Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Paman dan Khabar Baru
Dhanil sudah tak sabar menunggu pagi, baru pukul setengah enam Dhanil sudah siap siap ingin berangkat mencari rumah pamannya. Begitu sedikit terang Dhanil langsung tancap gas, pikiran Dhanil hanya satu, secepatnya sampai ke kampung tempat tinggal pamannya. Jalan berliku dan sedikit berlumpur terus dilalui Dhanil dengan tanpa merasa punya beban, dan akhirnya setelah melalui banyak rintangan yang memakan waktu kurang lebih 4 jam Dhanil sampai juga ke kampung yang ia tuju. Tempat bertanya yang lumayan tepat menurut Dhanil adalah kedai, dan ternyata tak begitu susah, hanya sekali bertanya Dhanil sudah bisa melihat pintu rumah pamannya, Dhanil langsung bergegas kesana.
“Assalamu Alaikum.. “. Dhanil ucapkan salam sambil ketuk pintu.
“Waalaikum salam.. “. Terdengar jawaban dari dalam suara seorang wanita yang membuat dada Dhanil sedikit bergetar.
Pintu terbuka, didepan Dhanil kini berdiri seorang gadis yang lumayan manis, ia membalas senyum lebar Dhanil dengan cukup lebar juga, tapi gadis ini agak heran, mungkin karena ia tak mengenal sosok pria yang berdiri dihadapannya.
“Ini rumah Paman Fahmi kan ?”.
Gadis itu menganggukkan kepala.“Benar Bang “.
“Boleh masuk ?”.
Gadis ini tampak salah tingkah dan akhirnya mempersilahkan Dhanil masuk, gadis itu sekaligus menjelaskan kalau ayahnya sedang sakit, ia terbaring di ruang tengah. Dhanil langsung menuju ruang tengah, baru selangkah masuk pintu ruang tengah Dhanil berhadapan dengan pria yang lumayan kurus yang dapat ia pastikan itulah yang sebut pamannya. Justru Fahmi yang berdiri lebih melongo, rasa terkejut menerpa dadanya hingga berdebar keras, sosok yang berdiri didepannya membongkar ingatannya pada almarhum abang kandungnya yang hanya satu, Sally. Fahmi bahkan nyaris tak bisa bergerak, ia betul betul merasa seperti disetrum, yang didepannya sangat persis dengan abangnya waktu muda, bagai pinang dibelah dua.
“Saya Dhanil Paman”.
Tanpa menjawab Fahmi membentangkan tangannya. Dhanil langsung menubruk pamannya dan memeluknya erat. Mata Dhanil langsung pedas, tapi ia tidak sendirian, Dhanil jelas mendengar pamannya terisak. Cukup lama mereka berpelukan, Fahmi merenggangkan pelukannya, mengusap usap wajah Dhanil dan kembali memeluknya, air mata Fahmi makin deras mengalir.
“Aku melihat abang dalam dirimu Nak.., kamu memang anakku”.
“Iya Paman,.. Iya Paman”. Dhanil akhirnya ikut terisak isak.
Istri Fahmi Nuria yang baru datang dari dapur juga tercengang, bahkan ia menutup mulutnya dengan tangan. sejurus kemudian Nuria mendekat, Nuria meraba pelan wajah Dhanil, air mata Nuria langsung mengalir, Dhanil seperti paham dan langsung memeluk bibinya, tangis wanita paruh baya ini langsung meledak, ia betul betul terkejut dengan apa yang dilihatnya, tanpa dijelaskan Nuria langsung tahu siapa yang didepannya.
"Bang Sally ku kembali, Bang Sally kembali .... ". Begitu suara Nuria terdengar lirih diantara tangisnya.
Tiga putri Fahmi, Sinta, Lusi dan Irna saling pandang, Sinta yang tadi membukakan pintu bahkan ikut larut seperti ibunya yang memang sejak pertama melihat Dhanil sudah punya air bening disudut matanya, Sinta ikut larut karena matanya ikut berkaca walau ia sesungguhnya belum tahu pasti apa yang terjadi. Tapi panggilan Dhanil tadi pada ayahnya dan ungkapan ungkapan ayahnya, mendengar perkataan ibunya, Sinta tahu kalau pria yang terus dipeluk ayahnya itu adalah abang sepupunya.
Nuria akhirnya melepas pelukannya dan kembali menghusap husap wajah Dhanil yang memang sangat kuat membongkar ingatannya pada almarhum abang iparnya Sally.
“Ini abang kalian, abang kandung kalian”. Terang Fahmi kepada ketiga putrinya yang menyambut salam Dhanil dengan penuh senyum.
Nuria seperti belum bisa melepas tangannya dari wajah Dhanil, yang teringat dibenak Nuria adalah abang iparnya Sally yang baik hati, perlakukan Sally padanya dulu semasa hidup yang kadang tidak menempatkannya sebagai ipar, sudah persis seperti adik, Sally sangat peduli padanya, sangat sayang dan memperhatikannya, bahkan Nuria sering iseng minta uang jajan pada Sally, dan setiap Nuria meminta tak pernah Nuria tak mendapat, pasti Sally memberikannya. Nuri juga terbayang dengan kebiasan mereka bersama dengan almarhumah ibu Dhanil yang selalu bertemu setiap minggu, bercengkrama dan bergurau. Tapi itu semua tak pernah lagi pernah terjadi setelah Sally meninggal, kegembiraan dan rasa kekeluargaan yang hebat itu kini hanya tingggal kenangan semata.
