NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:62.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Malam mulai larut.

Setelah memastikan Aurora benar-benar tertidur pulas, Laras menyelimuti tubuh mungil bayi itu dengan lembut. Ia mengusap pelan pipi Aurora sebelum mengecup keningnya sekilas.

"Selamat tidur, Sayang." Bisiknya nyaris tak terdengar.

Lampu kamar diredupkan, lalu Laras keluar dengan hati-hati agar tidak membangunkan sang bayi. Begitu menutup pintu, ia mendapati rumah sudah sangat sepi.

Para pelayan rupanya telah beristirahat di kamar masing-masing. Lorong panjang itu hanya diterangi lampu-lampu dinding yang memancarkan cahaya kekuningan.

Laras mengembuskan napas pelan. Entah mengapa malam itu ia belum mengantuk. Mungkin karena terlalu banyak hal yang memenuhi pikirannya. Akhirnya ia memutuskan berjalan menuju dapur.

"Sepertinya secangkir kopi bisa membuat pikiranku lebih tenang," gumamnya pelan.

Namun, baru beberapa langkah, suara pintu utama yang terbuka membuatnya spontan menoleh.

Pintu terbuka perlahan.

Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk sambil melonggarkan dasinya, itu Evan.

Pria itu tampak lelah. Kemeja putih yang dikenakannya sedikit kusut, sementara wajahnya memperlihatkan sisa-sisa keletihan setelah seharian bekerja. Saat melihat Laras berdiri di lorong, Evan tampak sedikit terkejut.

"Laras?"

Laras segera tersenyum sopan. "Selamat malam, Tuan."

"Malam." Evan menutup pintu lalu menghampirinya.

"Kau belum tidur?"

Laras menggeleng pelan. "Belum, saya baru saja menidurkan Baby Aurora."

"Ehm." Evan mengangguk. "Dia tidur nyenyak?"

"Iya."

"Baguslah..." Nada lega terdengar jelas dari suara pria itu.

Laras memperhatikan wajah Evan beberapa detik.

"Wajah Tuan terlihat lelah."

Evan terkekeh pelan. "Kelihatan, ya?"

"Sedikit."

"Hari ini ada kendala di lapangan. Jadi pulangnya lebih malam dari biasanya."

Laras mengangguk mengerti. "Saya justru hendak ke dapur. Mau membuat kopi."

Evan tersenyum tipis. "Oh ya?"

"Iya." Laras lalu bertanya dengan sopan, "Tuan mau saya buatkan juga?"

Evan menggeleng "Aku tidak suka kopi."

"Kalau begitu..." Laras berpikir sejenak. "Bagaimana kalau teh susu hangat?"

Evan mengangkat sebelah alisnya. "Teh susu?"

"Iya."

"Saya yakin Tuan tidak akan menolaknya."

Evan tertawa kecil. "Yakin sekali?"

Laras ikut tersenyum. "Entahlah, tapi rasanya cocok diminum malam-malam seperti ini."

Pria itu berpura-pura berpikir beberapa detik.

"Lumayan juga."

"Lalu?"

"Boleh deh." Jawaban itu membuat Laras tersenyum lebih lebar.

"Baik."

"Tapi apa tidak merepotkan?" Evan melirik jam tangannya. "Ini sudah malam. Seharusnya kau juga beristirahat."

Laras menggeleng pelan. "Saya memang belum bisa tidur. Daripada hanya berdiam diri di kamar, lebih baik membuat kopi."

Ia menatap Evan dengan senyum ramah.

"Kalau sekalian membuatkan teh susu untuk Tuan, tidak masalah."

Evan menganggukkan kepala. "Kalau begitu ... terima kasih."

"Sama-sama." Laras berbalik menuju dapur.

Tanpa sadar, Evan ikut melangkah di belakangnya. Sesampainya di dapur, Laras mulai menyiapkan air panas dan beberapa bahan minuman. Sementara Evan memilih bersandar di meja island, memperhatikan setiap gerakan wanita itu.

Dapur yang semula sunyi kini dipenuhi suara lembut air yang mendidih.

Laras menuangkan teh hangat ke dalam sebuah cangkir putih, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Evan.

"Silakan, Tuan."

Evan mengangguk kecil. "Terima kasih."

Sebelum pria itu sempat mengangkat cangkirnya, ia teringat sesuatu.

"Oh iya."

Laras menoleh.

"Nyonya Carolin sudah pulang?"

Laras menggeleng pelan. "Sepertinya belum, Tuan. Sejak saya menidurkan Baby Aurora, saya belum mendengar suara mobil masuk."

Evan menghela napas tipis. "Lembur lagi."

Laras tidak menanggapi. Ia hanya mengangguk pelan sambil merapikan sendok kecil di atas meja. Namun, saat hendak menggeser cangkir sedikit lebih dekat ke arah Evan, tangannya tanpa sengaja menyenggol gagang cangkir.

