Gwen adalah seorang model dan artis peran yang terkenal di jagad hiburan. Kehidupan yang gemerlap dunia keartisan dimilikinya, anak dari keluarga kaya raya, meskipun orang tuanya berpisah, namun dia tetap memiliki kehidupan yang bahagia sebagai seorang anak.
Memiliki tunangan seorang pengacara yang terkenal dan tampan.
Kehidupannya yang dimiliki seorang Gwen adalah impian hampir semua wanita.
Namun, semua berubah setelah kecelakaan maut membuatnya harus merelakan raganya dikuburkan. Jiwanya melayang ke dunia lain dan akhirnya masuk ke tubuh orang lain yang berbeda 180 derajat dari dirinya.
Mampukah Gwen menjalani semuanya? Bagaimana hubungannya dengan tunangannya? Konflik baru muncul dari tubuh yang menjadi tempatnya saat ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Pulang
Gwen memarkir mobil di depan kantor Ben. Ia masuk ke ruangan, disambut ramah oleh resepsionis yang pernah ia temui sebelumnya.
"Selamat sore Bu, bisa saya bantu?" Tanyanya dengan ramah.
Gwen membalas dengan senyuman. "Saya mau menemui Pak Ben." Jawab Gwen.
"Ibu Laura yang kemarin ya?" Resepsionis itu mengenalinya, Gwen menganguk.
"Oh, apakah Pak Ben belum menghubungi Ibu?"
"Belum. Memangnya kenapa?" Gwen heran.
"Saya sudah tulis di note Pak Ben, beberapa hari ini Pak Ben jarang ke kantor." Resepsionis itu merasa bersalah.
Gwen kecewa, Ben jarang ke kantor. Ia menyimpulkan bahwa cerita Katrin memang benar.
"Baiklah, tidak apa apa. Saya juga salah tidak menghubungi Pak Ben terlebih dahulu." Gwen tersenyum.
"Loh, Bu Laura, ada apa ke mari?" Terdengar suara Pak Bimo menyapanya. Gwen beberapa kali bertemu dengan Pak Bimo, memiliki perawakan tinggi besar, dan berwajah lucu, menurut Gwen, namun, jika sudah berhadapan dengan klien atau lawan di pengadilan, berubah menjadi orang yang serius.
"Saya mau bertemu Pak Ben, mengambil surat rumah saya." Jawab Gwen ramah.
"Pak Ben sedang membantu klien yang berada di luar kota, jadi jarang berapa di kantor. Nanti saya bantu sampaikan ke Pak Ben." Jawaban Pak Bimo memberi kelegaan pada Gwen.
"Terima kasih Pak." Gwen menyalami Pak Bimo dan berpamitan.
Gwen pulang ke rumahnya untuk berkemas mempersiapkan keperluan bepergian ke Yogya besok.
Sebenarnya ada sedikit takut menyusup di hati Gwen mengenai keluarga Laura, namun ia percaya, niat baik pasti akan mendapatkan jalan yang baik juga. Lagian siapa tahu ia dapat lebih mengenal keluarga Laura, bahkan Laura dengan lebih baik lagi.
Terdengar suara motor, Lisa kembali dari syuting. Lisa melempar tasnya ke kamarnya, lalu menarik handuk dari gantungan.
Selesai membersihkan diri, ia ke dapur menyalakan kompor memasak mi instan.
"Kamu belum makan malam?" Gwen masuk ke dapur. Lisa menganguk.
TEK..TEK..TEK...
Terdengar suara orang berjualan lewat di depan rumah. Gwen langsung berlari menuju pintu untuk memanggil.
"Bang....!!" Teriak Gwen. Penjual itu menghentikan gerobak di depan rumah.
"Lu mau? Ayo ambil piring!" Gwen menawari Lisa, lalu mengikuti Gwen ke luar rumah menuju penjual, tak lupa mematikan kompor.
"Ada apa aja Bang?" Tanya Gwen sambil melongok ke gerobak.
"Mi goreng, mi rebus, nasi goreng." Jawab si Abang penjual.
"Gue mau nasi goreng pake telur dadar." Gwen memesan sambil menyodorkan piring kosong ke Abang penjual.
"Gue juga nasi goreng Bang, sama ! Telur dadar juga." Lisa menyodorkan piring kosong yang dibawanya juga.
"Eh, ini kan Neng Lisa, yang maen sinetron itu kan? Tinggal di sini ya?" Ternyata di Abang mengenali Lisa.
"Iya, ini rumah sodara gue, Bang. Jadi tolong jangan dihebohkan hebohkan ya!" Pinta Lisa sambil tersenyum ramah pada Abang penjual itu.
Pesanan mereka telah selesai, Gwen membayarnya, lalu mereka menuju ruang makan.
Mereka menikmati makan malam bersama sambil mengobrol tentang pekerjaan Gwen, soal Katrin dan Ben, Ben yang jarang di kantor sejak Gwen meninggal. Lalu Lisa menceritakan kondisi Papanya, lalu ia pernah melihat Miranda dan seorang aktor keluar dari kamar mandi bersama-sama. Nah, ngapain mereka berduaan di dalam kamar mandi. Lisa belum ada kesempatan untuk mendokumentasikan kegiatan panas Miranda.
Gwen selalu mengingatkan Lisa untuk berhati-hati selalu.
***
Pagi itu Gwen menyesap kopi buatannya sendiri, sambil mengunyah roti sobek yang dibeli dari Abang penjual roti yang sering berkeliling sekitar komplek
Lisa baru bangun, terkejut Gwen telah siap hendak pergi.
Yg ga kenal Radit itu Gwen bukan Laura😜