NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Nilai yang Lebih Tinggi dari Segala Angka

Tiga minggu berlalu sejak pertemuan dengan Tuan Hendrik. Gedung perkantoran Saraswati Kopi Nusantara terasa seperti berada di atas bara api. Para pemegang saham minoritas yang tergiur tawaran ratusan miliar itu berhasil mengumpulkan tanda tangan cukup untuk mengadakan RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM LUAR BIASA, dengan satu-satunya agenda: memecat Agung dan Larasati dari jabatan direksi, lalu menjual seluruh aset perusahaan ke konglomerat Eropa secepat mungkin.

Pagi hari pelaksanaan rapat, udara di luar gedung dipenuhi oleh para wartawan yang sudah menunggu sejak subuh. Di dalam aula rapat yang besar, lebih dari dua ratus orang berkumpul: para pemegang saham, perwakilan karyawan, anggota dewan komisaris, serta tim hukum dari kedua belah pihak yang berselisih. Suasana terasa tegang, hampir bisa diraba dengan tangan.

Agung dan Larasati duduk di panggung paling depan, bergandengan tangan seperti biasa. Larasati mengenakan gaun kerja berwarna biru tua yang longgar untuk menutupi perutnya yang semakin membesar, wajahnya tenang meski ia tahu hari ini bisa menjadi titik terendah dalam perjalanan mereka memimpin perusahaan. Di barisan belakang, Ibu Saras, Aditya, dan Arif duduk dengan wajah tegang namun penuh dukungan. Bahkan Lala dibawa Denok duduk di pojok ruangan, diberi buku gambar agar tidak berisik, gadis kecil itu sesekali melambaikan tangan ke arah orang tuanya dengan senyum polos.

“Rapat dimulai,” suara ketua dewan komisaris membuka acara dengan suara gemetar. “Agenda tunggal: pemungutan suara mengenai usulan penjualan perusahaan dan penggantian direksi.”

Segera setelah itu, perwakilan pemegang saham minoritas berdiri dengan semangat. Ia menyodorkan tumpukan dokumen ke meja pimpinan rapat, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru aula:

“Teman-teman semua! Selama setahun terakhir, direksi kita menolak tawaran tujuh ratus lima puluh miliar rupiah hanya karena alasan perasaan! Tujuh ratus lima puluh miliar! Itu cukup untuk membagikan dividen besar kepada kita semua, cukup untuk menjamin masa depan anak cucu kita! Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka lebih memilih mempertahankan petani-petani miskin, membangun sekolah-sekolah yang tidak menghasilkan untung sepeser pun! Mereka memimpin dengan hati, bukan otak! Dan itu akan menghancurkan kita semua!”

Suara tepuk tangan riuh terdengar dari kelompok pendukungnya. Beberapa orang berteriak setuju, membuat suasana semakin ricuh. Agung hendak bangkit membela diri, tapi Larasati justru menahan lengannya pelan, menggelengkan kepala. “Tunggu,” bisiknya. “Biarkan mereka menghabiskan semua argumennya. Waktunya kita bicara nanti.”

Setelah hampir satu jam debat panas yang semakin menjurus pada serangan pribadi terhadap pasangan suami istri itu, akhirnya giliran Agung angkat bicara. Ia berdiri perlahan, menatap satu per satu wajah orang-orang di aula itu. Suaranya tidak keras, tapi begitu tenang dan tegas sehingga seluruh ruangan perlahan menjadi hening sendirian.

“Bapak, Ibu, teman-teman semua,” mulainya. “Kami mengerti kekhawatiran kalian. Angka tujuh ratus lima puluh miliar memang sangat menggoda. Bahkan jujur saja, kemarin malam saya dan istri saya sempat duduk berjam-jam memikirkannya. Kami bertanya pada diri sendiri: apakah kami terlalu keras kepala? Apakah kami salah karena menolak kesempatan emas itu?”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin dalam:

“Tapi kemudian kami teringat pesan Bu Wulan. Beliau pernah berkata: ‘Perusahaan ini bukan milik kita. Kita hanya penitipnya. Satu hari nanti kita harus menyerahkannya kembali ke generasi berikutnya dalam keadaan lebih baik, bukan lebih buruk.’ Jika kami menjualnya hari ini, memang kita semua kaya raya seketika. Tapi apa yang akan kita wariskan ke anak cucu? Hanya uang yang cepat habis. Kita tidak mewariskan pekerjaan untuk ratusan karyawan. Kita tidak mewariskan masa depan untuk ribuan anak petani yang pendidikannya kita biayai. Kita tidak mewariskan sesuatu yang bisa mereka banggakan, sesuatu yang dibangun atas nama kejujuran dan kerja keras.”

