NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:147k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang

Dua anak manusia berbeda gender masih terbuai dalam indahnya balutan mimpi diatas pembaringan yang sama, matahari memang belum nampak diluar sana. Udara juga masih terasa dingin bagi orang yang beraktifitas diluar rumah.

Bima yang berada dibawah naungan selimut pun masih bisa merasakan kedinginan itu, laki-laki itu menggeliat, namun matanya tetap terpejam, mencari kehangatan yang mungkin bisa diberikan oleh bantal guling miliknya.

"Aaakhh." Suara teriakan Nindi bersamaan saat Bima menyentuh bantal guling. Sontak saja Bima terperanjat dari tidurnya, dia kaget bukan kepalang, pagi-pagi buta seperti ini sudah dikejutkan dengan suara teriakan, teriakan seorang perempuan lagi. Perempuan mana yang lancang masuk kedalam kamarnya tanpa permisi.

Samar-samar, dia melihat Sheerin palsu tengah memegangi bahu dengan tangannya yang lain, Bima mencoba menajamkan penglihatannya, ternyata benar, perempuan itu sedang terduduk diatas kasur yang sama dengannya, wajahnya seperti sedang menahan kesakitan.

Oh, Bima sudah melupakan fakta penting kalau sekarang dirinya adalah seorang laki-laki beristri.

"She, kamu kenapa?" Tanya Bima masih linglung, dia belum bisa mencerna dengan baik apa yang terjadi. Sheerin palsu bergeming, dia sibuk meredam rasa sakit yang timbul di bahunya.

Bima menyibak lengan baju tidur yang dikenakan Nindi, kini giliran Nindi yang terperangah, si kak Bima ini nggak sadar apa kalau tadi tangannya menyentuh bahu Nindi yang masih sakit dengan cukup keras? Nindi yang masih tidur pun tadi langsung terbangun karena terkaget-kaget kenapa bahunya terasa nyeri sekali.

"Ini kenapa She?" Tanya Bima, wajah datarnya bercampur panik saat melihat ada goresan yang belum kering sempurna di bahu Sheerin.

Nindi lupa, semalam dia berniat untuk mengganti perban lukanya, tapi dia tidak menemukan adanya kotak P3K dirumah itu, jadi Nindi hanya membiarkan lukanya terbuka begitu saja.

"Nggak kenapa-napa kok kak." Ucap Nindi, dia mencoba menghindarkan bahunya dari sorot mata Bima.

"Kita periksa ke dokter hari ini!" Ucapnya lirih.

"Nggak usah kak, nanti juga sembuh sendiri." Terlalu lebay baginya jika harus pergi ke dokter untuk luka kecil seperti itu, itu sama saja melukai harga dirinya sebagai jagoan. Hah, dia menganggap dirinya jagoan.

"Nanti bisa infeksi."

"Beneran nggak apa-apa kak, percaya sama aku." Nindi meyakinkan Bima jika dirinya baik-baik saja. Bima nampak mulai percaya dan tidak lagi memaksa Nindi.

"Katakan! Bagaimana bisa kamu mendapat luka itu?" Tanya Bima, tatapannya sangat mengintimidasi.

Kesan pertama Nindi saat melihat Bima, dia orangnya cuek dan mungkin tidak perduli dengan urusan orang lain. Tapi kenapa setelah Nindi sedikit mengenal Bima, dia menemukan fakta baru kalau si kak Bima ini ternyata juga kepo-an orangnya.

Ya begitulah Nindi, kalau tak kenal maka tak sayang. Bima memang terlihat kaku dan cuek pada orang asing, irit bicara pula, tapi percayalah kalau sudah mengenal dia dengan baik, kamu akan mendapatkan hal-hal yang mencengangkan yang tak pernah kamu duga sebelumnya dari sosok dingin dan kaku itu.

