NovelToon NovelToon
Cerita Tak Berkisah

Cerita Tak Berkisah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Kisah cinta masa kecil / Romansa-Teen school
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: fifizulfaa

Bercerita tentang seorang perempuan yang membuat janji kepada dua orang sahabatnya. Janji itu cukup tidak masuk akal dan mereka membuat penjanjian itu di umur yang masih kecil. Akankah janji itu terus berjalan hingga mereka beranjak dewasa? atau justru mereka melupakan semua dan menjadikan perjanjian itu tak berkisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fifizulfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Modus Nihhh

Para siswa dan siswi kelas 12, lebih tepatnya kelas Kayla tengah berkumpul di depan kamar mandi untuk mengganti seragam mereka, karena akan ada pelajaran olagraga pagi ini. Satu persatu mereka keluar masuk, bahkan juga saling berebut agar mendapatkan giliran awal. Sedangkan Kayla hanya duduk santai di bangku bersama beberapa teman sekelasnya, yang sama-sama tidak mau ribet untuk saling berebut.

Setelah satu kelas selesai mengganti pakaiannya mereka langsung berkumpul ke lapangan bersama dengan guru olahraga mereka yang sudah menunggu. Tanpa komando siswa siswi itu juga sudah membentuk barisan pertanda siap untuk mengikuti olahraga.

"Satu anak pimpin pemanasan di depan." ucap guru olahraga yang berdiri tegap sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Tanpa tunggu waktu lama salah satu dari mereka maju untuk memimpin jalanya pemanasan sebelum olahraga dimulai. Sebelum itu ia menyuruh teman-temannya untuk merentangkan tangan agar barisan lebih terlihat teratur dan berjarak. Lalu pemanasan pun dimulai.

Setelah beberapa menit berlalu akhirnya pemanasan selesai, dan guru olahraga mereka mulai menyampaikan kegiatan yang akan mereka lakukan. "Hari ini kita ambil nilai ya, yang push up back up itu, terus sama latihan basket atau sepak bola, itu olahraga yang belum ambil nilai soalnya. Kalian mau yang mana dulu Bapak ngikut aja."

"Sepak bola aja, Pak." celetuk salah seorang anak di belakang.

"Iya Pak, sepak bola aja." jawab anak lainnya, yang akhirnya mereka sepakat untuk memilih latihan sepak bola.

"Yaudah, kalau gitu anak laki-laki latihan sepak bola dulu ambil bolanya di gudang, anak perempuan ikut bapak ambil nilai."

"SIAP PAKKK."

Semua murid berhamburan untuk melaksanakan tugas dari guru mereka. Anak perempuan segera menyingkir ke pinggir lapangan untuk pengambilan nilai, dan anak laki-laki bersiap untuk berlatih sepak bola.

Satu persatu siswi mulai dipanggil menghadap guru mereka dan melakukan beberapa penilaian seperti, push up, back up, sit up, dan lainnya. Kayla yang belum dipanggil menunggu sambil memperhatikan satu persatu siswa siswi yang berada di lapangan. Sesekali ia juga mengobrol dengan teman di sebelahnya.

"Sonya Putri, Dewi Permatasari, sama ... Kayla Mathilda."

Si empunya langsung berdiri bersiap maju saat namanya dipanggil. Dia memilih tempat paling ujung diantara kedua temannya. Lalu segera tengkurap bersiap untuk melakukan penilaian pertama, yaitu push up.

"Seperti yang lain ya, setiap penilaian waktunya satu menit."

"IYA PAK." jawab serempak ketiga anak itu.

"Oke, mulai." ucap Pak guru sambil memperhatikan jam tangannya untuk menghitung menit. Penilaian bukan berdasarkan berapa banyak mereka melakukannya, namun seberapa benar mereka melakukannya. Jadi hanya dengan melihat cara muridnya Guru itu sudah bisa memberi penilaian sendiri.

Di pertengahan waktu saat Kayla mengangkat tubuh dengan kedua tangan sebagai tumpuan, secara bersamaan tendangan bola mengarah pada Kayla tepat mengenai tangannya, membuatnya yang belum siap harus ambruk dan pergelangan tangannya terkilir. Kayla segera duduk mengecek pergelangan tangan yang serasa begitu ngilu dan benar, dia mengaduh kesakitan saat mencoba menggerakkannya.

Semua anak pun mulai berhamburan menghampiri Kayla, khususnya semua anak perempuan. Sedangkan para anak laki-laki hanya berdiri menegang melihat kejadian itu karena disebabkan oleh ulahnya.

Di sana Ardan bartanya pada teman di selebelahnya. "Siapa yang kena?"

"Nggak tau deh siapa tadi." jawabnya sambil mengangkat bahu.

Ardan mengerutkan keningnya penasaran, namun dirinya juga tidak bisa kesana karena di sini temannya hanya berdiri diam. Sedangkan di sana banyak kerumunan wanita. Akan tetapi seketika matanya terbelalak kala gurunya membawa keluar Kayla dari kerumunan, ia segera berlari kecil menghampirinya.

"Pak, biar saya aja yang bawa, ke UKS kan?" ujar Ardan setelah berhasil menghentikan langkah Gurunya dan Kayla.

"Iya."

"Ya sudah biar saya aja, Pak."

"Yaudah kalau begitu, nanti sampai UKS kamu urut pelan aja sama minyak urut, trus kalau kelihatan bengkak kasih kompres dingin, kalau nggak ada kamu gulung aja sama perban biar nggak banyak gerak, jadi pergelangan tangannya nggak makin bengkak."

