NovelToon NovelToon
The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Duniamasadepan / Zombie / Mutan / Tamat
Popularitas:165.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aria Monteza

(Dalam mode edit)
Tahun 3035. Dunia yang dulunya damai kini berubah menjadi neraka. Virus mematikan, yang mereka sebut Ragen, mengoyak peradaban, mengubah manusia menjadi makhluk buas yang haus darah. Mereka bukan sekadar zombie, bukan sekadar mayat hidup. Mereka adalah Ragen, mimpi buruk terburuk umat manusia. Di tengah kekacauan, sekelompok pemuda berjuang untuk bertahan hidup, mencari perlindungan terakhir. Setiap langkah adalah pertaruhan, setiap pertemuan bisa menjadi akhir. Kehilangan adalah harga yang harus mereka bayar, luka dan duka menjadi teman setia. Mampukah mereka selamat dari kiamat ini? Akankah mereka menemukan harapan di tengah kegelapan? Perjalanan mereka baru saja dimulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26. Assassins 1st Class

Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari saat Selena mulai bersiap-siap. Ia menyiapkan beberapa peralatannya tidak lupa gunbladenya telah ia selempangkan di punggung. Hari ini Selena mendapat misi di luar camp ditemani Balthier dan beberapa anak buahnya. Camp mengalami krisis energi dan mereka bermaksud merebut kembali pusat pembangkit energi di barat kota.

Menurut laporan Spyteam, tempat itu dikuasai Ragen dan anjing liar. Beberapa terkurung di gedung utama dan lainnya menyebar di seluruh penjuru tempat itu. Kabar buruk lainnya, tempat itu terisolasi menjadikan tempat itu semacam kurungan dalam mode besar. Suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu. Selena bergegas membukanya dan mendapati Balthier tengah berdiri menantinya di sana.

“Siap?” Tanya Balthier.

Selena mengangguk. Mereka berdua segera pergi dengan mengendap-endap, agar tidak ada yang mengetahui kepergian mereka. Di luar gerbang telah menanti dua mobil Barakuda dengan sepuluh orang permobil. Tempat yang cukup besar untuk ditaklukkan kedua puluh orang yang dikirim ketempat itu. Balthier telah memilih orang-orang terbaik di pasukan Armynya. Ia berharap itu cukup untuk menaklukkan tempat tersebut.

Sepanjang perjalanan mereka masih berpapasan dengan Ragen yang berkeliaran. Namun meski demikian mereka tidak gentar karena mobil mereka melindunginya dengan sangat baik. Garis jingga di cakrawala timur mulai terlihat saat mereka mendekati pusat pembangkit energi. Sekilas tempat itu mengerikan. Dengan gerbang yang menjulang tinggi tertutup rapat mengurung para Ragen dan anjing liar di dalamnya, tempat itu terlihat seperti neraka.

Selena memerintahkan pasukannya untuk naik ke atap gedung terdekat. Ia tidak ingin mengambil resiko kehilangan pasukannya sebelum menaklukkan tempat itu. Dengan Ragen dan anjing liar yang begitu banyak, ia memakai strategi lain. Dengan mudah mereka ke atas dengan maneuver 3d masing-masing. Selena yang sampai duluan mengamati dengan seksama tempat itu.

“Kita akan mati,” gumam Selena pada Balthier yang berada di sampingnya.

Sejujurnya Selena masih trauma dengan anjing liar dan sekarang ia harus berhadapan lagi dengan mereka dalam jumlah jauh lebih banyak ketimbang yang pernah ia hadapi dulu.

“Kita akan berhasil,” kata Balthier optimis.

“Apa kau pernah berhadapan dengan mereka?” Tanya Selena menunjuk para anjing liar.

“Belum, di sekitar camp tidak ada anjing liar,” jawab Balthier.

Selena menunduk lemas mendengar jawaban Balthier. Dengan begitu ia bisa menilai para Army yang lainnya pun kemungkinan besar juga belum pernah berhadapan dengan anjing liar.

“Aku benar-benar akan mati,” keluh Selena.

“Hai, butuh Sembilan puluh Sembilan kali percobaan untuk membunuhmu, Selena,” gurau Balthier.

“Yah, dan kali ini aku kehabisan Sembilan puluh Sembilan kali percobaan pembunuhan itu,” kata Selena masam.

“Tenanglah, aku menghitungnya dan kau masih memiliki lebih banyak kesempatan lolos dari kematian.”