Dhanil merasa bagai hidup kembali, ada semangat baru yang menopang hatinya setelah mendapati keluarga lengkap pamannya. Intinya, Dhanil ternyata punya ayah, punya ibu, dan punya tiga adik perempuan yang lumayan manis manis. Anak anak Fahmi juga langsung merasa dekat dengan Fahmi, apalagi ditambah selama ini mereka memang tidak punya saudara laki laki, sehingga munculnya Dhanil membawa angin segar yang amat sejuk. Sinta, Lusi dan Irna kini merasa lengkap bahagianya, ternyata mereka juga punya abang yang tampan sekali.
Makan siang yang sangat ceria. Tak lagi ada tangis diantara mereka, walau masih dipenuhi air mata, tapi kini lebih banyak tawa yang bersahutan, cerita demi cerita yang disampaikan silih berganti oleh Fahmi, Nuria maupun Dhanil membuat suasana meja makan penuh dengan tawa, Sinta, Lusi dan Irna hanya sebagai pendengar saja, tapi tawa mereka lumayan lepas dan terus mencuri pandang ke arah Dhanil.
“Khabar Kakak kamu Yuni gimana Dan ?”.
Dhanil bahkan hingga letakkan sendoknya. “Kakak ?”.
Gantian Pamannya Fahmi yang bengong. “Iya, Yuni Kakak kamu, gimana khabarnya ?”.
Dhanil tampak bingung. Ini kejutan kedua yang didapatinya dua hari ini, kemarin Dhanil mendengar kalau ia ternyata punya paman, dan kini ia mendengar lagi kalau ternyata ia juga punya kakak. Ada rasa gembira, tapi ada banyak rasa sedih yang menghalangi Dhanil untuk gembira, bahkan untuk sekedar bicara, hingga Dhanil jadi terdiam seribu bahasa.
“Kenapa Dan ?”.
Dhanil menggeleng. “Dhanil baru tahu soal itu Paman”.
“Maksud kamu”. Pamannya Fahmi jadi bingung.
“Dhanil baru tahu dari Paman kalau Dhanil punya kakak”.
Polos memang jawaban Dhanil, tapi itu bagai sambaran petir disiang bolong bagi Fahmi. Ia terus geleng geleng kepala, tak pernah terbayang oleh Fahmi cerita keponakannya sampai serumit ini. Tapi Fahmi akhirnya sadar, dulu Yuni memang sejak kelahiran Dhanil tinggal bersama kakak ibu Dhanil yang juga sudah meninggal beberapa tahun lalu. Itu terpaksa dilakukan karena saat melahirkan Dhanil ibu Dhanil mengalami pendarahan hebat dan jatuh sakit lumayan lama. Namun begitu Fahmi tetap merasa terluka, masa sepanjang hidupnya, kakak iparnya tak pernah cerita pada Dhanil soal kakaknya, menurut Fahmi itu keterlaluan.
“Kakakmu namanya Sri Wahyuni”.
Dhanil menatap Bibinya. “Iya Bi”.
“Kakakmu tinggal di Padang Sidimpuan, persisnya Bibi tidak tahu, tapi suaminya bermarga Hasibuan, dia dosen di Universitas yang ada di Jalan sutomo itu, Bibi lupa nama Universitasnya”.
Penjelasan Bibinya cukup lengkap bagi Dhanil. Dhanil langsung merasa terpukul, tapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk menahan linangan air matanya yang memaksa keluar. Dada Dhanil menjadi gegap gempita, Dhanil ternyata punya Kakak juga. Walau dalam hati Dhanil berpikir kenapa Kakaknya tak pernah berusaha mencarinya ke Sibolga, bahkan kenapa kakaknya tak juga muncul pada saat ibu mereka meninggal, kenapa ia membiarkan Dhanil hidup dan dibesarkan oleh orang lain. Pertanyaan pertanyaan itu saling kejar dikepala Dhanil hingga membuat kepalanya pusing. Dhanil berusaha mengurut keningnya mencoba mengurangi rasa sakit. Namun begitu, yang ada di hati Dhanil tetap pada muara yang utuh, ia akan berangkat ke Padang Sidimpuan mencari tahu keberadaan Kakaknya.
"Ibumu tak pernah cerita soal Yuni ?".
Dhanil geleng kepala. "Tidak paman, mungkin karena waktu itu saya masih terlalu kecil".
"Kecil bagaimana ?".
"Ibu meninggal waktu Dhanil masih kelas 5 SD Paman".
Fahmi dan Nuria benar benar terkejut dan sama sama geleng kepala, sejak kepergian Ibu Dhanil meninggalkan kampung mereka, Fahmi dan Nuria kehilangan kontak dengan Ibu Dhanil, mereka juga tidak tahu soal anak yang masih dalam kandungannya, beda dengan Yuni, sejak SMP Yuni sering berkunjung ke rumah pamannya.
"Tapi seingat Paman, almarhumah bibimu yang merawat kakakmu pernah cerita soal kamu Dhan, maka kakakmu Yuni punya informasi tentang kamu, seingat paman dia juga pernah ke Sibolga nyari kamu".
Dada Dhanil agak bergetar. "Tapi kami tidak pernah bertemu Paman".
..... BERSAMBUNG .....
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya