Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Resi Rumah Sakit dan Cincin Murah
Aroma karbol dan obat-obatan yang menyengat selalu berhasil membuat dada Alina sesak. Pagi itu, sinar matahari baru saja menerobos jendela kaca kusam di lorong Rumah Sakit Medika Utama, menyinari deretan lembaran kertas di pangkuannya. Itu bukan sekadar kertas biasa, melainkan tumpukan tagihan perawatan intensif sang ibu, lengkap dengan cap merah bertuliskan JATUH TEMPO.
Alina mengusap wajahnya yang pucat. Matanya sembap, menahan lelah setelah tiga minggu hampir tidak tidur nyenyak.
Ibunya, Bu Rahmi, mengalami gagal jantung akut dan membutuhkan operasi transplantasi serta perawatan pasca-operasi yang menelan biaya hingga ratusan juta rupiah. Bagi Alina, seorang gadis 23 tahun yang baru saja kehilangan pekerjaan paruh waktunya karena pengurangan karyawan, angka itu ibarat gunung yang meruntuhkannya secara perlahan.
Ia melirik jemari tangan kirinya. Sebuah cincin perak polos melingkar di sana. Cincin yang terasa begitu berat, meski bentuknya amat sederhana.
Tiga hari yang lalu, Alina mengambil keputusan terbesar dan paling nekat dalam hidupnya. Melalui seorang perantara misterius yang dihubungi oleh kerabat jauhnya, Alina menyetujui sebuah penawaran gila: pernikahan kontrak secara kilat dengan seorang pria asing.
Syaratnya sangat tegas dan tanpa kompromi. Pria itu akan melunasi seluruh biaya pengobatan ibunya hingga sembuh total, sementara Alina hanya perlu menandatangani dokumen pernikahan sah secara hukum, menyerahkan kebebasan statusnya, dan bersedia hidup terpisah tanpa menuntut hak apa pun sebagai seorang istri.
Pernikahan itu berlangsung di sebuah ruangan tertutup bertembok marmer hitam di lantai atas sebuah gedung pencakar langit. Tanpa gaun pengantin, tanpa dekorasi bunga, dan tanpa kehadiran keluarga. Hanya ada seorang penghulu, dua saksi bersetelan jas hitam tebal, serta pria itu.
Alina masih ingat betul atmosfer dingin yang membekukan ruangan saat pria itu melangkah masuk. Tingginya hampir 185 sentimeter, mengenakan setelan jas buatan tangan berwarna abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.
Pria itu mengenakan kacamata berbingkai tipis dan jam tangan mewah yang memantulkan cahaya redup. Sepanjang prosesi penandatanganan berkas, pria itu sama sekali tidak menatap wajah Alina.
Suaranya saat mengucapkan akad nikah terdengar begitu berat, dalam, dan tanpa emosi, seperti seorang eksekutif yang sedang membacakan poin-poin akuisisi perusahaan.
Setelah dokumen ditandatangani dan cincin perak itu dipasangkan ke jarinya oleh sang pengacara, pria itu langsung berdiri, merapikan kancing jasnya, dan keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya.
("Nama suamimu adalah Devan,") hanya itu informasi yang disampaikan sang pengacara sebelum menyerahkan dokumen perjanjian tambahan. ("Kalian akan hidup terpisah. Tuan Devan memiliki kesibukan dan kehidupan pribadi yang tidak boleh diganggu. Kamu akan menerima tunjangan bulanan, dan seluruh biaya rumah sakit ibumu telah dilunasi hari ini. Tugasmu hanya satu: jaga rahasia pernikahan ini dari siapa pun. Jika ada media atau orang luar yang tahu, perjanjian ini batal dan kamu wajib mengembalikan seluruh biaya dengan bunga seratus persen.")
Alina menghela napas panjang, menepis ingatan dingin itu. Ia harus realistis. Pria bernama Devan itu telah menyelamatkan nyawa ibunya. Perasaan tidak dihargai atau harga diri yang terluka tidak ada artinya dibandingkan detak jantung ibunya yang kini kembali stabil di dalam ruang perawatan.
"Mbak Alina?" suara seorang perawat mengagetkannya. "Kondisi Ibu Rahmi pagi ini sangat stabil. Hasil laboratoriumnya bagus, jadi dokter sudah mengizinkan pindah ke ruang rawat inap biasa siang nanti."
