Saat kamu datang, hatiku masih penuh bertahta nama Carissa. Gadis cantik impian setiap pria, punya karir mandiri dan pintar.
Awalnya aku melihatmu sebagai gadis yang urakan, pecicilan, cerewet dan sangat menyebalkan dan bukan kriteria ku.
Namun..kisah kita membawaku pada jiwa yang lain. Kamu adalah wanita yang berbeda dari apa yang aku lihat. Kamu hanya bersembunyi pada kesakitan dan keluguan diri.
Kamu dan Carissa sungguh sangat berbeda. Perlahan nama Carissa menghilang dan berganti dengan namamu. Teriring doa terucap namamu. Dalam detak nadiku, ada dirimu
Love by Lettu Arben and Nadira Anjani.
Bersama dalam cinta Abrian dan Ariela ( Lilan )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Tenang.
"Bersabarlah hidup bersama Abang. Hidup ini nggak semudah membalik telapak tanganmu dek! Semoga sampai disini saja ujian kita. Abang ingin rumah tangga kita aman damai. Hidup tenang sama kamu dan anak kita nanti" harap Arben sambil mengeratkan dekapannya di pinggang Dira.
"Oohh iya, kita nggak jadi check. Besok saja ya sekalian jenguk papa lagi" kata Arben mengalihkan rasa sedihnya.
Dira mengangguk mendengar ajakan Arben yang masih memperhatikan dirinya.
"Abang nggak temani mama? Kasihan mama bang!" kata Dira.
"Iya dek, tapi Abang juga cemas kamu disini"
"Disini aman bang, ada ajudan.. ada bibi, Gatha, Imung"
"Nanti, kalau kamu sudah tidur baru Abang kesana gantian dengan bibi. Kalau kamu belum tidur, pikiran Abang terpecah karena mikir kamu" ucap Arben yang sudah sedikit terbuka pada Dira.
"Kita pindah ke kamar atas!!" Arben bangkit dan berdiri mengulurkan tangannya pada Dira. Ajakan Arben itu masih mendapat tatapan heran dari Dira. Melihat istrinya belum bergerak dari tempatnya Arben pun mengangkat Dira.
"Aaww.. Abang!!" Dira berpegangan kencang pada suaminya karena yg takut jatuh.
"Jangan ikut mikir. Biar Abang aja! Abang hanya minta kamu jaga diri, istirahat. Abang melarang kamu melakukan semua hal berat. Apalagi kalau sampai Abang tau rangselmu itu sudah terisi full" ucap tegas Arben sambil menaiki anak tangga ke arah atas.
"Iya bang! Dira ngerti" jawab Dira.
#
Tangan Arben berhenti mengusap perut Dira. Istrinya itu sudah tidur pulas. Di intipnya wajah tenang Dira yang semakin lama membuat Arben semakin membuatnya merasa nyaman.
"Abang pergi dulu ya! Besok subuh Abang pulang!" pamitnya lembut pada Dira, tak lupa Arben mencium perut datar Dira meskipun ia belum yakin ada malaikat kecilnya disana.
"Andai Abang tau menikahimu bisa membuat Abang jadi seperti ini. Abang menyesal kenapa tidak bertemu dengan mu sejak dulu!"
Arben bangkit dan mengganti pakaiannya. Setelah siap, Arben membungkuk dan mencium sekilas bibir Dira. "Selamat tidur mama sayang" lalu Arben segera berangkat ke rumah sakit.
-_-_-_-
Arben mengangkat dan memindahkan mama Shila ke ranjang tunggu pasien karena mamanya sulit di bangunkan. Nampak mama Shila sangat lelah, sudah terlihat sedikit gurat keriput di sekitar matanya tapi tak menghilangkan aura paras cantik sang mama Shila.
"Mama pasti lelah menemani papa. Sekarang biar Arben yang jaga. Mama tidur saja!" gumamnya lalu menyelimuti Shila.
Arben mengambil ponselnya dan menghubungi Hilman yang sedang menemani Lilan.
"Bagaimana keadaan Lilan?"
"Ijin Bang! Lilan sudah baik-baik saja hanya kadang masih sedikit takut sama saya, tapi sudah nggak separah tadi. Ijin arahan Bang!" jawab Hilman.
"Tolong jaga Lilan dulu ya. Saya bukannya nggak mau jaga Lilan. Kamu paham situasinya khan?"
"Siap Abang, saya paham. Abang tenang saja. Abang dan Bang Brian bisa percaya sama saya. Lilan ini istri saya sekarang! sepenuh hati, jiwa raga saya akan jaga Lilan" kata Hilman.
