NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Sepasang Mata Yang Menyimpan Sejuta Luka

Sepasang mata yang menyimpan sejuta luka menatap lurus ke arah langit malam yang gelap pekat dari balik jendela kaca lantai dua ruko. Hana mencengkeram kain gorden dengan erat, membiarkan dadanya sesak oleh gemuruh emosi yang timbul setelah kepergian suaminya. Meskipun ia bersikap sangat dingin di hadapan Azzam beberapa saat lalu, kepergian bayangan lelaki itu menyisakan kehampaan yang terasa mengiris iris kalbu. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh perlahan, membasahi pipi yang tampak semakin tirus akibat beban pikiran yang bertumpuk semenjak meninggalkan gerbang pesantren.

"Mengapa kamu masih berdiri di sana sambil menangis, Hana, apakah ada ucapan Azzam yang kembali melukai perasaanmu?" tanya sang ayah yang tiba tiba masuk membawa secangkir minuman hangat.

Hana segera menghapus air matanya dengan ujung lengan baju, mencoba tersenyum tegar di hadapan orang tua tercinta. "Saya hanya merasa lelah setelah menyusun seluruh berkas administrasi toko ini, Ayah, tidak ada hubungan dengan kedatangan beliau."

"Jangan membohongi ayah yang sudah membesarkanmu sejak kecil, Hana, karena sorot matamu memancarkan duka yang teramat sangat," bisik lelaki paruh baya itu dengan nada penuh kelembutan.

Dukungan tulus dari sang ayah justru membuat pertahanan diri Hana runtuh seketika dalam dekapan hangat keluarga kota tersebut. Ia menumpahkan seluruh kepedihan batinnya, menceritakan ketakutan terbesarnya mengenai jalannya sidang perdana yang akan segera digelar di pengadilan agama minggu depan. Hana mengkhawatirkan anggapan buruk masyarakat sekitar mengenai status janda, yang kerap kali disematkan secara sepihak tanpa melihat penderitaan korban yang sebenarnya. Sang ayah mengusap punggung putrinya dengan penuh kesabaran, meyakinkan bahwa kebenaran sejarah tanah wakaf akan menjadi pelindung utama bagi kehormatan keluarga mereka.

Sementara itu, di sebuah kamar penginapan murah dekat stasiun, Azzam sedang duduk bersila di atas selembar sajadah usang yang tergelar kaku. Pikirannya melayang kembali pada tatapan dingin Hana yang seolah menganggap dirinya sebagai orang asing yang membawa wabah penyakit. Sang ustaz muda memandangi jemarinya yang gemetar, meratapi ketidakberdayaan dirinya yang tidak mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga akibat kepatuhan buta pada titah sang ibu. Rasa bersalah itu kian memuncak saat ia teringat wajah pucat Umi Kalsum yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit daerah.

"Ya tuhan, mudahkanlah jalan hamba untuk mengembalikan senyuman tulus di wajah istri hamba," doa Azzam dengan suara serak yang memecah keheningan malam.

Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan, membiarkan isak tangis penyesalan keluar tanpa sanggup dibendung lagi oleh dinding dadanya. "Hamba telah menjadi pemimpin yang zalim bagi wanita yang suci, hukumlah hamba namun jangan biarkan hatinya tertutup rapat untuk sebuah pemaafan."

Keheningan malam stasiun menjadi saksi bisu atas runtuhnya keangkuhan seorang putra mahkota pesantren yang selama ini selalu diagungkan oleh para santri. Azzam menyadari bahwa atribut kesalehan yang melekat pada dirinya tidak memiliki arti apa pun jika ia gagal menerapkan prinsip keadilan di dalam rumah tangga sendiri. Ia bertekad tidak akan kembali ke kampung halaman sebelum menyelesaikan seluruh rangkaian pembuktian cinta sejati di hadapan tim pengacara Hana. Jam dinding tua berdentang sebanyak dua kali, menegaskan bahwa waktu istirahat telah habis dan tantangan hari esok yang kian berat sudah menanti di ambang pintu.

Ketika fajar menyembul di ufuk timur kota, Hana sudah berada di dalam mobil pribadi ayahnya untuk menuju kompleks pengadilan agama. Gaun muslimah berwarna abu tua dipadukan dengan jilbab senada membuat penampilannya tampak sangat anggun sekaligus memancarkan wibawa yang tinggi. Pengacara keluarga duduk di kursi depan, sibuk memeriksa kembali lembaran berkas gugatan khulu yang telah dilengkapi dengan bukti bukti manipulasi surat dari pihak Sarah. Hana menggenggam erat tas jinjingnya, mencoba menenangkan debaran jantung yang kian memburu seiring dengan semakin dekatnya jarak kendaraan ke lokasi tujuan.

"Apakah semua saksi dari pihak pengurus asrama putri yang memihak kita sudah bersedia hadir hari ini, Pak Pengacara?" tanya sang ayah dengan nada menyelidik.

Sang pengacara menoleh ke belakang sambil membetulkan letak kacamata tebalnya. "Dua santri senior yang melihat langsung tindakan intimidasi Sarah sudah berada di lokasi persidangan sejak subuh tadi, Pak."

