Jangan lupa, tinggalkan jejakmu 🥰
Rachelle Young, seorang Agent antisosial & kasar. Pamannya mendadak memberinya tugas, menjadi seorang pelatih bela diri di sebuah desa kecil. Menggantikan sang paman, Rachelle mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Berada di antah berantah, tak membuat Rachelle meninggalkan pekerjaan aslinya. Di desa tersebut, Rachelle menemukan banyak kasus aneh dan mulai menyelesaikannya. Dibantu dengan seorang polisi bernama Luke, Rachelle memulai misi kecilnya.
Satu pesanku saat kau berada di desa itu. Jangan percaya pada siapapun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atseira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27: Drama Perebutan Orphen
“Kapten, kau sedang bersama dengan...?” tanya Philip tak percaya. “Ya. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Karena itu, aku sedang meninggalkan desa. Luke memberi tahuku, Ray kabur dari rumah. Dia muridku, yang tempo hari meminta izin untuk mundur dari kompetisi bela diri. Aku yakin, paman turut andil dalam masalah ini” jelas Rachelle. “Baik, aku akan segera menelusurinya. Tapi, Kapt...” jawab Philip terhenti.
Rachelle menunggunya untuk melanjutkan bicara. “Jangan lupakan aku, kalau kau kembali ke Orhion. Aku masih bagian dari mereka” pinta Philip. “Aku tahu. Ini situasi darurat. Deloffre pasti tidak akan mengizinkanku untuk melakukan ini. Ditambah lagi, kau sudah terdaftar dalam bironya. Pasti, dia akan mengawasimu lewat sistem. Kali ini, terlalu berbahaya untukmu dan Steve. Jadi, tolong bantu aku dalam hal lain dulu” ujar Rachelle berusaha menenangkan Philip.
Xavier tampak tersenyum. Memang harusnya, orang yang menempati posisi hacker di Orhion adalah Philip. Akan tetapi, Philip waktu itu masih terlalu muda untuk terus bersama Orhion.
Rachelle ingin, dia menuntut ilmu dan bekerja di tempat yang lebih baik. Philip dulunya, merupakan seorang anak konglomerat. Dia yang lebih dulu tinggal dengan Dominic, ketimbang Rachelle.
Philip sengaja dititipkan oleh orang tuanya, karena ayah Philip teman dekat Dominic. Keluarga Philip dibunuh oleh seorang pemburu bayaran dari pesaing bisnis. Namun tak lama, pembunuh tersebut tewas di tangan Dominic.
“Dasar, anak bayi! Aku hanya meminjam perangkatmu sebentar. Gitu saja pakai acara merengek segala” dengus Xavier. Sebelum Philip berdebat dengan Xavier lebih jauh, Rachelle buru-buru memutus sambungan telepon. Dia kembali fokus pada Ken.
“Ken disisihkan. Mereka cukup kuat. Untungnya, semua telah disiapkan dengan baik” lapor Victor. “Dal Slater?” tanya Rachelle. “Tewas. Dia tertembak di bagian vital. Kru kembali ke markas” jawab Victor. “Penyerangan selesai. Beri Ken anesthtize. Sampai jumpa di markas” tanggap Rachelle.
Saat mobil yang ditumpangi Rachelle melaju, terdengar suara Victor memberi respon. Mereka semua telah melakukan tugas besar. Termasuk dengan, senjata yang dikeluarkan. Namun, semua sukses dalam sekali tembakan. Persis seperti yang telah diharapkan.
Markas Kru Orhion__
Pukul Dua Dini Hari_
Ken terbangun, usai tadi sempat merasa dirinya tertusuk jarum. Dia berada di sebuah ruangan besar, tak ada benda apapun yang menghiasi ruang itu. Tubuhnya diikat kencang, di atas sebuah kursi besi. Rupanya, dia tak sadarkan diri karena sebuah obat bius. Dan hal itu memang sengaja dilakukan, guna menjadikannya sebagai sandera.
Ken memperhatikan ruangan di sekelilingnya. Dia tak melihat apapun, selain sebuah ruangan kosong yang menggema. Ketika sadar dirinya masuk dalam jebakan, Ken buru-buru meraba ke arah lehernya.
Namun sayang, Ken tak menemukan apa-apa. Jimat yang selama ini membuatnya terus bertahan dan menjadi kuat, menghilang. Jimat itu, Orphen. Sebuah liontin berlogo Orphen yang dijadikannya sebagai kalung, sudah tak lagi berada di lehernya.
Masih belum dapat menerima liontinnya yang menghilang, Ken kembali mendapatkan masalah yang bertubi-tubi. Tiba-tiba saja seseorang bertubuh besar yang tak dikenalnya, masuk sembari melemparkan tubuh seorang wanita. Wanita tersebut tergeletak tepat di hadapannya.
Tanpa mengatakan apapun, pria bertubuh besar tadi, tampak menghilang dari balik pintu. Ken merasa tak asing, dengan wanita yang ada di hadapannya tersebut. Semakin Ken menatapnya, semakin Ken mengenalnya.
