Kisah seorang cucu yang relah mengorbankan mahkotanya demi menyelamatkan nyawa sang nenek.
Rindu nama gadis itu, dia harus bertemu dengan seorang pria yang sangat kejam dan juga di takuti di kota itu.
Apa yang akan terjadi berikutnya yuk mari ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. CEMBURU BILANG BOSS!!.
"Cantik juga bocah itu," ujar David tanpa sadar hingga membuat Fathur mendongakkan kepalanya.
"Apa kamu bilang, kamu mengataiku bocah dan juga cantik?," bentak Fathur pada David.
"Maaf Tuan maksud Saya bukan Anda tapi Nona Rindu,"
Fathur segera mengalihkan pandanganya kearah pintu masuk dan mendapati Linda dan Rindu sedang melangkah mendekatinya.
"Cantik apanya? kecil begitu!," ujar Fathur dengan mulut sedikit menganga.
"Nona Rindunya sudah datang!, apa kami sudah boleh memulai latihanya?," tanya Linda menghampiri Fathur.
"Kalian boleh melakukanya sekarang. Tapi ingat Linda, lakukan yang terbaik jangan sampai dia melakukan kesalahan sedikit pun saat mendampingiku nantinya,"
"Baik Tuan, Rindu ayo kita kesana!," ajak Linda sedikit menjauhi Fathur dan David.
"Baik Mba," balas Rindu lalu mengikuti langkah Linda.
Setelah duduk disebuah kursi. Rindu mendengarkan arahan dari Linda. Semua yang diucapkan Linda tak sedikitpun terlewat olehnya.
"Rindu coba kamu berdiri dan berjalanlah layaknya seorang sekretaris," perintah Linda pada Rindu.
Rindu segera berdiri dan melangkah bak model yang lagi pentas diatas panggung.
Fathur seketika tertawa melihat aksi Rindu yang melenggak-lenggok bak Foto model.
"Ha..ha ..dia mau jadi sekertaris atau mau jadi belut sawah "
"Mau jadi sekretaris Tuan, kalau jadi belut sawah bukan disini tempatnya," balas David acuh.
"David, sekarang kamu sudah berani menantangku!," kembali untuk sekali lagi Fathur membentaki David.
"Maaf Tuan!, Saya yang salah, tapi Saya tidak berniat seperti itu,"
"Bagus kalau kamu sadar diri,"
Tidak lama kemudian kembali Rindu dan Lina mendekat kearah Fathur.
"Saya sudah memberinya pelajaran dasar-dasar untuk menjadi seorang sekretaris handal. Apa masih ada lagi yang bisa Saya bantu Tuan?,"
"Kurasa cukup, kamu bisa kembali ke tempatmu," balas Fathur.
"Baik Tuan!, Kalau begitu Saya permisi dulu," Linda sedikit menundukkan kepalanya.
"Semangat ya!," Linda menepuk pundak Rindu dan berjalan menuju pintu keluar.
Rindu hanya bisa mengangguk dan memandangi kepergian Linda.
Setelah Linda menghilang di balik pintu. Rindu berbalik menghadap Fathur dan berdiri layaknya seorang sekretaris seperti yang diajarkan Linda barusan.
"Terus apa lagi yang harus Saya kerjakan sekarang Tuan?," tanya Rindu pada Fathur.
"Kamu....," jawab Fathur seketika terpotong karena tiba-tiba David melangkah mendekati Rindu.
"Kamu akan Aku ajarkan cara menggunakan laptop. Karena seorang sekretaris harus pandai menggunakan alat canggih tersebut, Ayo kamu duduk di kursi ini, biar Aku mengajarimu cara mengendalikanya," David mempersilahkan Rindu untuk duduk.
Dahi Fathur mengkerut melihat tingkah David yang sedikit lembut dari biasanya.
David terus mengajar Rindu mulai cara menyalakan laptop sampai cara menggunakan aplikasi yang ada di dalamnya.
Sesekali David menyentuh tangan Rindu yang saat itu memegang mouse, hingga membuat Fathur merasa risih dibuatnya.
"David, kamu pandai sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu sengaja melakukan itu bukan?," kini Fathur berdiri dan mendekati mereka berdua.
Rindu dan David saling memandang dan mengedikkan bahu mereka satu dengan yang lain.
"Apa maksud Tuan, Aku hanya mengajarnya dasar-dasar mengontrol laptop ini dan tidak ada maksud terselubung," David sedikit protes.
"Ah ..jangan mencoba membohongiku, Jomlo sepertimu pasti selalu menghalalkan segala cara. kamu menyingkirlah dari situ biar Aku yang mengajarinya. Lagian Aku lebih hebat darimu bukan?" Fathur sedikit mendorong tubuh David agar dia menyingkir.
