NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.

Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bu RT Datang Ke Kontrakan**

Wajan di atas kompor sudah berbunyi. Bawang merah + bawang putih tumis. Bau sambel terasi + nasi anget nyebar sampe gang depan.

Kirana aduk sambel pake sendok kayu. Keringat netes di pelipis. tangannya cekatan mengaduk aduk masakan.

Di meja ada nasi + telor dadar + tempe goreng. Menu andalan anak kontrakan.

“Mas Saqira pasti laper abis MC,” bisik Kirana ke wajan. “Tadi dia bilang: ‘Ra, msak yang pedes ya. Biar Mas melek. MC nikahan 3 jam nonstop’.”

Dia nyoba sambelnya. Lidahnya kejut. “Aduh pedes! Tapi Mas suka pedes...”

HP di pojok bunyi. Notifikasi WA dari Saqira:

_Ra, Mas udah di panggung. Pengantinnya cantik, bapaknya galak kayak Bapak Mas. Doain Mas ya. Jangan lupa makan Ra._

Kirana senyum. Senyumnya lebar. Dia bales: _Iya Mas. Kirana masak pedes. Pulang cepet ya Mas. Hati-hati di jalan._

Dia naruh HP. Lanjut ngaduk sambel. Angan-angannya: nanti Saqira pulang, buka pintu, keringetan, terus bilang “Wangi banget Ra, masakan bocil gue”.

Pintu kntrakan diketok. _Tok tok._ Kenceng. Tiga kali.

Kirana kaget. Sendoknya jatuh. “Siapa ya? Mas Saqira nggak bawa kunci?”

Dia lap tangan ke celemek. Buka pintu pelan.

Di depan: 7 orang ibu-ibu. Depan sendiri Bu RT. Umur 50an, daster bunga + kerUdung langsung. Di belakangnya ibu-ibu PKK: Bu Yati, Bu Sarmi, Bu Roh, Bu Darmi, Bu Atik, Bu Ningsih. Muka mereka... serius. Nggak ada senyum.

Kirana salim. “Assalamualaikum Bu... Ada apa ya Bu? Mas Saqira lagi kerja, Bu. MC nikahan.”

Bu RT nggak jawab salam. Dia masuk aja. Nggak nunggu dipersilakan. Matanya nyapu ruangan 5x4 itu. Kasur lipet, sajadah kebuka, meteran + kapur jahit di meja, foto Saqira + Kirana di konveksi ditempel di tembok pake solasi.

Bu RT duduk di kursi plastik. Yang lain berdiri, ngelilingin Kirana. Kayak sidang.

Bu Yati buka suara. Suaranya tinggi, nusuk. “Nduk, kamu Kirana ya? Keponakannya Pak Syarif?”

Kirana angguk. Tenggorokannya kering. “Iya Bu. Kirana. Ada apa Bu?”

Bu RT narik napas panjang. “Nduk, kita nggak enak ngomongnya. Tapi demi kebaikan kompleks, kita harus bicara. Kamu sama Mbak MC itu... hubungannya apa? Tinggal bareng, laki-laki + perempuan, nggak ada mahram. Itu namanya kumpul kebo, Nduk. Dosa. Nggak baik buat anak-anak di kompleks.”

Darah Kirana kayak berhenti. Telinganya dengung.

“Kumpul... kebo? Bu... Mas Saqira itu... dia...” Kirana nggak bisa ngomong. Lidahnya kelu.

Bu Sarmi nyelip. “Udah Nduk, nggak usah bohong. Seminggu ini kita liat. Kamu keluar masuk kontrakan itu bareng. Dia pake bandana pink. Kamu panggil dia ‘Mas’. MC kondangan, tapi malem tidur sekamar. Kita udh laporin ke Pak RT. Ini meresahkan!”

Bu Roh ngeluarin HP. Nunjukin video. Video Saqira jalan sama Kirana ke konveksi pagi-pagi. Kirana bawa beras, Saqira bawa tas. Keliatan akrab. Keliatan kayak suami-istri.

“Ini buktinya, Nduk. Jangan muter-muter. Kamu mau ngancurin moral anak-anak di sini?” kata Bu Roh.

Kirana mundur. Punggungnya mentok ke meja dapur. Wajan masih _cesss..._ di belakangnya. Panasnya nyampe ke betis. Tapi dia nggak ngerasa.

“Bu... nggak gitu Bu... Mas Saqira itu baik. Dia nolongin Kirana. Kirana nggak punya siapa-siapa di sini. Dia ajarin Kirana kerja.” Suara Kirana pecah. Air matanya netes. Nggak bisa ditahan.

Bu Atik geleng-geleng. “Alasan, Nduk. Alasan. Dulu juga gitu. Awalnya ‘nolongin’, ujungnya ‘hamil’. Kita nggak mau kompleks ini jadi bahan gosip RT sebelah. Kamu harus keluar, Nduk. Atau Mbak MC itu yang keluar.”

