NovelToon NovelToon
Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:62.4k
Nilai: 5
Nama Author: Linda sagita

Kejadian malam itu, sungguh mimpi buruk bagi Ais. Bagaimana tidak, ia terpaksa menerima tawaran untuk dinikahi secara siri oleh laki-laki beristri.

Pernikahan itu tak lebih hanya sebatas pertanggung jawaban atas kesalahan satu malam.

Hal yang lebih menyakitkan selama pernikahan ia di batasi dengan SURAT PERJANJIAN.

Perlakuan yang selalu menyakitkan dirinya, membuat Ais bangkit dari keterpurukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab#27

Keesokan harinya.

Seperti biasa, Ais selalu bangun pagi-pagi sekali, meskipun semalam ia baru bisa tidur di atas jam dua belas malam. Kejadian kemaren membuat Ais susah untuk dapat memejamkan mata. Terlebih setelah Hafiz ingin memulai hubungan mereka dari awal.

Selesai menunaikan shalat subuh, Ais langsung beranjak turun ke lantai satu untuk memulai aktifitasnya sebagai asisten rumah tangga.

Saat ia melewati kamar Hafiz, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, "mungkin tuan Hafiz masih tidur, baguslah....." gumam Ais dalam hati, kemudian terus berlalu.

Hari ini Ais sengaja hanya memasak nasi goreng untuk menu sarapan, setelah semuanya beres, ia berniat untuk kembali naik kelantai atas untuk membersihkan diri.

Kembali melewati kamar Hafiz, namun suasana nya masih sama seperti tadi, sepi.

Ada rasa khawatir dibenak Ais, tidak biasanya Hafiz seperti itu.

Karena kebiasaan Hafiz tiap azan subuh pasti terbangun untuk pergi ke mesjid, tapi tidak hari ini.

"Apa jangan-jangan tuan Hafiz sakit ya?"gumam Ais dalam hati saat ia berada tepat di depan pintu kamarnya.

Ia pun mengurungkan niat untuk masuk kekamarnya, dan memilih untuk melihat keadaan kamar Hafiz.

Tokkkk....tok....

"Tuan..., apa anda sudah bangun?" tanya Ais sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Hafiz.

Masih tidak ada jawaban.

"Kemana tuan Hafiz? apa ia memang tidak ada dikamar ya?" Ais kembali bingung, sambil menatap lekat ke arah pintu.

Tokkk....tokk..... kembali Ais mengetuk pintu.

"Tuan...! apa anda di dalam?" tanya Ais dengan sedikit menaikkan volume suaranya.

Tak juga mendapatkan jawaban, akhirnya Ais mencoba memutar knop pintu, "tidak terkunci" gumam Ais dalam hati.

Perlahan Ais membuka pintu, ia pun mendongakkan sedikit kepalanya ke dalam kamar Hafiz.

Belum sempurna memindai isi kamar, mata Ais dibuat menajam pada Hafiz yang masih tampak tertidur pulas di atas kasurnya.

"Apa ia masih tidur? tapi rasa nggak mungkin" Ais kembali bergumam sendiri.

Ais sedikit ragu untuk masuk ke dalam kamar Hafiz, ia memutuskan untuk memanggilnya saja dari ambang pintu.

"Tuan Hafiz! sudah pagi, apa tuan Hafiz tidak kerja hari ini?"

Hafiz masih tetap dengan tidurnya. Akhirnya Ais kembali menaikkan volume suaranya.

"Tuan Hafiz....! apa anda mendengar suara saya? Kenapa belum bangun juga?"

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Ais masuk kedalam kamar Hafiz, dan mendekat ke arah Hafiz yang masih tertidur pulas.

"Tuan....!" Ais menyentuh lengan Hafiz yang terbalut selimut.

"Tuan Hafiz, apa tidak kekantor" Ais masih terus berusah membangunkan Hafiz, tapi tetap saja tak bergeming.

"Ada yang aneh, jangan-jangan ...." Ais meletakkan punggung tangannya dikening Hafiz.

"Waw ....panas, tuan Hafiz demam" gumam Ais dengan wajah cemas.

