Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Yang Didengar dan Yang Diabaikan
Pagi itu, aroma nasi hangat dan telur ceplok memenuhi rumah kecil milik Arkana dan Hanifah.
Di dapur, Arkana sedang sibuk mencuci alat masak yang ia gunakan untuk masak sebelumnya.
Hanifah yang baru selesai merapikan tempat tidur keluar dari kamar sambil tersenyum. "Mas... kok mas lagi yang masak?"
Arkana menoleh lalu tersenyum. "Ya iya. Masa istriku yang lagi hamil disuruh masak?"
Hanifah berjalan mendekat. "Aku kan sudah bilang mualnya mulai berkurang."
"Mulai berkurang bukan berarti sudah hilang." tukas Arkana lembut.
Hanifah hanya tersenyum tipis. Arkana kemudian mematikan kompor.
"Oh iya, hari ini Mas tidak masuk kerja."
Hanifah sedikit terkejut. "Loh, kenapa?"
"Mas izin sehari. Cuma ingin istirahat di rumah, sekalian menemani kami di rumah,"
Hanifah menatap suaminya beberapa saat dan merasa cemas. "Mas tidak usah terlalu sering izin. Nanti atasan Mas marah."
Arkana terkekeh pelan. "Tenang saja. Mas masih punya jatah cuti. Lagipula sesekali menemani istri tidak apa-apa."
Hanifah tersenyum malu. "Terima kasih ya, Mas."
Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, suara pintu kamar terbuka. Bibi Ratna keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Sebuah tas kerja tersampir di bahunya, sementara beberapa map dijepit di bawah lengannya.
Ia menatap Arkana yang masih mengenakan kaus rumahan.
"Loh? Tidak berangkat kerja?" tanya Bibi Ratna mengernyit.
Arkana menggeleng. "Hari ini saya izin, Bi."
Ratna mengernyit semakin tipis. "Kemarin sudah izin waktu mengantar Hanifah kontrol. Sekarang izin lagi?"
"Saya masih punya cuti, Bi," jawab Arkana tenang.
Ratna hanya mengangguk singkat. Wajahnya terlihat masam "Ya sudah. Jangan terlalu sering. Nanti dinilai tidak serius bekerja. Kamu sebentar lagi jadi seorang ayah, harus kuat cari uang untuk anakmu."
"Iya, Bi."
Suasana kembali hening. Ratna melirik jam tangannya. "Aduh... Hampir terlambat, hari ini ada rapat."
Ia segera memakai sepatunya lalu berjalan keluar rumah. Namun, baru saja Ratna sampai di depan pagar, sebuah pikap berhenti tepat di depan rumah.
Tit... Tit...
Pak Hadi turun lebih dulu dari kursi pengemudi. Disusul Bu Sulastri yang tersenyum hangat.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." jawab Hanifah dan Arkana berbarengan dan mereka langsung keluar. "Bu... Pak... silakan masuk."
Pak Hadi tertawa kecil. "Nanti dulu. Ini barangnya diturunkan dulu."
Ia membuka bak pikap. Di dalamnya tersusun rapi tiga keranjang bayi kayu yang sudah dipernis ulang hingga tampak mengilap.
Di sampingnya terdapat beberapa kardus berisi pakaian bayi, selimut, bantal kecil, popok kain, dan berbagai perlengkapan lain.
Hanifah sampai menutup mulutnya. "MasyaAllah... Pak, Bu... Ini banyak sekali."
"Kan cucunya tiga, ya keranjangnya juga harus tiga," ujar Pak Hadi senang.
Arkana segera membantu menurunkan keranjang pertama. "Pak, sebenarnya tidak usah sebanyak ini."
Pak Hadi menggeleng cepat. "Tidak apa-apa. Daripada disimpan di gudang. Ini juga ada yang baru Bapak bikinkan kemarin biar semua bayinya bisa pakai keranjang sendiri. Jadi tidak semuanya bekas cucu saya, dan ada beberapa pakaian baru juga."
Sementara itu, Bibi Ratna berdiri beberapa langkah dari mereka. Tatapannya datar, sesekali menghela napas berat melihat barang-barang itu dan menggelengkan kepala. Tak lama, angkutan umum pesanannya datang.
Tanpa mengucapkan salam ataupun berpamitan kepada Bu Sulastri dan Pak Hadi, Bibi Ratna langsung melangkah naik begitu saja. Mobil angkutan pun kembali melaju.
Bu Sulastri hanya tersenyum maklum. "Mungkin beliau sedang buru-buru."
Pak Hadi mengangguk. "Iya. Kasihan juga kalau sampai terlambat turun kerja."
......................
Beberapa saat kemudian, seluruh barang berhasil dipindahkan ke dalam rumah. Pak Hadi mulai merakit kembali tiga keranjang bayi yang sebelumnya dibongkar agar mudah dibawa.
