Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34.
Pagi itu, suasana posko sudah sangat ramai.
Semua sibuk bersiap sejak selesai mandi dan sarapan.
Di tengah kesibukan itu, Alya muncul dari arah belakang rumah sambil merapikan topinya.
Penampilannya langsung mencuri perhatian. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dipadukan dengan celana jeans biru muda berpotongan longgar.
Sneakers putih bersih melengkapi penampilannya, sementara rambutnya dikuncir tinggi dengan rapi. Sebuah topi krem bertengger di kepalanya, lengkap dengan kacamata hitam yang diselipkan di kerah bajunya.
Meski hanya hendak pergi berbelanja ke pasar kabupaten, penampilan Alya tetap terlihat cetar.
Dion yang melihatnya langsung terkekeh.
“Al...Kita mau belanja, bukan mau ikut fashion show.”
Adrian ikut mengangguk sambil menahan tawa.
“Bener. Yang lain tampil biasa, cuma Nona Kota yang selalu all out.”
Alya tersenyum bangga sambil merapikan ujung bajunya.
“Namanya juga menjaga penampilan, Siapa tahu ketemu jodoh di pasar.”
“Buset...” gumam Dion.
“Pikiran lo jauh banget.”
Ucapan mereka kembali membuat suasana posko dipenuhi gelak tawa.
“Udah, udah,” ujar Arga sambil menutup buku agendanya.
“Kalau semuanya sudah siap, kita berangkat ke kantor kepala desa.”
“Siap,” jawab mereka serempak.
Laura segera mengambil map berisi berkas program kerja. Sebagai sekretaris, ia memastikan semua dokumen yang diperlukan sudah dibawa.
Dimas dan Andre memeriksa kembali daftar belanja.
“Udah lengkap?”
“Udah.”
“Nanti tinggal disesuaikan sama kebutuhan di pasar.”
Tak lama kemudian, rombongan KKN berjalan bersama menuju kantor kepala desa.
Di sepanjang jalan, mereka beberapa kali berpapasan dengan warga yang sedang berangkat ke sawah.
“Pagi, Nak!”
“Pagi, Pak...”
“Pagi, Bu...”
Alya tak lupa membalas sapaan mereka sambil tersenyum.
Beberapa anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan juga langsung berlari menghampirinya.
“Kak Alya! Mau ke mana?”
“Mau ke kantor kepala desa dulu,” jawab Alya.
“Habis itu ke pasar.”
“Titip permen ya, Kak!” teriak salah satu anak.
Alya tertawa kecil.
“Iya, kalau Kakak ingat.”
Dion yang berjalan di sampingnya langsung berbisik,
“Bukan kalau ingat, Pasti lo beliin.”
Alya hanya nyengir.
“Ya... sedikit.”
“Sedikit menurut Alya itu satu kantong,” sahut Adrian.
Semua kembali tertawa.
Tak lama kemudian, mereka tiba di halaman kantor kepala desa.
Terlihat beberapa perangkat desa sedang berbincang di teras, sementara sebuah mobil bak terbuka terparkir di samping kantor.
Dion langsung menyenggol bahu Adrian pelan.
“Eh, jangan-jangan itu mobil yang bakal kita pakai.”
Adrian mengangguk.
“Semoga aja.”
Arga pun melangkah lebih dulu menuju teras kantor kepala desa untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka.
Arga melangkah lebih dulu menuju teras kantor kepala desa.
“Permisi, Pak.”
Salah seorang perangkat desa yang sedang duduk langsung berdiri.
“Oh, silakan, Nak Arga. Ada keperluan apa?”
“Kami ingin bertemu Pak Kepala Desa, Pak. Kalau beliau ada.”
“Ada, sebentar ya.”
Perangkat desa itu masuk ke dalam kantor.
Tidak lama kemudian, Pak Kepala Desa keluar sambil tersenyum ramah.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Pak,” jawab mereka serempak.
“Silakan duduk dulu.”
Mereka pun duduk di kursi panjang yang tersedia di teras kantor.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak Kepala Desa.
Arga mulai menjelaskan tujuan kedatangan mereka.
“Begini, Pak. Hari ini kami berencana ke pasar kabupaten untuk membeli kebutuhan posko sekaligus perlengkapan program kerja ruang baca untuk anak-anak SD Desa Sukamaju.”
“Kami ingin bertanya, apakah desa memiliki kendaraan yang bisa kami pinjam untuk mengangkut barang?”
Pak Kepala Desa mengangguk pelan.
“Kebetulan ada mobil desa, Kalau dipakai hari ini tidak masalah.”
Wajah mereka langsung berbinar.
“Wah, terima kasih banyak, Pak,” ucap Tiara.
