Cinta hadir tanpa permisi, menelusup masuk melalui celah hati yang sebenarnya sudah bertuan.
Cinta memang buta dan tuli, hingga tanpa sadar Bryan seorang CEO perusahaan tembakau ternama, yang sudah memiliki tunangan meminta wanita yang berprofesi sebagai penari sekaligus karyawan di perusahaannya untuk menjadi wanita simpanannya. Wanita itu bernama Naina Anaclara.
Cinta tidak pernah salah, yang salah adalah waktu. Waktu mempertemukan mereka di saat yang tidak tepat. Karena cinta juga, Naina mau menerima untuk menjadi wanita simpanan Bryan.
Baru menjalin kasih terlarang selama dua bulan, Naina mengandung anak dari hubungan gelapnya bersama Bryan.
Akankah kisah cinta Naina berakhir bahagia bersama Bryan tanpa sepengetahuan dari Istri pertama lelaki yang sudah menjadikannya wanita simpanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeChan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Bryan mengajak Naina menaiki tangga sampai mereka berhenti di depan pintu besar. Bryan membuka pintu itu yang di dalamnya sebuah kamar yang terbilang cukup luas.
Tanpa membuang banyak waktu, Bryan membuka almari dan mengambil sebuah kotak perhiasan berbentuk hati berwana ungu. Lalu ia kembali menghampiri Naina yang masih menunggu di luar kamar.
"Ini untuk kamu."
Bryan membuka kotak itu di hadapan Naina dan memberikannya pada Naina.
"Ini untuk aku?" tanya Naina seperti mengulangi perkataan Bryan.
Naina tercengang melihat isi di dalam kotak tersebut. Sebuah cincin berlian yang memancarkan kilauannya dengan batu permata cantik berwarna ungu.
Bryan mengeluarkan cincin tersebut dari tempatnya, lalu menyematkannya di jari manis Naina.
"Bryan, ini untuk apa? Maaf aku tidak bisa menerimanya." tanya Naina seraya menolak Bryan yang hendak memasangkan cincin pada jarinya.
"Jangan menolak setiap pemberian dariku, Nai."
Melihat air muka Bryan yang berubah menjadi muram membuat Naina tidak mampu untuk menolak lagi, ia membiarkan Bryan meraih tangannya dan menyematkan cincin itu di jari manis Naina.
"Sekarang kamu sudah menjadi milikku, aku tidak perlu lagi mencemaskan soal perasaanmu. Aku sangat mencintaimu, Naina Anaclara." ujar Bryan seraya memeluk tubuh Naina.
Senang dan bahagia menyelimuti diri Bryan, ia merasa bahagia bisa memiliki Naina seutuhnya. Mengenai hati dan perasaannya, Bryan selalu berpikir pendek.
"Bryan berhentilah bersikap seperti ini, semuanya sangat menyakitkan hatiku, aku tidak bila harus terus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja."
Hati Naina sakit setiap kali Bryan memperlakukannya dengan baik dan romantis seperti ini.
Seperti yang sudah-sudah, laki-laki yang bersama Naina selalu memperlakukannya dengan baik dan romantis akan meninggalkan Naina di kemudian hari, dan Naina takut Bryan akan meninggalkannya suatu hari nanti.
"Bryan jangan pernah meninggalkan aku setelah aku memberikan semuanya padamu, aku takut Bry." tiba-tiba saja Naina berbicara seperti itu.
Bryan menatap mata Naina dalam-dalam untuk mengetahui apa yang gadis itu rasakan. Ketakutan, itulah yang dapat Bryan lihat dari kedua bola mata Naina.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Nai, apapun yang terjadi dan sampai kapanpun itu, aku akan tetap bersamamu walau harus mengakhiri hubunganku dengan Elvia."
Bryan meraih wajah Naina dengan kedua tangannya untuk meyakinkan gadis itu agar tidak takut kehilangannya lagi.
"Jangan takut, percayalah padaku Naina, apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan dan meninggalkan kamu. Sekarang tidak boleh lagi ada hal yang membebani pikiranmu, fokuslah pada malam ini dan malam-malam seterusnya." ujar Bryan dengan nada sensual yang sengaja menggoda Naina.
Wajah Naina mulai bersemu merah, Bryan mengusap pipi Naina yang mulai memanas. Dengan sigap Bryan menggendong Naina dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah lama tidak ia sentuh.
