Cinta bisa membuat pertemanan, lalu mampu membuat ikatan itu hancur berantakan. Ketika dia diberi pilihan, ia harus memilih siapa? Kekasih atau teman? Pilihan berat, bukan?
Widya, Karin, dan Kartika bersahabat baik sejak duduk di bangku SMP. Kehadiran Harsa, Edo, dan Zakir mengenalkan mereka pada cinta. Bisakah cinta itu menguatkan tali persahabatan mereka? Atau justru karena cinta persahabatan mereka hancur berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eska'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Sebuah Kebenaran
...***...
Setelah meninggalkan Kartika seorang diri di ruang seni rupa, Widya melangkahkan kaki ke dalam kelas dan langsung disambut senyum manis dari sang pujaan hati –Harsa. Ia pun melihat ke arah Nathan yang menampakkan wajah tidak suka terhadap hubungannya dengan Harsa.
Harsa mendekati Widya. “Ada urusan apa sama Kartika?”
“Bukan apa-apa, kok,” jawab Widya dengan tersenyum.
Selama pelajaran berlangsung, Widya dan Harsa dengan serius mengikuti mata pelajaran, sedangkan Nathan hanya memandang Widya dari kejauhan.
"Kenapa lo mau menerima cinta Harsa? gue khawatir kalo Harsa Cuma mempermainkan lo, karena dia baru aja putus cinta dari Karin," batin Nathan.
Nathan merasa Widya banyak berubah setelah dekat dengan Harsa. Entah karena Nathan cemburu atau merasa kesepian sebab waktunya bersama Widya lebih sedikit. Namun, Nathan tetap menghargai apapun keputusan Widya, selama itu membuat Widya terus tersenyum.
***
Hari ini Harsa dan Widya baru selesai menerima pembekalan untuk pertandingan OSN. Mereka hendak pulang bersama. Nathan melihat Widya berjalan sendirian di koridor sekolah. Harsa pergi setelah beberapa menit yang lalu minta izin ke toilet terlebih dahulu. Hal itu dijadikan kesempatan bagi Nathan untuk berbicara dengan Widya.
“Hai,” sapa Nathan dengan senyum khasnya.
“Eh, hai, Nath!" Widya membalas sembari mengukir senyuman yang tak kalah manisnya.
“Ada yang perlu gue tanyain, gue bisa ganggu bentar?”
“Apa? Kayaknya serius amat.” Widya memandang lekat wajah Nathan.
“Kita duduk di bangku itu dulu bentar,” ajak Nathan sambil menunjuk bangku kosong di depan kelas sebelas. Widya mengangguk setuju.
"Wid, lo bahagia sama Harsa?” tanya Nathan saat mereka sudah duduk di bangku kosong yang Nathan tunjuk tadi.
"Iya, gue bahagia. Harsa seakan menjadi mood booster buat gue. Hari-hari yang gue lalui bersama dia jadi semakin terasa indah." Widya menjawab dengan wajah berseri.
Nathan tersenyum getir menanggapinya. Menatap rona bahagia yang terpancar di balik wajah cantik Widya. Namun, entah kenapa untuk kali ini Nathan merasa tidak suka. Apakah dia cemburu karena kebahagiaan itu bukan berasal dari dia, melainkan dari Harsa? Tidak ... Nathan langsung menepis pikiran itu.
"Oke, deh. Kalo lo bahagia sama Harsa, gue seneng dengarnya. Semoga akan seperti itu seterusnya. Gue cuma mau mastiin aja, kalau Harsa nggak manfaatin lo doang." Senyuman tipis nan sinis Nathan sematkan di bibirnya. Ekor matanya melihat Harsa yang datang dari kejauhan. "Gue duluan, ya, Wid! Noh, pangeran lo udah dateng," pamitnya seraya menunjuk ke arah Harsa dengan menggunakan dagu. Pandangan Widya pun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Nathan. "Satu hal lagi, kalo suatu hari nanti lo butuh temen curhat atau apa pun itu, bahu gue selalu siap buat jadi sandaran lo. Inget itu!" Sembari beranjak berdiri, Nathan berkata-kata lagi penuh dengan rasa sayang ke Widya. Sebelum kemudian ia berbalik, lalu pergi. Entah itu rasa sayang sebagai seorang kakak, sahabat atau lawan jenis.
Mendengar itu, perhatian Widya kembali pada Nathan. Menatap aneh kepergian lelaki itu hingga satu tepukan seseorang di pundaknya membuat Widya terperanjat. Dialah Harsa.
...***...
Selama mengikuti pembekalan untuk ajang OSN, Widya dan Harsa semakin dibuat sibuk dengan bimbelnya, mereka selalu mengisi waktu istirahatnya dengan belajar. Saat di rumah, mereka pun masih disibukkan untuk memperdalam materi, yang membuat mereka jarang atau hampir tidak pernah lagi berkumpul dengan yang lain, yang akhirnya mengurangi waktu kebersamaan di antara sahabat-sahabat mereka.
