NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Ruang kerja Demiurge tidak pernah terlihat sekacau ini.

Tumpukan perkamen berserakan di atas meja, sebagian masih kosong, sebagian sudah penuh dengan tulisan tangan yang rapi dan tajam. Peta Holy Kingdom tergantung di dinding, ditandai dengan lingkaran-lingkaran merah dan garis-garis penghubung yang membentuk pola yang tidak pernah benar-benar selesai. Di beberapa tempat, tinta merah sudah mulai pudar karena terlalu sering dihapus dan digambar ulang.

Lilin-lilin di atas kandil tembaga hampir habis terbakar. Tiga dari lima lilin sudah padam, menyisakan sumbu hitam yang melengkung di atas genangan lilin beku. Dua lainnya menyala redup, nyala apinya bergetar tidak stabil, seolah sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak terlihat.

Demiurge duduk di kursinya tanpa bergerak sejak pagi. Cahaya merah di rongga matanya tidak berkedip, terus menatap peta di hadapannya, membaca ulang laporan yang sama untuk kesekian kalinya. Di sudut ruangan, seekor laba-laba kecil merayap perlahan di antara retakan-retakan batu, meninggalkan jejak benang tipis yang berkilau di bawah cahaya lilin.

Tiga operasi gagal. Tidak ada penjelasan. Tidak ada jejak.

Unit-unit Shadow Demon melaporkan gangguan sensorik mendadak, kehilangan koordinasi, dan ketidakmampuan untuk mengirim laporan. Beberapa unit bahkan tidak dapat mempertahankan bentuk fisik mereka selama berjam-jam setelah kembali. Di sudut ruangan, ada sisa-sisa bayangan yang masih bergerak pelan, seperti luka yang belum sembuh.

Dia mendorong kacamatanya. Kilatan cahaya memantul dari lensa bundar itu, menerangi wajahnya yang mulai menunjukkan kerutan kebingungan yang jarang terlihat di sana.

Tidak ada pola. Tidak ada target yang sama. Tidak ada lokasi yang berulang. Hanya sebuah radius. Area di mana semua unit tiba-tiba kehilangan kendali.

Dia menarik selembar perkamen kosong dan mulai menulis. Pena di tangannya bergerak dengan kecepatan tinggi, mencatat setiap detail yang bisa dia ingat dari laporan-laporan yang masuk. Huruf-hurufnya rapi dan terukur, tidak ada satu pun coretan yang terbuang sia-sia.

Lokasi kegagalan: pemukiman Alpha, Beta, Gamma. Radius sekitar 300 meter dari titik pusat yang tidak teridentifikasi. Durasi gangguan berkisar antara 15 hingga 45 menit, tergantung jarak dari pusat.

Dia berhenti sejenak. Ujung penanya menekan permukaan perkamen, meninggalkan titik kecil tinta yang mulai merembes ke serat kertas.

Pusat yang tidak teridentifikasi.

Itu adalah bagian yang paling mengganggu.

Setiap operasi memiliki koordinat yang jelas. Setiap unit memiliki target yang spesifik. Namun dalam setiap laporan, tidak ada satupun yang menyebutkan adanya musuh yang terlihat, atau serangan yang terjadi. Semua unit hanya merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan. Sesuatu yang membuat mereka kehilangan kendali atas diri mereka sendiri.

Demiurge meletakkan penanya. Jari-jarinya yang berkuku tajam mengetuk permukaan meja dengan irama pelan, satu kali, dua kali, tiga kali. Di ujung jarinya, ada getaran kecil yang tidak dia sadari—tanda bahwa dia mulai gelisah.

Jika ini adalah serangan, mengapa tidak ada yang terluka? Jika ini adalah sihir musuh, mengapa tidak ada jejak mana yang tertinggal? Jika ini adalah jebakan, mengapa tidak ada yang terjadi setelahnya? Tidak ada yang masuk akal.

Dia berdiri dan berjalan menuju peta di dinding. Kukunya yang panjang menyentuh permukaan perkamen dengan hati-hati, seperti sedang menyentuh sesuatu yang rapuh. Cahaya merah di rongga matanya bergerak di sepanjang garis-garis merah yang dia gambar sendiri, mencari pola yang mungkin terlewat.

Holy Kingdom. Wilayah barat. Tiga desa kecil dengan populasi yang tidak signifikan. Tidak ada kepentingan strategis. Tidak ada sumber daya berharga. Tidak ada hubungan dengan Theocracy.

Lalu mengapa gangguan terjadi di sana?

Dia berhenti. Matanya tertumbuk pada sebuah titik di peta, sebuah area kecil yang tidak dia tandai sebelumnya. Sebuah jalan setapak yang menghubungkan pos utara dengan kamp utama Holy Kingdom. Bukan desa. Bukan pemukiman. Tapi sebuah rute yang dilalui oleh seseorang.

Pikiran itu muncul tanpa sengaja, seperti percikan api yang tiba-tiba menyala di tengah kegelapan. Demiurge menatap jalan setapak itu lebih lama, mencoba mengingat apakah ada laporan yang menyebutkan tentang rute tersebut.