Bu Ningsih paling muda. Suaranya lebih lembut, tapi tetep nusuk. “Nduk, kita sayang kamu. Makanya kita negor sekarang. Mumpung belum jauh. Mbak MC itu... kamu tau kan dia apa? Bencong. Laki-laki jadi-jadian. Kalo kamu terus sama dia, nanti kamu ketularan. Kasihan keluarga kamu di kampung.”

Kata “bencong” itu kayak paku. Nusuk ke dada Kirana.

Kirana jongkok. Di pojok ruang tamu. Dia peluk lututnya. Nangis. Nggak ada suara. Cuma bahunya yang naik-turun.

“Nggak Bu... Mas Saqira bukan... Mas Saqira orang baik... Dia... dia Saqir...” Bisiknya nggak kedengeran.

Bu RT berdiri. “Udah, kita tunggu jawabannya sampe Mbak MC pulang. Kita mau kejelasan. Kalo nggak ada kejelasan, kita laporin ke Pak RT + DKM masjid. Biar dikeluarin dari kompleks. Kita nggak mau dosa nular.”

Mereka keluar. Pintu dibanting. _Braak._

Hening. Cuma suara wajan _cesss..._ + suara Kirana sesenggukan di pojok.

Sambelnya gosong. Bau anyir nyebar. Tapi Kirana nggak sadar.

Dari kejauhan Bik Narti saudaranya Bik Asih. Yang ikut ngusir Kirana dari pondok melihat kejadian tersebut. Ia makin senang ada yang bahan gosib dan laporan ke Pak Syarif pamannya Kirana.

WARUNG BIK NARTI, UJUNG GANG pondok*

Bik Narti, jualan warung + jadi tukang gosip kompleks. Telinganya tajem. Bik Narti nyiapin kopi + gorengan. Nungguin pelanggan.

5 menit kemudian Bik Asih dateng. Bik Asih: bibinya Kirana. Umur 42. Badan gempal, muka judes. Dia emang dari awal nggak suka Kirana yang sering bilang Kirana anak Sial.

Bik Asih duduk. “Narti, beli gorengan ya 5 bungkus.”

Bik Narti lapor . “Itu keponakan Pak Syarif Kirana , Taunya sekarang tinggal sama bencong! Malu-maluin keluarga”

Bik Asih matanya melek. “Apa Bencong mana Mbak? Yang MC kondangan itu?”

“Ah Mbak. Itu Mbak Saqira. Namanya laki-laki Saqir. Tapi kelakuannya kayak cewek. Dandan, pake bandana pink, suara melengking. Kirana tinggal bareng dia! Kumpul kebo! RT aja udah negor!” Bik Narti ngomong sambil ngebanting gelas.

Bik Asih langsung nyatet di kepala. “Ya Allah ... kumpul kebo sama bencong? Ngasih malu keluarga aja. Dasar anak pembawa sial. Udh bikin pondok hampir bangkrut. ini kumpul kebo sama banci. Memang bikin sial aja ".

Betul Mbak penyakit! Dosa! Kirana itu pemberi malu keluarga! Almarhum Bapaknya Kirana dan Ibunya. Orang yang rajin sholat beribadah kalau liat kelakuannya. Bisa busuk dineraka."

Bik Asih menahan amarah. "Gak habis habisnya kasih malu keluarga. bener. Harus tegas. Bencong itu ngerusak moral. Nanti kalo dibiarin, anak-anak pada ikut-ikutan. Nanti saya kasih tau Mas Syarif kelakuan ponakan Sial nya itu !”

Obrolan mereka nyebar. Dari warung ke tukang sayur. Dari tukang sayur ke tukang tambal ban. Dalam 30 menit, sekompleks tau: “Kirana kumpul kebo sama bencong MC”.

SURAU AL-IKHLAS*

Paman Syarif abis ngaji ashar. Umur 48. Kulit sawo matang, jenggot tipis. Orangnya kalem, disegani di kampung. Dia pulang jalan kaki, sarung masih dipake.pengelola pondok pesantren didesa itu.

Sampe depan rumah, Bik Asih udah nunggu di teras. Mukanya masem.

“Mas Syarif, sini dulu. Ada urusan penting,” panggil Bik Asih.

Paman Syarif duduk. “Ada apa, Bu?”

Bik Asih cerita. Lebay. Nambahin bumbu. “Mas... Kirana itu anak nggak bener! Dia kabur dari pondok, tinggal sama bencong! Kumpul kebo! Bu RT udah negor siang tadi! Kirana nangis doang, nggak bisa jawab! Itu malu Mas ! Malu keluarga kita! Nama Mas di kampung bisa jelek!”

