NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

"Lepasin dia, gue selalu welcome buat lo, Nayla."

Suara Marvin terdengar pelan di tengah dinginnya udara subuh. Jalanan di depan halte tampak hampir kosong. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat sesekali, meninggalkan suara mesin yang memantul di antara gedung-gedung tinggi kota.

Nayla masih duduk di bangku halte dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya sembab, rambutnya sedikit berantakan, dan napasnya masih belum beraturan setelah tangis panjang yang ia tahan selama hampir satu jam.

Marvin memperhatikan gadis itu dari atas motor besarnya. Cowok itu sudah tiga kali datang ke halte tersebut malam itu.

Pertama kali, Nayla mengusirnya.

Kedua kali, Nayla tetap diam sambil menangis.

Dan sekarang, untuk ketiga kalinya, Marvin kembali lagi dengan wajah penuh rasa khawatir.

"Untuk yang ketiga kalinya, lo masih aja di sini?" Nayla akhirnya bersuara lirih.

Marvin mengangkat bahu kecil.

"Gue takut lo kenapa-kenapa. Ini udah hampir pagi."

Nayla menghela napas kasar. "Cukup, Vin. Gue capek."

Marvin mengangguk pelan sambil menundukkan kepala.

"Oke. Tiga puluh dua kali gue minta maaf malam ini. Mungkin bisa jadi rekor baru," gumamnya mencoba bercanda.

Nayla menatap tajam ke arahnya.

"Lo pikir ini lucu?"

"Nggak." Marvin langsung menggeleng cepat. "Gue cuma... nggak suka lihat lo nangis."

Kalimat itu membuat Nayla terdiam beberapa detik.

Lampu jalan memantulkan cahaya kuning redup ke wajah mereka. Udara dingin membuat Nayla menarik jaketnya lebih rapat.

Cowok berjaket denim itu akhirnya turun dari motor orennya lalu berjalan mendekati halte. Namun baru saja ia duduk di samping Nayla, gadis itu langsung bergeser menjauh.

Gerakan kecil itu terasa seperti tamparan untuk Marvin.

Meski begitu, ia tetap memilih diam.

Nayla menatap lurus ke depan.

"Gue mau nanya satu hal sama lo."

"Hm?"

"Waktu itu lo bilang Endra nggak bakal tahu kalau gue ada di apartemen lo. Tapi besok paginya dia datang. Kenapa?"

Marvin terdiam.

Nayla menoleh cepat.

"Itu pasti ulah lo, kan?"

"Demi apa bukan gue!" Marvin langsung membela diri.

"Bohong."

"Nayla, gue serius. Gue juga nggak tahu kenapa dia bisa tahu."

Tatapan Nayla masih penuh curiga.

Marvin mengacak rambutnya frustasi.

"Dia tiba-tiba datang, marah-marah, terus langsung hajar gue. Gue sampai dipermaluin di depan satu sekolah, Nayla. Leher gue aja masih sakit sampai sekarang."

Nayla terdiam.

Meskipun ia masih marah pada Marvin, sebagian kecil dirinya tahu kalau cowok itu memang tampak babak belur waktu kejadian itu terjadi.

"Terus dia maksa ngambil kunci apartemen gue," lanjut Marvin. "Dia ancem gue buat jauhin lo."

Nayla mengepalkan tangannya.

Nama Endra selalu berhasil membuat dadanya sesak.

Bukan karena cinta.

Tapi karena luka.

Endra adalah tipe laki-laki yang mencintai dengan cara menghancurkan.

Awalnya Nayla pikir sikap posesif Endra hanyalah bentuk perhatian. Cowok itu selalu ingin tahu Nayla sedang di mana, bersama siapa, pulang jam berapa.

Namun lama-kelamaan semua berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Endra mulai membatasi pertemanan Nayla.

Ia marah kalau Nayla terlalu lama membalas pesan.

Ia membenci semua laki-laki yang dekat dengan Nayla.

Dan yang paling buruk Endra selalu merasa berhak mengatur hidup Nayla.

Termasuk ketika Nayla memutuskan pergi.

"Lo masih sayang sama dia?"

Pertanyaan Marvin membuat Nayla tersadar dari lamunannya.

Nayla menoleh perlahan.

"Nggak semua hubungan harus dipertahanin cuma karena pernah sayang."

Marvin mengangguk pelan.

"Tapi lo masih takut sama dia."

Nayla tak menjawab.

Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Marvin menatap Nayla beberapa saat sebelum akhirnya bersandar ke tiang halte.

"Gue nggak ngerti gimana caranya cowok bisa nyakitin cewek kayak lo."

Nayla mendengus kecil.

"Jangan sok baik."

"Gue emang baik."

"Najis."

Marvin tertawa pelan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Nayla tidak mengusirnya.