Tidak ada. Tidak ada laporan tentang jalan setapak itu. Tapi jika gangguan terjadi di tiga desa yang berbeda pada malam yang sama, mungkin ada sesuatu yang bergerak di antara desa-desa itu. Sesuatu yang tidak terdeteksi oleh Shadow Demon.

Dia berbalik dan berjalan kembali ke meja. Di atasnya, laporan-laporan berserakan seperti bukti-bukti yang menunggu untuk dihubungkan. Dia mengambil tumpukan perkamen yang sudah dia baca berkali-kali. Di tangannya, kertas terasa kasar, sedikit berminyak karena sering dipegang. Matanya bergerak cepat di atas baris-baris kata, mencari detail yang mungkin terlewat.

Laporan unit Alpha: gangguan dimulai sekitar pukul 21.30. Laporan unit Beta: gangguan dimulai sekitar pukul 21.45. Laporan unit Gamma: gangguan dimulai sekitar pukul 22.00.

Semua dalam satu malam. Semua dalam satu wilayah. Tapi pada waktu yang berbeda.

Dia meletakkan laporan itu. Cahaya di rongga matanya menyipit. Di bawah kukunya, ada tekanan kecil yang meninggalkan bekas goresan di permukaan meja kayu.

Jika ada sesuatu yang bergerak dari satu desa ke desa lain, maka pola waktunya akan sesuai. Alpha pertama. Beta kedua. Gamma ketiga. Seperti seseorang yang sedang berjalan pulang.

Demiurge menatap peta lagi. Jalan setapak itu. Tiga desa. Urutan waktu yang berurutan.

Siapa yang berjalan pulang dari pos utara menuju kamp utama pada malam itu? Dan mengapa keberadaan mereka cukup untuk mengganggu seluruh operasi Nazarick?

Dia tidak punya jawaban. Tapi dia mulai memiliki kecurigaan.

Perlahan, dia mengambil pena dan menulis satu nama di sudut peta. Bukan dengan tinta merah, tapi dengan tinta hitam pekat. Huruf-hurufnya tajam dan tegas, seperti sedang mengukir sesuatu ke dalam batu.

"Slamet — The Destroyer — Prioritas Tertinggi."

Lilin di sampingnya berkedip, lalu padam.

Sore harinya, Demiurge berdiri di hadapan Ainz di Ruang Takhta.

Langit di atas Nazarick tidak pernah terlihat dari sini, tapi Ainz tetap menatap ke arah langit-langit batu yang melengkung tinggi di atas singgasana. Seolah-olah dia sedang mencari sesuatu di antara retakan-retakan batu.

"Ainz-sama, hamba telah menemukan indikasi baru mengenai kegagalan operasi di Holy Kingdom."

Ainz mengangkat kepalanya. Cahaya merah di rongga matanya menyala sedikit lebih terang, seperti bara yang mulai membara.

"Jelaskan."

Demiurge membuka lipatan perkamen di tangannya, meskipun sebenarnya dia sudah hafal isinya. Jari-jarinya menyentuh ujung kertas yang sudah mulai kusut karena sering dibuka dan dilipat. Di sudut perkamen, ada noda kecil tinta hitam yang tidak sengaja jatuh saat dia menulis.

"Tiga operasi gagal pada malam yang sama, di tiga lokasi yang berbeda. Tidak ada jejak serangan, tidak ada jejak sihir, tidak ada penjelasan yang masuk akal."

Dia berhenti sejenak, mengamati reaksi Ainz. Tidak ada perubahan. Hanya keheningan yang semakin pekat. Di bawah singgasana, udara terasa lebih dingin dari sebelumnya.

"Namun, jika kita melihat pola waktu dan lokasi, ada satu hal yang menarik. Gangguan terjadi secara berurutan, dari Alpha ke Beta ke Gamma, dengan selisih waktu sekitar lima belas menit antara setiap lokasi."

Dia menunjuk ke peta yang terbentang di atas meja di samping singgasana. Ujung jarinya menyentuh tiga titik merah yang sudah dicoret dengan tinta hitam. Di bawah sentuhannya, tinta itu terasa sedikit kasar, seperti bekas luka di atas kertas.

"Ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang bergerak di antara desa-desa itu pada malam yang sama. Sesuatu yang tidak terdeteksi oleh Shadow Demon."

Ainz menatap peta. Jari-jari tulangnya menyilang di depan dada, tidak bergerak. Di rongga matanya, cahaya merah berkedip pelan, seperti sedang memproses informasi.

"Dan kau tahu apa itu?"

Demiurge menggeleng pelan. "Tidak, Ainz-sama. Tapi hamba memiliki dugaan."

"Apa?"

Demiurge menyesuaikan kacamatanya. Gerakannya lambat, seperti sedang memilih kata-kata dengan hati-hati. Di bawah kacamatanya, cahaya merah di rongga matanya berkedip lebih cepat dari biasanya.

"Seseorang. Seseorang yang bergerak dari pos utara menuju kamp utama Holy Kingdom pada malam itu. Seseorang yang keberadaannya, tanpa disadari, mengganggu operasi Nazarick."