Larasati kemudian bangkit berdiri di samping suaminya. Ia mengeluarkan selembar surat dari mapnya, surat yang ditandatangani oleh lebih dari delapan ratus orang: seluruh karyawan perusahaan, dua belas kelompok tani mitra di Temanggung, Lampung, dan Aceh, serta ratusan penerima beasiswa program Bu Wulan.

“Ini daftar nama orang-orang yang hidupnya bergantung pada keputusan kita hari ini,” katanya jelas. “Mereka tidak punya saham. Suara mereka tidak terdengar di ruangan ini. Tapi merekalah yang setiap hari bangun pagi-pagi sekali, bekerja di bawah terik matahari, memastikan setiap butir kopi yang kita hasilkan adalah yang terbaik. Apakah kita tega mengkhianati kepercayaan mereka hanya demi tumpukan uang kertas?”

Aula kembali hening. Beberapa pemegang saham yang tadinya bersuara keras kini mulai tampak ragu, menunduk malu-malu. Namun perwakilan kelompok penentang tidak mau menyerah begitu saja. Ia tertawa sinis, berdiri kembali:

“Omong kosong belaka! Ini semua hanya retorika untuk mempertahankan jabatan kalian! Kalian hanya takut kehilangan kekuasaan! Di mana bukti bahwa menolak tawaran itu membawa kebaikan apa pun? Selama ini yang kita lihat cuma biaya membengkak, keuntungan menipis! Saya usulkan kita langsung lakukan pemungutan suara saja! Tidak perlu bicara lagi!”

Ketua dewan komisaris mengangguk pelan, siap mengambil alat suara. Saat itu juga, pintu utama aula rapat terbuka lebar dengan bunyi yang cukup keras hingga semua kepala menoleh ke arah sana.

Masuk tiga orang berjalan tergesa-gesa namun terhormat. Di depan adalah sekretaris perusahaan yang wajahnya pucat karena kaget. Di belakangnya, berjalan seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun berkebangsaan Prancis, dengan rambut perak yang disanggul rapi, mengenakan jas kerja sederhana, membawa tas kulit tua berisi dokumen. Di sampingnya, berjalan seorang pria Indonesia yang dikenal luas sebagai Profesor Wibawa, ahli botani terkemuka Indonesia yang namanya sering diundang ke konferensi dunia.

“Maaf mengganggu rapat penting Bapak Ibu!” suara sekretaris terbata-bata. “Tamu ini… tamu ini bersikeras harus masuk sekarang juga. Mereka bilang membawa kabar yang sangat mendesak dan berkaitan langsung dengan agenda rapat kita.”

Wanita Prancis itu melangkah maju ke tengah aula tanpa rasa takut, menatap semua orang dengan tatapan cerdas dan tajam. Ia memperkenalkan diri dengan suara yang fasih berbahasa Inggris, lalu Profesor Wibawa segera menerjemahkannya:

“Ibu ini adalah Profesor Elise Dubois, ahli botani dan pelestari keanekaragaman hayati terkemuka dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, PBB. Beliau terbang khusus dari Paris kemarin malam hanya untuk bertemu dengan keluarga Saraswati.”

Seluruh ruangan tercengang. Tidak ada yang menyangka perwakilan PBB akan datang tiba-tiba ke rapat perusahaan kopi mereka.

Profesor Elise mulai berbicara, dengan Profesor Wibawa yang menerjemahkan kalimat demi kalimat dengan hati-hati:

“Tiga bulan lalu, tim kami melakukan penelitian mendalam terhadap ratusan varietas kopi di seluruh dunia untuk mencari jenis yang mampu bertahan hidup di tengah perubahan iklim ekstrem yang kini melanda bumi. Hampir semua varietas unggul yang biasa ditanam perusahaan besar ternyata sangat rapuh. Dalam sepuluh hingga lima belas tahun ke depan, sebagian besar bisa punah karena suhu bumi yang semakin panas dan curah hujan yang tidak menentu.”

