Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telat
Mentari pagi telah memunculkan sinarnya mulai menampak pada setiap sudut.
Di atas kasur king size, seorang gadis masih tertidur pulas.
Posisinya benar-benar berantakan.
Selimut terlilit di salah satu kaki, bantal guling sudah jatuh ke lantai, sementara rambut panjangnya menutupi hampir seluruh wajah.
Tok.
Tok.
Tok.
Tidak ada jawaban.
Pintu kamar perlahan terbuka.
Cuba melangkah masuk sambil menggeleng pelan melihat kondisi putrinya ia menatap Malika yang masih tertidur , padahal hari sudah sedini ini.
Pria matang itu berjalan menuju jendela, lalu membuka gorden.
Seketika itu, udara dingin menyeruak ke dalam kamar Malika, membuat cahaya mentari menyelinap masuk.
Dengan gerakan malas Malika menutup kepalanya dan membenamkan kepalanya pada kasur .
"Bangun nak! . "
mendengar suara bass ayahnya yang penuh peringatan itu, Malika sudah tak punya cara untuk membantah.
"Cepat bergegas bersiap, kamu sudah telat. " Seruan Suara tua itu kembali memberi peringatan.
Dengan malas Malika beringsut dari Kasurnya.
"Malika dengar kok pah, ini Malika bangun!. "
Ayah Malika memperlihatkan Jam tanganya tepat di hadapan muka Malika.
"Kamu liat ini. " Di jam tangan itu, jarum pendeknya terletak tepat di antara angka tujuh dan delapan.
"Papah gawat!. "
"Kan, kan. "Cuba memandang putrinya dengan tampang datar dan berkacak pinggang.
Dengan cepat Malika melesatkan diri ke kamar mandi meninggalkan ayahnya yang ingin memberikan wanti-wanti lagi.
Menurut Malika tidak papa telat yang penting jangan sampai tidak mandi.
Kurang dari 8 menit Malika sudah keluar dengan pakaian yang sedikit basah, dan rambut yang acak-acak belum tersisir.
Langsung saja setelah keluar ia buka lemari lalu meraih seragamnya yang tergantung rapi. di lemari.
Ia mengedarkan pandanganya ke penjuru ruangan yang teryata ayahnya sudah keluar.
Malika langsung memakai pakaiannya secepat kilat, menyemprotkan parfume dan menyisir rambutnya yang sudah ia keringkan tadi di kamar mandi.
Ia raih tasnya lalu menuruni tangga, yang di mana ia sudah di sambut dangan Ayanya dan Madona yang tengah menyantap sarapan.
Sebelum ayahnya membuka mulutnya menyuruh Malika sarapan Malika lebih dulu memotong.
"Malika makan di kantin aja pa. " Setelah meraih tangan kanan ayahnya untuk ia salimi Malika langsung keluar tanpa menyalimi ibu tirinya.
Sesampainya di garasi, Malika langsung masuk ke dalam mobil.
Mesin dinyalakan.
"Semoga gerbang belum ditutup..."
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah.
Sepanjang perjalanan, Malika beberapa kali melirik jam di dashboard.
Semakin dilihat...
Semakin panik.
"Shibal..."
"Gue telat."
Setelah memasang sabuk pengaman Malika langsung tancap gas.
_______
Sesampainya di depan gerbang sekolah Malika mematikan mesin mobilnya.
Kelas itu terlihat sunyi karena semua siswa telah masuk.
Malika keluar dari dalam mobilnya lalu berkacak pinggang sembari memasang mimik wajah frustasi. Tak sengaja ia menatap penjaga Sekolah yang tengah bersantai di pos khususnya.
"Pak, bapak. "
Penjaga sekolah itu yang mendengar Malika memanggilnya pun beranjak menghampiri dan berhenti di depan gerbang yang telah di gembok itu.
"Neng telat?. "
"Lah bapak malah nanya. "
"Tolong bukain pak. "
"Maaf neng bapa gak bisa bukain,ini udah di suruh sama para guru. "
"Pak tolong banget pak, bukain saya bisa telat kelas pak!. " Malika menautkan tangannya memohon.
"Gak bisa.... Belum sempat penjaga itu menimpali, ada orang lain yang memotong omongannya.
" Bukain pak. "Sahut orang itu yang berada tepat di belakang penjaga pos dengan tangan yang ia masukan ke dalam saku.
Langsung saja Malika dan penjaga itu secara bersamaan memandang orang itu.
" Banson?. "
Setelah mendengar perintah Banson penjaga gerbang itu langsung saja membuka gemboknya dan mempersilahkan Malika masuk.
Penjaga itu tak bisa membantah Banson, di karenakan Banson adalah salah-satu kelompok Osis, bahkan dia ketuanya.
Bahkan, ayahnya dikenal sebagai penyokong utama sekolah tersebut.
"Mobilnya saya minta tolong di parkirin ya pak. " ujar Malika sembari memberikan kuncinya pada Penjaga.
"Makasih pak. "
Malika berlari kecil tapi sebelum ia memasuki kelas ia berhenti lalu berbalik menatap Banson.
"Thanks ya udah nolongin gue, gue masuk dulu. "
Baru beberapa langkah berjalan...
Suara Banson kembali menghentikannya.
"Malika."
Ia menoleh.
"Iya?"
"Siapa yang nyuruh lo masuk kelas?"
Malika mengerutkan dahi.
"Lah?"
"Bukannya gerbang udah dibukain?"
"Iya."
"Terus?"
Banson menatapnya tanpa mengubah
ekspresi.
"Masuk sekolah boleh."
"Masuk kelas belum tentu."
Malika berkedip pelan.
"Otak gue belum nyampe."
"Maksud lo?"
Banson melangkah mendekat beberapa
langkah.
"Lo telat."
"Iya."
"Dan setiap siswa yang telat..."
ia berhenti sejenak.
"...tetap harus menjalani hukuman."
Wajah Malika langsung berubah.
"Hah?"
"Serius?"
"Serius."
"Tapi kan lo yang nyuruh gerbang dibuka."
"Itu beda urusan."
"Biar lo bisa masuk sekolah."
"Bukan berarti bebas dari peraturan."
Malika mengembuskan napas panjang.
"Yaelah..."
"Gue kira lo baik."
Banson menatapnya datar.
"Gue memang baik."
"Tapi aturan tetap aturan."
Malika mendongak pasrah ke langit.
"Shibal..."
"Emang sial nasib gue hari ini."
_________
For u💐.
Cerita ini Herem ya, di mana 1 perempuan bisa sama banyak pria.
Jangan lupa, vote, like sama Coment.
Makasih banyak untuk yang udah mau baca ceritanya samapai sini.
See u next chapter.