Kisah kasih di sekolah yang menceritakan sepasang remaja menjalin cinta.
Mereka berdua adalah Anna dan Tiar.
Suatu ketika takdir membawa mereka dalam ikatan keluarga.
Orang tua Anna dan Orang tua Tiar di persatuan dalam ikatan pernikahan. Membuat Anna dan Tiar memiliki status keluarga sebagai saudara tiri.
Lalu bagaimana keduanya bisa melanjutkan hubungan yang sudah terikat keluarga.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Ayah Tiar akhir - akhir ini merasa kesepian. Karena di rumah hanya ada dirinya, Tiar, dan ibunya Anna. Dia ingin memulai kehidupan baru, hingga dia berfikir untuk menikah lagi.
Sambil menikmati segelas kopi yang di buatkan oleh ibu Anna. Ayah Tiar membayangkan sesuatu. Dia membayangkan menikah dengan ibunya Anna. Anna ikut dalam rumah itu, dan mereka berempat ada dalam satu rumah.
Ayah Tiar ingin mengatakan sesuatu tanpa basa - basi kepada ibu Anna, dia ingin mencoba memberanikan diri untuk menawarkan ibu Anna menjadi istri barunya. Kebetulan ibu Anna seorang janda, dan ayah Tiar adalah seorang duda. Dia ingin setelah menikah, mereka kembali membangkitkan Toko Rotinya yang hampir bangkrut.
Ayah Tiar menghampiri ibu Anna yang sedang memasak di dapur. Melihat ayah Tiar yang tiba - tiba menghampiri, dia merasa deg - degan, gerogi dan salah tingkah.
"Emmm pak maaf belum matang, barangkali bapak mau makan dulu apa perlu saya buatkan mi instan, roti selai coklat kacang, atau yang lain,,? Sebentar lagi matang ko pak. Mau menunggu,,?" Ucap ibu Anna sambil menawarkan makanan instan yang mudah di buat tanpa menunggu lama.
"Tidak makasih, saya belum mau makan. Saya cuma mau ngomong sesuatu sama kamu." Jawab ayah Tiar setelah mendapatkan tawaran berbagai makanan dari ibu Anna.
Belum ngomong aja sudah deg - degan. Dalam hati ayah Tiar, dia menenangkan diri sendiri "Tenang, slow, jangan tegang, dab biasa aja" ucap hati ayah Tiar sambil mengeluarkan nafas.
Ayah Tiar mencoba mengajak ibu Anna dulu untuk makan di luar. "Kamu mau gak, nemenin saya makan di luar, di Cafe Abadi. Mau yah??" Tanya ayah Tiar memaksa ibu Anna untuk menemaninya ke Cafe.
"Loh pak. Ini kan saya sudah masak, sayang dong kalo gak dimakan. Coba bayangin kalo bapak makan terus gak di makan, sakit hati tau pak." Jawab ibu Anna sambil cemberut takut makanan yang dia bikin tidak dimakan sama sekali.
Melihat ibu Anna cemberut karena masakan dia takut tidak di makan, ayah Tiar pun sedikit tertawa. Dia tersenyum lebar dan tampak giginya yang rata itu. "Tenang. Makanan kamu pasti akan saya habiskan dengan Tiar. Di cafe kan makananya gak kaya di rumah, makanan disana itu tidak bikin perut kita kenyang" ucap ayah Tiar.
"Loh, terus ngapain mau kesana. Katanya makanan disana gak bikin kenyang, ko ngajakin saya kesana." Ucao ibu Anna dengan polosnya.
Lagi - lagi ayah Tiar ketawa. "Disana itu tempatnya enak buat ngobrol. Udah yah kamu ganti baju, terus temenin aku. Mumpung aku lagi libur ngantor. Okeh." Paksa ayah Tiar meminta ibu Anna untuk segera mengganti bajunya dan pergi bersama ayah Tiar.
"Tiar ikut kan,,? Dia ada di kamar. Mau saya panggilin,,?" bawel ibu Anna. Ayah Tiar pun menolak ibu Anna untuk mengajak Tiar. Dia hanya ingin berdua, tidak ingin ada yang lain.
"Udah, gausah ajak Tiar, nanti kalo udah sampe aku langsung kabarin Tiar aja, kalo aku lagi pergi sama kamu. Oke,,? Yaudah ah cepetan ganti" katanya sambil membetulkan kerah bajunya.