Seperti sore ini, Widya dan Harsa bertemu di taman kota, mereka akan bersantai di sana sambil menikmati senja setelah seharian bergelut dengan rumus. Nathan yang baru pulang dari acara berkumpul dengan Zakir, Kartika dan Edo, tidak sengaja melihat keduanya. Ia memilih menghentikan motornya agak jauh dari tempat Widya dan Harsa saat ini.
Dari kejauhan, Nathan mengamati keduanya dengan tatapan sendu. Ada sesuatu yang ingin meledak dalam dadanya, ketika melihat kedekatan mereka berdua. Jujur, Nathan masih belum memercayai Harsa sepenuhnya. Apakah benar lelaki itu mencintai Widya dengan tulus, ataukah hanya pelampiasan saja? Seolah menjadi teka-teki besar buat Nathan.
"Lihat saja kalau semisalnya lo cuma mainin Widya! Gue bakal bikin perhitungan sama lo!" geram Nathan tertuju pada Harsa, tangannya mengepal kuat setang motor menahan emosi. Tidak mau berlama-lama menatap pemandangan yang merusak mood-nya, Nathan pun memilih untuk pergi dari sana.
...*** ...
Zakir menghentikan sesi makan siangnya bersama Edo dan Kartika saat melihat Harsa keluar dari toilet. “Tunggu bentar, ya!”
“Lo mau kemana, woi?” tanya Kartika.
“Mau ngejar Harsa bentar.”
“Makan dululah, entar makanan lo pada hamil semua. Pada melar, tuh, mie-nya.” Kartika menahan Zakir dengan menarik tangannya.
“Bentaran doang, Tik!”
“Udahlah, Tik. Biarin aja dia ngejar Harsa. Ntar bakso lo juga pada beranak kalo kelamaan nahan tangan Zakir.” Kini giliran Edo yang menahan Kartika untuk tidak menahan Zakir.
“Eh!” Spontan Kartika langsung menepis tangan Zakir saat terkejut mendengar ucapan Edo. “Do, kalo gue nggak nahan tangan Zakir, bakso gue tetep beranak. Namanya juga bakso beranak. Ah, rese, lo!” geram Kartika sambil meletakkan sendoknya dengan kasar saat menyadari dirinya dikerjai oleh Edo dan berhasil membuat Edo tertawa.
Sedangkan Zakir langsung berlari mengejar Harsa. “Sa!” panggilnya saat sudah mendekati Harsa.
Harsa berhenti dan membalikkan tubuh. “Hei, apaan, Zak?”
Zakir mencoba mengatur napasnya yang tersengal. “Ikut gue, yuk!” ajak Zakir.
Saat ini mereka sudah berada di markas tempat para siswa bolos pelajaran. Hening, Harsa menunggu Zakir untuk bicara, tetapi Zakir seakan berpikir ulang tentang apa yang ingin ia katakan.
“Lo ngapain ngajakin gue ke sini?” tanyanya memecah kesunyian.
Zakir menatap lekat wajah Harsa, ia meyakinkan dirinya sendiri jika hal ini perlu ia bicarakan pada Harsa. “Sebelumnya gue minta maaf kalo ini terkesan ikut campur, tapi gue nggak bisa biarin jika ini sebuah kesalahan.” Harsa memicingkan mata menatap Zakir, ia masih menerka ke mana arah pembicaraan Zakir. “Gue mau lo jawab dengan jujur! Lo beneran cinta sama Widya?” selidik Zakir.
Bukan maksud Zakir tidak percaya dengan Harsa, tetapi melihat perubahan sikap Harsa yang begitu cepat, membuat otak Zakir yang biasanya korselet, menjadi sedikit bekerja. “Lo nggak ada niatan jadiin Widya sebagai pelarian, ‘kan? Secara, lo baru aja putus dari Karin.”
Harsa terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Zakir. “Gimana, ya?” Harsa tampak berpikir, rasanya tidak ada salahnya jika ia sedikit mengutarakan isi hatinya pada Zakir, toh Zakir adalah sahabatnya sejak kecil. Harsa yakin, Zakir bisa mengerti dirinya. “Cinta itu urusan Hati. Jujur, gue masih sakit hati, sih, sama Karin.” Harsa memandang hampa apa yang ada di depannya. Pikirannya jauh menerawang. Ada sedikit rasa bersalah pada hatinya pada Widya. Bagaimana pun, ia dengan sengaja telah mempermainkan perasaan Widya dan membuat persahabatan Widya dan Karin hancur.
“Tunggu! Apa itu artinya dugaan gue bener?” Zakir memicing menatap Harsa. Emosinya sudah di ubun-ubun, jika dugaannya selama ini benar bahwa Harsa hanya menjadikan Widya pelarian.
“Dugaan apa?” Harsa tersenyum remeh.
“Lo bilang, lo masih sakit hati sama Karin.” Zakir dibuat kelabakan dengan jawaban Harsa yang bertele-tele.
