Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 - Pasal 7 Melahirkan Anak
Seumur hidupnya, Nami tidak pernah menyangka akan menerima lamaran dari seorang pria asing—terutama di balkon restoran mewah yang lantainya masih basah oleh hujan semalam.
Namun, yang lebih mengejutkan bukanlah lamaran itu sendiri. Melainkan tatapan laki-laki di hadapannya. Tatapan yang tenang, nyaris datar. Seperti air laut tanpa riak. Tapi justru di balik ketenangan itulah Nami merasa gelisah. Ada sesuatu di balik mata itu, sesuatu yang tak bisa ia baca.
"Kau tidak waras," ucapnya pelan, mencoba mencairkan suasana, berharap jawaban ya dan tawa kecil akan segera menyusul.
"Apa kau mabuk?"
Pria itu menggeleng. "Aku tidak mabuk. Aku sangat sadar. Dan aku serius."
Nami tertawa, atau lebih tepatnya, mengeluarkan suara tawa tipis yang getir. Tidak ada lucu-lucunya.
"Kau bahkan tidak mengenalku. Kau tahu namaku hanya karena Ibumu pasienku. Itu tidak cukup untuk…"
"…menikah?" sela pria itu cepat. Suaranya tak berubah—datar, tapi bukan tanpa isi.
Kata itu, "menikah", melayang di udara seperti kabut. Ringan tapi membekukan.
"Aku memang tidak mengenalmu secara pribadi," lanjut pria itu, nadanya tenang, nyaris tanpa ragu. "Tapi aku cukup tahu kau tipe menantu baik yang diinginkan Ibuku."
Nami mengerutkan kening.
"Aku cukup kaya," pria itu melanjutkan, "Dengan uangku, aku bisa memberimu seberapapun yang kau mau. Dan aku bukan mencari cinta. Aku butuh istri—untuk pernikahan kontrak."
Jantung Nami berdegup. Matanya membulat, jadi lamaran ini hanya untuk pernikahan kontrak?
"Kontrak?"
"Iya. Satu tahun. Kau jalani hidupmu, aku jalani hidupku. Tidak ada yang berubah kecuali di depan Ibuku, kita pasangan menikah."
Nami menunduk sebentar, mengambil napas panjang. Ini begitu tiba-tiba, bukan? Bagaimana ia bisa berpikir jernih saat situasinya seperti ini.
"Aku membutuhkan istri untuk alasan pribadi. Dan kau membutuhkan uang. Kupikir, mungkin kita bisa membantu satu sama lain."
"Tunggu sebentar."
Nami merasa seperti tertarik masuk ke dalam pusaran air, tidak ada yang terasa nyata. Angin malam di balkon, bunyi sendok garpu dari dalam restoran, bahkan napasnya sendiri. Semuanya terasa terlalu jauh.
"Kalau kau butuh seseorang untuk proyek bohong-bohongan, kenapa tidak sewa aktris saja?"
Pria itu menghela napas, kemudian mengangkat wajahnya.
"Aktris tidak bisa mencium dahi Ibuku dan membuatnya merasa damai."
Suara itu tidak bergetar, tapi tersirat kejujurannya yang tajam. Nami menoleh dengan dahinya yang sedikit mengerut.
"Ibuku sedang sakit, kau tahu sendiri. Dan permintaannya sederhana, ia ingin melihat aku menikah sebelum hal-hal buruk terjadi."
Nami menatap wajah pria itu. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lebih jujur dari semua kata-kata tadi—rasa takut.
Bukan takut ditolak. Tapi takut kehilangan seseorang.
"Kau ingin membuat Ibumu senang, tapi caranya salah dengan membohonginya seperti ini."
Pria itu berbalik menatapnya, "Aku tidak punya cukup waktu untuk mencari calon istri yang baik."
"Bagaimana denganku? Aku juga bukan calon istri yang baik."
"Setidaknya Ibuku menyukaimu."
Nami menghela napasnya singkat, "Kau selalu punya jawaban."
Pria itu hanya tersenyum kecut. "Aku tunggu sampai besok, kau boleh memikirkannya dulu."
"Kalau aku tolak?"
"Aku akan minta maaf dan pergi. Tapi kau harus kembali ke dalam, dan mungkin kehilangan pekerjaanmu."