Ais memutuskan untuk turun kebawah lagi, tidak mungkin rasanya orang sakit diberi makan dengan nasi goreng. Jadi Ais kembali memasak bubur, sementara menunggu bubur matang ia kembali lagi ke atas siap dengan membawa air hangat untuk mengompres Hafiz.

Dengan sangat cekatan Ais mengompres kening Hafiz. Ada rasa khawatir di hatinya, bagaimana tidak, saat ini hanya ia dan Hafiz yang ada dirumah, jika terjadi sesuatu pada Hafiz, Ais tidak tau harus minta tolong dengan siapa.

Selesai mengompres Hafiz, Ais kembali turun kebawah untuk melihat apakah bubur yang ia masak sudah matang.

Di saat bersamaan Hafiz terbangun merasa ada yang aneh di keningnya, ia pun berusaha memegang benda aneh itu.

"Kenapa ada handuk kecil ini? apa Ais yang melakukannya?" gumam Hafiz masih dengan wajah penasaran.

Ia pun melihat ke arah meja samping tempat tidur, benar saja ada baskom kecil yang berisi air.

"Ternyata ia peduli padaku" Hafiz tersenyum kecil.

"Tunggu...,sejak kapan ia masuk ke kamar ini? kenapa bisa aku tidak menyadarinya? Ah....yang penting ...." belum sempat melanjutkan gumamannya, Ais terlihat menyembul dari balik pintu, dengan semangkuk bubur, segelas air putih dan tak lupa ia membawa obat penurun panas.

Ais tak memperdulikan tatapan Hafiz padanya, dengan perlahan Ais meletakkan bubur di atas meja samping baskom.

Ais pun berbasa-basi, "tuan sudah bangun?" dengan tangan masih sibuk menaruh nampan di atas meja.

Yang ditanya malah diam, karena ini kali pertamanya Ais bersikap seperti itu padanya. Karena biasanya Ais hanya mengangguk, menjawab bila ditanya dan berkata seperlunya, selebihnya menundukkan kepala.

"Sekarang tuan makan buburnya dulu ya" sambil duduk menyampir di sisi ranjang.

Hafiz derdiam dan menatap Ais lekat.

"Tuan bisa duduk? biar enak makan buburnya" masih dengan mangkuk ditangan sambil menatap ke arah Hafiz.

Hafiz mencoba mendudukkan diri, karena pusing yang ia rasakan sangat berat, membuat dirinya kembali terjatuh.

Tanpa banyak bicara Ais meletakkan kembali mangkuk ditangan, dengan sigap Ais membantu Hafiz untuk duduk bersandar dipucuk tempat tidur. Tanpa sadar saat menolong Hafiz, jarak antara wajah Ais dan Hafiz sangat dekat, sehingga Hafiz bisa merasa hangatnya deru nafas Ais yang berada di atasnya. Menciptakan debaran jantung saat keduanya saling tatap.

Hening.......

Krikkk.....krikkkk.....

Beberapa detik keduanya saling menyelami kehangatan sinar dimata keduanya.

Reflek Ais yang tersadar secepatnya menggeser posisinya menjauh diri dari Hafiz.

Belum sempat menjauh, Hafiz merangkul Ais dengan erat. Meletakkan kepala di ceruk leher Ais.

Ais yang mendapatkan perlakuan itu terdiam tanpa membalas pelukan Hafiz.

"Maaf, maafkan Abang Ais" suara lirih Hafiz.

"Maaf, Abang sudah banyak menyakiti Ais" Suara Hafiz terdengar semakin lirih.

"Ya...Allah...kenapa jantungku....? Aduh....., kenapa jadi geli begini leherku" gumam Ais dalam hati. Ais merasa ada sesuatu yang menggelitik hatinya, terlebih saat Hafiz bicara tepat di leher Ais, menyisakan rasa geli yang penuh dengan kehangatan, bukan geli seperti biasa. Lebih tepatnya geli bercampur nikmat yang Ais rasakan. Menghipnotis, membuat Ais tak bisa menolak pelukan Hafiz.

