Kamu sudah sadar?,” tanya Wati dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.
Di raihnya wajah Wati dengan kedua telapak tangannya mendekati wajahnya.
“Kamu barusan bilang apa Sayang,” tanya Tuan Jaka sekali lagi sambil menatap kedua bola mata Wati.
“Ak – Aku mencintaimu, Mas dan aku tidak ingin kehilanganmu,” jawab Wati dengan wajah merona merah karna malu dan air mata mengalir di pipinya.
“Alhamdulillah, Aku juga sangat mencintaimu Sayang,” sahut Tuan Jaka sambil menghapus air mata Wati dengan kedua jari jempol tangannya dan mencium bibirnya. Mereka saling berpagutan melepaskan rasa rindu.
“Ehem ... Maaf Tuan masih ada kita-kita di sini. Mungkin adegannya bisa di lanjutkan nanti di mansion,” ucap Pak Rizal menggoda Tuan Jaka.
Wati pun melepaskan ciumannya, ia merasa malu pada dirinya sendiri yang lupa dengan keadaan sekitar dan baru menyadarinya setelah Pak Rizal menggodanya.
“He – he – he ... Terima kasih atas bantuannya tanpa kalian semua ini tidak akan terjadi,” ucap Tuan Jaka sambil terkekeh.
“Sama-sama Tuan,” sahut Siti, Pak Diman dan Pak Rizal serempak.
Mendengar ucapan suaminya dan jawaban Siti, Pak Diman juga Pak Rizal yang absurd, Wati merasa aneh. Ia menatap satu per satu pada mereka.
“Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?,” tanya Wati memandangi mereka bergantian.
“Sitiii ...,” panggil Wati.
Yang di panggil langsung salah tingkah. Ia bingung harus mengatakan apa.
“Pak Diman ... Pak Rizal ... ,” panggil Wati lagi. Yang di panggil hanya terdiam, mereka juga bingung seperti Siti harus mengatakan apa.
Merasa tak akan mendapatkan jawaban, Wati menoleh ke arah Tuan Jaka.
“Mas ... Bisa kamu jelaskan ada apa?,” tanya Wati dengan pandangan menyelidik.
“Mmm ... Anu Sayang ... Aku akan jelaskan tapi aku mohon kamu jangan marah ya, please,” ujar Tuan Jaka saat melihat pandangan mata Wati yang tajam ke arah dirinya.
“Oke” sahut Wati.
“Mmm ... Se – Sebenarnya Mas berpura-pura tidak sadar, Mas ingin mengetahui bagaimana perasaan kamu terhadap Mas. Dan Mas meminta bantuan mereka untuk menjalankan rencana Mas. Awalnya mereka menolak karna tidak tega harus membohongimu yang sedang mengandung. Tapi setelah Mas jelaskan maksudnya, mereka akhirnya menyetujui permintaan Mas. Maafkan Mas, Sayang. Hanya dengan cara ini akhirnya Mas bisa mengetahui perasaanmu.”
“Ya Allah, Mas ... Kamu benar-benar jahat sudah mengerjai aku. Kamu tega membuat aku bersedih dan membuatku takut kehilanganmu,” ucap Wati sambil memukul-mukul dada suaminya dan terisak.
“Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku,” ujar Tuan Jaka sambil memeluk dan mencium ubun-ubun kepala Wati.
“Dan kalian ... Kalian juga sudah keterlaluan ikut andil dalam permainan ini,” sentak Wati dengan kesal pada Siti, Pak Diman dan Pak Rizal.
“Maafkan kami, Nyonya,” ucap mereka serempak sambil membungkukkan setengah badan.
“Lantas apa yang menyebabkanmu mengalami kecelakaan?,” tanya Wati dalam pelukan Tuan Jaka.
“Saat Mas dalam perjalanan pulang tiba-tiba ada seekor anak kucing yang menyeberang jalan. Mas langsung banting setir agar anak kucing itu tidak terlindas akhirnya Mas menabrak tiang reklame yang ada di pinggir jalan,” terang Tuan Jaka pada Istrinya.
Jantung Wati langsung berdetak kencang saat mendengar penjelasan suaminya mengenai penyebabnya mengalami kecelakaan. Berarti ia sudah salah besar menuduh Reno yang menyebabkan Tuan Jaka mengalami kecelakaan. Betapa berdosanya ia pada Reno. Dan ia berjanji dalam hati akan meminta maaf kepada Reno.
“Hai ... Kamu kenapa melamun Sayang?.”
“Ah tidak apa-apa Mas. Aku bersyukur kamu tidak sampai mengalami cedera yang fatal. Terus kapan kamu di perbolehkan pulang?.”
“Dari kemarin-kemarin Mas sudah di perbolehkan pulang kok. Dan Mas akan pulang hari ini karna istri Mas sekarang sudah mencintai Mas,” ucap Tuan Jaka sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Wati.
“Ish dasar ... Ngga lucu tahu Ngga Mas!,” dumel Wati sambil mencubit tangan Tuan Jaka.
“Aawww ... Sakit Sayang.”
“Bodo amat ... Aku marah sama Mas.”
“Jangan marah dong Sayang, nanti Mas Ngga dapat jatah kalau kamu marah.”
“Ih ... Muka dan tubuh babak belur masih saja berpikiran mesum. Dan tidak ada jatah, malam ini Mas tidur di sofa atau di kamar tamu.”
“Ya ampun Sayang, masa kamu tega suruh Mas tidur di sofa atau di kamar tamu sih. Mas kan kangen pengen tidur peluk kamu dan menengok anak-anak juga. Sudah lama anak-anak belum di tengok Ayahnya.”
“Mas Jakaa ... Ya ampun Mas rupanya gara-gara benturan otak kamu jadi eror,” ucap Wati dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karna malu mendengar perkataan suaminya yang mesum.