“Gue 'kan bilang kalo gue masih sakit hati dan cinta itu urusan hati.” Harsa masih bersikap tenang.
Jawaban Harsa semakin membuat Zakir bingung. Sulit sekali mencerna kata-kata Harsa yang ambigu. Akhirnya Zakir memutuskan untuk memancing Harsa. “Gue masih nggak ngerti. Karena yang gue tahu, tipe lo itu cewek cantik kayak Karin. Bahkan lo udah jatuh cinta sama dia waktu lo pertama liat dia.”
Harsa tertawa mendengar perkataan Zakir. Senang sekali ia bisa membuat Zakir kebingungan. “Lo mau tau banget, ya?”
...*** ...
Widya melangkahkan kakinya hendak pergi ke perpustakaan. Ia berjalan seorang diri sambil bersenandung ria. Belum sampai tujuan, ia mendengar suara yang tidak asing baginya. Widya mendekati arah sumber suara, yang menunjuk pada markas siswa berandal. Ia mulai mempertajam gendang telinga untuk memperjelas pendengaran.
Widya mengenali suara itu, suara Harsa. Merasa tertarik dengan apa yang didengarnya, perlahan ia memelankan langkah dan semakin mendekat di balik pintu. Kini Widya dapat mendengar dengan begitu jelas setiap kata yang ada di dalam ruangan itu.
"Jujur, Zak. Gue hanya memanfaatkan keadaan ini. Gue nggak sungguh-sungguh cinta sama Widya. Setelah gue tau perasaan dia ke gue, ya, sekalian aja gue masuk ke dalam pusaran rasa itu dan ternyata dengan mudahnya dia terima gue sebagai kekasihnya.” Harsa tersenyum remeh, sedangkan Zakir terlihat semakin geram. Harsa menarik napas dalam dan mengembuskan dengan kasar, rasa sesak itu masih menguasainya saat ingatan tentang pengkhianatan Karin menari dalam otaknya.
“Selain itu, gue juga ingin membuat Karin merasakan sakit yang sama. Sakit diperlakukan seperti itu, saat cintanya dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Gue nggak mau sakit sendirian, Zak. Gue mau Karin dan Edo ngerasain sakit yang gue rasain. Dan gue berhasil. Karin udah nggak punya semangat buat hidup, seakan dunianya hancur saat melihat gue sama Widya. Begitu juga Edo yang terlihat seperti pesakitan saat melihat gadis yang ia cintai tengah terluka. Gue puas, Zak. Gue puas!”
Harsa tertawa seperti orang gila sedangkan Zakir mengepalkan kedua tangannya, tidak habis pikir dengan apa yang tengah Harsa lakukan. Harsa sudah seperti psikopat, bukan lagi Harsa temannya.
"Gue nggak nyangka lo bisa jadi kayak gini. Lo sadar nggak, sih, ini itu udah kelewatan!” bentak Zakir. Harsa diam tidak menanggapi. “Gue nggak nyangka lo jadiin Widya sebagai alat balas dendam lo ke Karin sama Edo. Di sini, yang paling terluka itu Widya, goblok!” Ingin sekali Zakir meninju wajah menyebalkan Harsa agar sahabatnya itu segera sadar dari kesalahannya, tetapi ia masih mencoba untuk tahan. Mengingat Harsa bukanlah orang yang bisa disadarkan dengan kekerasan. “Tega banget, lo, Sa! Gue kecewa sama lo.”
Zakir yang kecewa dengan kejujuran Harsa memilih pergi dengan menahan amarah yang sudah memuncak. Ia berharap semoga Widya tidak akan tahu tentang kenyataan ini atau dia lebih berharap jika nanti Harsa akan benar-benar mencintai Widya, sebelum ia tahu tentang tujuan awal Harsa menjadikannya sebagai pacar.
Gadis yang berdiri di belakang pintu itu membekap mulut, menahan isakan yang akan keluar dari mulutnya. Air mata sudah tidak bisa lagi terbendung kala mendengar pengakuan dari orang yang ia cintai dengan tulus, tetapi dengan sengaja justru mempermainkan perasaannya. “Ternyata gue menempatkan hati pada orang yang salah. Cinta yang salah maka bersiaplah dengan sesuatu yang salah,” lirih widya memegang dadanya. Widya sudah tidak sanggup untuk berada di sana. Saat Widya hendak berbalik, justru ia menemukan Zakir yang sudah berdiri di depannya.
“Widya?” Zakir cukup terkejut dengan kehadiran Widya di sana, begitu pun Harsa. Ia langsung berlari mendekat begitu melihat Widya berdiri tegak sambil memasang wajah yang penuh dengan emosi bercampur sedih.
...***...
Nah, kan, ketahuan kau Harsa 😒
Gimana menurut kalian? Harus diapain si Harsa, nih?
Jangan lupa like dan komentar! Udah Senin, kasih votenya sekalian 🤭
aku dari awal curiga ama cindy terus
tamu tdk akan masuk kalau tuan rumah tdk buka pintu
dasar buaya betina