NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Jas Putih

Cinta Di Balik Jas Putih

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Sandra berjalan cepat ke arah IGD yang sudah tampak ramai, pemandangan wajah cemas dan juga tangis haru sudah menjadi gambaran di IGD kota kecil itu.

Di balik sikap profesionalnya, nyatanya Sandra menyimpan lukanya sendiri yang bahkan bertahun-tahun tak bisa dia sembuhkan.

Hingga akhirnya seseorang yang tak sengaja dia temui malah merubah seluruh dunia yang sudah membuatnya nyaman, memaksanya untuk kembali percaya akan cinta, tapi sayangnya jurang perbedaan mereka besar dan masa lalu yang mulai kembali menghantui Sandra.

Bisakah Sandra mengeluarkan diri dari traumannya dan menerima pria yang bahkan tak pernah dia bayangkan akan hadir dalam hidupnya? ataukah dia tetap tak bisa melupakan masa lalunya dan kembali menerimanya?

Pernyataan: Novel ini ditulis tidak untuk menyudutkan atau menjelekkan seseorang, kalangan tertentu, atau pun profesi tertentu, semua yang ditulis hanya untuk pengetahuan dan hiburan semata, cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25.

Sandra memegang ponselnya, sesekali membukanya tapi tidak melakukan apapun. Dia beberapa kali tergoda untuk menghubungi Devan, tapi tetap saja gagal dilakukannya.

Tiba-tiba pintu IGDnya yang dari tadi sepi itu terbuka, seorang pria berdandan wanita terhuyung masuk dipapah temannya. Sandra melempar pandang dengan salah satu perawat di sana karena penampilan dari pasiennya kali ini.

"Dok! Sakit nih! Temen saya," ujarnya dengan suara yang sedikit dibuat-buat agar mirip wanita.

"Ya sudah ditidurkan saja di tempat tidur biar saya periksa," ujar Sandra langsung meletakan ponselnya dan menyambar stetoskopnya.

Dia segera memperhatikan pasien uniknya itu, hanya menggunakan tank top merah dan celana pendek jeans, membuat tubuhnya yang kurus namun tetap tampak kekar itu terlihat sekali, rambutnya panjang dengan wajah tirus dengan garis wajah tegas tapi bulu mata palsunya tampak sangat cetar di matanya, bibirnya juga merona merah, Sandra menahan geli melihatnya, memang dunia ini ada-ada saja.

"Kenapa ini?" Tanya Sandra.

"Ini dok, dia demam, udah 2 hari nih, terus tadi muntah-muntah dok, ih banyak deh, jijik! terus itu perutnya pada sakit, kasihan deh dok," kata Temannya yang satu spesies dengarnya, bulu mata dan dandanannya tak kalah cetar membahana.

"Oh, ya udah, saya periksa dulu, ke meja dulu kak, biar buat status," ujar Sandra tak tahu harus memanggilnya apa.

"Ok dokter," centil dia melangkah ke arah meja, tempat salah satu perawat mulai menanyai tentang data pribadi pasien.

"Tensinya masih normal dok, pernapasan juga sama nadinya, suhunya saja 38.7, Dok," ujar perawat yang membantu Sandra.

"Dicatat saja, kak, diperiksa dulu ya," kata Sandra meminta persetujuan.

"Iya dok, aduh, ini perut sama kepala saya sakit banget, au!" Kata pasien itu meraung-raung bagaikan begitu kesakitan membuat Sandra mengernyitkan dahinya, ini pasiennya benaran sakit atau hanya lebaynya saja.

Sandra meletakkan stetoskopnya ke arah perut pria feminim ini, suara bising ususnya menurun ternyata. Sandra lalu mencoba menyentuh dan menekan perut pria itu, terasa sedikit tegang.

"Bisa BAB? Buang angin bisa?" Tanya Sandra lagi.

"Ga bisa dok, udah 1 Minggu susah BAB, seharian 1 juga ga bisa buang angin," kata pria itu.

"Ini saya tekan, kalo sakit bilang ya," ujar Sandra.

Sandra segera menekan ulu hati, pria itu mengerang manja, dia lalu menekan ke tempat yang lain namun tetap saja dia mengerang, membuat Sandra semakin bingung.

"Au! Dokter! Pelan dong! Itu sakit banget!" Kata pria itu sedikit marah ketika Sandra menekan satu titik di perut kanan bawahnya, melihat hal itu Sandra langsung bisa memikirkan suatu penyakit.

"Ini lebih sakit?" Kata Sandra.

"Iya, ini sakit banget," kata Pria itu.

"Ya, udah ini saya mau melakukan pemeriksaan ya, ikutin saja," kata Sandra.

Sandra langsung memberikan tekanan sekali lagi, dia juga menekuk kaki kanan pria itu, menekan satu titik yang lain dan hasil semuanya pria itu mengerang kesakitan.

"Kak catat ya, MC burney sign positif, blumberg sign juga positif, psoas juga positif, suspek Appendicitis kak," kata Sandra pada perawat yang membuat status.

"Jadi dok dia ini kenapa?" Kata temannya yang cukup awam dengan perkataan Sandra.

"Iya, ini temannya dicuragai terkena usus buntu," kata Sandra menjelaskan.

"Wah, bisa sembuh ga dok?"

"Bisa dong, tenang aja, tapi harus operasi ya," kata Sandra mencoba menenangkan.

"Ha? Mau dioperasi? Aduh! Gua ga seksi lagi dong, entar ga bisa pake bikini lagi dong," kata pasien itu histeris, dia sedikit syok mendengarkan bahwa dia harus operasi.

Sandra mengerutkan dahinya, membayangkan sosok berotot walau kurus ini menggunakan bikini, Sandra jadi geli sendiri.

"Ga bisa pake obat aja dok?" Kata temannya yang tampak simpati melihat temannya.

"Ya ga bisa, kalau sudah pasti harus cepat di operasi, kalau gak ntar bisa gawat," kata Sandra lagi mau tak mau menanggapi drama ini.

"Gawat gimana dok?" Tanya temannya lagi.

"Ya bisa kehilangan nyawa."

"E? Metong dok? Ah! Gua masih muda, ga mau ah! Gua masih cantik," ujarnya lagi tambah histeris, melihat tingkah kedua pria unik ini membuat Sandra ingin tetawa, tapi dia hanya mencoba menahannya.

"Ya, dipilih aja, mau metong atau ga seksi lagi?" Kata Sandra, perawat wanita yang ada di sana sedikit tertawa mendengar Sandra mengatakan itu.

"Ah, ya udah, dioperasi aja ya, yang penting elu sehat, ntar pake bikini one peace aja," kata temannya menenangkan, Sandra makin ingin tertawa, dia geleng-geleng kepala melihat drama ini, pekerjaannya memang penuh warna.

"Mau dioperasi kan?" Kata Sandra.

"Iya, mau dok, tapi jangan gede-gede ya, biar bagus ya dok," kata pasien itu sedikit memelas.

"Ya minta aja ntar sama dokternya bedah," kata Sandra memerintahkan pada perawat untuk memasang infusnya.

"Cowok atau cewek dokternya dok?" Tanya temannya.

"Cowok."

"Ah! Kan aku malu, jangan cowok dong dok, ntar dia lihat-lihat, kan malu," kata Pasien itu sekarang malah tampak malu-malu. Sandra sudah tak tahan untuk tertawa, dia mencoba menutupinya dengan tangannya.

"Alah, lu suka juga, dia mah ganjen dok, ganteng gak dok? Mau kenalan," ujar temannya yang tampak antusias.

"Ganteng, entar lihat aja sendiri, tapi awas jangan digodain pas operasi ntar salah potong kalau dokternya grogi," kata Sandra menggoda.

"Ih! Jadi penasaran," kata temannya yang malah semakin senang.

"Ya udah siap-siap saja, mau dipasang infus dulu ya, setelah ini biar masuk ruangan," kata Sandra geleng-geleng kepala.

