Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 – MISI PERTAMA SELESAI
Langkah kaki Haruto semakin ringan seiring dengan semakin dekatnya mereka dengan gerbang Kota Lumin. Sinar matahari sore yang lembut menerobos celah pepohonan, memberikan kilau emas pada batu jalan yang telah dipakai oleh ribuan petualang sebelum mereka. Pochi sudah terbangun dan kembali aktif, memanjat ke pundak Haruto sambil mengeluarkan suara senang.
“Pyoo! Pyoo!”
Akira menoleh ke arah Haruto dengan senyuman. “Sepertinya temanmu sudah pulih ya?”
“Ya, pak. Dia memang cepat pulih kalau sudah bisa istirahat sebentar,” jawab Haruto sambil mengelus kepala Pochi dengan lembut.
Setelah beberapa menit berjalan, gerbang kota yang megah dengan ukiran simbol sihir mulai terlihat jelas. Pagar tembok tinggi yang melindungi Kota Lumin tampak kokoh, dengan penjaga kota yang berdiri tegas di kedua sisi gerbang. Mereka langsung menyapa Akira dan kelompoknya dengan hormat.
“Selamat datang kembali, Akira-san! Apa Semua baik saja ya?” tanya salah satu penjaga.
“Baik saja, kita hanya menghadapi beberapa masalah kecil di hutan,” jawab Akira dengan senyuman yang membuat penjaga itu tertawa.
Ketika memasuki kota, suasana langsung berubah. Jalanan yang lebih luas dipenuhi oleh pedagang yang berjualan berbagai barang—dari ramuan sihir, peralatan petualang, hingga makanan lezat yang aromanya menggoda perut. Wajah-wajah penduduk kota dan petualang lainnya penuh dengan kegembiraan, membuat suasana kota terasa hidup dan hangat.
“Kita akan langsung pergi ke guild untuk melaporkan misi,” ucap Yuna sambil menunjuk ke arah bangunan besar bertingkat tiga yang berdiri di tengah kota. Atap guild yang berbentuk kubah dengan simbol bintang delapan memancarkan cahaya lembut bahkan di siang hari.
Haruto mengangguk dengan gembira. Setelah berjalan beberapa menit lagi, mereka tiba di depan pintu masuk Guild Lumin yang selalu ramai dengan aktivitas petualang. Beberapa orang langsung menyapa Akira dan kelompoknya, jelas mereka adalah sosok yang dikenal dan dihormati di dalam guild.
Setelah memasuki gedung, aroma lilin sihir dan kertas baru memenuhi hidung Haruto. Di lantai dasar, meja pendaftaran misi penuh dengan petualang yang sedang memilih atau melaporkan tugas mereka. Di sudut kanan, Daichi sedang berdiri dengan wajah yang penuh kekhawatiran sambil melihat keluar pintu guild.
“Sialan, Haruto sudah keluar sejak pagi dan belum kembali. Mungkinkah ada masalah?” gumamnya pelan.
“Daichi!”
Suara Haruto membuatnya langsung menoleh. Wajahnya yang awalnya cemas langsung berubah menjadi lega dan bahagia.
“Haruto! Kau akhirnya kembali! Aku sudah khawatir kalau kau tidak akan kembali!” teriak Daichi sambil berlari cepat ke arahnya. Ia langsung memeluk Haruto dengan erat, membuatnya sedikit terkejut.
“Hei hei, aku baik-baik saja kok,” ujar Haruto dengan senyuman.
Daichi kemudian melihat ke arah Akira dan kelompoknya, wajahnya langsung penuh rasa kagum. “T-tidak mungkin… itu bukannya kelompok Akira yang terkenal di kelas B ya?”
Akira tersenyum dan mengangguk. “Betul sekali. Kami menemukan Haruto sedang dalam kesusahan di hutan dan membantunya sedikit.”
Daichi segera membungkuk hormat pada mereka. “Terima kasih banyak sudah membantu teman saya! Jika ada yang bisa saya lakukan untuk membalas budi kalian, silakan bilang saja.”
