Kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya tidak membuat Kirania terpuruk dia terus melanjutkan hidupnya seperti sebelumnya.
Hingga saat dia tahu kalau dia hamil dan di usir oleh keluarga angkatnya membuatnya hampir mengakhiri hidupnya. Tapi saat dia mencoba bunuh diri ada seseorang yang menghentikannya dan membuat dia kembali menjalani hidupnya dengan penuh semangat.
Hingga beberapa tahun kemudian dia membuat kesalahan pada atasan di tempat kerjanya dan untuk menebus kesalahannya itu dia dipaksa untuk menikah dengan atasannya itu! bagaimana kelanjutan hidupnya setelah menikah dengan atasannya tersebut apakah bahagia atau menderita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @tiiam97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Azri
...🍀Happy Reading🍀...
Kirania sudah selesai mengerjakan semua pekerjaannya dia menunggu Kean pulang agar dia juga bisa pulang, ponsel Kirania berbunyi ada panggilan masuk Kirania pun mengangkat teleponnya.
"Ya halo Dit," Kata Kirania ternyata yang menelponnya adalah Radit.
"Ran kamu dimana? aku sudah di depan kantor tempat kamu kerja nih," Kata Radit melalui sambungan teleponnya.
"Aku masih nungguin bos aku keluar dari ruangannya Dit, kamu pulang duluan saja deh jangan nungguin aku takutnya masih lama," Kata Kirania kepada Radit.
"Aku akan tunggu di sini sampai kamu selesai saja, aku ingin ngajak kamu makan malam aku juga sudah pesankan makanan untuk Kania di rumah," Kata Radit.
"Kenapa harus pesankan makanan untuk Kania juga Dit dan kalau aku masih lama gimana Dit," Kata Kirania tidak enak.
"Aku akan menunggumu di sini sampai kamu pulang, kamu tenang saja sekarang aku sudah santai jadi bisa nunggu sampai kamu pulang," Kata Radit kukuh.
"Hemmm baiklah kalau kamu bosan nungguin aku pulang kamu pulang duluan saja ya," Kata Kirania pasrah.
"Oke Ran," Kata Radit setelah itu sambungan telepon antara Kirania dan Radit pun terputus.
Kirania memeriksa kembali pekerjaannya sambil berkali-kali melihat kearah pintu ruangan Kean yang masih tertutup rapat itu, Kirania tiba-tiba saja teringat kejadian tadi siang saat dia berpikir Kean akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.
"Dasar pikiran yang konyol," Gumam Kirania menggelengkan kepalanya.
Tak berapa lama kemudian Nikko keluar dari ruangannya, itu berarti Kean juga akan segera keluar dari ruangannya.
Dan benar saja Kean keluar dari ruangannya dia berjalan dengan langkah tegapnya dan masuk ke lift Kirania dan Nikko mengikutinya dari belakang Kirania melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya baru pukul lima sore.
"Tumben sekarang pulangnya masih awal," Gumam Kirania dalam hati.
Kirania berdiri tepat di sisi kanan Kean sehingga dia bisa melihat punggung tegap dan datar Kean dari belakang.
"Jangan terus di pandangi Kiran, nanti dia ke ge-eran lagi," Kata Kirania dalam hati lalu menundukkan kembali kepalanya.
Saat lift berhenti di lantai dasar mereka keluar dari lift dengan beriringan Kirania melihat Marry dan Gia yang masih ada di meja resepsionis, dia menyapa mereka dengan tersenyum dan di balas senyuman oleh Marry dan Gia.
"Mar aku salut sama Kiran, dia bisa bertahan bekerja dan berdekatan dengan tuan Kean yang nyeremin kayak gitu," Kata Gia saat jarak Kean sudah jauh.
"Iya Kirania tahan banting juga berhadapan dengan tuan Kean padahal 'kan sekertaris yang sebelumnya bilang pekerjaan yang harus di kerjakan tidak sedikit di tambah lagi tuan Kean yang arogan dan galak," Jawab Marry.
"Iya padahal tuan Kean itu sangat tampan tapi karena sikapnya yang seperti itu membuat orang enggan untuk mendekat kearahnya," Kata Gia di iyakan oleh Marry.
Sementara Kirania yang sudah sampai di luar kantor dia berpamitan terlebih dahulu kepada Kean yang sedang menunggu Nikko membukakan pintu mobil untuknya.
"Tuan Kean maaf saya permisi duluan ya," Pamit Kirania sambil membungkukkan badannya.
"Hmmmm," Jawab Kean singkat dan masuk ke mobilnya.
Kirania berjalan menjauh dari mobil Kean dia menuju ke mobil Radit yang sedang menunggunya dengan jarak yang tidak jauh dari mobil Kean.
Kean melihat Kirania naik ke mobil yang mengantarkannya tadi pagi dengan tatapan datarnya.
"Apa mereka mempunyai hubungan?" Tanya Kean kepada Nikko yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Saya kurang tau tuan tapi sepertinya pria itu mempunyai perasaan kepada Kirania," Kata Nikko apa adanya.
Kean tidak bicara lagi dia menyandarkan punggungnya dia kursi mobil dan memejamkan matanya, Nikko mulai menjalankan mobilnya menjauh dari kantor Kean.
"Maaf lama ya nunggunya," Kata Kirania saat dia masuk ke mobil Radit.