Senyum tipis akhirnya terbit di bibir Alina. "Terima kasih banyak, Suster. Terima kasih."
Hari ini bukan hanya hari di mana ibunya membaik, tetapi juga hari pertama Alina memulai pekerjaan barunya.
Seminggu sebelum tragedi rumah sakit, Alina sebenarnya sudah melamar pekerjaan di sebuah konglomerasi raksasa, PT Dirgantara Megah Karya.
Tanpa diduga, kemarin sore ia menerima surat elektronik yang menyatakan bahwa ia diterima sebagai staf administrasi divisi Pemasaran.
Alina berdiri, merapikan kemeja putih polosnya yang sedikit pudar dan rok kain hitam sebatas lutut. Ia memoles sedikit pelembap bibir untuk menyamarkan wajah pucatnya. Ia harus tampil profesional. Ini adalah awal barunya. Ia harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri, terlepas dari bantuan uang kontrak pernikahan tersebut.
Gedung PT Dirgantara Megah Karya berdiri megah di pusat kawasan bisnis Jakarta. Dinding kacanya memantulkan langit pagi yang cerah, sementara pilar-pilar granit raksasa di bagian depan memancarkan aura kemewahan dan kekuasaan yang mengintimidasi.
Alina melangkah masuk ke dalam lobby yang luasnya hampir setara dengan lapangan sepak bola. Suara dentangan sepatu hak tingginya beradu halus dengan lantai marmer yang berkilau seolah tanpa noda. Ratusan karyawan bertubuh tegap dan berpakaian rapi lalu-lalang dengan langkah cepat, masing-masing sibuk dengan berkas atau ponsel pintar di tangan mereka.
"Selamat pagi. Alina Dania?" tanyanya pada staf resepsionis bertubuh tinggi dengan senyum ramah.
"Selamat pagi. Ya, benar. Kamu staf baru divisi Pemasaran, kan? Silakan naik ke lantai 12, lantai divisi Pemasaran. Nanti cari Mbak Maya, kepala staf administrasi di sana," petunjuk resepsionis itu ramah.
"Baik, terima kasih banyak."
Alina melangkah menuju deretan lift eksekutif. Jantungnya berdebar kencang, perpaduan antara rasa gugup dan antusiasme. Ia menekan tombol naik dan masuk ke dalam lift bersama beberapa pegawai lain yang tampak sibuk mendiskusikan laporan keuangan dan target kuartal ketiga.
Lantai 12 sangat sibuk. Kubikel-kubikel kerja tertata rapi dengan komputer berlayar ganda, tumpukan dokumen bermerek korporat, dan aroma kopi espresso yang menyerbak.
Alina segera menemui Mbak Maya, seorang wanita berusia awal tiga puluhan dengan kacamata berbingkai merah yang terlihat sangat sigap.
"Oh, Alina! Selamat datang," kata Maya sambil menjabat tangan Alina hangat.
"Situs kerjamu di sebelah sana, tepat di dekat jendela. Tugas pertamamu hari ini adalah merapikan berkas laporan riset pasar bulan lalu dan menyiapkannya untuk rapat direksi jam sepuluh nanti."
"Baik, Mbak Maya. Saya akan segera selesaikan," jawab Alina mantap.
Selama dua jam berikutnya, Alina menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia sangat cermat, memeriksa setiap halaman, merapikan jilidan, dan memastikan angka-angka statistik tercetak dengan jelas. Pekerjaan ini membuatnya lupa sejenak pada kerumitan hidup pribadinya.
Tepat pukul sembilan empat puluh lima, suasana di lantai 12 mendadak berubah. Suara hiruk-pikuk obrolan dan ketikan papan ketik mengetik tiba-tiba mereda. Beberapa staf senior berdiri dari kursi mereka, merapikan pakaian dengan terburu-buru.
"Ada apa, Mbak?" bisik Alina pada seorang rekan kerja di sebelahnya, seorang gadis ceria bernama Siska.
"Petinggi utama mau lewat," bisik Siska setengah berbisik dengan mata berbinar panik sekaligus kagum. "Presdir baru kita. Beliau jarang sekali turun langsung ke lantai operasional tanpa pemberitahuan. Biasanya cuma inspeksi mendadak kalau ada laporan riset penting. Ayo berdiri, jangan sampai kelihatan tidak sopan!"
