NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

BRAK!

​Rudi tersentak kaget sampai hampir melompat mundur. Jalal mendadak bangkit berdiri dengan sangat cepat hingga kursi kayu di belakangnya terhempas kasar ke lantai.

​"Kamu... kamu lihat istri saya? Maksudmu Yasita?!" tanya Jalal dengan suara bergetar, setengah tidak percaya.

​Jantung Jalal bertalu-talu hebat. Pasalnya, perjalanan bisnis mereka ke Sulawesi kali ini murni hanya untuk mencari lahan kosong demi membangun rumah sarang burung walet. Ya, beberapa bulan terakhir ini Jalal memang sedang sangat terobsesi dengan bisnis air liur burung tersebut. Tiap hari dunianya hanya dipenuhi pikiran tentang walet, sampai-sampai pikirannya sendiri ikut 'terkicau-kicau' alias oleng karena terlalu banyak mendengar rekaman suara tiruan burung walet. Siapa sangka, di tengah obsesi kicaunya itu, takdir justru menuntunnya kembali pada serpihan masa lalu yang hilang.

​"Rud! Kamu tahu di mana dia sekarang? Rumahnya di mana?!" cecar Jalal, mencengkeram tepi meja dengan mata membelalak menuntut jawaban.

​Rudi seketika membeku. Dia mengerjap-ergerjap, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Nah... itu dia, Pak. Karena terlalu syok, saya... saya lupa bertanya alamat rumahnya," ucap Rudi disertai cengiran polos tanpa dosa.

​Jalal menatap asistennya itu dengan pandangan muak dan jengkel setengah mati. Rasanya ingin sekali dia melempar Rudi ke dalam rumah walet biar sekalian dikicaui burung di sana.

​Jalal menghela napas berat, mencoba meredam emosinya yang meluap. Dia berjalan mondar-mandir di ruangan itu sembari mengelus brewok tipis di dagunya.

​"Saya tidak mau tahu, Rudi. Pokoknya secepatnya kamu harus cari tahu keberadaan mereka! Saya sangat curiga dengan bocah bermata biru itu. Jangan-jangan... dia adalah anak kandung saya, darah daging saya yang lahir dari malam itu," ucap Jalal dingin, namun matanya memancarkan tekad dan rasa bersalah yang kembali membubung tinggi.

"Mama, kapan Bapak pulang dih...?"

​Pertanyaan polos Jayan seketika mengalihkan fokusku yang sedang sibuk mengaduk sagu panas. Niatnya, siang ini aku akan membuat Sinonggi—makanan khas suku Tolaki kesukaan keluarga kami.

​Kujeda sejenak kegiatanku, lalu menoleh menatap putra kecilku. "Kenapa Jayan tiba-tiba tanya begitu?" tanyaku lembut.

​"Iya, aku bertanya karena aku rindu... Bapakku ganteng kah tidak, Mama?" tanya Jayan lagi, mendongak dengan sepasang mata biru lautnya yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

​Aku tertegun menatap wajahnya. Dadaku kembali berdenyut perih, namun sekuat tenaga kuhela napas panjang untuk menenangkan diri. Aku bangkit, mencuci tanganku hingga bersih di wastafel, lalu berjalan ke kamar untuk mengambil gawai milikku.

​Aku kembali duduk di dekat Jayan. "Jayan rindu sekali kah sama Bapak?"

​Dia mengangguk sedih, lalu menunduk lesu sambil memutar-mutar roda mobil-mobilan baru yang kubelikan tadi. Melihat gurat kerinduan di wajah anak tanpa dosa itu membuat hatiku melunak. Kubuka kunci layar ponselku, mencari sebuah folder file lama yang sengaja kusimpan rapat-rapat, lalu mengetuk satu-satunya foto yang ada di sana.

​Foto seorang Jalal Assidiq. Pria itu tampak berdiri dengan gagahnya di atas podium saat memberikan sambutan, wajahnya yang tampan dihiasi senyuman penuh wibawa.

​"Coba kita lihat ini, Nak," ucapku sembari menyodorkan layar ponsel ke hadapannya.

​"Hih, siapa ini, Mama?" tanya Jayan, matanya langsung membelalak bulat.

​Aku tersenyum getir, namun di hadapan Jayan, kutampilkan senyuman paling manis. "Ini Bapak, Nak. Ganteng, kan? Mirip sekali dengan Jayan." Aku mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.

​Perlahan, Jayan memajukan bibir mungilnya. Dengan gerakan yang teramat lembut, dia mencium layar ponsel yang menampilkan wajah ayahnya itu.

​Menyaksikan pemandangan itu, air mataku hampir saja lolos. Pak... andai kamu tahu, kejadian malam kelam itu membuahkan hasil seindah ini, apakah kamu mau menerimanya dengan tulus? batinku bertanya-tanya dalam keheningan rasa bersalah.

•••••••••••

Sementara itu, di halaman rumah singgah, Jalal sedang sibuk menaburkan pakan ke kolam ikan. Ketenangannya mendadak buyar saat suara lantang Rudi melengking lebih dulu sebelum sosoknya kelihatan.

​"Rudianto! Bisa tidak kalau kamu datang itu muncul dulu di depan muka saya baru bicara?!" tegur Jalal jengkel, sengaja menyebut nama lengkap asistennya agar pria itu jera.

​Rudi hanya memamerkan senyuman tengil tanpa rasa bersalah, lalu setengah berlari menghampiri tuannya dengan wajah berseri-seri.

​"Pak! Saya sudah dapat alamat rumah istri kedua Anda! Dan betul dugaan Bapak, anak kecil bermata biru itu ternyata memang anak kandung Anda!" ungkap Rudi girang.

​Byur!

​Jalal refleks menjatuhkan sisa pakan ikannya. Sebuah senyuman lebar seketika terbit di wajah matangnya. Tanpa membuang waktu, dia langsung mengelap tangannya dengan tergesa-gesa. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo, kita ke sana sekarang juga!" ucap Jalal menggebu-gebu penuh semangat.

​"Eh, Pak! Tunggu dulu!" Rudi buru-buru menarik lengan bosnya, menahan langkah Jalal yang sudah mau melompat ke arah mobil. "Bapak mau ke sana dengan penampilan begini saja? Cuma pakai kaosan oblong sama kain sarung begini?"

​Jalal seketika menghentikan langkahnya. Dia menunduk, menelisik penampilannya sendiri dari dada sampai kaki yang hanya dibalut sarung rumahan.

​"Oh, iya... kamu benar juga. Bisa malu aku kalau datang begini. Bisa-bisa Yasita malah makin ilfeel dan menolakku nanti!" seru Jalal panik. "Aku harus pakai pakaian yang paling rapi!"

​Tanpa memedulikan Rudi lagi, pria paruh baya yang biasanya berwibawa tinggi itu langsung berlari tunggang-langgang masuk ke dalam kamarnya untuk membongkar lemari pakaian.

​Rudi yang ditinggalkan di tepi kolam hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ajaib tuannya. Dia terkekeh pelan dalam hati. Kelakuan Pak Jalal barusan benar-benar persis seperti remaja labil yang sedang kasmaran setengah mati gara-gara mau pergi kencan pertama!

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!