"Bersenang-senanglah malam ini sayang, lepaskan semua beban masalah yang mengganggu pikiranmu."
Bryan mendekatkan wajahnya dengan wajah Naina, hidung mereka saling bertemu dan Bryan yang iseng sengaja menggesekkan hidungnya dengan hidung Naina.
Naina tersenyum sangat manis, malam ini menjadi malam terbahagia untuknya. Untuk pertama kalinya Naina memberikan seluruh tubuhnya atas dasar saling mencintai.
🌹🌹🌹
Sabtu, 21 Januari 2019
Setelah 4 malam panjang di mansion telah mereka lewati. Sepulang bekerja dari kantor keduanya selalu pulang ke mansion bersama dan pergi bekerja bersama. Selama itu pula Bryan mengendarai mobil sendiri tanpa bantuan dari Mike.
Hati Naina sudah benar-benar berlabuh pada Bryan, hanya bersama Bryan ia bisa melupakan Samar, bahkan bayangan masa lalu Samar seolah hilang ditelan bumi, yang ada di hatinya dan di benaknya hanya Bryan seorang yang selalu membuatnya tergila-gila.
Begitupun dengan Bryan. Ia merasa bahagia telah mengenal Naina dan bisa melewati hari-hari kemarin bersama gadis India kesayangannya.
Tapi hari itu telah lewat karena hari ini Bryan akan menjalankan reading bersama production house yang akan mereales iklan terkait produk rokok terbarunya yang bekerja sama dengan ITC Group.
Bryan telah berada di rumahnya untuk menjemput Elvia yang semalam baru kembali bersama Reina dari London. Pagi ini ia akan datang untuk mengikuti latihan terkait untuk shooting besok.
Bryan akan datang bersama Elvia yang menjadi salah satu model dalam iklan tersebut. Di sana juga akan ada Naina yang akan bersanding dengan Elvia dan Chris Hemsworth.
*****
Rumah Bryan Anderson
Bryan telah memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah, lalu turun dan masuk ke dalam rumah. Ia melihat Elvia telah siap untuk pergi ke kantor PH.
"Sayang kok semalam tidak pulang ke rumah?" tanya Elvia setengah berlari menghampiri Bryan yang baru masuk ke dalam rumah.
Bryan tersenyum melihat Elvia yang berlari dan langsung memeluknya. Ia membalas pelukan dari Elvia.
"Maaf El, semalam aku tidur di kantor karena ada sedikit masalah yang terjadi." jawab Bryan yang jelas berbohong.
Elvia dan Reina telah tiba di rumah semalam. Supir di rumah yang menjemput mereka di bandara dengan alasan Bryan tidak bisa meninggalkan kantor karena suatu masalah. Mereka percaya dan pulang ke rumah tanpa curiga sedikitpun.
"Semoga kalau kita menikah nanti, kamu bisa membagi waktumu untuk aku." ucap Elvia sambil menusuk-nusuk dada bidang Bryan dengan jari telunjuknya.
"Akan aku usahakan."
Bryan mengajak Elvia untuk segera pergi karena beberapa menit lagi akan diadakan meeting sebelum reading dimulai. Bryan dan Elvia berpamitan pada Reina dan pergi meninggalkan rumah.
*****
Rumah Naina Anaclara
Naina baru terbangun dari tidurnya pukul 08.00, ia menggeliat dan tangannya seperti mencari seseorang yang berada di sampingnya, tapi Naina tidak menemukan siapapun, hanya bantal guling yang ia dapati.
"Hem, tidak ada Bryan pagi ini." lirih Naina seraya mengumpulkan potongan-potongan ingatan soal kejadian semalam.
Kemarin sepulang dari kantor pukul 17.00, Naina dan Bryan seperti biasa menginap di mansion. Naina sudah pulas tertidur bersamaan dengan rasa lelahnya setelah beberapa jam menghabiskan waktu panjang bersama Bryan di dalam kamar.
Belum lama Naina memejamkan mata, Bryan sudah membangunkannya kembali, tapi bukan untuk melakukannya lagi, melainkan untuk memberitahu Naina kalau Elvia sudah kembali.
Dengan sigap Naina memaksa Bryan untuk mengantarkan pulang ke rumah Ayahnya dan juga menyuruh Bryan untuk pulang ke rumah yang ditempati Bryan bersama Ibunya.