Pak Kepala Desa tersenyum.
“Nanti saya minta Pak Rahman mengantar kalian ke pasar.”
“Beliau juga sekalian membantu mengangkut barang.”
“Terima kasih banyak, Pak,” ujar Arga.
“Oh iya,” lanjut Pak Kepala Desa.
“Kemarin saya dengar kalian mengusulkan program ruang baca.”
“Iya, Pak,” jawab Arga.
“Menurut saya itu ide yang bagus. Anak-anak di sini memang masih kekurangan buku bacaan.”
Mendengar itu, Alya ikut tersenyum.
Ia sudah membayangkan anak-anak Desa Sukamaju membaca buku-buku baru dengan wajah penuh semangat.
“Kalau begitu,” ujar Pak Kepala Desa.
“Silakan belanja sesuai kebutuhan. Kalau ada yang perlu dibantu lagi, jangan sungkan menghubungi kami.”
“Baik, Pak.”
Setelah berpamitan, rombongan KKN berjalan menuju mobil desa yang sudah diparkir di halaman.
Dion langsung bersiul pelan.
“Wih... hari ini naik mobil.”
“Lumayan, nggak capek jalan kaki.”
Adrian menepuk bahunya.
“Udah, cepat naik, Nanti keburu siang.”
Tak lama kemudian, Pak Rahman datang membawa kunci mobil.
“Yuk, Nak. Barang bawaannya langsung dinaikkan saja.”
“Siap, Pak,” jawab Arga.
Dimas, Andre, Adrian, dan Dion segera mengangkat tas belanja serta beberapa kotak kosong yang nantinya akan digunakan membawa perlengkapan dari pasar.
Sementara itu, Alya berdiri di samping mobil bak terbuka sambil tersenyum.
“Naik mobil begini ternyata seru juga, ya.”
Dion yang mendengar langsung menoleh.
“Tumben, Nona Kota betah naik mobil desa.”
Alya terkekeh.
“Justru seru. Anginnya berasa banget.”
“Berasa debunya juga,” sahut Adrian.
Semua tertawa.
Setelah semua naik, Pak Rahman menyalakan mesin mobil.
Arga duduk di samping Pak Rahman, sedangkan yang lain duduk di bagian belakang mobil bak terbuka.
Mobil perlahan meninggalkan halaman kantor kepala desa menuju pasar kabupaten.
Mobil desa melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan yang berkelok.
Di kanan dan kiri terbentang hamparan sawah yang mulai menguning, diselingi pepohonan rindang yang membuat udara terasa sejuk.
Angin menerpa wajah mereka sepanjang perjalanan.
Alya tampak menikmati pemandangan di sekitarnya. Ia sesekali mengeluarkan ponselnya untuk merekam perjalanan.
“Papi pasti suka lihat pemandangan kayak gini,” gumamnya pelan.
Dion yang duduk tak jauh darinya langsung melirik.
“Al, jangan bilang nanti papimu mau beli sawah juga.”
Alya tertawa kecil.
“Enggak lah. Lagian buat apa beli sawah?”
“Siapa tahu,” sahut Adrian.
“Soalnya kemarin aja mau beli kebun cempedak.”
“Kan itu bercanda!” balas Alya sambil tertawa.
Perjalanan kembali diwarnai obrolan ringan.
Tak terasa hampir empat puluh menit berlalu, bangunan-bangunan pertokoan mulai terlihat memenuhi sisi jalan.
Kendaraan pun semakin ramai.
“Nah, udah masuk kota,” ujar Pak Rahman.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di area parkir pasar kabupaten.
“Udah sampai, Nak,” kata Pak Rahman.
Semua segera turun dari mobil.
Arga melihat daftar belanja yang dipegang Alya.
“Biar lebih cepat, kita bagi tugas.”
“Alya, Tiara, Laura, sama Nadia beli alat tulis, rak kecil, dan perlengkapan ruang baca.”
“Siap.”
“Dimas, Andre, Rizki, sama Reza beli kebutuhan dapur.”
“Oke.”
“Adrian, Dion ikut sama aku beli cat, papan, sama perlengkapan lainnya.”
“Siap.”
“Jam sebelas kita kumpul lagi di depan mobil.”
“Kalau ada yang bingung atau kesulitan, langsung telepon.”
“Siap!” jawab mereka serempak.
Setelah itu, rombongan pun berpencar menuju toko tujuan masing-masing.
Alya menatap deretan toko yang berjajar di sepanjang pasar.
“Yuk!”
“Semoga semua yang kita butuhkan ada.”
Mereka pun mulai menyusuri keramaian pasar kabupaten, ditemani suara para pedagang yang saling menawarkan dagangannya.