Kisah seorang Gadis Yang berasal dari Gunung Sitoli, Yang bernama Tina yang merantau ke Ibukota.
Kesulitan hidup membuatnya terpaksa mengikuti
jejak Abangnya mencari rezki di Jakarta hanya bermodalkan Ijazah Alakadarnya.
Kehidupnya berubah drastis sejak ia bertemu dengan Arkham Nicol, seorang Kontraktor dari daerah Sumatra. Pria yang sedang patah hati itu tak peduli Agama, suku, dan budaya, gadis atau janda untuk dinikahi, yang penting bisa mengobati luka hatinya.
Ia menjadi Muallaf dan hidup bahagia selama sepuluh tahun dengan Suami, melahirkan Empat anak lelaki untuknya.
Tak pernah disangka oleh Tina, perbantahan dengan orang tua dimasa muda berumah tangga menciptakan luka kecil dihati lembut suami Coolnya.
Hingga belakangan suaminya jarang tidur, banyak merenung. Mengigau saat terlelap sebentar saja. Sering berandai - andai.
Hati Tina berantakan, saat mendapati suaminya ternyata telah menikah diam- diam dengan kerabatnya, seorang janda bernama Nahda.
Ia stres, dan ingin menghancurkan dunia kalau ia bisa.
Dapatkah Tina menerima? Sanggupkah ia berbagi Cinta dengan perempuan yang ternyata sangat disayangi suaminya itu. Apa saja kegilaan
yang Tina lakukan. Bagaimana madu Yang lebih dewasa itu menghadapi kegilaannya.
Baca kelanjutan kisah ini, hanya di Manggatoon.
dalam karya berbagi Cinta.
Novel On Going ini rencananya bakal Autor ikutkan lomba Iven Manggatoon berbagi cinta.
Kasih dukungan yang banyak ya say...Ini kisah bakal Up satu Episode sehari.
like, fote, faforitkan dan kasih bintang. Ini kisah yang dekat banget dengan Autor.🙏🙏🥰💓💓💓
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebun Diperbatasan.
Matahari pagi baru muncul diufuk timur,
Tina, baru saja selesai memasak sarapan pagi. Karna semalam pukul Tiga dinihari ia sudah terbangun. Ia tak melanjutkan tidur lagi.
Tina mengerjakan tugas dapur dan disumur. Ia mulai dengan memutar Mesin cuci, lalu memasak air didapur.
Baru diteruskan dengan memasak sarapan pagi.
Ia ingin membina baik- baik kembali rumah tangganya. Mungkin beberapa hari ini, suaminya akan ia biarkan dulu berkabung karna keputusan ipar kesayangannya itu. Tapi itu tidak akan lama. Ia tahu suaminya berhati lembut, tidak akan tahan lama baginya mencuekkan Tina.
" Beres! " Serunya ketika sarapan sudah terhidang diMeja makan.
Nicole sudah bangun dan sholat subuh, kamudian bermenung diruang tamu, ketika ia mengantar teh untuknya, pria itu tidak menegurnya. Tina membiarkan saja dulu begitu, ia fokus melanjutkan pekerjaannya
Juga ketika anak- anak duduk riang diruang makan, sebelum berangkat sekolah, Ayah mereka masih diam diruang tamu.
" Yan...panggil Ayahmu sarapan! " pinta Tina pada sisulung.
Yan segera berjalan kedepan untuk memanggil ayahnya. Ia menggeleng kembali keruang makan.
" Ayah katanya sarapan diluar, ia barusan berangkat kerja." Ucap Yan dengan nada rendah.
Tina tidak puas dengan jawaban putranya, iapun memeriksanya lagi.
" Bahkan minuman yang kubuat tadi tidak
disentuhnya, apakah ia bermaksud sarapan kerumah wanita itu? " tanya hati Tina.
Ketika Tina memikirkan itu. Telfonnya berbunyi. Tina segera menyambungkan panggilan.
" Wanita itu sudah pergi, ia nampaknya benar- benar pindah! " Jelas informan tak bergaji dari sebrang telfon.
" Aku sudah tahu dari suamiku Rina! Mulai sekarang tak usah menelfonku lagi! " ketus Tina ditelfon. Kemudian memutus sambungan.