"Baguslah kalau begitu, mari kita selesaikan masalah ini secara bersih tanpa perlu ada drama yang merugikan nama baik," tegas sang ayah penuh keyakinan.

Keyakinan dari tim pembela hukum membuat Hana merasa tidak lagi berjuang sendirian di tengah badai fitnah sosial yang sempat menggoncang jiwanya. Ia melangkah keluar dari mobil dengan kepala tegak, melewati kerumunan pengunjung sidang yang mulai memadati selasar depan gedung pengadilan yang megah. Dari arah yang berlawanan, sosok Azzam tampak berjalan tenang dengan didampingi oleh seorang penasihat hukum senior yang sengaja diutus oleh salah satu alumni pesantren. Kedua pihak kini saling berhadapan di depan pintu ruang sidang utama, menciptakan ketegangan emosional yang sangat terasa oleh orang orang di sekitar.

Suasana di dalam ruang sidang pertama terasa sangat sakral dengan jajaran kursi kayu jati yang tertata rapi menghadap meja majelis hakim. Azzam duduk di sisi kanan ruangan, terus mengarahkan pandangan matanya ke arah Hana yang duduk di sisi kiri tanpa mau menoleh sedikit pun ke arahnya. Hakim ketua membuka persidangan dengan mengetukkan palu sebanyak tiga kali, menandai dimulainya proses mediasi formal antara sepasang suami istri yang sedang dilanda keretakan tersebut. Tuntutan demi tuntutan dibacakan secara lugas oleh pengacara Hana, menjabarkan rincian tekanan mental yang selama ini diterima kliennya selama menetap di lingkungan surau.

"Bagaimana tanggapan Anda sebagai pihak termohon atas seluruh poin dakwaan yang diajukan oleh pihak penggugat?" tanya hakim ketua seraya menatap lurus ke arah Azzam.

Azzam bangkit berdiri dari kursinya, menarik napas panjang sebelum memberikan pernyataan resmi yang mengejutkan seluruh hadirin sidang. "Saya membenarkan semua rincian kelalaian yang tertulis dalam berkas tersebut, dan saya tidak akan memberikan pembelaan apa pun demi kebaikan istri saya."

"Apakah itu berarti Anda menyetujui gugatan cerai ini tanpa ada usaha untuk melakukan perdamaian kembali?" tanya hakim ketua dengan nada heran.

Pernyataan ikhlas dari Azzam membuat suasana ruang sidang mendadak riuh oleh bisikan beberapa kerabat keluarga yang turut hadir menyaksikan. Hana menoleh dengan sepasang mata yang memancarkan rasa tidak percaya atas sikap pasrah yang ditunjukkan oleh suaminya di hadapan hukum negara. Ia melihat ada ketulusan yang luar biasa di dalam sorot mata Azzam, sebuah pengorbanan ego yang belum pernah ia lihat selama mereka hidup bersama di pondok. Hakim ketua mengetukkan palu kembali, meminta ketenangan sebelum memutuskan untuk menunda persidangan hingga minggu depan guna memberikan waktu berpikir bagi kedua belah pihak.

Setelah keluar dari ruang sidang yang menegangkan tersebut, Hana berjalan cepat menuju area taman samping gedung untuk menghirup udara segar yang bebas. Azzam mengikuti langkah kakinya dari belakang secara perlahan, menjaga jarak aman agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi wanita yang sangat dihormatinya tersebut. Mereka berhenti di dekat kolam ikan kecil yang dikelilingi oleh tanaman hias bunga asoka yang sedang bermekaran dengan indah.

"Hana, saya sengaja tidak membantah karena saya ingin kamu tahu bahwa kemerdekaan jiwamu jauh lebih penting daripada ego saya," ucap Azzam dengan suara parau yang sarat akan ketulusan.

Hana membalikkan tubuhnya, menatap suaminya dengan sepasang mata yang masih menyimpan sisa duka masa lalu. "Kemerdekaan ini seharusnya Anda berikan sejak hari pertama saya menangis di dapur umum pesantren, bukan di saat semuanya sudah hancur lebur seperti ini."

"Saya tahu pemaafan saya tidak akan mengubah keadaan, namun saya akan tetap berjuang melindungi hak tanah keluargamu dari ketamakan Sarah," janji Azzam dengan mata berkaca kaca.

Kata kata janji yang meluncur dari bibir Azzam terdengar sangat puitis namun sekaligus dramatis bagi Hana yang sudah telanjur menutup rapat pintu hatinya. Wanita muda itu tidak memberikan jawaban apa pun, melainkan hanya memandangi riak air kolam yang memantulkan bayangan wajah mereka yang tampak sangat lelah. Ia menyadari bahwa ujian mengaji yang sengaja diatur oleh Umi Kalsum dahulu telah menjelma menjadi sebuah takdir kelam yang memisahkan jalur kehidupan mereka secara total. Hana membalikkan tubuhnya kembali, berjalan meninggalkan Azzam yang terpaku mematung di bawah terik matahari siang yang mulai membakar seluruh halaman gedung pengadilan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!