Nami menunduk. Otaknya penuh kalkulasi. Tapi hatinya—hatinya kosong. Ia sudah terlalu lama hidup dalam tekanan, hingga tidak tahu mana yang logis dan mana yang sebenarnya putus asa.
"Aku akan memikirkannya."
***
Pukul tujuh pagi, Nami sudah duduk sigap di ruang kerjanya, mengenakan seragam putih yang sedikit kusut. Rambutnya diikat asal, dan wajahnya pucat, serasi dengan langit Jakarta yang juga pucat.
Ia menatap layar ponselnya yang redup, lalu menekan tombol. Notifikasi dari aplikasi bank muncul.
Mata Nami panas. Tapi ia tidak menangis. Ia terlalu lelah untuk itu.
Semalam sehabis dari restoran, ia sempat mencari tahu tentang laki-laki misterius itu. Bukan pria biasa, ternyata. Maxwell Ezra Tanuwijaya, atau Max, seperti yang ia akhirnya tahu, adalah salah satu pendiri agensi kreatif besar di Jakarta Selatan. Nama perusahaannya tidak asing. Ia pernah membaca namanya disebut dalam salah satu artikel ekonomi daring.
Max masuk dalam daftar "30 Under 30", dikenal jenius tapi tertutup. Tidak ada skandal. Tidak banyak informasi. Seperti kabut—ada, tapi tak bisa digenggam.
Dan laki-laki luar biasa itu menawarinya sebuah pernikahan kontrak.
Ia tidak bisa berhenti bertanya. Dari sekian banyak perempuan di Jakarta, kenapa dia?
Namun, ingatannya kembali ke percakapan mereka tadi malam. Tentang Ibunya. Tentang permintaan terakhir. Tentang kebutuhan, bukan cinta.
Dan perlahan ia mulai memahami. Max tidak butuh istri untuk cinta. Ia butuh jembatan. Jalan keluar. Dan yang bisa memberinya semua itu, bukan selebritas, bukan influencer, bukan aktris bayaran. Tapi seseorang yang tulus dan cukup biasa.
Seseorang seperti dirinya. Tapi, bukankah ia terlalu biasa untuk orang seperti Max?
Dan entah mengapa, itu terasa menyesakkan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Kalau kau sudah siap bicara, aku ada di kafe depan taman Menteng. Sampai jam 4.
Jantung Nami berdetak sekali. Kuat.
Ia menutup mata sejenak, mengatur napas, lalu berdiri.
Langkah kakinya ringan. Tapi setiap langkah terasa seperti menyeberang ke dunia yang asing. Dunia tempat logika dan rasa saling bertabrakan, dan tidak ada yang bisa menolong selain keberanian.
Ia mulai mengetik balasan.
Aku akan ke sana jam makan siang nanti.
Dan waktu itu pun tiba. Saat ia sampai di depan kafe yang dimaksud, di balik jendela kaca, ia melihat Max duduk. Sendirian. Dengan wajah tenang seperti biasa.
Tapi kali ini, Nami bisa melihat, di bawah tatapan datarnya, ada sebuah harapan.
Dan di dalam dirinya sendiri, Nami tahu. Ia tidak datang hanya untuk menjawab. Ia datang untuk mengambil keputusan.
Nami membuka pintu kafe perlahan. Bel kecil di atas pintu berdenting, tapi Max tidak menoleh. Ia tetap menatap ke luar jendela, seperti tahu Nami akan datang dan ia memang menunggu.
"Max?" tanya Nami, suaranya pelan namun terdengar cukup jelas.
Max menoleh, memberikan anggukan kecil. "Kau sudah tahu namaku."
Nami duduk tanpa berkata apa-apa. Tangannya dingin. Ia memeluk dirinya sendiri sebentar, lalu mengangkat wajah.
"Aku belum memutuskan," katanya.
Max mengangguk lagi. Tenang. Selalu tenang.
Lalu tanpa berkata sepatah pun, ia mengeluarkan dua lembar kertas dari map hitam di sampingnya. Kertas pertama disodorkan ke arah Nami, lengkap dengan tempat tanda tangan di bawahnya. Kertas kedua tetap di tangannya.
"Apa ini?"