Sedetik kemudian, Ken akhirnya baru saja menyadari. Wanita itu adalah Rachelle. Sebisa mungkin, Ken menjatuhkan diri dari kursi tempatnya duduk. Dia mendekat ke arah Rachelle yang terlihat kacau.
Dengan tangan masih terikat, Ken berusaha membantu Rachelle duduk. Ken mengelus kening Rachelle yang terlihat berdarah. Dia masih bisa menyentuh wajah Rachelle, dengan memaksakan tangannya.
“Kenapa kamu... bisa jadi seperti ini? Mereka yang melakukannya padamu?” tanya Ken dengan lembut. “Aku baru saja turun dari bis. Dan mereka tiba-tiba menyeretku. Dua hari setelah aku disandera oleh rekan kerjamu, paman menyuruhku pulang. Saat kembali, aku malah jadi seperti ini lagi” jawab Rachelle sambil berusaha untuk menahan rasa sakitnya, agar mulutnya dapat berbicara.
Ken menarik tubuh Rachelle dengan kedua tangannya yang terikat. Rachelle terjatuh ke dalam pelukan Ken. Dia melemah dan terasa tak berdaya.
“Aku tahu mereka mengikutiku. Saat itu, aku juga tidak bisa meminta tolong pada orang lain. Mereka bilang, kalau aku tidak menurut... Kau akan dalam bahaya” ucap Rachelle pelan. “Harusnya aku menitipkanmu pada Luke lebih dulu, saat kejadian tadi menerpaku. Maaf, aku melibatkanmu dalam bahaya lagi. Kamu pasti ketakutan. Maafkan aku...” sesal Ken. Rachelle menggeleng. “Aku baik-baik saja. Asalkan bersamamu seperti ini, semuanya akan membaik” tanggap Rachelle dihiasi dengan ekspresi tulus di wajahnya.
Ken meleleh saat mendengarnya. Dia tersenyum senang. “Kamu tidak takut?” tanyanya kemudian. “Bukankah, kau akan melindungiku?” balas Rachelle mencoba menegaskan. “Tentu saja. Di manapun, kapan pun dan bagaimana pun itu. Aku akan selalu berada di sisimu” ucap Ken bersungguh-sungguh.
Namun tiba-tiba, kebahagiaan sejenak mereka direnggut begitu saja. Belum sempat bicara banyak, Rachelle mendadak di tarik menjauh oleh sebuah mesin yang muncul, dari atas langit-langit ruangan. Ken baru saja menyadari, dia dan Rachelle dikurung dalam ruangan berteknologi AI.
Rachelle merasakan sesak dilehernya. Tentu, karena mesin tersebut telah mencekik lehernya. Mesin tersebut hanya berbentuk kedua tangan dengan jari lengkap, yang muncul dari atas. Ken berteriak syok dan mencoba untuk menolong Rachelle dengan cara apapun.
Ken berusaha melepaskan diri, dari ikatan tali yang menguat di alat geraknya. Ken melemparkan kursi besi tadi, ke arah salah satu tangan mesin, agar dapat melonggarkan sedikit leher Rachelle. Memang berhasil, namun Ken malah mendapatkan masalah lain.
Kini, justru Ken-lah yang tertangkap oleh tangan mesin yang ada di sisi lain. Dia terangkat ke atas hingga kepalanya terbentur langit-langit ruangan. Ken juga sempat dihempaskan ke lantai, selama beberapa kali.
“Jika kau ingin wanita itu selamat, ada satu hal yang harus kau lakukan” perintah sebuah suara, dari balik ruangan. Suara tersebut mengalir di sebuah pengeras suara, yang terletak di sudut atas ruangan. “Kau tidak bisa mencari kelemahanku yang lain? Kau selalu saja melibatkan wanita. Terlalu kuno! Siapa kau sebenarnya? Kau orang yang telah menghancurkan markas dan keluargaku. Apa maumu?” tanggap Ken kesal.
Rachelle menatap ke arah sebuah jendela kecil, tepat di samping pengeras suara. Tak ada yang mengetahui keberadaan jendela tersebut. Jendela yang berkamuflase, dengan warna dinding ruangan. Sebuah jendela khusus yang digunakan sebagai pengawasan untuk para sandera. Rachelle kembali mengingat rencananya, sebelum tergantung di atas langit-langit.
~~
“Ken tipe orang yang tertutup. Dia licik dan lebih baik dari ayahnya. Aku tidak yakin, dia bisa melepaskan Orphen begitu saja. Gunanya dia diselamatkan dari ledakan itu, akan menjadi sia-sia” ucap Victor dengan pemikirannya. “Kau benar. Dia lebih licik dari yang kita lihat. Menggunakan Rachelle pun, tidak akan bisa semudah itu” tanggap Carver. Victor dan anggota kru lainnya tampak mengangguk setuju.
Rachelle mencoba untuk memberikan sebuah masukan. Kali ini, dia tidak main-main tentang idenya. “Aku punya satu yang akan sangat berguna. Tapi semuanya, harus dilakukan dalam sekali take. Aku harus menghidupkan gebrakan dalam hatinya, lebih dulu. Kemudian, masuklah kalian” jelas Rachelle masih agak samar.