Balthier merangkul sahabatnya itu untuk menenangkannya. Ia tahu betul saat sahabatnya cemas seperti itu, berarti apa yang mereka hadapi memiliki resiko kematian lebih besar tapi bukan berarti Selena akan mundur begitu saja. Gadis itu tampak sedang berpikir saat ini.

“Kita tidak bisa turun dan menghadapi mereka begitu saja. Aku pernah berhadapan dengan mereka dan aku hampir mati karenanya,” ujar Selena membuat Balthier tertegun.

Selena berjalan kepasukannya yang siap menunggu perintah.

“Kita akan menyerang dengan cara lain. Aku harap kalian benar-benar bisa menembak dan memiliki amunisi banyak,” kata Selena di hadapan pasukannya.

Ia melihat tidak ada pasukannya yang menggunakan lasergun seperti dirinya, namun beberapa menggunakan Riffle dan itu akan membantu sekali.

“Sniper, kalian tetap tinggal di sini. Berikan kami perlindungan dari atas,” komando Selena.

“Siap laksanakan,” jawab para sniper.

“Yang lain, kalian akan bertarung di bawah. Persiapkan senjata kalian,” perintah Selena.

“Siap laksanakan,” sahut pasukan jarak dekat.

“Come on Sniper. Kita akan bermain game sebentar yang lain tunggu aba-aba dariku,” perintah Selena.

Dia kembali berjalan kepinggir atap gedung bergabung dengan Balthier. Ia dan pasukan snipernya berjajar di sepanjang tepi atap gedung dan memulai penyerangan dengan tembakan jarak jauh. Selena memerintahkan untuk menembak seefektif mungkin mengingat musuh mereka sangat banyak.  Suara tembakan mulai terdengar bersahut-sahutan. Memakan waktu cukup lama yang mereka butuhkan untuk mengurangi jumlah anjing liar yang berkeliaran di luar gedung. Selena tidak keberatan dengan waktu yang mereka buang, setidaknya hal itu menunda kematian mereka lebih lama.

Setelah Ragen yang berkeliaran di luar tinggal sedikit, Selena, Balthier dan para Army segera menyerbu kedalam gedung pusat pembangkit energi melalui lantai teratas. Hanya lima orang sniper yang berjaga diatap gedung yang mereka gunakan sebelumnya.

Di dalam gedung, jumlah Ragen terbilang banyak. Setelah memecah kaca dan merangsek masuk. Mereka langsung berhadapan dengan Ragen yang menyerbu dengan ganas. Satu persatu bagian gedung berhasil dikuasai dengan susah payah.

Beberapa Army telah mengalami luka, meski demikian mereka tidak gentar sedikit pun. Sebagai garis depan pasukannya, Balthier dan Selena berkali-kali berhadapan jarak dekat dengan para Ragen. Sudah tidak terhitung lagi mereka harus terjatuh, berguling dan membentur dinding untuk menghindari beringasnya Ragen.

Tembakan para sniper juga masih terdengar bersahutan di luar gedung untuk membantu teman-temannya yang berjuang di gedung pusat.  Balthier dan Selena terpaksa mengaktifkan baju zirah mereka masing-masing melihat pasukan mereka semakin terjepit, saat berada di lantai dasar yang terdapat Ragen dalam jumlah yang sangat banyak. Dalam sekejap kedua orang tersebut berhasil membabat habis Ragen yang bersarang di tempat itu. Selagi anak buah mereka berusaha menghidupkan pembangkit energi, Balthier dan Selena memeriksa kembali isi gedung tersebut.

“Well, kita seperti Mr and Mrs. Smith sekarang,” komentar Balthier memandangi Selena yang tengah menonaktifkan baju zirahnya sambil tercengir.

“Ya, dan kita tidak membunuh satu sama lain,” sahut Selena.

“Itu bagus kan,” kata Balthier terkekeh, ia mengecek alat komunikatornya. “Sebentar lagi tim pembersih akan segera datang, setelah itu pekerjaan kita selesai,” lanjutnya.

“Senang mendengarnya,” kata Selena lega.

Disandarkan tubuhnya di meja lobi yang berada di lantai dasar.  Balthier yang sedari tadi memperhatikannya sekarang menghampirinya.

“Sampai kapan aku harus menunggu, agar bisa menjadi partnermu?” tanyanya.