Paman Syarif diem. Ngusap jenggotnya. Matanya merem. “Astagfirullah...”

“Kirana itu anak baik. Gue nggak mau pondok kita dikotori bencong! Mas harus datengin kontrakan itu! Seret Kirana pulang! Bencongnya usir! Kalo perlu laporin polisi! Itu maksiat, !” Bik Asih makin kenceng.

Paman Syarif narik napas panjang. Dia inget Kirana kecil. Anak yang kalo disuruh ngaji, suaranya paling merdu. Anak yang kalo disuruh bantu, nggak pernah nolak.

Tapi dia juga inget pesan Abangnya sebelum meninggal: "Syarif... jaga Kirana ya. Kalo dia salah, lurusin. Jangan diusir.”

Paman Syarif berdiri. Wajahnya datar. Tapi rahangnya ngeras. “Iya Bu. Besok gue ke kontrakan dia. Gue bicara baik-baik. Kalo dia ngeyel... gue bawa pulang paksa.”

Bik Asih senyum menang. “Nah gitu Bang. Gue temenin. Gue yang ngomong. Bocil itu bandel. Harus digertak.”

*************

Saqira pulang. Keringetan. Blezer dilepas, digantung di lemari. Muka capek, tapi senyumnya masih ada.

“Ra! Mas pulang! Laper! Masak apa Ra? Bau-nya sampe gerbang kompleks!” teriaknya dari luar.

Nggak ada jawaban.

Saqira buka pintu. Kaget.

Ruangan berantakan. Wajan gosong. Nasi anget, tapi nggak ada yang nyentuh. Kirana duduk di pojok. Peluk lutut. Mata sembab. Kerudungnya berantakan.

“Ra? Ra kenapa?” Saqira buang sepatu high heel nya. Jongkok depan Kirana. Megang bahunya. “Ra jawab Mas. Siapa yang nyakitin Ra?”

Kirana ngangkat muka. Liat Saqira. Terus dia peluk Saqira kenceng. Sekenceng-kencengnya. Kayak takut dilepas.

“Mas... ibu-ibu dateng Mas... Bu RT... mereka bilang kita kumpul kebo... mereka bilang Mas bencong... mereka mau laporin ke Pak RT... mereka mau usir kita Mas...” Isaknya pecah. Kali ini ada suara. Suara yang dia tahan seharian.

Saqira kaku. 2 detik. Trus dia peluk balik Kirana. Peluknya erat. Satu tangannya ngusap punggung Kirana.

“Ssst... Ra... udah... Mas di sini. Mas gak kemana-mana. Napas Ra... tarik... buang... pelan...” Bisiknya di kuping Kirana. Suaranya Saqir. Nggak melengking. Dalem. Tenang.

Kirana nangis di dada Saqira. Air matanya basahin kemeja putih Saqira. “Mas... Kirana takut Mas... Kirana nggak pinter ngomong kayak Mas... Kirana nggak bisa bela Mas... Kirana cuma bisa nangis...”

Saqira memegang tangan Kirana. “Ngak Ra. Nangis itu jawabannya Ra. Jawaban orang yang hatinya bersih. Nggak semua orang harus teriak buat bener. Kadang diem + nangis itu lebih kenceng dari omongan.”

Dia lepas pelukannya. Ngelap air mata Kirana pake jempol. “Mas tau Ra. Mas udah biasa digituin. Bertahun tahun Mas MC, bertahun tahun juga Mas ditunjuk: ‘Itu bencong’. Ibu-ibu kompleks bukan yang pertama, Ra. Yang terakhir juga belum tentu.”

Dia berdiri. Ngambil lap. Ngelap wajan gosong. “Udah Ra. Sambelnya gosong. Kita bikin lagi ya. Mas yang masak. Ra yang duduk. Nggak usah mikir ibu-ibu. Mikir nasi + telor aja.”

Malam itu mereka makan dengan banyak diemnya. Saqira yang biasa bicaranya lentur. Kini bicaranya pelan. Kirana juga tidak berani menatap Saqira. Mereka larut dengan perasaan masing-masing. Mereka gak tau sampai kapan mereka akan terus seperti ini. Karena memang benar mereka bukan muhrim. Di mata orang dan Agama juga salah.

1
Miss Danica
@Sarah inilah uniknya. baca terus ya.. novel ini menarik banyak pesan moral dan pertentang etika.
Sarah
Masa iya sih... di pondok itu gak ada seorang pun yang rada bener. Sekelas pondok pesantren, lho ini. Masa sih masih pada percaya sama yang namanya “Orang yang jadi pembawa sial”. Itu kan mendekati musyrik juga. Percaya sesuatu semacam itu. Pondoknya yang di kampung banget kah? Sampai gak ada satu pun yang kuat iman gitu? Atau pondoknya... pondok-pondok sesat kayak di berita-berita? 😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!