“Maksudmu, kau tetap akan terlibat di dalam sana?” tanya Victor kurang setuju. “Aku akan menggunakan diriku secara maksimal” jawab Rachelle meyakinkan. "Yah, aku tahu. Cinta kadang membuat buta, tapi penjahat tetaplah seorang penjahat. Dia mungkin akan mengorbankanmu, sesekali” kata Carver juga tak sepakat.
“Karena itu, aku akan melakukannya sekali jalan” ujar Rachelle mendesak. “Kami hanya tidak ingin, kau mendekati bahaya” tolak Victor. “Aku mengenalnya, dari prespektif yang berbeda” telak Rachelle. Carver juga tampak tak sependapat dengan Rachelle.
Xavier menghela nafas. Dia mendadak turun dari tempatnya bekerja. “Alih-alih memarahinya, kenapa kita tidak mendengarkannya lebih dulu? Ken yang di sana, memang berbeda dengan ayahnya. Dia lebih licik dan jahat. Kuakui. Tapi Rachelle... bukankah dia juga berbeda dengan bos Dom? Ada sebuah alasan, mengapa Rachelle berulangkali berusaha untuk mengambil langkah mendekatinya. Dan karena itu, kita sebagai orang yang tak tahu apa-apa... tolong hanya mendengar” ucap Xavier. Dia terlihat gusar, ketika semua orang terkesan membatasi gerak Rachelle. Xavier sejak awal tak pernah ragu dalam bertindak, itu karena Rachelle berada di dekatnya.
Anggota kru tampak terdiam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. “Aku akan mendekatinya. Hidupkan sistem dalam ruangan” pinta Rachelle. “Kau yakin soal hal ini?” tanya Carver menekan. Rachelle mengangguk. “Masih ada tombol bantuan, bukan?” tanggapnya. Victor terdengar menghela nafas.
Rachelle bersiap untuk melakukan rencananya. Dia lebih dulu meminta Xavier, untuk membuatnya terlihat kacau dan terluka. “Hidupkan sistem. Buat aku makin tersiksa. Aku akan memberimu kode tertentu. Jangan gegabah dan fokus. Aku percaya padamu” pesan Rachelle sebelum masuk ke dalam ruangan yang ditempati Ken.
“Dimengerti!” teriak Xavier kencang. “Baiklah, kau tidak mau memberiku perintah lain?” tanya Carver. “Tolong, lemparkan aku ke dalam ruangan itu” pinta Rachelle dengan senyum cerah. Carver menatap ke arah Victor. Pria itu, masih terlihat cemas.
“Dia yakin seratus persen” kata Carver, meyakinkan Victor. Rachelle mengangguk penuh tekad ke arah Victor. Akhirnya, pria tersebut mengizinkannya. Rachelle masuk ke dalam ruangan dengan keyakinan penuh.
~~
“Apa maumu?!” teriak Ken makin emosi. Dia marah, ketika Rachelle kembali tercekik. Ken berusaha untuk menyerang di daerah lengan mesin itu muncul. Lagi-lagi Ken melempar dengan serpihan kursi yang tadi bertebaran, usai ditelak oleh si tangan mesin.
“Jangan menyerangnya! Kau akan dicelakai olehnya lagi!” pekik Rachelle dengan tenaga seadanya. “Aku akan menyelamatkanmu!” teriak Ken keras kepala. “Sangat dramatis. Kau bilang ini kuno? Tapi kenapa, aku sangat menikmatinya?” ujar seseorang dari pengeras suara itu lagi.
“Kau mengingkanku, bukan? Lepaskan dia dulu!” teriak Ken dengan nada meninggi. “Melepaskannya? Lepaskan dulu Orphen” jawab suara tersebut meminta. “Orphen? Kau lakukan ini, karena gelar itu? Bukankah, kau sudah mengambilnya? Apa lagi?!” kata Ken menantang.
Suara tersebut terdengar tertawa. “Kau tahu, siapa yang telah mengambil Orphen darimu?” tanyanya kemudian. “Kau pasti akan mengatakan kalau itu, perbuatan paman Dal. Karenanya, kau membunuh dia dulu. Agar kau bisa membuatku, memfitnahnya" tebak Ken.
Suara itu, kembali tertawa. Kali ini, terdengar lebih keras.
“Teng! Kau salah. Orang yang mengorbankan nyawa Dal Slater hanya untuk mengambil Orphen adalah... wanita yang ada di langit-langit ini!” jawabnya dengan suara sorakan. Ken menatap ke arah Rachelle dengan tatapan tak percaya.
“Kamu melakukannya?” tanya Ken mulai terperdaya. “Kau mencurigaiku? Kau tidak percaya padaku?” balas Rachelle balik bertanya. Ken mendadak diam. “Kukira, kau benar-benar mencintaiku...” ucap Rachelle kecewa. Rupanya, Ken tidak seperti yang diharapkannya.