Alina refleks ikut berdiri di samping meja kerjanya, menundukkan kepala sedikit seperti yang dilakukan pegawai lainnya. Langkah kaki yang mantap dan tegas terdengar bergaung dari arah lorong lift utama, diiringi oleh suara bisikan kagum para staf wanita.
"Selamat pagi, Pak Devan," sapa Mbak Maya dengan nada suara yang penuh hormat dan sedikit tegang.
"Devan?"
Nama itu menghantam kesadaran Alina bagai petir di siang bolong. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia perlahan mendongakkan kepalanya, memberanikan diri untuk melihat sosok pria yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan divisi Pemasaran.
Pria itu berjalan diapit oleh dua sekretaris dan seorang manajer senior. Ia mengenakan setelan jas kustom berwarna hitam pekat, kemeja putih bersih tanpa celat, dan dasi berwarna marun gelap. Bahunya lebar, rahangnya tegas dengan bayangan jambang tipis yang terukur rapi. Rambut hitamnya tertata klimis ke belakang.
Alina membeku. Pria itu ... pria yang berdiri hanya lima meter di depannya adalah pria yang sama. Pria yang tiga hari lalu membubuhkan tanda tangan di atas meterai dalam ruangan temaram itu. Pria yang telah sah menjadi suaminya secara hukum.
("Devan Dirgantara. Dia adalah CEO PT Dirgantara Megah Karya.")
Perut Alina terasa melilit hebat. Ia tidak pernah membayangkan bahwa perusahaan tempatnya melamar kerja adalah milik suaminya sendiri. Kebetulan ini terlalu mengerikan untuk jadi kenyataan.
Saat Devan berjalan menyusuri lorong antar-kubikel sambil mendengarkan penjelasan dari manajer pemasaran, pandangan matanya yang tajam dan dingin menyapu seluruh isi ruangan. Dan pada satu titik, garis pandangnya terhenti tepat di wajah Alina.
Dada Alina berdesir hebat. Napasnya tertahan. Ia siap jika pria itu terkejut, bingung, atau setidaknya menunjukkan sedikit indikasi bahwa ia mengenali wanita yang berjarak beberapa jengkal dari dirinya.
Namun, tidak ada satu pun reaksi itu.
Tatapan mata Devan yang kelam dan intens hanya melewati wajah Alina selama satu detik, dingin, datar, dan asing. Seolah-olah Alina hanyalah sebuah patung atau bagian dari pajangan dinding kantor yang tidak bernilai. Tidak ada kilatan pengakuan. Tidak ada gerakan alis yang terangkat. Sama sekali kosong.
"Sajikan laporan riset pasar ini di ruang rapat utama dalam lima menit," suara Devan terdengar menggelegar tenang namun penuh wibawa di seluruh ruangan. Suara yang sama yang mengucapkan kata ("Saya terima nikahnya") tiga hari lalu.
"Baik, Pak Devan. Segera kami siapkan," jawab manajer pemasaran dengan sigap.
Devan membalikkan badan dan kembali melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Para pegawai menghela napas lega setelah punggung tegas CEO muda itu menghilang di balik pintu lift khusus eksekutif.
"Gila, Pak Devan makin hari makin karismatik tapi auranya bikin merinding," bisik Siska sambil memegangi dadanya.
"Kamu lihat matanya tadi? Dingin banget! Katanya dia tipe bos yang tidak mentolerir kesalahan sekecil apa pun."
Alina masih berdiri terpaku di tempatnya, menatap kosong ke arah pintu lift yang sudah tertutup. Tangannya yang tersembunyi di bawah meja meremas tepi roknya dengan erat. Cincin perak di jari manisnya terasa dingin menempel di kulitnya.
Ia akhirnya mengerti aturan main yang tak tertulis ini. Pria itu bukan hanya ingin merahasiakan pernikahan mereka dari publik, tetapi juga menegaskan batas yang teramat jelas: di gedung megah ini, Devan Dirgantara adalah penguasa tertinggi, dan Alina Dania hanyalah orang asing yang kebetulan bernapas di ruang yang sama.