"Semoga papa segera sadar dan kalian bisa segera menikah" jawab Arben.
"Aamiin bang!"
-_-_-_-_-
"Sampai kapan kamu diam begini dek. Abang tau Abang salah" sesal Brian.
"Soal lain Shisi masih bisa terima bang. Tapi kalau soal perempuan lain, Shisi nggak bisa terima. Lebih baik anak ini nggak kenal papanya seumur hidupnya. Untuk apa punya papa yang memukul mamanya dari belakang" jawab Shisi.
"Kenapa kamu nggak bisa percaya sama Abang. Nggak ada wanita lain di hati Abang selain kamu" kata Brian meyakinkan.
"Tapi anak itu butuh bapaknya Bang!"
"Apa anak kita nggak butuh bapaknya???? Jangan mengambil keputusan saat kamu belum tau keadaan yang sebenarnya. Disini Abang memang salah. Salah besar. Tapi Abang nggak berkhianat. Istri Abang hanya satu, yang Abang sayang juga hanya satu. Kamu saja!!"
"Maaf bang, Shisi sudah terlanjur kecewa dengan Abang. Abang lebih memilih perempuan lain daripada istri Abang. Abang juga membohongi Shisi demi perempuan lain" ucap Shisi yang masih sangat marah.
"Awalnya niat Abang nggak begitu. Abang hanya membantu wanita yang akan melahirkan, tak peduli dia mantan Abang atau bukan" Brian sudah jujur dengan posisinya saat itu.
"Abang rela pulang pagi demi Dini. Menunggunya semalaman. Shisi kecewa sama Abang" tangisnya terisak-isak.
"Kalau kamu lihat masalah ini dari sudut pandang mu itu, Abang memang salah dan jelas salah. Tapi kalau kamu melihat dari sisi kemanusiaan. Pakai hati kita dek, ada nyawa manusia lain yang nggak tau apa-apa" kata Brian sambil mengusap rambut Shisi.
"Mantan biarlah mantan. Tapi istri adalah segalanya. Sekali ini saja tolong maafkan Abang" bujuk Brian
***
Arben membelikan mamanya susu hangat saat hari merangkak subuh juga menyiapkan sarapan untuk mama Shila.
"Ma, sholat dulu ya! sudah masuk waktu subuh" Arben membangunkan mamanya dengan lembut. Shila pun bangun dan tersenyum pada putranya.
"Terima kasih ya Ben" ucap mama shila.
"Sama-sama ma"
Tak lama Brian masuk dan membawakan sarapan juga untuk mamanya.
"Abang Disini?" tanya Brian yang hanya di jawab dengan anggukan Arben.
"Dira sendirian bang?"
"Abang ajak ke rumah mama. Lebih aman disana" jawab Arben.
"Kamu nanti bolak balik lihat papa mama ya. Siang Abang baru kesini lagi setelah check kesehatan Dira"
"Dira sakit?" tanya mama Shila.
"Nggak juga ma, Arben hanya cemas saja. Kemarin Dira sempat test kehamilan dan hasilnya samar. Arben bawa Dira ngebut satu jam di jalan"
"Hamil lagi? Sempat banget bikinnya bang" ledek Brian sampai ternganga tak percaya.
"Ya ampun Ben. Nanti bawa mobil saja. Jangan naik motor lagi!" mama Shila ikut cemas setelah mendengar Arben.
Arben hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Sudah nggak apa-apa, Itu rejeki. Setidaknya kalau benar Dira hamil, ini bisa menjadi semangat keduanya setelah Dira kehilangan anaknya" kata mama Shila bahagia.
"Pa.. dengar tidak? Dira hamil lagi pa. Papa nggak mau main sama cucu papa?" tanya Shila sambil mengusap tangan Rival.
Tanpa diduga sentuhan itu mendapat respon dari Rival. Perlahan matanya terbuka. Brian segera memanggil Tante Naura.
#
"Alhamdulillah.. langsung membaik dengan drastis" kata Tante Naura sambil melepas segala alat medis di dada Rival.
"Pintar sekali kamu main hitungan Ben. Sekali tembak langsung gol" canda Rival pelan.
"Jelas donk pa. Arben.." ucap Arben menepuk dadanya dengan sombong.
"Syukurlah bang,. kalau hasil kerja kerasmu menguntit Dira membuahkan hasil" ledek Brian.
Seisi ruangan pun tertawa bahagia sambil berharap cemas menunggu hasil pemeriksaan Dira nanti.
.
.
.
semangat Thor bkin kita jedag jedug trus 💪