" Ih...dikasih info penting malah Sewot! " Gerutu Rina sang informan.
Sementara, Nahda sudah dalam perjalanan.
" Kemana kita bunda? kenapa kita tidak memberi tahu ayah sebelum main pergi- pergi begini ... " terdengar rengek an seorang anak lelaki ketika sang bunda dengan santainya menyetir Toyota Rush black nya membelah Jalan.
" Kita sengaja pergi dari Ayah Lif, bagaimana bunda akan memberi tahu ayah. " Timpal sang kakak.
" Bunda sudah memberi tahu ayah! " Ucap Nahda santai.
" Hore!!! berarti nanti ayah akan menyusul!!! " Seru Alif riang sedang kakaknya cemberut.
" Kenapa kakak tak senang ayah bakal nyusul? " tanya Alif heran.
" Bukannya tidak senang akan disusul, tapi ayah takkan menyusul kita lagi." Ucap sang kakak dengan bibir dikedutkan.
" Kenapa begitu? " tanya Alif cemberut.
" Karna bunda hanya bilang akan pergi, tidak bilang mau kemana. " Jelas Ulfa sembari tersenyum kecut.
" Bunda ngak asyik! padahal ayah sudah kami anggap ayah kandung sendiri, malah sekarang bunda mau pisahin dengan Alif. Alif memelas dengan bibir mengerucut, sedang Nahda hanya bisa diam, belum tahu mau membuat alasan apa.
Nahda menyetir mobilnya dengan hati- hati. Walau fikirannya sedang kusut, ia tidak ingin keluarganya sampai mengalami kesulitan, selalu begitu ia kalau berkendara, walau dengan mobil atau motor, ia memikirkan keselamatan yang dibawanya. Baginya penting untuk berhati- hati, kalau soal takdir, itu urusan Allah, yang penting usahanya maksimal, keputusan tetap ditangan yang Maha Kuasa.
Demikian juga dengan cinta, sebenarnya Nahda orang yang tidak mudah ditaklukkan. Tapi nasipnya selalu begitu, ia selalu dapat yang diluar jangkauan.
Suami pertama orangnya kejam, ditambah lagi main perempuan. Ia kalah dari wanita itu, hingga ditinggal ketika mengandung.
Kali ini lebih berbahaya, ia tergelincir ditapian mandi sendiri. Ipar kesayangannya menawarkan cinta separoh untuknya, ketika ia menolaknya, hatinya berubah lain, hingga akhirnya ia menjadi miliknya, dengan berbagi dengan wanita pemilik pertama itu.
Waktu itu kata S Nicole semua akan baik- baik saja, tapi nyatanya hancur begini.
Nahda tak ingin terlihat sedih dihadapan kedua buah hatinya, walau sebenarnya sekarang hatinya sebenarnya sedang berkecamuk. Nahda berfikir lagi untuk memberi alasan pada putranya agar putranya tidak terlalu mayun begitu.
" Alif mau disuntik vaksin? Tanyanya pada bocah lelakinya.
" Tidak Bunda ! Alif ngak mau disuntik! Lebih baik minum sirup satu botol ketimbang disuntik! Alif ngak mau pokoknya!!!
" Tentu iya lebih baik minum syirup, sirupkan enak! Coba kalau dipilih minum jamu paling pahit ketimbang suntik, pilih mana coba? Tantang Ulfa, kakaknya.
" Lebih baik minum jamu pahit satu teko ketimbang suntik Vaksin. Pokoknya Alif tak mau Suntik!" Ujar Alif mantap, karna memang Alif ngak suka disuntik, ayah kandungnya juga begitu, sangat takut disuntik.
Nahda tersenyum. Ia menatap sekilas putranya, sembari tetap fokus mengemudi." Itulah sebabnya bunda bawa pindah, biar kalian ngak ikut divaksin, masalah sekolah nanti diatur, pokoknya kita pindah dulu ketempat aman dari Vaksin, kita akan pindah kesebidang kebun diperbatasan.
Disana sudah dibangun rumah mungil nan cantik, cukup untuk kita hidup bertiga. Kita akan menanam sayur dan semangka, dilahan setengah hektar lagi yang belum ditanam sawit. " Jelas Nahda.