"Pak, bagian sini sudah pas belum?" tanya Arkana sambil memegang obeng.
"Coba geser sedikit. Nah... baru pas," tuntun Pak Hadi.
Di sisi lain, Hanifah menyeduhkan teh hangat untuk Bu Sulastri di ruang tengah. "Bu, terima kasih banyak. Saya jadi malu sudah merepotkan."
Bu Sulastri mengusap punggung tangan Hanifah lembut. "Jangan bilang begitu. Ibu sama Pak Hadi senang bisa membantu. Anak-anak kami sudah punya keluarga masing-masing, rumah jadi sepi. Sekarang ada kamu."
Hanifah tersenyum haru. "Tapi tetap saja... semua ini terlalu banyak, Bu."
"Kalau nanti sudah lahir... baru kamu tahu betapa cepatnya bayi tumbuh. Barang-barang ini pasti berguna," hibur Bu Sulastri.
Hanifah mengangguk. "Iya, Bu."
Menjelang sore, Pak Hadi dan Bu Sulastri berpamitan. "Kalau ada apa-apa, panggil saja ya."
"Iya, Pak, Bu. Terima kasih banyak."
Setelah mobil pikap meninggalkan halaman rumah, mereka segera masuk. Tiga keranjang bayi kini berjajar rapi di salah satu sudut kamar. Hanifah memandanginya cukup lama.
Arkana menghampiri dari belakang. "Suka?"
"Suka, ini sederhana dan masih sangat layak dipakai." jawab Hanifah mengangguk sambil tersenyum.
Arkana ikut tersenyum. "Semua karena orang-orang yang sayang sama kita."
......................
Malam harinya, pintu rumah kembali terbuka. Bibi Ratna baru pulang bekerja. Ia meletakkan tas dan map di atas meja dengan kasar. Langkahnya langsung terhenti ketika melihat isi kamar tidur yang pintunya terbuka.
"Tiga keranjang?" tanya Bibi Ratna dingin.
Hanifah keluar dari dapur dengan gugup. "Iya, Bi. Tadi Bu Sulastri sama Pak Hadi yang mengantar."
Bibi Ratna menghela napas panjang, lalu duduk di kursi. "Jadi... barang-barang bekas itu tetap diterima?"
Arkana mengangguk. "Iya, Bi."
Nada suara Bibi Ratna mulai berubah tajam. "Bibi kemarin sudah mengingatkan. Belum tujuh bulan jangan membeli perlengkapan bayi. Pamali! Sekarang malah ditambah menerima pakaian bekas. Kalian memang gak punya uang untuk beli pakaian anak kalian nanti."
Ruangan mendadak sunyi mencekam. Arkana menarik napas pelan. "Bi... kami sangat menghargai nasihat Bibi—"
"Kalau menghargai... harusnya didengar!" potong Bibi Ratna cepat.
Hanifah menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Bibi Ratna kembali melanjutkan dengan ketus. "Bibi juga sudah bilang soal rumah ini. Rumah tusuk sate! Kalian tahu, kan, kalau rumah di posisi begini mendatangkan malapetaka? Saya sebenarnya tidak mau menginap di sini, saya cuma terpaksa."
Arkana menatap bibinya dengan tenang namun tegas. "Bi... bukan kami tidak mau cari rumah yang lebih baik. Kalau kami mampu membeli rumah lain, tentu kami tidak memilih rumah ini. Tapi untuk saat ini, inilah rumah yang sanggup kami miliki. Dan kami memilih bersyukur daripada terus mengeluh."
Bibi Ratna terdiam sesaat, wajahnya mengetat tidak puas. "Dikasih tahu orang tua, ada saja alasan untuk membantah!" Tatapannya kemudian beralih tajam kepada Hanifah. "Sejak menikah, Arkana jadi sering membantah ucapan orang yang lebih tua. Dulu waktu kecil dia anaknya penurut, apalagi ayahnya yang mengajarkannya."
Hanifah langsung menggeleng panik. "Bi... jangan salah paham. Mas Arkana hanya—"
"Sudahlah!" potong Bibi Ratna sambil mengangkat tangan. "Bibi sudah mengerti."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras. Suasana rumah kembali sunyi.
Hanifah mengembuskan napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Aku jadi merasa semua ini salahku, Mas."
Arkana langsung menggenggam erat tangan istrinya. "Bukan, Dek. Kamu tidak salah sama sekali."
"Tapi Bibi Ratna—"
"Kita hanya sedang belajar hidup berdampingan dengan orang yang memiliki cara pandang berbeda," potong Arkana lembut. "Sudah, jangan dipikirkan lagi."
Hanifah hanya bisa mengangguk pelan, mencoba menenangkan hatinya yang cemas.