Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi ini di sekolah
BUKK.... !
Si kembar Kian dan Azka, bersama Dylan dan Emil menatap pada teman perempuan mereka yang baru saja terjatuh akibat dorongan kasar dari Aditama yang juga bersama pengikut setianya.
Wanda Safia yang jatuh berlutut itu memunguti buku buku yang terburai dari dalam goodie bag yang terhampar di lantai.
"Sama perempuan jangan kasar, dong." Kian langsung nge gas.
"Terserah gua. Dia ini bisa sekolah di sini karena bokap gua. Salahnya sendiri bawa tas aja ngga becus," sergah Aditama pongah.
Kian menatap tajam sebelum ikut berjongkok membantu Wanda memunguti buku bukunya. Emil juga ikut membantu sedangkan Azka dan Dylan mengawasi Aditama dan teman temannya yang selalu membuat masalah.
"Tapi papa lo dapat nama, kan, karena sudah menyekolahkan dia," tukas Azka sambil melipat kedua tangannya di atas dada. Tatapnya menyorot dingin.
Aditama menyeringai.
"Ya. Aku juga bebas memperlakukan dia seperti apa," sentaknya masih sama dengan wajah pongah dan sikap mengintimidasi.
Dalam hati dia memaki karena bertemu lawan yang setara dengannya lagi. Musuh bebuyutannya sejak masuk SMA elit ini.
Beberapa yang lainnya masih belum muncul, batinnya lagi ketika menyadari jumlah musuhnya tidak sebanyak biasanya.
Di sekolah ini gank dia dan gank Kian yang paling dominan. Beberapa kali mereka harus dinasehati guru BP. Tapi semuanya dianggap angin lalu saja, karena keluarga mereka bukan orang biasa. Orang tua mereka donatur tetap SMA Elit Darmawangsa ini.
"Uangmu tidak bisa memperlakukan orang seenaknya," kecam Kian sambil memberikan goodie bag yang sudah terisi semua buku pada Wanda yang mengambilnya dengan tangan gemetar. Wajahnya tampak menahan malu yang amat sangat. Hampir tiap hari di sekolah dia diperlakukan begini oleh anak bos mendiang mamanya.
"Kamu ngga apa apa?" tanya Kian lagi. Tatapannya lembut tanpa sorot menjatuhkan. Seperti biasa.
Wanda mengangguk pelan. Sejak pertama kali mendapatkan bantuan Kian, jantungnya selalu berdebar aneh. Rasa sakit dipermalukan seakan bisa perlahan disembuhkan. Tapi lama kelamaan dia merasa terbebani. Wanda makin merasa tak ada artinya di depan Kian.
"Terimakasih," jawabnya lirih sambil menerima goodie bag itu. Sementara di punggungnya ada tas Aditama. Wanda menunduk, tidak membalas tatapan Kian.
Aditama yang melihatnya mendengus muak.
"Sepertinya tuan muda suka dengan babuku ini," sarkasnya kemudian tertawa ngakak bersama teman temannya.
Kian mengabaikan ejekan itu, dia masih menatap Wanda yang tubuhnya tampak gemetaran.
Emil menyerahkan sebuah goodie bag lagi pada Kian. Isinya dua buah tumbler dan sebuah mangkok bekal yang untungnya masih tertutup rapat.
Kian menyerahkannya pada Wanda.
"Makannya dihabiskan." Kian tersenyum tipis.
Wanda yang awalnya tidak mau menatap Kian, kini menautkan netra mereka.
Senyum Kian selalu bisa mengobati rasa terhinanya. Perlahan dia bangkit diikuti Kian dan Emil.
"Heh, tuan muda. Sayangnya babuku tidak akan kuserahkan padamu." Lagi lagi Aditama memprovokasi Kian agar marah dan memulai duluan perkelahian dengannya.
"Kamu ngga punya tulang, ya, selalu menyuruh Wanda membawa tasmu." Kian balas mengejek sambil menepuk nepuk celananya yang menumpu lantai tadi.
"Memang sudah tugasnya," ketus Aditama.
"Dasar lemah," kekeh Kian mengejek. Tatapnya meremehkan.
Aditama langsung naek darah. Apalagi ketiga remaja laki laki yang bersama Kian juga tergelak.
Beberapa yang menonton adu mulut ini menahan tawa, sementara yang lain menatap cemas. Mereka yakin sebentar lagi pasti akan berakhir dengan perkelahian.
"SIA-LAANNN!!" Aditama melepaskan tinjunya ke pipi Kian yang refllek menepis dengan tangannya.
Teman teman Aditama langsung bersiaga. Teriakan teriakan mulai terdengar. Ada yang melarang tapi kebih banyak juga yang mengompori.
"Selalu saja mencari masalah." Reyhan muncul di balik kerumunan para siswa. Di belakangnya ada dua pasang anak kembar.
"Ternyata kalian sudah lengkap. Mau lanjut di lapangan?" tantang Aditama dengan wajah menyeringai marah karena tinjunya berhasil ditangkis tadi.
"Lebih baik kita pergi saja." Dylan memilih mengalah. Nasehat papi dan maminya cukup sering dia terima sejak masuk SMA.
"Jangan pedulikan dia." Emil juga setuju dengan Dylan.
"Aku juga ngga berniat melawan pecundang," sinis Kian berucap. Cengiran penuh ejekan tersemat di bibirnya sebelum berbalik pergi. Azka juga melakukan hal yang sama.
"Dasar pengecut!" sentak Aditama dalam marahnya ketika diacuhkan. Wajahnya terlihat be-ngis karena dipermalukan di hadapan teman temannya. Kakinya bergerak cepat menendang bokong Kian.
Wanda menutup mulut berharap Kian berhasil mengelak lagi seperti tadi.
Ternyata Kian ngga serta merta percaya kalo Aditama akan melepasnya begitu saja. Pengalaman adu mulut dengannya yang selalu berakhir dengan ayunan tangan dan kaki membuat Kian waspada. Dia pun memutar cepat tubuhnya dengan bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lain menendang kuat kaki Aditama.
Tepat kena di betisnya hingga tubuh Aditama kehilangan keseimbangan. Untung saja teman temannya menahan tubuhnya hingga tidak sampai jatuh ke lantai.
Beberapa orang temannya langsung menghadang Kian dan csnya. Memba-bi buta memukul dan menendang.
"Dasar," maki Azka yang terpaksa melayani mereka.
Alen yang baru saja datang juga ikut membantu dengan wajah sumringah.
"Suka banget olah raga pagi."
Dua pasang kembar juga ikut turun agar perkelahian seimbang
Kerumunan langsung mundur menjauh, agar tetap bisa menonton tanpa terkena pukulan dan tendangan.
Reyhan memijat kepalanya sambil menghembuskan nafas berulang kali. Dylan dan Emil yang berada di dekatnya juga mengawasi perkelahian yang kini jumlahmya sudah seimbang. Tapi sudah jelas Aditama kalah kualitas. Kian cs menang dalam segi teknik. Mereka menguasai karate, taekwondo, pencak silat, dan juga muay thai.
Bahkan mereka juga masuk dalam jajaran atlet muda berprestasi. Bukan seperti Aditama cs yang seni bertarungnya ala grasa grusu.
Ngga lama kemudian pemenangnya langsung terlihat jelas. Tapi bukan berarti yang menang aman dari hukuman.
Terdengar bunyi peluit kencang, seperti biasa, untuk menghentikan perkelahian itu.
Beberapa guru dan sekuriti datang untuk memisahkan, tepatnya mengamankan yang sudah babak belur.
Bu Elia menghela nafas berkali kali ketika melihat pelakunya itu itu saja.
"Kalian semua dijemur!" Bu Elia menatap beberapa sekuriti yang tampak kaget mendengar hukuman yang ngga lazim ini.
"Pak, jemur anak anak ini di lapangan!" perintahnya lagi.
Bu Elia adalah guru BP yang ngga pernah takut dengan para donatur yang memiliki anak anak yang selalu membuat masalah di sekolah.
Para sekuriti masih bergeming dan saling tatap, bingung dan bercampur takut. Anak yang akan mereka tangani bukan anak dari kalangan biasa.
Kian cs maupun Aditama cs berseru kaget. Biasanya hukumannya hanya pemanggilan orang tua saja ke sekolah.
"Kok dijemur, Bu," seru Aditama ngga terima.
"Panas banget, Bu," sambung teman Aditama-Mahesa.
"Surat aja , Bu. Atau langsung telpon juga boleh." Alen juga ikut menawar.
Kian jadi merasa bersalah dengan kerabatnya.
"Bu, saya aja yang dijemur sama Aditama," usulnya yang jelas ditolak Aditama.
"Enak aja. Kamu sendiri yang lebih pantas dijemur" sanggahnya dengan tatapan horor.
Kian melirik sinis.
"Semuanya dijemur!" ulti Bu Elia lagi. Sudah pusing dia menghadapi perkelahian anak para donatur ini.
"Tapi , bu?" bisik Bu Nanda agak keberatan.
"Kalo ada apa apa, urusannya sama saya."