Satu rumah dengan orang yang paling kita cintai, memang impian semua orang, tapi bagiku itu seperti neraka.
Bagaimana jadinya jika pernikahan yang seharusnya tumbuh karena cinta dan malah terjadi karena ketidaksengajaan.
Dan di satu rumah kan bersama orang yang kita sayangi namun berakhir tragis.
bagaimana kelanjutan kisahnya, jangan lupa untuk menambahkan ke favorit biar dapat informasi updatenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti Fauziah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danial Terus
"Tunggu, maksudnya? Danial ikut kesini?" tanyaku tiba-tiba sambil menoleh pada ayah.
Aku benar-benar tidak mengerti dan tidak pernah menyangka akan seperti ini, aku kira ayah hanya ada urusan sendiri makanya dia berani membawa aku dan ibu. Jika aku tau dari awal Danial akan ikut, jelas sekali aku tidak akan ikut kesini.
"Iya lah, kan ayah bilang mau ngerjain proyek disini dan Danial pasti ikut karena dia pemilik perusahaannya" kata ayah menjelaskan dan membuatku benar-benar kesal.
"Kenapa gak bilang sih Danial ikut?" kataku kesal.
"Ya kan ayah kira kamu udah tau" kata ayah dengan wajah tidak mengerti juga, mungkin ayah belum tau tentang pertunanganku dengan Danial ditunda.
"Eh udah, gak usah debat disini kan gak enak sama pak Rudi." Ibu mencoba mengalihkan pembicaraan dan mencoba menenangkan aku, mau tidak mau aku harus mengalah dan bertahan beberapa hari disini.
"Mari pak masuk" kata pak Rudi mempersilahkan kami masuk.
Saat masuk pak Rudi menjelaskan ruangan-ruangannya dengan detail seperti pemandu wisata.
"Yang ini ruangan khusus pak Danial jadi siapapun tidak boleh ada yang masuk, disini tersedia 3 kamar dan bapak sama ibu bisa pakai kamar utama disebelah sana, dan mbak bisa pakai kamar disamping pak Danial" kata pak Rudi sambil menunjuk kamarnya.
"Kok disini, kan katanya ada 3 kamar berarti masih ada satu lagi dong, aku mau disana aja gak mau disini" Tawarku pada pak Rudi.
"Maaf mbak gak bisa, soalnya kamar yang satunya lagi sedang tidak bisa dipakai karena penuh dengan peralatan karena biasanya cuma dijadikan gudang" tutur pak Rudi.
"Tadi kenapa bilangnya ada 3 kamar, kalo gitu ya udah bilang aja kamarnya cuma 2" kataku kesal dan langsung membuka pintu kamar yang ada disamping ruangan Danial.
"Maaf ya pak, dia lagi datang bulan makanya jadi uring-uringan begitu. Kami harap bapak tidak tersinggung ya" terdengar ibu bicara pada pak Rudi mungkin mereka malu dengan sikapku barusan.
"Aaaaahhhhhh Kenapa sih aku gak bisa lupain dia, padahal kemarin-kemarin aku gak ada rasa sama dia" Ucapku kesal sambil menatap cermin.
Aku melirik jam dan sudah menunjukan pukul 20.20 dan ini sudah waktunya untuk makan malam, namun rasanya aku enggan keluar karena aku malu pada pak Rudi atas sikapku tadi.
Aku diam dikamar dan membuka kantong belanjaan yang tadi aku beli di minimarket dan itu lumayan cukup banyak untuk mengganjal perutku malam ini.
Malam sudah semakin larut namun aku belum bisa memejamkan mataku, aku berniat untuk mencari udara segar keluar karena diluar masih ramai oleh pengunjung.
Aku berjalan mendekat ke arah halaman belakang villa dan melihat beberapa orang sedang asyik berkumpul dengan pasangannya dan beberapa lagi asyik mengobrol dengan temannya.
"Belum tidur kamu?" tiba-tiba seseorang bertanya dari belakangku dan membuatku sedikit kaget.
"Ehh" kataku dengan menoleh ke samping.
Ternyata itu adalah Danial yang baru datang entah darimana.
"Eh Danial baru dateng?" tanyaku basa-basi.
"Iya soalnya banyak hal yang harus di urus." Dia mendekat kearahku dan sekarang kami saling bersebelahan.
