Seorang Guru ahli Matematika berusia 32 tahun tiba-tiba menjadi remaja 17 tahun pada saat dia sedang tertidur di malam hari, pria yang bernama lengkap Ahmad Ibrahim begitu terkejut ketika ia terbangun di pagi hari.
Ahmad Ibrahim menggunakan nama baru yaitu Orion. Mau tidak mau dia harus menjalani kehidupanya sebagai seorang siswa menengah atas, setiap satu minggu kemampuan analisanya semakin meningkat pesat disebabkan kejadian yang menimpa dirinya.
Dia bertemu dengan seorang gadis di sekolah barunya bernama Akira yang ternyata adalah seorang detektif. Orion mengunakan identitas Shadow untuk mengungkap kasus yang begitu rumit baik di dalam dan di luar lingkungan sekolah.
Tak di sangka, beberapa kelompok mafia dan pengusaha besar terlibat dalam kasus yang ia hadapi bersama dengan Akira.
Dari situlah perjalanan besar Orion di mulai sehingga mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Accy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27 : My Hunch As A Criminal Detective
Di saat yang sama, Akira yang berada tepat di belakang Ibu Ekha sedang menyimak percakapan para guru yang sebelumnya telah kembali berkumpul atas perintah kepala sekolah pada Ibu Ekha.
"Aku tak menyangka, jika masalah ini menjadi rumit," kata ibu Lina yang duduk di kursinya dengan wajah pucat.
"Aku tak menduga jika beberapa siswa kita terkait dengan permasalahan narkoba jenis baru," kata Pak Ardan yang sebelumnya telah mendengarkan pemaparan Ibu Ekha sambil berjalan bolak-balik di dekat Pak Hendra.
"Mengapa bisa narkoba jenis baru ini beredar dalam lingkungan sekolah.!? Padahal, sekolah kita sangatlah ketat dan tertutup rapat," kata Pak Hendra yang sedang berdiri bersampingan dengan Ibu Lina.
"Aku juga nggak ngerti, apa lagi aku guru baru di sekolah ini. Tapi, masalah ini harus segera di tuntaskan, para orang tua siswa akan beranggapan bahwa kita sebagai tenaga pendidik tak memperhatikan siswa dan siswi kita dengan baik," kata Ibu Ekha sambil menatap satu-persatu guru-guru tersebut.
Ibu Lina lalu bereaksi dan berkata."Tangan Pak Hendra kotor tuh, bersihin dong, kok guru kimia jorok amat," dia menatap Pak Hendra.
"Aku lupa membersihkanya, Bu,! maklum, sibuk megurus anak-anak yang positif narkoba di kantin bersama Pak Ardan, soalnya itu sangat mendadak," dia tertawa kecil sejenak lalu melanjutkan perkataanya."Aku bersihin dulu,! terimah kasih telah mengingatkan, Bu Lina," dia memberikan jempol ke arah Ibu Lina lalu bergegas berjalan menuju ke westafe di dalam ruangan itu.
"Apa yang di Katakan Pak Hendra itu betul, kami bersama membawa siswi ke ruangan UKS, aku juga tekejut dengan peristiwa yang terjadi di kantin," kata Pak Ardan
"Wajah Pak Ardan sangat pucat, jangan memaksakan diri, baju Bapak di penuhi kapur," kata Ibu Lina.
"Ini hal biasa, Bu.! Maklum, aku lebih suka memgajar memakai kapur, aku suka menerangkan di papan tulis," kata Pak Ardan sambil memandang wajah Ibu Lina lalu tertawa kecil.
Ibu Ekha lalu masuk ke dalam celah-celah percakapan, dia berkata."Orang tua siswa yang berada di ruangan kepala sekolah protes. Katanya, ada beberapa guru yang melakukan tindakan kekerasan ke pada siswa, di bagian tubuh anaknya terdapat bekas pukulan benda keras," dia menatap satu persatu para guru.
Pak Ardan yang sedang membersihkan bajunya lalu berhenti, dia menatap Ibu Lina, begitupun dengan Ibu lina. sedangkan Pak Hendra yang baru saja membersihkan tanganya menatap kedua guru tersebut secara bergantian.
"Ada empat orang yang mencurigakan di sekolah ini, Kepalah sekolah yang mengambil bukti sampel dan menyimpan kotak persegi empat dengan berhati-hati, Ibu lina yang raut wajahnya tak menentu. Aku rasa, dia terlibat dengan tindakan kekerasa pada siswa, begitupun dengan Pak Ardan dan Pak Hendra, ketiga guru ini terhubung dengan siswa yang berada di rumah sakit. bekas kapur di baju Pak Ardan, Pak Hendra mencuci tanganya. Tunggu dulu,!! ada yang terlewatkan," ucapnya dalam hati, dia memandan Ibu Ekha lalu berkata.
"Apa Ibu tau, siapa orang yang membawa paket untuk kepala sekolah,!?" dia menatap dengan serius wajah Ibu Ekha.
"Masalah paket, aku yang menerimanya sendiri, Nak.! Ada apa,!?" kata Ibu Ekha memandang wajah Akira.
"Di mana pembawa paket itu, Bu,!?"
"Kemungkinan dia sudah pergi menjauh dari sekolah ini, atau bisa jadi dia masih berada di sekolah ini. Tapi, aku melihatnya begitu terburu-buru."
Akira terdiam sejenak, dia sedang berpikir, dia mengamati satu-persatu guru-guru di dalam ruangan itu.
"Ini belum cukup kuat," begitulah perkataan yang terlintas dalam benaknya.