"Kontrak pernikahan," jawab Max datar.
Nami mengernyit. "Tunggu dulu—aku belum setuju. Kau sudah menyiapkan ini?"
Max menatap matanya lurus. "Karena kau pasti setuju."
Nami terdiam. Ia tidak bisa membantah.
Tangannya meraih kertas itu, matanya menelusuri setiap baris. Dan di sana, tertulis dengan jelas.
KONTRAK PERNIKAHAN
Antara:
Maxwell Ezra Tanuwijaya – Pihak Pertama
Namira Calista – Pihak Kedua
Jangka waktu 12 bulan sejak tanggal penandatanganan.
Berikut ketentuan-ketentuan kontrak yang harus disetujui kedua pihak:
1. Keduanya wajib tinggal serumah, minimal 5 malam dalam seminggu, untuk menjaga hubungan sebagai pasangan suami istri yang sah di mata publik maupun keluarga.
2. Keduanya wajib menghadiri acara keluarga dan sosial bersama, termasuk kunjungan rutin ke rumah orang tua Pihak Pertama, minimal dua kali sebulan.
3. Keduanya dilarang menjalin hubungan romantis atau seksual dengan pihak ketiga selama masa kontrak, demi menjaga integritas perjanjian dan menjaga perasaan keluarga.
4. Keduanya harus bersikap seolah-olah merupakan pasangan menikah yang bahagia di depan publik.
5. Segala biaya rumah tangga dasar ditanggung oleh Pihak Pertama, termasuk sewa tempat tinggal, listrik, dan makanan.
6. Pihak Kedua akan menerima kompensasi finansial sebesar Rp1.000.000.000 selama masa kontrak, dibayarkan dalam dua tahap: awal dan akhir masa kontrak.
7. Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak dari hasil hubungan...
Nami berhenti membaca di situ. Matanya terpaku ke kalimat berikutnya.
...dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku. Anak yang dilahirkan menjadi tanggung jawab bersama kedua pihak.
Ia menegakkan tubuh. Napasnya tercekat. "Kau… ini serius? Yang ini—aku harus melahirkan anak?"
Max mengangguk. Wajahnya tidak menunjukkan emosi, tapi matanya tidak sebeku sebelumnya.
"Ya. Itu ada dalam kontrak. Itu adalah tujuan utama dari pernikahan kontrak ini. Ibuku ingin cucu dan aku harus memenuhi itu."
Nami menggigit bibir bawahnya, dan helaan napas kecil keluar dari mulutnya. "Kau tidak mengatakan ini sebelumnya. Ini bukan pura-pura, ini benar-benar pernikahan. Lengkap. Dengan anak."
"Kau benar," jawab Max pelan. "Dan kau berhak menolak. Tapi kalau kau setuju, kau akan jadi Ibu dari anakku."
Kalimat itu membuat napas Nami tertahan. Dunia seperti membungkam, menunggu jawabannya.
Ia menatap laki-laki asing di depannya. Laki-laki yang baru ia kenal sehari yang lalu, dan kini meminta hal paling besar dalam hidupnya.
Nami menarik napas. Lama.
Di dalam hatinya, ia tahu ini mungkin satu-satunya jalan keluar. Sudah bertahun-tahun ia terjerat utang, hidup dari satu kebohongan ke kebohongan yang lain, menjual mimpi demi bertahan. Jika keputusan ini bisa membebaskannya, jika ini bisa menjadi akhir dari semua penantian dan rasa takut yang terus membayanginya.
Maka, ya. Ia akan mempertaruhkan hidupnya pada laki-laki asing ini.
Lalu, ia mengambil pena dari tasnya.
Tanpa berkata apa-apa, ia menandatangani kedua lembar kontrak.
Max mengangguk, lalu menandatangani miliknya juga. Keduanya bertukar kertas.
Selesai.
Nami menyandarkan tubuhnya ke kursi, menutup mata sebentar. "Mulai hari ini, aku istrimu."
Max tidak tersenyum. Tapi suara pelan yang keluar dari mulutnya nyaris seperti bisikan,
"Terima kasih."
Dan di bawah meja, di dalam genggaman tangannya sendiri, Nami baru menyadari betapa keras ia menggenggam pena itu.