"Iya Pak, permisi." ucap Ardan yang akhirnya berjalan membawa Kayla ke UKS. Selama di perjalanan mereka berdua hanya saling diam, dan hanya sesekali menatap satu sama lain. Kayla terlalu fokus pada rasa sakit di pergelangan tangannya, sedangkan Ardan terus mengingat perkataan gurunya tadi.

Setibanya di UKS Kayla duduk di atas brankar menunggu Ardan yang sedang mencarikannya minyak urut.

"Ini nggak ada yang jaga ya, minyak urut naruhnya di mana sih." geram Ardan yang sama sekali tidak menemukan barang yang ia cari.

"Kalau jam pelajaran nggak ada lah, emang di kotak P3K itu nggak ada ya?"

"Nggak ada, Ay. Cuma ada perban, ada ini minya kayu putih tapi." ucap Ardan sambil memperlihatkan botol kemasan hijau itu ke arah Kayla.

"Yaudah gapapa lah."

"Bisa emang?"

"Bisa."

Akhirnya Ardan menghampiri Kayla sambil membawa seluruh isi kotak P3K. Lantas ia letakkan tepat di sebelah Kayla dan dia menarik kursi untuk lebih mendekat.

"Aku bisa kok." ucap Kayla yang akan mengambil minyak kayu putih dari tangan Ardan, namun lelaki itu sudah lebih dulu memundurkan tangannya.

Tanpa menjawab Ardan menarik pelan lengan Kayla untuk ia dekatkan ke hadapannya. ia membuka botol kecil itu lalu meneteskan pada pergelangan tangan Kayla yang terlihat mulai membiru.

"Makasih yah." ujar Kayla dengan tulus.

Ardan menoleh, mendapati wajah wanita di depannya itu sedang tersenyum padanya. "Aku belom ngapa-ngapain loh."

"Terimakasih." ulang Kayla tidak menggubris ucapan Ardan.

"Sama-sama." balas Ardan sambil tertawa kecil, lalu fokus kembali pada tangan Kayla. Ia mulai meratakan minyak kayu putihnya di seluruh pergelangan tangan Kayla, dengan sesekali mengurutnya.

"Auu!"

"Kenapa, sakit ya?" tanya Ardan saat mendengar Kayla tiba-tiba mengaduh.

"Sakit kalau ditekan."

"Aku olesin aja kalau gitu ya."

Kayla mengangguk mengiyakan, ia terus menatap tangannya dan Ardan secara bergantian. Begitu telaten laki-laki di depannya itu mengobati lukanya. Bahkan Ardan sudah terlihat mahir dalam membuat balutan perban.

"Nah, selesai." ucap Ardan sembari mengembalikan perkakas kesehatan pada kotaknya.

Kayla memeriksa pergelangan tangannya yang sudah rapi terbalut. Sungguh malang sekali nasibnya, belum juga dia mendapat nilai hari ini tapi ada saja kendala. Ia yang masih terfokus pada lukanya harus terbengong kala seseorang menyodorkan telapak tangan padanya.

"Ayo!" ucap Ardan menatap Kayla yang hanya bingung melihat uluran tangannya.

Dengan paksa Ardan meraih tangan Kayla untuk membantunya turun dari brankar lalu keluar kembali ke lapangan. Sepanjang perjalanan mereka masih sama tetap diam dengan tangan yang saling menggenggam. Sampai di dalam lapangan tanpa sadar tangan mereka masih tertaut.

"Cieee ... modus nihhh!" celetuk anak laki-laki membuat Kayla dan Ardan tersadar, lalu dengan cepat melepaskan genggamannya.

Mereka berdua segera berjalan berpisah. Kayla berjalan ke arah anak-anak perempuan yang ternyata sudah mulai berlatih sepak bola.

Di sana dia sudah mendapat tatapan aneh dari teman-temannya yang entah apa artinya. Saat ia duduk beberapa temannya mulai berkerumun meninggalkan latihan mereka, lantas mendekat ke Kayla.

"Gimana tangan Lo, Ay." tanya salah satu temannya.

"Mendingan."

"Iyalah mendingan yang ngobatin kan cowok ganteng." balas teman lainnya.

Kayla hanya diam tidak menanggapi, karena jika dia ikut menjawab teman-temannya itu malah tak akan berhenti menyindirnya.

"Hey! itu ngapain ngumpul di situ. latihannn!" teriak guru pengajar mereka menyebabkan orang-orang yang mengerumuni Kayla harus segera melanjutkan aktivitas yang tertunda tadi.

1
sunflower
next kak
Nadia
hi kak aku mampir semangat
mommy dha
kak aku mampir membawa 10 like like back yah kak Lastri kembang desa.
silviaanugrah
11 like untuk karyamu thorrr, aku tunggu feedback nya yaa. semangat! 🌟
Aprilianana
wah, kasihan Monica d kasih hukuman😂

Jgn lupa mampir dan dukung karya ku Thor! Rahsia dibalik tirai.😁
Aprilianana
Jejak😁 semangat kak!

"Rahasia dibalik tirai" 😘
🤍
Lanjut lagi.. 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
🤍
Semangat akak.. 👍
nycto°
Lanjutkan kak, semangat!! 😍
TK
next Thor 👍
mey
Semangat, Thor
nycto°
Semangat kak aku mampir!! 👍👌
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
semangat terus
Isma Aji
Semangat Thor, terimakasih, tetap saling dukung 🤗
nycto°
3 like datang kak semangat, jangan lupa mampir juga yah!! 👍
Isma Aji
semangat 🤗
Isma Aji
Sukses Thor 🤗
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
semangat
Isma Aji
Like🤗, semangat
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!