Beberapa menit berlalu tanpa suara.

Sesekali mobil melintas.

Angin malam bertiup dingin.

Dan entah kenapa, suasana itu terasa anehnya tenang.

Marvin melirik Nayla diam-diam.

Sembab di mata gadis itu masih jelas terlihat.

Ia tahu Nayla mencoba terlihat kuat.

Tapi Marvin juga tahu orang yang terlalu lama pura-pura kuat biasanya justru paling hancur.

"Nayla?"

"Apa lagi?"

"Lo belum makan kan?"

"Nggak lapar."

Perut Nayla tiba-tiba berbunyi pelan.

Marvin langsung menahan tawa.

Nayla memejamkan mata malu.

"Oke, itu penghinaan terbesar malam ini," gumamnya.

Marvin tertawa kecil lalu berdiri.

"Tunggu sini."

"Mau ke mana?"

"Beli makanan."

"Nggak usah."

"Gue nggak nanya."

Tanpa menunggu jawaban, Marvin berjalan menyeberang jalan menuju minimarket yang masih buka dua puluh empat jam.

Nayla memperhatikan punggung cowok itu hingga menghilang di balik pintu kaca.

Entah kenapa dadanya terasa sedikit hangat.

Sudah lama tidak ada seseorang yang peduli padanya sesederhana itu.

Selama bersama Endra, perhatian selalu terasa seperti kewajiban.

Jika Endra memberi makan, Nayla harus menuruti kemauannya.

Jika Endra membantu, Hazel harus membalas dengan kepatuhan.

Jika Nayla menolak, maka pertengkaran besar pasti terjadi.

Hubungan mereka seperti kandang emas.

Indah dilihat dari luar.

Tapi sesak di dalam.

Lamunan Nayla buyar ketika Marvin kembali sambil membawa dua cup mie instan dan beberapa roti.

"Nih."

Nayla menatap makanan itu.

"Lo beli banyak banget."

"Takut lo lapar lagi nanti."

Mereka mulai makan dalam diam.

Nayla meniup mie panas perlahan.

Marvin memperhatikannya lalu tersenyum tipis.

"Apa?" tanya Nayla curiga.

"Nggak ada. Lucu aja lihat lo makan sambil manyun."

"Mulut lo pengen gue lempar mie ya?"

"Tuh kan galak lagi."

Nayla mendengus.

Namun beberapa detik kemudian ia malah tersenyum kecil.

Dan Marvin diam-diam merasa lega melihatnya.

Karena setidaknya malam itu, Nayla masih bisa tersenyum.

Tinnn... Tinnn...

Suara klakson mobil memecah suasana.

Keduanya menoleh bersamaan saat sebuah mobil putih berhenti tepat di depan halte.

Kaca mobil perlahan turun memperlihatkan seorang gadis cantik berambut panjang yang langsung melambaikan tangan.

"Naylaa!"

Nayla spontan berdiri.

"Luna?"

Wajah Nayla berubah sedikit cerah.

Luna segera keluar dari mobil lalu memeluk Nayla erat.

"Ya ampun, gue nyariin lo dari tadi!"

Nayla tersenyum lemah.

"Maaf."

Luna langsung memegang kedua pipi Hazel.

"Lo nangis?"

"Nggak."

"Bohong banget mata lo bengkak gitu."

Nayla mengalihkan wajah.

Marvin yang sedari tadi diam akhirnya berdiri.

Luna memperhatikan Marvin beberapa detik sebelum matanya membesar.

"Eh! Lo cowok yang waktu itu nitipin tas Nayla ke gue, kan?"

Marvin mengangguk kecil.

"Iya."

"Makasih ya waktu itu."

"Santai."

Nayla memperhatikan interaksi mereka tanpa ekspresi.

Luna kemudian kembali fokus pada Nayla.

"Mami khawatir banget sama lo. Gue disuruh nyari dari tadi."

Nayla menggigit bibir bawahnya.

Rasa bersalah langsung memenuhi dadanya.

Sejak tinggal sementara di rumah Luna, Nayla merasa terus merepotkan keluarga sahabatnya itu.

Padahal mereka sudah sangat baik menerimanya.

"Maaf ya jadi ngerepotin," gumam Nayla pelan.

"Lo tuh kalau ngomong kayak orang asing aja," omel Luna. "Udah ayo masuk mobil."

Nayla mengangguk pelan.

Sebelum pergi, ia menoleh ke arah Marvin.

Cowok itu masih berdiri di dekat motornya sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

"Makasih," ucap Nayla lirih.

Marvin tersenyum kecil.

Senyum yang sederhana.

Tapi anehnya berhasil membuat dada Nayla terasa sesak.

"Gue selalu welcome buat lo, Nayla,"

katanya lagi.

Nayla segera memalingkan wajah lalu masuk ke mobil.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!