Ainz tidak menjawab. Jari-jarinya mulai mengetuk lengan singgasana, satu kali, dua kali, tiga kali.

"Selama ini kita berasumsi bahwa The Destroyer adalah entitas yang bergerak di luar Holy Kingdom," lanjut Demiurge. "Tapi bagaimana jika dia sebenarnya berada di dalamnya? Bagaimana jika dia bersembunyi di tempat yang paling tidak kita curigai? Bagaimana jika dia menyamar sebagai orang biasa?"

Keheningan mengisi ruangan. Di bawah singgasana, lilin-lilin di kandil besar mulai berkedip, seperti ada sesuatu yang mengganggu aliran udara.

Ainz akhirnya bergerak. Jari-jarinya terlepas dari genggaman, lalu jatuh ke pangkuannya.

"Kau mengatakan The Destroyer mungkin berada di Holy Kingdom?"

"Ya, Ainz-sama."

"Dan kau mengatakan dia mungkin menyamar sebagai orang biasa?"

"Ya, Ainz-sama."

"Lalu apa buktinya?"

Demiurge menghela napas pelan. Di balik kacamatanya, cahaya merah di rongga matanya meredup sejenak. "Tidak ada bukti, Ainz-sama. Hanya pola yang menunjukkan adanya anomali. Tapi hamba percaya bahwa kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan ini."

Ainz terdiam.

The Destroyer. Di Holy Kingdom. Menyamar sebagai orang biasa. Mungkin. Tapi tidak ada bukti. Hanya dugaan. Hanya perasaan.

Cahaya hijau berdenyut di rongga dadanya.

"Lanjutkan penyelidikan," kata Ainz akhirnya. Suaranya datar, tanpa emosi. "Jika The Destroyer benar-benar ada di Holy Kingdom, aku ingin tahu."

Demiurge membungkuk. "Perintah diterima, Ainz-sama."

Dia berbalik dan meninggalkan ruangan. Langkah kakinya bergema di lantai batu yang dingin, lalu menghilang di balik pintu yang tertutup.

Ainz menatap peta di depannya. Holy Kingdom. The Destroyer. Orang biasa.

Apakah mungkin? Atau apakah ini hanya paranoia?

Dia tidak tahu. Tapi di dalam tubuhnya, cahaya hijau terus berdenyut.

*

*

*

Di tenda logistik Holy Kingdom, Slamet sedang mengikat tali sandal jepitnya yang hampir putus.

Tali karetnya tinggal satu helai tipis yang menahan sandal itu tetap utuh. Dia menariknya perlahan, mengencangkan simpul yang sudah longgar, lalu menggerakkan kakinya untuk memastikan sandal itu tidak terlepas. Di bawah jempol kakinya, sol sandal sudah menipis hampir tembus—dia bisa merasakan dinginnya tanah melalui celah itu.

Cepat atau lambat pasti putus. Tapi untuk sekarang, selama masih bisa dipakai, itu sudah cukup.

Neia lewat di depannya, membawa tumpukan perkamen yang harus dilaporkan ke komandan. Wajahnya terlihat lelah, dengan bayangan gelap di bawah mata yang tidak pernah benar-benar hilang. Di ujung lengan bajunya, ada noda tinta yang tidak sengaja jatuh saat dia menulis.

"Besok ada tugas baru," katanya tanpa berhenti. "Pos selatan. Kiriman obat lagi."

Slamet mengangguk. "Oke."

Neia melanjutkan langkahnya. Di tangannya, tumpukan perkamen hampir jatuh, tapi dia menahannya dengan siku. Di sudut tenda, seorang prajurit lain sedang tidur dengan mulut terbuka, tidak sadar dengan dunia di sekelilingnya.

Slamet kembali menatap sandal jepitnya. Tali karet itu mulai mengelupas di beberapa bagian. Besok masih bisa dipakai. Lusa mungkin enggak. Harus cari sandal baru. Tapi uangnya mana? Untuk membeli sandal seharga beberapa koin tembaga saja, dia harus bekerja setengah hari.

Ah, sudahlah. Nanti pikir belakangan.

Dia berdiri, merapikan celananya yang robek di lutut, dan berjalan keluar tenda. Di luar, salju masih turun perlahan, butiran-butiran putih yang jatuh diam-diam di atas tanah yang sudah membeku. Di kejauhan, seorang anak kecil sedang bermain dengan bola salju yang menggelinding, tertawa tanpa beban. Ibunya memanggil dari dalam tenda, suaranya terdengar hangat di udara dingin.

Slamet menatap anak itu sebentar. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah barat. Di sana, di balik pepohonan yang tertutup salju, ada sesuatu yang tidak bisa dia lihat. Hanya perasaan samar bahwa ada sesuatu yang bergerak di kejauhan.

Tapi dia tidak tahu apa itu. Dan dia tidak peduli.

Dia berjalan kembali ke dalam tenda. Besok masih ada paket yang harus diantar. Dan yang penting, masih ada makanan.

Di suatu tempat, di ruang kerja yang jauh, seekor iblis sedang menyusun teori tentangnya.

Tapi Slamet tidak tahu. Dan bahkan jika dia tahu, dia mungkin tidak peduli.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!