Ia berhenti sejenak, lalu matanya berbinar menatap Agung dan Larasati di panggung:

“Tapi kami menemukan satu pengecualian. Kopi Melati Saraswati. Varietas langka yang hanya ditanam secara tradisional oleh keluarga dan mitra petani Bapak Ibu di Indonesia. Penelitian kami membuktikan bahwa varietas ini memiliki ketahanan alami yang luar biasa terhadap kekeringan, hama, dan perubahan suhu. Lebih dari itu, kandungan antioksidannya tiga kali lipat lebih tinggi dibanding kopi lain di dunia. Ini bukan sekadar kopi enak. Ini adalah harta karun genetik umat manusia yang bisa menyelamatkan masa depan industri kopi seluruh dunia dari kepunahan.”

Aula itu benar-benar hening sekarang. Bahkan seekor lalat yang terbang pun suaranya akan terdengar jelas.

“Ketika kami tahu bahwa sebuah konglomerat Eropa berusaha membeli hak eksklusif varietas ini, kami sangat khawatir,” lanjut Profesor Elise lagi. “Kami tahu pola mereka: mereka akan mematenkan gen varietas ini, menguasainya sepenuhnya, lalu menjual benihnya ke petani seluruh dunia dengan harga yang sangat mahal. Padahal varietas ini seharusnya menjadi warisan bersama umat manusia, bukan monopoli segelintir orang kaya. Oleh karena itu, lembaga kami bersama Kementerian Pertanian Republik Indonesia ingin mengajukan usulan kerja sama resmi dengan perusahaan Bapak Ibu.”

Profesor Wibawa kemudian maju selangkah, menyodorkan dokumen kerja sama yang tebal ke meja rapat dengan wajah bangga:

“Kerja sama ini mencakup pendanaan penuh dari PBB dan pemerintah untuk mengembangkan pusat penelitian kopi nasional di Temanggung, pendaftaran varietas ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia agar tidak bisa diklaim pihak asing, serta pembukaan akses benih secara terjangkau bagi seluruh petani kopi di Nusantara. Nilai kerja sama ini bukan ratusan miliar. Tapi nilainya tak ternilai—karena dia menjamin nama keluarga Saraswati akan tercatat dalam sejarah sebagai penyelamat kopi Indonesia, bahkan kopi dunia.”

Saat penjelasan itu selesai, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Lala yang tadi diam di pojok ruangan tiba-tiba turun dari kursinya, berlari kecil ke tengah aula sambil memegang gambar yang baru saja ia buat. Ia berhenti tepat di depan Profesor Elise, lalu menyodorkan gambar itu dengan wajah manisnya.

“Nenek, ini gambar kopi milik Nenek Wulan. Warnanya hijau keemasan, kan? Ayah bilang kopi ini harus dijaga supaya adik-adik petani di gunung bisa tetap sekolah.”

Profesor Elise tertawa lembut, berjongkok agar sejajar dengan mata Lala. Ia menerima gambar itu dengan sangat hati-hati, lalu mengusap rambut keriting gadis kecil itu. “Terima kasih, sayang. Gambarmu ini akan saya bawa ke kantor PBB di Roma, sebagai pengingat bahwa alasan paling benar untuk menjaga alam adalah demi anak-anak seperti kamu.”

Momen sederhana itu memecah semua ketegangan yang tersisa.

Salah satu komisaris tua yang paling vokal menentang Agung dan Larasati tadi perlahan bangkit berdiri. Wajahnya merah padam karena malu. Ia berjalan mendekati pasangan suami istri itu di panggung, lalu menunduk hormat.

“Maafkan saya, Agung, Larasati. Saya buta. Saya hanya melihat angka di kertas, tapi tidak melihat nilai yang jauh lebih besar yang kalian jaga. Saya salah besar. Saya menarik kembali semua usulan saya. Saya akan mendukung kalian sepenuhnya, apa pun yang terjadi.”

Satu per satu, orang-orang yang tadinya berada di barisan penentang berdiri mengikuti jejak komisaris tua itu. Mereka meminta maaf, mengakui bahwa kepemimpinan Agung dan Larasati selama ini benar. Pemungutan suara yang tadinya akan menjadi bencana bagi keluarga itu justru berakhir dengan keputusan bulat: menolak selamanya penjualan perusahaan, dan menyetujui kerja sama dengan PBB serta pemerintah secara aklamasi.

Sorak kemenangan pecah memenuhi aula. Para karyawan menangis bahagia, para perwakilan petani bersalaman erat dengan air mata haru. Agung memeluk istrinya dengan sangat erat di tengah keramaian, mencium kening Larasati berulang kali, tidak peduli semua orang sedang melihat mereka.