Aku tidak memerhatikan dia aku kembali menatap langit dan fatamorgana gunung yang entah gunung mana karena villa ini kebetulan ada di atas bukit namun masih dekat dengan pusat kota.
"Jika memang sibuk kenapa kamu gak ajak ayah? kan dia kerja buat kamu" kataku tanpa menoleh padanya sedikitpun.
"Gak semua hal harus aku ceritain ke kamu zi." katanya sambil berbalik membelakangiku.
Aku tidak melayani ucapannya karena aku sedang tidak ingin banyak bicara dengannya.
Setelah beberapa saat kami saling diam akhirnya Danial masuk ke dalam.
Aku masih terus menikmati indahnya langit dan nuansa sejuk disini sampai aku tidak sadar semua pengunjung disana sudah hampir pulang, saat aku menyadarinya aku segera bergegas masuk karena mungkin ini sudah terlalu larut.
Aku masuk ke kamar dan mengunci pintunya karena kebiasaanku kalau menginap ditempat lain mau seaman apapun aku akan tetap membuat perlindungan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Tanpa melihat jam aku langsung merebahkan diri dikasur dan kemudian tidak terasa mataku mulai memberat dan akhirnya tertidur.
*
Kicauan burung terdengar sangat ramai membuat mataku sedikit terbuka, mungkin karena disini masih terbilang banyak pepohonan makannya banyak burung yang berkembangbiak disini.
Aku menguap dari ridurku dan segera bangkit untuk bersiap membersihkan diri.
Aku langsung membawa peralatan mandi dan handuk.
Terlebih dahulu aku mencuci pakaian yang aku kenakan dan kemudian mandi.
Setelah matahari mulai memancarkan sinarnya aku menjemur beberapa pakaian yang aku cuci di balkon kamar dan tidak lupa mencapitnya agar tidak beterbangan saat ada angin.
Dari balkon aku kembali kekamar dan melihat tumpukan selimut dikasur yang masih menggulung, aku meraihnya dan bermaksud untuk merapikan.
Namun saat aku angkat selimutnya ternyata oh ternyata di bawahnya ada seseorang yang tidak lain adalah Danial.
"DANIAL!" Teriaku karena kaget melihat kehadirannya di kamar, bahkan masih tertidur.
Dia langsung terperanjat dan bangun mendengar teriakanku, dan langsung berdiri dengan sempoyongan.
"Apa sih?" tanyanya tidak mengerti.
"Kamu ngapain disini? Jangan bilang semalam kita tidur seranjang." Tanyaku padanya.
"Ini villa aku, ini kamar aku dan kenapa kamu harus tanya?" jawabnya dengan sedikit mengucek-ngucek mata.
"Iya aku tau, tapi kan kata pak Rudi aku bisa memakai kamar ini karena kamar yang lain tidak bisa dipakai." Aku membuat alasan.
"Iya kan aku juga gak tau kalo kamar ini di pakai, ya biasa aja dong kan aku juga gak ngapa-ngapain kamu." Ucap Danial.
"Iya sih, tapi tetep aja kan gak baik kalo kita tidur sekamar begini" kataku lagi.
"Iya maaf, kan ini bukan kesengajaan lagian kita berdua gak ada yang tau kalo kita semalam tidur sekamar." Danial berdiri dan langsung pergi ke kamar mandi.
Aku hanya mendengus kesal mendengar penuturan dari Danial, aku juga tidak mau ambil pusing dan akan melupakan kejadian ini toh dia juga tidak sengaja.
Aku berjalan keluar kamar aku berniat memasak untuk sarapan pagi dan ternyata dimeja makan sudah siap semuanya tertata rapi bahkan ibu dan ayah juga sudah hadir disana sedang bersiap menyantap makanan didepan mereka.
"Ehh, kok udah siap tadinya aku mau masak buat sarapan" kataku sambil menarik kursi untuk duduk.
"Iya ini tadi ada beberapa kurir yang nganter kesini katanya ini pesanan Danial, entah kapan dia pesennya." Jelas ibu padaku.
"Ya udah ayo makan" Ajaku sambil mengambil secentong nasi.
Tidak ada jawaban dari mereka dan ibu mulai mengambil nasi untuk ayah.
Tidak berselang lama tiba-tiba Danial datang menyapa kami yang sedang lahap makan.
"Pagi om tante" sapanya lalu duduk di sampingku.
"Loh ibu kira kamu belum dateng, makannya kita makan duluan" Kata ibu yang sedikit kaget melihat kehadiran Danial.
"Kalian tidur sekamar semalam?" Tanya ayah tiba-tiba, aku yang sedang makan langsung tersedak seketika saat mendengarnya.
Uhukk uhukk uhukk
"Zi, minum dulu" Kata Danial dengan menyodorkan gelas didepanku dan membantuku meminumnya.
"Hati-hati kalo makan" kata ibu yang sedikit panik.
"Iya bu, kan aku kaget mendengar ucapan ayah." Alasanku.
"Jadi betul?" tanya ayah mengernyitkan dahinya.
"Betul apanya?" tanyaku pura-pura tidak nyambung.
"Iya, semalam kalian tidur bareng?" tanyanya dengan menatap aku dan Danial bergantian.
"Iya om maaf, semalam aku pulang dan langsung masuk kekamar, aku kira zia gak tidur disitu dan kami sama-sama tidak tau bahkan kami juga taunya beberapa saat lalu." Tutur Danial sambil menundukan sedikit kepalanya tanda dia salah.
"Selagi kalian tidak macam-macam ya ayah bisa pahami, kaliankan belum menikah dan pertunangan ditunda seharusnya kalian bisa membatasi jarak kalian dong." kata ayah menasehati kami dengan sedikit marah.
"Ayah tenang" kata ibu sambil menggenggam tangan ayah berusaha meredam amarahnya.
Aku dan Danial hanya bisa menunduk bersalah karena mau gimana lagi, ya aku juga gak bisa salahin Danial karena dia juga tidak sengaja toh dia juga tidak melakukan apa-apa padaku.
Tanpa berkata apa-apa lagi ayah langsung pergi meninggalkan kami kemudian disusul dengan ibu yang ikut pergi menyusul ayah.
Kini hanya aku dan Danial yang duduk di meja makan, aku memberanikan diri membuka pembicaraan.
"Dan, makan dulu gak usah dipikirin toh juga hanya salah paham dan itu bukan kesengajaan" kataku sambil mengambilkan nasi untuknya.
"Iya zi, makasih" ucapnya dengan senyum manis.
Kami makan dengan sedikit kurang selera tapi harus dipaksakan apalagi Danial banyak kerjaan dan dia harus punya tenaga yang cukup.
Selesai makan aku membereskannya Danial juga ikut membantu.
"Dan udah biar aku aja" ucapku sambil mengambil tumpukan piring ditangannya.
"Gak apa-apa aku bantuin sedikit mumpung masih pagi karena aku berangkat kerjanya agak siangan." Kata Danial kembali merebut tumpukan piring lalu membawanya ke wastafel.
"Ya udah, aku yang cuci" aku langsung mengambil sabun cuci piring dan berniat mencucinya.
Lagi-lagi Danial menghalangiku dan melarangku melakukan apapun.
"Kamu diem aja cukup perhatiin aku aja, biar aku yang kerjain" katanya kembali merebut sabun ditanganku.
Aku hanya mendengus kesal namun dalam hati ya tentunya sedikit senang dong ada yang beritikad baik seperti ini.
"Kamu cuci dulu gelasnya dulu jangan langsung piring" kataku pada Danial dengan telunjuk sedikit diangkat seperti mandor bangunan.
"Iya bu" Jawabnya dengan becanda.
"Enak aja aku belum ibu-ibu tau" aku menyanggah ucapannya.
"Iya maaf becanda" jawabnya lagi dan mulai mencuci semua gelas dan piringnya.
Dia terlihat agak kaku mencucinya, mungkin dia jarang seperti ini dan entah kenapa sekarang dengan sukarela mau membantuku.
Aku berlalu meninggalkan Danial yang sedang mencuci piring, aku berjalan kearah kamar karena tadi belum sempat merapikan tempat tidur.
Dan saat aku masuk ternyata semuanya sudah tertata dengan rapi mungkin Danial membereskannya sebelum dia keluar tadi.
Aku keluar lagi dari kamar dan berencana meminta izin untuk keluar pada ayah dan ibu karena bosan harus diam di villa terus.
Aku berjalan menuju halaman belakang dan ternyata benar mereka sedang duduk berdua disana terlihat seperti anak muda yang sedang pacaran.
"Permisi maaf ganggu pacarannya,,, aku cuma mau izin mau keluar dulu cari angin sambil liat-liat sekitar habisnya bosen diem disini terus" kataku dengan nada becanda.
"Mau kemana zi?" tanya ibu.
"Gak tau sih, paling cuma jalan-jalan aya disekitar sini" kataku menjelaskan.
"Ya udah hati-hati soalnya kamu belum paham daerah sini" kata ibu mengizinkanku.
"Makasih bu" aku berjalan keluar villa dan mendengus kesal.
Kesal karena sikap ayah yang cuek dan bodoamat denganku hanya karena aku dan Danial tidur berdua padahal itu juga bukan disengaja dan dia juga tidak menyentuhku sedikitpun.
Aku mulai berjalan menyusuri jalan aspal dan tidak lupa sambil mengambil video dan gambar lewat ponselku.
Aku memotret beberapa aktivitas warga sekitar ada yang sedang mengobrol dengan warga lain, ada yang sedang beres-beres halaman, ada yang sedang berkebun dan pokoknya nuansanya masih asri dan bikin betah.
Aku melihat-lihat lagi ke arah dekat perkebunan teh dan disana banyak orang yang sedang memetik teh.
Aku menghampiri sekelompok ibu-ibu yang terdiri dari 4 orang sedang memetik teh sambil mengobrol satu sama lainnya.
"Permisi bu maaf ganggu waktunya, boleh minta waktunya sebentar? Saya mau minta difoto dulu bareng sama ibu-ibu semuanya, boleh?" aku menyapa mereka dan segera menyampaikan tujuanku.
"Iya boleh" jawab salah seorang diantara mereka.
Kami semua mengabadikan momen itu dengan menyimpan ponsel di atas pohon teh lalu kami berpose suka ria.
Setelah selesai aku berlanjut berkeliling lagi dan karena hari sudah semakin siang, maka aku memutuskan untuk menyudahinya dan pulang ke villa karena takut ayah dan ibu khawatir.
Sesampainya dirumah ternyata ayah dan ibu sudah bersiap akan pergi entah kemana.
"Kalian mau kemana?" Tanyaku saat melihat mereka.
"Kita mau pergi menemui client, dan kebetulan dia akan membawa istrinya makanya ayah ajak ibu" jawab ayah.
"Oh gitu, ya udah hati-hati dijalan" kataku dengan sedikit kesal.
Mereka masuk ke mobil dan pergi meninggalkan aku sendirian disini.
Sekarang hanya tersisa aku di villa ini rasanya tidak betah karena nuansa villa nya sedikit horor apalagi ini jarang sekali ditempati.
Aku berjalan kearah dapur untuk mengambil air minum dan saat disana aku mendengar suara ketukan dari arah tangga.
Aku sedikit takut, tapi aku memberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi takutnya ada seseorang yang berniat jahat di villa ini.
Aku melangkahkan kakiku menaiki tangga satu persatu, dan saat sampai di atas suara ketukan sudah menghilang dan aku melihat beberapa noda darah di beberapa anak tangga entah darah milik siapa.
Dari tangga aku melihat pak Rudi sedang mengunci sebuah ruangan dan terdapat beberapa noda darah di lengan bajunya aku heran melihat tingkahnya yang mulai aneh.
Entah panik atau apa, dia mengunci pintu dengan beberapa kali namun tetap tidak terkunci dan keringatnya terus bercucuran membuatku semakin bingung.
Pak rudi sesekali menengok ke samping dan itu menampakan wajahnya sedikit, bahkan terlihat beberapa noda darah di pipinya.
"Apa mungkin pak Rudi melakukan kejahatan?" kataku dalam hati.
"Tapi kenapa dia menyembunyikannya disini?"
"Apa mungkin dia membunuh seseorang?"
Aku mulai ketakutan pikiranku tidak bisa berpikir dengan jernih apalagi banyak darah dimana-mana.
Jiwa detektifku mulai keluar dan aku mulai melangkah mundur untuk bersembunyi di tempat aman.
semangat terus up nya,, ceritanya bagus 😍💪
-cinta jangan datang terlambat
-ternyata itu cinta