"Astaga!" Cangkir itu bergeser.

Sedikit teh hangat tumpah membasahi bagian depan kemeja Evan. Pria itu spontan berdiri.

"Laras!"

Mata Laras langsung membulat panik. "Maaf ... maaf, Tuan!" Wajahnya seketika pucat.

Ia buru-buru mengambil beberapa lembar tisu di atas meja.

"Saya benar-benar tidak sengaja. Saya minta maaf." Nada suaranya dipenuhi rasa bersalah.

Melihat kepanikan Laras, kemarahan yang sempat muncul di wajah Evan langsung menghilang. Ia mengembuskan napas pelan.

"Tidak apa-apa. Tidak terlalu panas. Tapi baju Tuan..." Laras tetap terlihat panik. Tanpa berpikir panjang, ia mulai mengusap bagian depan kemeja Evan dengan tisu.

Gerakannya begitu hati-hati. "Saya benar-benar minta maaf. Harusnya saya lebih hati-hati."

Evan hanya berdiri diam. Tatapannya mengikuti setiap gerakan wanita itu.

"Noda tehnya cukup banyak," gumam Laras pelan. "Kalau didiamkan nanti bisa membekas." Laras kemudian berkata dengan sopan,

"Tuan ... boleh saya bantu membuka satu atau dua kancing paling atas? Biar kainnya tidak terlalu basah dan lebih mudah dibersihkan."

Evan sempat ragu beberapa detik. Namun, akhirnya mengangguk.

"Baiklah."

Dengan sangat hati-hati, Laras membuka dua kancing teratas kemeja Evan. Ia segera mengusap bagian kain yang terkena teh menggunakan tisu bersih yang telah dibasahi sedikit air.

Semua dilakukannya dengan fokus, tanpa sedikit pun menunjukkan sikap yang berlebihan.

"Saya benar-benar ceroboh. Maafkan saya." Laras kembali meminta maaf.

Evan justru tersenyum tipis. "Kau sudah meminta maaf lebih dari lima kali."

Laras menghentikan tangannya sejenak.

"Saya takut Tuan marah."

"Aku tidak semudah itu marah." Jawaban itu membuat Laras mengangkat wajahnya.

Pandangan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang berbicara. Evan baru menyadari sesuatu. Dari jarak sedekat ini, wajah Laras terlihat sangat berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah ia temui.

Cantiknya tidak mencolok. Namun, ada kelembutan yang membuatnya nyaman. Tatapan matanya tenang, senyumnya sederhana. Dan entah mengapa keberadaan wanita itu membuat rasa lelahnya setelah seharian bekerja perlahan menghilang.

Sementara Laras segera menurunkan pandangannya kembali.

"Nah ... sudah bersih semampu saya."

Evan melirik noda di kemejanya. "Lumayan."

"Kalau masih membekas, nanti saya cuci."

Evan terkekeh pelan. "Tidak perlu. Lagipula ini hanya kemeja."

Laras tersenyum lega.

Evan mengambil cangkir teh susunya, lalu menyesap sedikit.

"Enak."

Laras tersenyum tipis. "Saya senang Tuan menyukainya."

Evan mengangguk pelan, tetapi pandangannya masih tertuju pada Laras. Entah mengapa, semakin lama mengenal wanita itu, semakin sering ia merasa nyaman berada di dekatnya. Perasaan yang seharusnya tidak muncul dan itu membuat Evan bingung.

Laras menatap cangkir yang kini hampir kosong karena sebagian besar isinya telah tumpah ke meja dan membasahi kemeja Evan.

Wajahnya masih dipenuhi rasa bersalah.

"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."

Evan menunduk melihat noda teh di bajunya, lalu menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa."

"Tapi teh susunya sudah tumpah." Laras menggenggam kedua tangannya di depan tubuh.

"Kalau begitu ... saya buatkan lagi yang baru?"

Evan kembali menggeleng. "Tidak perlu, saya sudah minum sedikit sudah cukup."

"Tapi Tuan..."

"Besok saja, kalau mau buat lagi besok pagi saja. Saya suka teh susu buatan kamu, rasanya cocok di lidah saya," Evan tersenyum tipis.

"Sekarang aku lebih ingin mandi." Ia menarik sedikit bagian depan kemejanya yang basah.

"Rasanya sudah lengket."

Laras kembali menundukkan kepala.

"Maafkan saya. Sungguh, saya tidak bermaksud seperti ini."

Evan memperhatikan wajah wanita itu beberapa saat. Tatapan Laras begitu tulus. Yang ada hanya rasa bersalah karena merasa telah melakukan kesalahan.

Tanpa sadar, sudut bibir Evan terangkat.

"Sudah, Aku tidak marah. Besok jangan terlalu gugup lagi."