Ibu Anna menuruti kemauan ayah Tiar, dia mengganti bajunya dengan pakaian yang setiap hari dia pakai untuk bekerja. Melihat penampilan ibu Anna, ayah Tiar merasa tidak cocok, dia menyuruhnya untuk mengganti bajunya dengan baju yang ayah Tiar kasih baru saja.
"Emm kamu pake ini aja. Dulu, baju ini saya beli untuk kado ulang tahun istri saya, tapi ternyata istri saya menghianati saya. Jadi saya masih simpan baju ini. Tapi saya sudah lupain istri saya" ucap ayah Tiar sambil curhat. Dia pun menyuruh ibu Anna untuk segera memakai bajunya.
Ibu Anna bergegas pergi ke kamarnya untuk segera mengganti baju milik ayah Tiar. Dia melihat dirinya merasa sedikit cantik dalam cermin besar yang terpasang di dinding kamar tidurnya. "Bagus sekali, saya belum pernah memakai baju sebagus ini" ucapnya sambil memutar - mutar badannya di depan cermin. Dia juga memoles sedikit lipstik dibibirnya, dan melapisi kulit wajahnya dengan sedikit bedak. Tak lupa juga mengukir alisnya tipis - tipis agar terlihat natural.
Ibu Anna keluar dari kamarnya. Ayah Tiar memandangi ibu Anna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terlihat sangat mempesona, sangat berbeda dengan penampilan biasanya. Ya memang benar, penampilan dan make up memang bisa mempengaruhi raut wajah seseorang.
"Anggun sekali kamu pakai gaun itu" celemong ayah Tiar.
Mendengar pujian ayah Tiar, ibu Anna tersipu malu. Mereka berdua sudah siap pergi, tapi sepertinya ada yang kurang. Ayah Tiar memperhatikan sendal ibu Anna yang masih. Dia masih memakai sendal jepit.
Ayah Tiar mengambilkan sendal untuk ibu Anna. "Nih pake cepet" ucap ayah Tiar sambil memberikan sendal Higheels yang saat itu juga mau di berikan kepada mantan istrinya.
"Makasih yah." Kata ibu Anna. "Ya ampun aku baru di perlakukan seperti ini oleh laki - laki, dulu almarhum suami tidak pernah memberi sesuatu yang special untuk saya. Sepertinya ayah Tiar memang suka beneran deh sama saya." Batin ibu Anna dengan percaya diri.
Mereka berdua masuk ke mobil. Ibu Anna membuka pintu tengah mobilnya. "Ngapain kamu duduk disitu,,? Cepet pindah ke depan" pinta ayah Tiar meminta ibu Anna untuk sama - sama duduk di depan dengan ayah Tiar.
Di mobil mereka berdua mengobrol dan saling tanya jawab. Mereka saling tanya sesuatu yang paling mereka tidak suka dan yang sangat mereka suka.
Setengah jam kemudian, sampai di Cafe. Ayah Tiar memilih menu yang ada di Cafe itu, dia memesan banyak makanan dan minuman yang sangat enak, dan belum pernah di nikmati ibu Anna. Benar - benar seperti ratu ibu Anna saat ini.
Di atas meja tersedia lilin merah berbentuk hati. Lampu - lampu di Cafe itu berwarna redup keemasan, hingga memberikan rasa tenang pada mereka yang sedang berkunjung di Cafe itu.
Dalam hati ibu Anna berkata "Benar - benar seperti ratu, makanan disini sangat enak, dan aku belum pernah merasakan makanan ini selama hidupku, aku merasa sangat istimewa di hari ini."
Ayah Tiar meminta ibu Anna untuk segera menghabiskan makanan yang ada di meja."Ayo cepat habiskan makanan ini. Semua harus di habiskan" ucap ayah Tiar.
"Bapak ulang tahun,,? Ko tumben sih kayagini sama saya, saya jadi gak enak. Semoga panjang umur sehat dan sukses selalu" ucap ibu Anna basa - basi.
Ayah Tiar mengelak kata - kata ibu Anna."E.e.eeeeh siapa yang ulang tahun sok tau banget deh" canda ayah Tiar.
Tanpa basa - basi lagi ayah Tiar memegang tangan ibu Anna. "Kamu, mau gak jadi istri saya" ucap ayah Tiar sambil menatap mata ibu Anna dalam - dalam.
"Emmm... istri,,?? Sa.. saya kan pembantu bapak, bagaimana bisa jadi istri bapak" ucap ibu Anna merendah.
Bersambung..
penasaran dengan kelanjutan nya ...
lgi bnyak pikiran mungkin si othor..