"Ini kena pagar waktu itu kak." Entahlah Nindi, apa alasanmu itu terdengar masuk akal atau tidak ditelinga Bima, Bima menaikkan sebelah alisnya. Kemudian melirik yang menempel di dinding, pukul 5 pagi.

"Ya sudah aku akan mandi." Bima beranjak dari kasur, berjalan menuju kamar mandi, tidak ingin mendesak Sheerin untuk bicara lagi, mungkin dia butuh waktu untuk meredam rasa sakitnya.

Nindi menatap punggung Bima sampai tubuhnya ditelan pintu kamar mandi, menghela nafas kasar. Untung saja kak Bima tidak bertanya lebih jauh lagi. Kemudian dia tersenyum mengingat wajah datar Bima yang terkontaminasi oleh kepanikan, ekspresi wajah yang aneh, tapi terlihat sangat lucu dan imut, hihi.

'Oh kak Bima, kenapa kamu seperti itu sih? Sikap kamu yang begini bikin aku nggak bisa move on. Orang yang menyebabkan luka ini ada aja nggak sepeduli itu, bahkan dia melempar bola kearah luka ini, dia jahat banget kan kak Bima, hiks.' Ingin sekali Nindi curhat seperti itu pada kak Bima nya, tapi apalah daya, dia takut kalau Bima tidak menggubris perkataannya.

Ehh, tapi kenapa Nindi bisa tidur disini ya? Seingatnya, semalam dia sedang menunggu kak Bima pulang dari masjid sambil menonton televisi, setelah itu dia tidak mengingat apa-apa lagi.

Apa semalam kak Bima yang memindahkannya kesini? Iya kah? Sebaiknya Nindi bertanya langsung pada kak Bima, Nindi akan merasa puas jika kak Bima mengaku dirinyalah yang sudah membopong Nindi sampai ketempat tidur. Kalau kak Bima tidak mau mengaku, maka Nindi akan terus mendesaknya untuk mengaku. Demi menuntut sebuah pengakuan, dengan piciknya Nindi berpikir seperti itu.

***

Sheerin melihat segerombolan murid berkumpul didepan mading, dia jadi ikutan kepo, ada pengumuman apa sampai murid-murid terlihat sangat antusias seperti itu? Perlahan namun pasti Sheerin mendekat.

Sheerin tidak bisa membaca apa isi pengumuman itu, jangankan membaca, melihat kertas pengumumannya saja dia tidak bisa, karena banyaknya murid yang menghalangi.

Sheerin mencoba untuk bertanya pada salah satu murid yang ada disana, tapi sepertinya dia salah memilih orang untuk dimintai tanya.

"Itu pengumuman apa sih?" Tanya Sheerin, dia tidak sadar jika yang dia tanya itu adalah Levin.

"Tanya saja pada rumput yang bergoyang. Maka dia akan menjawab, kepo banget sih loe! Hahaha." Dengan menyebalkan nya Levin menjawab seperti itu. Lalu diiringi tawa beberapa murid lain.

Wajah Sheerin bersemu merah, apalagi sebagian murid mengalihkan perhatiannya kepada mereka saat Levin bicara dengan intonasi yang cukup keras. Sebenarnya mereka sedang mentertawakan Sheerin atau Levin sih? Kenapa jadi Sheerin yang merasa malu.

Sheerin mencoba untuk tetap tenang, dan tidak menggubris perkataan Levin, dia beralih bertanya kepada murid perempuan yang sedang ikut berkerumun disana.

"Pengumuman apa sih?" Tanya Sheerin.

"Ini, acara perpisahan akan dipercepat jadi seminggu setelah ujian nasional berakhir, dan loe tau Nin, waktu menginap dipuncak akan ditambah jadi 3 hari." Ucap Zoya bersemangat, matanya berbinar-binar saat berbicara, menyatakan jika dia sangat berbahagia.

Sheerin jadi ikut tersenyum, sedikit tertular dengan kebahagiaan yang dirasakan Zoya. Jadi ingat betapa menyenangkannya acara perpisahan SMA-nya dulu.