"Dok, maaf, ini ada telepon," ujar perawat yang ada di meja dokter yang langsung membuat Sandra teralihkan.

Sandra cepat meninggalkan pasiennya yang memang sudah selesai dia periksa. Sandra segera mengambil ponselnya, dalam hatinya dia berharap yang meneleponnya adalah orang yang sudah lama dia tunggu menghubunginya, tapi ternyata bukan. Nomor telepon rumahnya yang ada di kota yang menelponnya.

"Halo?" Kata Sandra.

"Kak Sandra, ini Bi Masri, Kak, ini loh ibu, ibu sakit kak," kata Bi Masri di ujung sana.

"Sakit apa? Ini beneran atau cuma bisa-bisanya ibu lagi?" Ujar Sandra, sudah berapa kali ibunya melakukan trik ini hanya agar dia pulang. Memang sudah hampir 6 bulan dia tak pernah pulang ke rumah, bukan tak mau, hanya saja jika pulang, dia sudah pasti dicerca pertanyaan kapan menikah terus menerus.

"Beneran loh Kak, ibu udah 2 hari ga mau makan, terus lemes, asmanya juga kambuh," kata Bi Masri cemas, terdengar di belakangnya suara batuk yang cukup kronis, suara napas yang susah juga terdengar, mendengar itu walau tahu ibunya suka mengerjainya, tapi Sebagai anak Sandra tentu juga langsung khawatir.

"Ya udah, sebentar lagi saya pulang, nanti langsung ke sana, Seretide ibu masih ada kan?" Tanya Sandra.

"Ga ada Kak, ibu lupa taruh di mana, " ujar Bi Masri lagi.

"Lah, gimana sih ibu, ini sesak banget?" Kata Sandra makin cemas.

"Iya kak, aduh, bawa ke rumah sakit aja ya kak?" Kata Bi Masri pada Sandra.

"Emoh! Punya anak 3 dokter ga ada yang sayang ibu, biarin!" Suara dari belakang terdengar, Sandra hanya berwajah kecut, ibunya memang seperti itu.

__________

daftar Istilah

McBurney Sign : pemeriksaan untuk mencari tanda usus buntu, dengan menekan titik kanan bawah pada perut pasien, jika sakit, tandanya positif, (hanya tanda awal, bukan sebagai diagnosis pasti).

Blumberg sign : sama seperti Mcburney sign, bedanya hanya ditekan di titik Mcberney lalu di lepaskan, biasanya pasien usus buntu akan sangat kesakitan.

Psoas Sign : melipat kaki kanan pasien dan pasien akan merasa sakit di perut kanan bawahnya.

Seretide : obat berbentuk diskus untuk orang asma.

1
Wangintowe Tundugi
asik omanya devan
Wangintowe Tundugi
alur cerita quen mmg demikian pasti ada yg maksa karena cinta inilah ke unikan mu quin gak ada yg bisa plagiat thebest
Wangintowe Tundugi
the best persahabatan bang josh dan sandra
Wangintowe Tundugi
🤣🤣
Wangintowe Tundugi
ah beneran si bang jos tuh dokter sandra lebih memilih batu bata dari permata 🤣🤣
Ersa
Luar biasa
bunga cinta
jeruk kok makan jeruk
bunga cinta
suka ide cerita nya, cerdas othornya
bunga cinta
Luar biasa
bunga cinta
banyak ilmu
Nurlaela
terbaik..
Mimilngemil
Keren... keren....
ah... akhirnya happy ending
😍😍😍
Mimilngemil
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Mimilngemil
Biang keroknya Gladys /Hammer//Hammer//Hammer/
Mimilngemil
Nirmal sie...
aku juga gitu
wkwkwkwk
Mimilngemil
kaya punya sahabat kaya Jo... gak akan sedih 😂😂😂😅😆
Mimilngemil
😂😂😂😅
Jo... ica ae...
Mimilngemil
😂😂😅😆
Mimilngemil
uhuy....
Sandra...
Abang datang Neng...
Mimilngemil
Graciella dijepit pintu mobil
Devan kejepit pintu mobil
😂😅😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!