“Aku rasa hingga tidak ada lagi manusia yang tersisa selain dirimu dan aku tidak mempunyai pilihan lain,” jawab Selena santai.

Balthier yang mendengarnya hanya tertawa. Sejak lama ia ingin menjadi partner kerja Selena menggantikan Sam, tapi gadis itu tidak pernah memberinya kesempatan dan memilih bekerja sendirian. Berbeda dengan shadow hunter lainnya yang masing-masing memiliki partner kerja.

“Apakah camp pernah mengirim sebuah team kesini sebelumnya?” Tanya Selena mengedarkan pandangannya.

“Belum pernah sekalipun,” jawab Balthier.

“Jadi bagaimana bisa ada Army yang berada di sini?” Tanya Selena sambil menunjuk mayat Ragen yang mengenakan seragam Army.

Ia ingat betul pasukannya tidak ada yang mati hanya beberapa yang luka berat dan lainnya luka ringan.

“Aku rasa mereka team umpan untuk menjebak para Ragen di sini dulu,” komentar Balthier membuat Selena tercengang mendengarnya.

“Bagus. Aku bekerja untuk orang bodoh,” dengus Selena kesal.

Ia bisa mengambil kesimpulan situasi saat ini.  Pimpinan camp dulu pastinya memerintahkan pasukannya untuk menjebak para Ragen kesini dan mengurungnya mengingat tempat ini dikelilingi pagar tinggi dan kokoh. Setelah camp kehabisan cadangan energi, pimpinan camp mengirim mereka untuk merebut kembali tempat ini. Selena tidak bisa membayangkan nasib para Army yang bertugas menjadi umpan, dia mungkin seorang pembunuh tapi tetap tidak bisa menerima tindakan yang diambil pimpinan camp.

Sayup-sayup terdengar suara truk yang mengangkut team pembersih memasuki pelataran gedung. Selena dan Balthier beranjak dari tempatnya untuk memeriksanya. Cukup banyak Army yang mereka kirim kemari. Selena yang berjalan dibelakang Balthier sangat terkejut ketika melihat Leo, Jimmy dan Ignis berada diantara pasukan Army yang turun dari truk tersebut. Segera Selena berlindung dibalik punggung Balthier yang sama terkejutnya.

“Kenapa kau mengirim mereka ke sini?” Tanya Selena kesal.

“Aku tidak mengirimnya, mungkin kapten mereka yang mengirimnya,” jawab Balthier gusar.

Ia tidak bisa membiarkan Selena terlihat oleh kedua temannya itu. Sekilas ia bisa melihat dari ekor matanya Selena kembali mengaktifkan baju zirahnya. Sersan yang memimpin pasukan pembersih terlihat berjalan menghampiri mereka dan memberikan hormat.

“Team pembersih telah siap Pak,” lapor sersan itu pada Balthier.

“Baiklah Sersan Thomas, segera lakukan pembersihan,” perintah Balthier diikuti anggukan Sang Sersan.

“Tunggu Sersan,” sergah Balthier saat orag itu akan pergi, “Siapa yang memerintahkan mereka berdua ikut?” tanyanya sambil menunjuk kearah Leo, Jimmy dan Ignis yang masih berdiri didekat truk.

Sersan Thomas mengikuti arah yang dimaksud Balthier untuk melihat siapa yang ditunjuknya.

“Kapten Jhoe yang memerintahkan pak. Mereka anggota baru dan harus melalui masa training terlebih dahulu,” jelas sersan Thomas.

Balthier hanya mengangguk mendengarnya. “Masukkan mereka dalam team perbersih bagian lantai atas,” perintahnya.

Setelah Balthier selesai memberikan arahannya, Sersan Thomas kembali kepasukannya dan membagi tugas pada pasukannya yang telah menanti. Beberapa menit kemudian pasukan itu pecah menjadi beberapa regu dan segera bergerak menjalankan tugas mereka.

Jantung Selena berdegup lebih cepat saat Leo, Jimmy dan Ignis melewatinya. Ia berharap kedua temannya itu tidak mengenalinya terutama Ignis yang memiliki pandangan yang tajam dan teliti dalam memindai lingkungannya. Leo, Jimmy dan Ignis melewatinya bersama anggota regunya berbeda dengan Leo dan yang lainnya yang hanya melihatnya sekilas sambil memberikan hormat, Ignis menatap orang dengan baju zirah dibelakang Balthier dengan penuh selidik bahkan ia tetap memandanginya dari ekor matanya hingga ia menghilang dilantai atas.