"Ngapain juga loe kasih tau dia? Diakan nggak ikut acara perpisahan ini!" Tiba-tiba saja Levin menimbrung percakapan antara Sheerin dengan Zoya.

Deg!

Senyum Sheerin seketika memudar, perkataan Levin seolah mematahkan kesenangan yang dirasakan oleh Sheerin. Benarkah Nindi tidak akan ikut acara perpisahan itu? Kenapa? Padahal moment perpisahan SMA adalah moment paling berkesan, yang paling ditunggu-tunggu, yang mungkin tidak akan pernah dilupakan seumur hidup seseorang, yang kelak akan menjadi kisah menarik untuk diceritakan.

Ahh, kenapa Sheerin jadi kecewa Nindi tidak ikut acara itu? Padahal kan saat acara perpisahan itu nanti tiba, Sheerin harus sudah kembali bertukar peran dan melanjutkan hidupnya. Dia bertahan hanya untuk memenuhi janjinya, yaitu membuat Nindi lulus dengan nilai yang memuaskan. Terdengar licik memang, tapi dia juga tidak ingin melihat Nindi kembali tinggal kelas, sedangkan umurnya semakin menua. Bagaimanapun juga Nindi sudah berjasa dalam hidupnya, dia mau bertukar peran dengan Sheerin dan berusaha untuk menggagalkan perjodohannya.

Tanpa Sheerin ketahui kalau sebenarnya Nindi sudah mengacaukan segala rencananya.

"Ahh, iya gue lupa kalau gue nggak ikut, padahal kayanya bakal seru banget ya acaranya." Sheerin bicara dengan sendu.

Levin menyadari perubahan raut wajah Nindi palsu itu, dia tau sekarang Nindi merambah menjadi perempuan yang baperan, timbul niatan untuk membuatnya kembali kebentuk semula. Rindu juga, rasanya sudah lama tidak mendengar Nindi marah-marah.

"Hey, gue tau loe itu bokek, jadi jangan ngarep deh loe bisa ikut perpisahan ini." Ucap Levin dengan sombongnya.

Sumpah, baru kali ini Sheerin bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan seperti si Levin ini, jika disini ada, maka Sheerin ingin menyumpal mulutnya itu dengan kain lap pel.

Sepertinya disini kesabaran Sheerin benar-benar diuji, Tuhan ingin tau sejauh mana Sheerin mampu bersabar menghadapi ujian berwujud manusia tengil itu. Baiklah, Sheerin tidak akan terpengaruh dengan apapun yang dikatakan Levin baik kemarin, sekarang ataupun nanti.

"Tapi ya kalau loe pengen banget ikut acara perpisahan ini, gue sanggup kok buat bayarin. Gue jamin dari mulai berangkat sampai balik lagi perut loe selalu terisi penuh." Hah, gila apa? Apa maksudnya coba? Dan kenapa Sheerin mulai tertarik dengan penawaran si Levin ini? Baru saja dia meyakinkan diri untuk tidak terpengaruh dengan kata-kata Levin, tapi kenapa sekarang Sheerin mulai tertarik, dia seperti menjilat ludahnya sendiri.

"Seriusan?" Sheerin berkata dengan tidak percaya, takut kalau si Levin ini hanya akan mempermainkan dirinya saja.

"Ya, gue akan bayarin semua tagihan loe, tapi dengan beberapa syarat." Ucap Levin. Tuh kan, ada udang dibalik batu, Sheerin sudah menduga akan hal itu, pemikirannya yang dangkal mampu untuk dia baca dari bahasa tubuhnya.

"Syarat apa?" Tanya Sheerin lagi, dia berpikir akan menjadi kejutan untuk Nindi kalau sampai dia bisa ikut acara perpisahan ini, harapan terbesarnya adalah, siapa tau saja setelah acara itu mereka akan berdamai dan mengakhiri masa SMA-nya dengan penuh suka cita.