“Kita berhasil, Sayang,” bisiknya di telinga wanita itu. “Kita benar-benar berhasil.”

Larasati membalas pelukan itu sambil menangis bahagia, matanya mencari Lala yang kini sedang diangkat ke pundak Arif, tertawa riang melambaikan tangan ke arah mereka. “Ya, Agung. Kita tidak sendirian. Selama kita memegang teguh apa yang benar, selalu ada jalan yang Tuhan siapkan untuk kita.”

Beberapa bulan kemudian, proyek pusat penelitian kopi di Temanggung resmi dimulai. Arif menjadi arsitek utamanya, merancang bangunan yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan energi matahari dan air hujan. Ribuan petani dari seluruh Indonesia mulai datang untuk mendapatkan pelatihan gratis dan benih Kopi Melati Saraswati dengan harga terjangkau. Nama keluarga Saraswati bukan lagi sekadar nama merek kopi. Kini nama itu menjadi simbol harapan, simbol keberanian memegang prinsip, dan simbol bukti bahwa bisnis yang baik tidak harus selalu memilih antara untung dan kebaikan—keduanya bisa berjalan beriringan, asalkan ada keberanian untuk memilih jalan yang benar.

Malam peresmian pusat penelitian itu, seluruh keluarga kembali berkumpul di kebun melati rumah tua. Lala sedang asyik mengajak Profesor Elise yang masih tinggal beberapa hari di Indonesia memetik bunga melati, sementara Ibu Saras dan Aditya mengobrol akrab dengan Profesor Wibawa tentang rencana masa depan.

Agung duduk di bangku kayu panjang, membiarkan Larasati bersandar nyaman di dadanya. Tangan besarnya beristirahat lembut di perut istrinya yang sudah sangat besar—bayi kedua mereka akan lahir kapan saja dalam hitungan minggu.

“Kamu tahu tidak,” kata Agung pelan, memutar cincin perak di jari Larasati dengan ibu jarinya. “Dulu saya pikir sukses itu kalau perusahaan kita jadi yang terbesar, yang paling kaya, yang paling dikenal orang. Tapi sekarang saya sadar… sukses yang sebenarnya adalah ketika nama kita disebut orang dengan rasa hormat, ketika apa yang kita bangun bisa bermanfaat bagi banyak orang, dan ketika di akhir hari, saya bisa pulang ke rumah, memeluk kamu dan anak-anak kita, dan tidur dengan nyenyak tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.”

Larasati mengangkat wajah, menatap suaminya dengan mata yang berbinar penuh cinta. Ia mengecup bibir Agung sebentar, lembut namun penuh makna.

“Itulah warisan sesungguhnya dari Bu Wulan, Agung. Bukan uang, bukan tanah, bukan gedung mewah. Tapi ajaran untuk selalu memilih kebaikan, meski jalan itu terasa lebih sulit dan sepi pada awalnya.”

Di atas kepala mereka, langit malam Jawa bersih tanpa awan, dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip seolah ikut tersenyum melihat keluarga itu. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma harum melati yang memenuhi seluruh penjuru kebun—aroma yang selalu hadir di setiap momen penting perjalanan mereka, dari saat-saat paling gelap hingga saat-saat paling bahagia seperti sekarang.

Mereka tidak tahu bahwa bayi laki-laki yang akan segera lahir ke dunia itu kelak akan tumbuh menjadi pemimpin yang membawa nama Saraswati melanglang buana, atau bahwa Lala dengan jiwa besarnya akan menjadi pelindung utama bagi anak-anak petani di seluruh penjuru negeri. Mereka juga tidak tahu bahwa kerja sama dengan PBB itu nantinya akan membawa mereka bertemu dengan tokoh-tokoh dunia yang akan mengubah wajah pertanian Indonesia selamanya.

Tapi malam itu, semua hal tentang masa depan belum perlu dipikirkan.

Yang ada hanyalah kehangatan keluarga yang bersatu, kebahagiaan atas kemenangan prinsip atas ketamakan, dan keyakinan yang semakin kokoh bahwa apa pun lembaran baru yang akan ditulis esok hari, mereka akan menghadapinya bersama—bergandengan tangan, saling percaya, dan selalu membawa pesan Bu Wulan di dalam hati setiap langkah yang mereka ambil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!