"Tidak terlalu lama, jadi itu bos kamu?" Tanya Radit.
"Iya itu bos aku yang selalu aku ceritakan padamu," Kata Kirania.
"Dia bule ternyata," Kata Radit sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Iya dia keturunan Eropa mendiang ayahnya berasal dari Rusia," Kata Kirania.
"Hmmm pantesan saja," Kata Radit setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara mereka hingga mobil Radit sampai di salah satu Restoran berbintang.
"Kita makan di sini Dit, apa tidak terlalu mahal?" Kata Kirania.
"Ck ayolah Ran, aku tidak akan bangkrut meski setiap hari ngajak kamu makan di Restoran seperti ini," Kata Radit.
"Iya aku tau tapi 'kan sayang uangnya Dit kalau hanya makan saja harus di tempat mewah seperti ini," Kata Kirania.
"Sudahlah ayo aku 'kan hanya sekali-kali ini ngajak kamu makan di tempat seperti ini, lagian aku ngajak makan di tempat seperti ini untuk merayakan keuntungan yang di dapatkan dari beberapa cabang Restoran Ku," Kata Radit.
"Jadi cepat turun atau kamu mau aku gendong," Kata Radit menaik turunkan alisnya.
"Gak perlu ayo turun, jangan salahkan aku kalau nanti aku akan makan yang banyak dan menghabiskan uangmu itu," Kata Kirania turun dari mobilnya.
"Lakukan saja kalau kamu bisa," Kata Radit menyusul Kirania.
Mereka berjalan beriringan sambil sesekali bercanda saat masuk ke Restoran itu Kirania terpana dengan suasana di dalam Restoran yang begitu mewah dan elegan.
"Gimana suka sama suasana Restorannya?" Tanya Radit kepada Kirania saat mereka duduk di salah satu meja yang ada di Restoran itu.
"Suka, Restoran ini benar-benar mewah dan elegan," Kata Kirania.
"Bagus lah kalau kamu suka," Kata Radit sambil terus menatap Kirania yang sedang mengagumi setiap sudut Restoran itu.
"Apa aku memang tidak akan punya kesempatan untuk menjadi pasanganmu Ran?" Kata Radit dalam hatinya dia ikut tersenyum saat Kirania tersenyum.
"Hai Ran," Suara seorang pria membuat Kirania dan Radit mengalihkan perhatiannya kepada asal suara itu.
"Hai Kak Azri, di sini juga?" Kata Kirania tersenyum kepada Azri.
"Iya, bagaimana kabar kamu dan si cantik Kania?" Tanya Azri sambil duduk meski belum di persilahkan oleh Radit atau Kirania.
"Kami berdua baik Kak, oh iya Kak kenalkan ini Radit teman aku dan Radit kenalkan ini Kak Azri orang yang menolongku saat aku hampir bunuh diri tujuh tahun lalu," Kirania memperkenalkan Radit dan Azri.
"Azri," Kata Azri mengulurkan tangannya kepada Radit.
"Aku belum lupa sama kamu," Ketus Radit sambil menepis tangan Azri sedangkan Azri hanya terkekeh.
"Kalian saling kenal?" Tanya Kirania heran saat melihat Azri dan Radit seperti orang yang sudah saling mengenal.
"Tentu kita saling kenal, kenal banget malahan," Kata Azri tersenyum kepada Kirania sedangkan Radit memutar matanya.
"Oh ya, apa kalian berteman?" Tanya Kirania antusias.
"Lebih dari teman, Kami adalah saudara sepupuku," Perkataan Azri membuat Kirania melongo.
"Benarkah, kalian sepupu?" Tanya Kirania kepada Radit.
"Iya," Jawab Radit malas.
"Waaahhh aku tidak menyangka ternyata selama ini aku selalu di tolong oleh dua orang yang bersaudara ternyata," Kata Kirania senang.
"Aku juga tidak menyangka ternyata wanita yang selalu aku tolong adalah wanita yang sama yang di tolong oleh sepupuku, kalau boleh tau memang Radit menolong mu apa saja?" Tanya Azri.
"Banyak, Radit selalu ada di saat aku membutuhkan bantuan dia juga yang selama ini selalu berada di dekat ku," Kata Kirania menatap Radit dan tersenyum.
Senyuman Kirania menular kepada Radit dan Azri mereka juga ikut tersenyum saat Kirania tersenyum dengan tulus.
"Benar kah aku tidak menyangka sepupuku yang playboy ini mau menolong orang kecuali kalau dia memang ada maunya," Ledek Azri.
"Aku menolong Kiran selalu tulus tanpa pamrih," Kata Radit ketus dia kesal kepada Azri yang mengganggu kebersamaannya dengan Kirania.
"Mungkin ini takdirku yang harus di tolong oleh kedua saudara seperti kalian tanpa kita tau sebelumnya," Kata Kirania.
"Iya takdir lah yang membuat semua itu terjadi," Kata Azri.
Azri dan Radit adalah saudara sepupu Papa Azri adalah kakak dari mamanya Radit, Lagi-lagi permainan takdir yang terjadi antara mereka dimana Radit dan Azri sebagai saudara sama-sama menolong Kirania di saat Kirania sedang dalam kesulitan dan kira-kira takdir apa lagi yang akan terjadi dalam kehidupan Kirania setelah ini.
.
.
.
.
.
.
.
...☘Bersambung☘...