“Aku harus pergi dari tempat ini,” ujar Selena.

“Tenanglah mereka tidak mengenalimu,” kata Balthier menahan Selena pergi.

Dalam waktu kurang lebih satu jam, pasukan pembersih berhasil mengumpulkan mayat-mayat Ragen di luar halaman gedung dan membakarnya. Selena yang mengamati pekerjaan mereka sedikit cemas karena dia tidak lagi bisa bergerak leluasa mengingat Ignis masih terus mengamatinya. Balthier bukannya tidak mengetahui kegelisahan Selena, hanya saja jika membiarkannya pergi teman-temannya justru akan semakin curiga.  Jam tangan yang dikenakan Selena tampak berkedip memberikan peringatan. Memakai baju zirah bukanlah hal yang mudah karena baju itu menyerap tenaga penggunanya sehingga tidak bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Selena yang mulai merasakan efeknya menghampiri Balthier yang masih sibuk memberikan komando.

“Aku kehabisan waktu,” bisiknya didekat Balthier.

Balthier melirik jam tangan Selena yang kini berkedip semakin cepat. Tidak ada cara lain selain membiarkan temannya itu pergi untuk melepas baju zirahnya.

“Pergilah, aku akan memberitahumu nanti saat semua sudah selesai,” kata Balthier.

Selena pun bergegas meninggalkan tempat itu, ia melompat ke atas atap gedung yang mereka gunakan mengintai sebelumnya. Dengan sekali loncatan Selena berhasil mencapai atap gedung tersebut meski tanpa bantuan maneuver 3dnya. Beruntung gedung yang ia tuju lebih tinggi dari gedung pusat pembangkit energi sehingga ia bisa bersembunyi dengan nyaman.

Selena segera menonaktifkan baju zirahnya dan merebahkan tubuhnya yang kelelahan dilantai. Ia memandangi langit biru dengan tersenyum senang. Misinya berhasil dengan selamat dan dia kembali bisa melihatnya lagi.  Ignis yang sedari tadi penasaran dengan orang yang memakai baju zirah itu beberapa kali bertanya pada Army-Army yang lain namun tidak ada satupun yang mengetahui siapa dirinya bahkan Army yang bersama orang tersebut pun tidak mengetahuinya. Army itu hanya mengatakan orang berbaju zirah itu adalah tangan kanan Mr. Bhorton pemimpin camp Solar city. Pasukan Army yang dibawa Balthier memang orang-orang pilihan yang hanya mematuhi perintah Balthier dan sebelum berangkat tadi, Balthier telah meminta mereka semua untuk menyembunyikan identitas rekannya jadi sekalipun mereka ditanya berkali-kali mereka tidak akan membocorkan rahasia itu.

 --- TBC ---

1
Nuraishah❤💚
👍🏻
blueby
Itu tiap paragrafnya kenapa gitu., susah dibacanya.
Aria Monteza: nggak tau kak, soalnya dulu masih rapi
nggak mencar² kayak gitu paragrafnya
total 1 replies
Kaka Raffiana
keren bet ceritanya... maaf bru baca thor😅

season 2nya kak lanjutin
Kaka Raffiana
cloud adalah matthew yg dicuci otaknya
Kaka Raffiana
cool amat si leo ya!!! diliat dri foto visualnya
Kaka Raffiana
lebih suka sikap leo yg terlihat cool dan lebih santai...
Kaka Raffiana
keren sih respon Leo pas berantem ama si matthew.
Yurnita Yurnita
Thor nama visual nya
Aria Monteza: visual yg mana ya?
total 1 replies
Ahza Ahsanul
gue sukaaaaaaaaaaaaaa..
moon
he eh sepi
Z3R0 :)
yosh novel zombie lagi lanjut
RyanZxD
Lanjutt
Desi BA
hampir sama kayak zombie ya
moon
mattahew kah
moon
tegang tp seru
moon
waw pengendalian yang bagus mat
moon
jangan bilang klw selena dan sam yang bantai orang tua leo🤔🤔🤔🤔
Esriyana Noviani
kapan publish novel ke duanya thor.....
NauraNazifaNauzan
gantung ini...
NauraNazifaNauzan
k 3x q baca novel ini... tp blm juga ada part 2 nya... sayang sekali pdahal cerita nya kereeeen....
Aria Monteza: lagi ngumpulin mood nulis 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!