"Jantung...., kenapa juga jantung ini? Ayo.....Ais...bangun kamu sedang bermimpi!" Ais mengerutkan kedua alisnya menahan sesuatu yang ia rasakan.

Ais berusaha menyadarkan dirinya yang terasa larut dalam pelukan dan kata-kata Hafiz.

"Tuan....sepertinya....." belum sempat melanjutkan ucapannya, Hafiz kembali menimpali.

"Please ....Ais...beri Abang kesempatan, kita mulai semua dari awal" Hafiz berharap agar ia bisa memperbaiki hubungan bersama Ais layaknya hubungan suami istri pada umumnya.

Seketika Ais tersadar dari hipnotis yang di ciptakan Hafiz. Ia pun melerai pelukan Ais.

"Maaf tuan, sepertinya anda sedang tidak sehat, saya siapkan bubur ya?" Ais pun mengambil kembali bubur yang ada di atas meja.

Tampak wajah pias Hafiz, mendapatkan penolakan halus dari Ais.

Ais menyendoki bubur dan perlahan ingin menyuapi Hafiz. Saat bubur sudah berada di depan bibir, Hafiz memalingkan wajah sebagai protes pada Ais.

"Tuan...., makanlah walau sedikit! tuan lagi sakit" Ais berusaha membujuk Hafiz.

Hafiz memutar pandangan ke arah Ais dengan tatapan sendu.

"Abang akan makan, asal Ais jangan panggil saya tuan, panggil saya Abang!" modus Hafiz.

Ais tau itu hanya modus Hafiz, tapi dari pada ia berlama-lama di dekat Hafiz, ia pun mengiyakan saja.

"Ia.....Abang, Abang makan ye!" ucap Ais dengan nada penekanan.

Hafiz tersenyum kecil, " Tak masalah Ais, ini langkah awal untuk kita memperbaiki hubungan kita" gumam Hafiz dalam hati.

Kemudian Hafiz pun membuka mulut, Ais dengan telaten menyuapi Hafiz hingga suapan terakhir tanpa berbicara sepatah kata.

Yang disuapi malah tanpa henti menatap wajah Ais.

.

"Ternyata kamu cantik Ais" gumam Hafiz dalam hati.

Yang di tatap berusaha biasa saja, padahal dalam hati Ais ada gelora yang tak biasa.

1
Maizaton Othman
hek elehhh,hello kitty la sgt ye hafiz...
Maizaton Othman
Yesss..jangan sesekali tertipu dgn kata2 lelaki itu ice..
Maizaton Othman
aduhh hafiz..malu lah akak ni,orang Malaysia perangai spt awak..
Maizaton Othman
Sarawak...ku kira semenanjung,..tapi yelah,Malaysia jugak..cuma mungkin bhsa agak berbeza,tak pasti...
Maizaton Othman
ye,betul,jika siri pun susah juga tu,didenda dgn kadar yg mahal
Maizaton Othman
Saya dr Malaysia ya author,
nikmati aje jalan ceritanya..ttg bhsa Bm..tentu susah jika author hendak perbetulkan 100%,takpe..apapun,saya faham.
Maizaton Othman
Macam dah biasa guna BM je
Nenieedesu
semangat terus kak, segini dulu iyh nanti mampir lagi
Nenieedesu
jangan banget Fiiz
Nenieedesu
sudah aq favoritkan kak jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak dinovel aq kak dear Handana
Mom Dee🥰🥰
sampe sini ceritanya aku suka bangetttt, Vote untukmu thor 🤗🤗
Mom Dee🥰🥰
ceritanya bagus banget
Mom Dee🥰🥰
keren gak tuh 😁 asal gak hamil aja ye kaaan 🤭
Mom Dee🥰🥰
bacanya dlm hati jadi serasa ikutan berbahasa melayu 🤭
Mom Dee🥰🥰
mampir disini lagi 🤗🤗
auliasiamatir
semoga di lancarkan ya ais
auliasiamatir
serba salh jd ais
auliasiamatir
kasian adam deh thor
auliasiamatir
ja tuhan nahay banget kamu hafis..
auliasiamatir
kira kura hafis atau adam yah,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!