Apa Sheerin perlu bersikap manis kepada Levin agar nantinya mereka benar-benar baikan? Dengan memenuhi syarat darinya, mungkin bisa membuka tali perdamaian diantara keduanya.

Jadi rencana kamu sebenarnya yang mana Sheerin? Ingin menghindari Levin untuk menjauhkan dirimu dari masalah atau mendekati Levin agar sikapnya berubah jadi baik kepada Nindi? Ahh, entahlah, Sheerinpun jadi pusing sendiri. Sheerin mengakui kalau dirinya plin-plan.

"Syaratnya cukup mudah, selama dipuncak, loe harus jadi asisten gue, loe harus bawain semua barang bawaan gue, loe harus siapin semua kepeluan gue, harus on time kalau gue panggil, harus siapin makan gue, yang terpenting adalah loe harus layanin gue dengan baik, apapun perintah dari gue loe harus nurut, deal?" Levin kemudian mengulurkan tangannya untuk meminta persetujuan.

'What? Itu sih babu namanya. Gue juga sanggup kali bayar uang buat acara perpisahan ini. Gue yakin Nindi pasti akan ngamuk kalau dia denger apa yang barusan dia bilang.' Sheerin membatin, mengabaikan tangan Levin yang masih dengan setia terulur. Biarkan saja, pegal-pegal deh itu tangan.

"Sory deh, gue nggak tertarik. Makasih atas tawarannya." Sheerin bicara dengan senyum yang dipaksakan, seolah menolak secara halus.

Lagi-lagi usaha Levin gagal, dia belum juga bisa membuat Nindi palsu marah-marah.

"Oke, gini aja deh, gue kasih diskon, loe nggak perlu bawain barang bawaan gue, loe cuma perlu nurut apa yang gue perintahkan nantinya." Levin mencoba untuk bernegosiasi, berharap Nindi mau menerima tawarannya.

"Loe itu maksa banget sih, mendingan gue tidur dirumah daripada harus jadi budak loe." Ucap Sheerin sambil tersenyum mengejek kearah Levin.

Sheerin cepat-cepat pergi dari depan mading, tidak ingin pikirannya jadi tercemar oleh hasutan dari Levin.

"Mau kemana loe? Woy! Dasar kebo loe, yang ada dipikiran loe cuma tidur aja." Merasa sudah kalah telak karena ditinggal pergi sebelum urusannya selesai, akhirnya Levin memaki Nindi palsu sambil teriak-teriak.

"Udahlah Lev, doyan banget sih loe gangguin si Nindi." Zoya menegur Levin yang terlihat seperti orang tidak waras memaki orang yang sudah pergi.

"Iya, gue saranin loe cepet-cepet deh ngakuin perasaan loe yang sebenernya ke dia, mumpung masih ada waktu, sebelum nanti kalian lulus dan nggak akan ketemu lagi." Feri ikut menimbrung.

Deg!

Lagi-laki kata-kata TIDAK AKAN BERTEMU LAGI terucap, Levin jadi down ketika mendengar kalimat pendek yang terasa menyesakkan dada itu. Kenapa rasanya Levin tidak rela jika harus berpisah dengan cewe urakan itu?

"Ahh, kalian ini ngomong apa sih? Ngaco tau nggak. Lagian ya, gue bakalan seneng banget kalau gue nggak akan pernah ketemu lagi sama si cewe urakan itu, gue akan ngadain syukuran kalau itu sampai terjadi." Levin menyangkal, lagi-lagi hati dan mulutnya saling bertentangan.

 

________________

 

Hai readers semua, author mau mengajak kalian untuk mendukung karya author amatiran ini, author nggak neko-neko kok, cukup berikan jempol kalian, komentar kritik juga sarannya aja.

Tetap budayakan meninggalkan jejak setelah membaca yaa....

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!