" Makanya jangan takut Suntik! Kan jadi dibawa bunda kayak cerita Assabul Kahfi. " Ulfa menjitak kening adiknya.
" Apa itu cerita Alsabul Kahfi kak ? " tanya Alif penasaran.
" Cerita tentang Tujuh orang pemuda dan seekor Kongkong, yang bersembunyi diGua untuk melarikan diri dari kekejaman raja Decyanus yang memerintah saat itu, mereka bersembunyi untuk menyelamatkan Imannya.
Atas kuasa Allah SWT, mereka tertidur selama 309 tahun, hingga saat mereka terbangun, pemerintah sudah berganti, dan situasi sudah Aman.
" Dimana kakak dapat cerita itu? " tanya Alif lagi.
Dari guru Agama kakak! Dan cerita itu diceritakan dalam Al Qur'an Surat Al- Kahfi Ayat 9 Sampai 26. " Terang sang kakak.
" Kakak keren!!! Ternyata sudah banyak ilmu Agamanya juga nih sijago nonton, kirain yang tahu kakak cuma kisah Wowo, habis tiap hari nonton Wowo terus! " Ucap Alif sembari mengacungkan
ibu jarinya.
Tuk....Jidat sang adik kembali jadi sasaran Ulfa.
" Udah capek bercerita, masih diejek, Ejekannya berbungkus pujian pula. Dasar bocah Luchnut kamu Lif...
He...He....Kan Wowo lagi! " teriak Alif.
Nahda tersenyum, ternyata anak- anaknya tak begitu sulit dihibur, mereka dengan mudah membuat hiburan mereka sendiri.
Matahari sudah bersembunyi diufuk barat, ketika mobil mereka tiba dilokasi kebun sawit punya Nahda. Tidak luas memang, hanya sekitar 5 Ha yang sudah panen raya. Sedang satu hektar masih sawit muda, disana penjaga kebun menanam jagung. Sisanya setengah Ha Lagi masih kosong, Nahda sengaja tidak meminta pekerjanya menanami lahan itu, karna sewaktu- waktu entah ada yang mau berladang disana.
" Selamat datang kak Nahda! " Ucap penjaga kebun menyambut mereka, juga anak dan istrinya menyusul memberi salam.
" Terima kasih Muji, dan dek suhti, sudah menjaga dan merawat kebun ini dengan baik!. " Ucap Nahda begitu netranya melihat kalau tanaman sawitnya tampak bersih dan terawat.
" Ini juga hidup kami kak! kakak sudah membantu kami hidup dengan mengelola
kebun ini.." Timpal Suhti sembari tersenyum.
" Oh ya kak...silahkan istirahat kerumah. saya sudah menyambungkan listriknya.
" Terima kasih Muji! Baiklah Ayo kita masuk karna hari sudah senja! " Ajak Nahda.
" Besok aja kami berkunjung kak, sekarang kami balik kerumah dulu.
" Baiklah kalau begitu, terserah kalian! kami masuk dulu ya! Ujar Nahda sembari memanggil anak- anak yang lagi asyik bercerita dengan teman barunya, putri sulung Muji, gadis kecil seumuran Alif.
" Oke Bunda!!! " ucap mereka serentak mendapat kode panggilan tangan bunda.
Nahda tersenyum usai menunaikan Magrib.
" Untung bunda terfikir beli sebidang kebun diperbatasan ini, jadi kita bisa menenangkan diri disini. " Gumamnya sembari memeluk kepala kedua bocahnya.
" Kayak Assadul Kahfi ya bunda! " kata Alif.
" Anggaplah begitu! Karna kau takut suntik! He...He...anak lelaki cengeng!
" Cerca Ulfa pada adiknya.
Detik berikutnya mereka sudah berlari - lari saling gelitik. Dunia anak- anak memang indah, hati merekapun mudah
tergugah.
Mereka berhenti, ketika sang bunda mulai berkutat didapur. Seperti biasa kedua anak itu tak mau ketinggalan.
Membantu bunda menyiapkan hidangan makan malam sederhana.
Bersambung...
baik mundur hidup mandiri ,syukur bisa bertahan