Rindu hanya terbengong melihat pertengkaran keduanya.
"Mari Aku yang mengajarimu," tanpa di persilahkan Fathur segera menggenggam tangan Rindu.
"Dia sendiri yang begitu malah menuduh orang lain, cemburu bilang bos!," ujar David dalam hati sembari menggeleng-geleng kepala.
"Kenapa kamu masih disitu cepat keluar atau jangan-jangan kamu tidak terima kalau Aku yang mengajarinya. Kamu cemburu ya?," Fathur tersenyum mengejek pada David.
"Mana mungkin Aku cemburu. Rindu kamu belajar yang rajin. Kalau ada waktu biar Abang yang mengajarimu," David memegang tangan Rindu sebelum dia keluar dari ruangan itu.
"David.....," geram Fathur.
Jangankan menjawab, menoleh pun tidak. David terus melangkah sembari tersenyum. Dia benar-benar puas bisa mengerjai Fathur.
"Apa kamu merasa senang sudah menjadi rebutan dua pria tampan?," tanya Fathur kembali duduk di tempatnya semula.
"Hii...Apaan sih, Saya kemari untuk jadi sekretaris bukan untuk jadi penggoda. Jadi, buang jauh-jauh pikiran Tuan itu.
Tapi kalau di pikir-pikir David itu baik dan romantis. Oh Tuhanku sisahkanlah satu pria sebaik David untuk Hambamu ini," ujar Rindu menegadah.
Kini wajah Fathur mulai memerah entah apa sebabnya, tiba-tiba saja dia merasa geram saat Rindu mengucapkan itu tapi sedapat mungkin dia tahan.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada diriku, Kenapa perasaanku begitu sakit saat perempuan ini memuji David di hadapanku," Fathur yang pura-pura menatap layar laptop kerjanya.
Hampir satu jam mereka disana hingga Rindu berdiri dari tempat duduknya.
"Akhirnya," Rindu merenggangkan otot beserta jari jemarinya.
"Akhirnya apa?,' balas Fathur sedikit mengangkat wajahnya.
"Akhirnya selesai juga tugasku, ternyata Aku tidak bodoh-bodoh amat! Apa boleh Aku beristirahat sekarang, perutku sudah mulai keroncongan,"
Fathur mengambil handphone yang sejak tadi dia letakkan diatas meja lalu kemudian melihat jam digital yang sudah menunjukkan pukul 12. 00.
"Tunggu sebentar," Fathur merapikan meja kerjanya dan mematikan layar laptopnya.
"Ayo ikut denganku, kita makan di kantin perusahaan,"
"Aku makan di sini saja soalnya Aku membawa bekal sendiri," tolak Rindu.
"Kamu jangan coba-coba membantahku lagi, cepat ikut atau mau Aku memecatmu sekarang juga?," ancam Fathur sembari tersenyum mengejek.
"Hiii.. suka sekali memaksa. Tapi aku bawa bekal saja,"
"Terserah....," Fathur melangkah keluar dan Rindu mengikutinya dari arah belakang.
Setibanya di depan kantin, Seorang karyawan perempuan berlari kecil membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Selamat siang Tuan, silahkan masuk," ucap karyawan perempuan itu sembari menunduk.
"Siang ...," jawab Fathur acuh.
Sementara itu Rindu hanya diam dan mengikuti langkah Fathur dari arah belakang. Semua karyawan yang ada disana seketika berdiri setelah melihat kedatangan Fathur.
Fathur terus melangkah menuju kesebuah ruangan berdinding kaca yang di khususkan untuk para petinggi perusahaan F&R.
"Siapa gadis yang datang bersama dengan Tuan Fathur. Seingat Aku, beliau tidak pernah mengajak seorang pun masuk kedalam kanting untuk menemaninya makan," ucap seorang karyawan parubaya pada teman yang duduk di sampingnya.
"Aku juga baru melihatnya. Tapi dengar-dengar dia itu adalah sekretaris baru beliau yang akan menemaninya saat ada urusan diluar,"
"Atau jangan-jangan dia itu ...,"
"Hus ...jangan selalu berpikiran negatif pada orang. Jika sampai beliau atau Tuan David mendengarnya maka tamatlah riwayat kita. Ayo cepat kita selesaikan makanya lalu kita pergi dari sini. Melihat Tuan Fathur ada di sini, Aku merasa malaikat maut sudah mulai menghampiriku,"
Keduanyapun melanjutkan makan siang mereka tanpa ada perkataan lagi yang keluar dari mulut keduanya.
Jangan lupa like, coment, shere dan vote... Terima kasih.
gak cocoklah jadi pemeran utama wanita