Laras mengangguk cepat.

"Baik, Tuan. Dan ... sekali lagi saya minta maaf."

Evan terkekeh pelan. "Kau ini, kalau terus meminta maaf, nanti aku yang merasa bersalah."

Ucapan itu membuat Laras tersenyum tipis.

Evan meraih ponsel dan kunci mobil yang tadi diletakkannya di atas meja.

"Kalau begitu aku ke kamar dulu."

"Selamat beristirahat, Tuan."

"Selamat malam, Laras."

Pria itu pun melangkah meninggalkan dapur. Namun, sepanjang perjalanan menuju tangga, pikirannya justru dipenuhi oleh sosok wanita yang baru dikenalnya dua hari itu.

'Lembut,' itulah yang Evan bayangkan tentang Laras.

Laras selalu berbicara dengan sopan. Tidak pernah meninggikan suara. Begitu sabar saat merawat Aurora. Dan bahkan ketika melakukan kesalahan, ia berkali-kali meminta maaf dengan tulus. Entah mengapa, semua itu terasa sangat berbeda. Berbeda dengan Carolin yang belakangan ini semakin mudah terpancing emosi dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Evan menghela napas pelan.

Ia sendiri tidak mengerti mengapa pikirannya mulai membandingkan keduanya.

Sementara itu, dari dalam dapur, Laras masih berdiri di tempatnya. Ia memperhatikan punggung Evan hingga pria itu menghilang di balik tangga. Perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum penuh perhitungan.

'Perlahan, Evan...' batinnya. '

Laras menatap cangkir teh yang telah tumpah di atas meja. Kemudian mulai membersihkannya dengan tenang.

1
Lianty Itha Olivia
dlm cerita slalu byk org jahatnya
mimief
wkwkwkwk
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🅛🅚-🅒🅘🅣🅡🅐👻ᴸᴷ
kayaknya setelah semua masalah selesai Laras melakukan operasi lagi kewajah Amelia lagi biar makin meyakinkan kasus yang menyeret mereka biar hukumannya makin berat
mimief: kyk nya ga deh
dr percakapan elang sama Laras kemarin
mang Amelia dibikin udah ga ada
mungkin hukuman mereka malah tambah berat
total 1 replies
Oma Gavin
mampusss kalian semua
SasSya
semua akan terkuak satu persatu
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
Les Tary
ga kenal dari hongkong🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣loh kok dr hongkong
total 1 replies
mimief
gas keun
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
mimief: setujuu bangett
enak amet idup kyk ga punya dosa sm sekali 😌
total 2 replies
Les Tary
Carolina wajib nyusul Evan kepenjara dulu mereka berdua telah menghancurkan hati Amelia
Jaya Fandi
luaar biasa sekali kamu lang,,semoga engkau mendapatkan jodohbyg luaar biasa sprt mama ara
SasSya
Bagus!
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Dewi Ansyari
Tunggu saja kamu Carolin dan Evan sebentar lagi balasan buat perbuatan kalian selama ini pada Amelia akan membayar harganya
Dewi Ansyari
Bagus Tian Baskara semakin kamu emosi ,makasih Laras lebih mudah mendapatkan semua haknya,dan juga keadilan untuknya yg sebagai Amelia akan mendapatkan hak atas semaunya 😔
Dewi Ansyari
Tunggu saja kehancuranmu Evan😡😡😡
Dewi Ansyari
Akhirnya Laras benar2 bisa bebas dari kandang harimau Rvan
merry
bgss tu seret Caroline juga dan klurga y kn istri tua evan otomatis nikmati hrta ya laras dan parah laras dijadiin wadah benih mrk itu termsk nipu dan tindakan ilegal terhdp laras,,,
merry
heran sm evan harta yg dia nikmatin ko gk sdr dri gt ya 🤔🤔🤔santai ajjh
Rarik Srihastuty
aku thor, pemasaran dengan cerita Kenzo
Aisyah Alfatih: nanti aku rilis ya, tamat elang... biar nggak keteter up nya 😬😬
total 1 replies
neny
carolin ini gmn ya,,apa2 mau nya langsung beres,,percuma dng jalan tenang pun semua nya akan terkuak,,dan siap2 ajh senyum kemenangan,senyum kekuasaan dan senyum kesombongan itu sebentar lg akan hilang,,tunggu ajh
neny
heheehee,,carolina,,emng siape elo,,helloo,,ibu kandung nya tuh amelia,,cek ajh ath ke lab,,lagian km jg sebnyar lg akan nyusul evan,,🤣🤣
Makin seru ajh nih,,
Aditya hp/ bunda Lia
gak sabaaarrrrrrr ... pake banget aku mau tau gimana si Evan sama si Carolin dan bapaknya pas tau kelakuan mereka sebenarnya dan itu menghancurkan semuanya ....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!