Semalam Bryan mengantarkan Naina pulang dan Bryan menemui Robby bersama Istrinya untuk menjelaskan soal pekerjaan yang mereka lakukan di New York, beruntungnya Robby dan Yalina percaya dengan perkataan Bryan yang tidak ada benarnya sama sekali itu.
Setelah potongan-potongan ingatan semalam sudah berkumpul, membuat wajah Naina bersemu, pipinya mulai memanas membuatnya salah tingkah sendiri.
Yalina masuk ke dalam kamar Naina setelah mengetuk pintu. Ia duduk ditepi ranjang Naina.
"Naina ayo turun, kita sarapan bersama. Sudah lama sekali kamu tidak makan di rumah ini." ucap Yalina seraya menepuk bahu Naina yang masih rebahan.
Naina menatap wajah Yalina yang terlihat murung seperti menyimpan suatu masalah. Ia terduduk dan memegangi tangan Yalina.
"Mom kenapa?" tanya Naina sembari menatap mata Yalina dalam-dalam.
"Apanya yang kenapa sayang?" tanya balik Yalina.
"Mommy menyimpan suatu masalah?" tanya Naina kembali.
"Tidak sama sekali sayang. Oh iya terima kasih ya untuk hadiah tasnya, Mom sangat suka dan sudah memakainya kemarin saat acara arisan." jawab Yalina yang langsung mengalihkan arah pembicaraan yang sebelumnya.
"Aku berharap Mom mau cerita sama aku kalau sedang menghadapi masalah, biar aku bisa bantu setidaknya."
"Jangan pasang wajah muram, nanti cantiknya hilang. Sana mandi dan cepat turun ke bawah. Mommy, Daddy dan adik-adik tidak akan sarapan sebelum kamu turun dan makan bersama."
Yalina berlalu pergi meninggalkan kamar Naina dengan wajah yang terus menunduk. Naina tidak bisa berbuat apa-apa karena Yalina belum mau terbuka padanya.
Naina pergi mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor PH untuk meeting dan reading persiapan shooting iklan.
Setelah siap, Naina turun ke bawah dan menghampiri meja makan. Naina menyapa Robby, kedua adik kembarnya dan juga Yalina yang tadi mendatangi kamarnya.
"Kamu mau kemana Nai? Kok sudah rapih?" tanya Yalina setelah menyelesaikan sarapan bersama.
"Oh ya ampun, Nai lupa bilang semalam ke Mom dan Dad kalau pagi ini ada reading di PH yang Minggu lalu Nai ceritakan soal tawaran iklan." jawab Naina.
Robby menggeleng perlahan, ia merasa khawatir pada Naina yang terlalu sibuk bekerja di luar rumah, dan ia takut putrinya akan jatuh sakit bila terus bekerja dengan libur yang sangat sedikit.
"Dad jangan khawatirkan aku ya, percaya saja kalau aku ini putrimu yang kuat." kata Naina berusaha meyakinkan Robby yang terlihat gelisah.
Yalina mengelus pundak suaminya yang belakangan ini terlihat resah dan gelisah, ia berusaha meyakinkan suaminya bahwa Naina tidak akan terlibat dalam masalah yang perusahaannya hadapi.
Naina tidak punya banyak waktu untuk bersantai-santai di rumah, karena ia harus berangkat segera sebelum terlambat.
"Mom, Dad, Alexa, Axel. Naina pamit kerja dulu ya, Naina janji pulang nanti akan membawakan kalian semua oleh-oleh."
Alexa dan Axel melompat bahagia, Yalina dan Robby hanya tersenyum melihat Naina yang sekarang sudah disibukkan oleh pekerjaan di luar rumah, sudah tidak seperti Minggu lalu yang banyak menghabiskan waktu di rumah saat kantor libur.
"Jaga diri baik-baik ya Nai, karena Dad tidak bisa mengawal kamu selama di luar rumah, Daddy mencintaimu." ujar Robby seraya memeluk Naina.
Robby menatap nanar kepergian putrinya, walau sudah terbiasa berpisah dengan Naina ketika hendak pergi ke kantor, tapi kali ini ada perasaan sedih dan takut bercampur menjadi satu.
Aku mampir
Salam kenal, 💐😄