“Tidak usah khawatir, itu tugas kita sebagai petualang untuk membantu sesama anggota guild,” jawab Goro dengan senyum lebar.
Setelah itu, Akira menoleh ke arah Haruto. “Kita akan pergi ke meja pelaporan misi bagian atas ya. Kalau kamu sudah selesai melaporkan misimu, mungkin kita bisa berbincang lagi nanti. Ada beberapa hal tentang sihir air yang mungkin bisa saya ceritakan padamu.”
Haruto merasa hati nya penuh kegembiraan. “Tentu saja, pak Akira! Saya akan segera menyelesaikan pelaporan ini.”
Setelah Akira dan kelompoknya pergi ke arah tangga yang mengarah ke lantai atas, Daichi langsung menarik lengan Haruto dengan penuh rasa penasaran.
“Coba cerita dong apa yang terjadi di sana? Kamu kok bisa bertemu dengan kelompok Akira ya?”
Haruto hanya bisa tersenyum dan mengangguk. “Nanti aku cerita semua detailnya ya, tapi sekarang aku harus dulu melaporkan misiku ke meja administrasi.”
Mereka kemudian berjalan ke meja pendaftaran misi yang dikelola oleh seorang wanita berambut pirang dengan wajah yang ramah bernama Rina.
“Haruto kan? Kamu datang untuk melaporkan misi mengumpulkan Jamur Bulan ya?” tanyanya dengan senyuman.
“Ya, Bu Rina. Saya sudah mengumpulkannya sebanyak dua puluh buah, bahkan lebih banyak sedikit,” jawab Haruto sambil membuka tasnya dan menunjukkan isi nya.
Rina melihat isi tas dengan mata yang membesar sedikit. “Wah, tidak hanya Jamur Bulan biasa lho, kamu bahkan mendapatkan beberapa Jamur Bulan Murni yang lebih langka! Darimana kamu mendapatkannya?”
Haruto hanya tersenyum canggung. “Di dekat tempat yang disebutkan dalam petunjuk misi, Bu. Ada beberapa yang tumbuh berkelompok di sana.”
Rina mengangguk dengan senyum puas. “Bagus sekali. Misi ini dinyatakan selesai dengan baik. Kamu akan mendapatkan poin pengalaman sebanyak lima puluh dan kompensasi sebanyak seratus koin perak.”
Haruto merasa hati nya penuh kegembiraan mendengarnya. Itu adalah uang pertama yang ia hasilkan sebagai petualang.
“Selain itu,” lanjut Rina sambil mengambil sebuah amplop kecil, “ini adalah surat dari Mizuna-san untukmu. Dia bilang ingin kamu membacanya setelah menyelesaikan misi pertamamu.”
Haruto menerima amplop dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia segera membukanya dan membaca isi suratnya dengan cermat.
Untuk Haruto,
Jika kamu sedang membaca surat ini, berarti kamu sudah berhasil menyelesaikan misi pertamamu. Aku tahu kamu pasti akan menghadapi banyak kesulitan dan ketakutan di jalan, tapi aku juga tahu bahwa kamu cukup kuat untuk menghadapinya.
Jangan pernah merasa minder karena sihirmu yang kadang tidak stabil atau berbeda dengan yang lain. Setiap penyihir memiliki jalan mereka sendiri dalam menguasai kekuatan mereka, dan jalan yang kamu tempuh adalah jalan yang tepat untukmu.
Kamu sudah menunjukkan bahwa kamu bisa tetap tenang dalam bahaya dan peduli pada temanmu. Itulah kualitas utama seorang petualang yang hebat—bukan kekuatan atau kemampuan sihir semata.
Datanglah ke tempat latihan sihir sore ini. Aku akan mengajarkanmu teknik baru yang bisa membantu kamu mengendalikan sihir air dengan lebih baik.
Tetap semangat dan terus berjuang.
Mizuna
---
Haruto menyimpan surat dengan hati-hati di dalam kantongnya, matanya sedikit berkaca-kaca karena rasa haru. Ia merasa sangat bersyukur memiliki guru seperti Mizuna yang selalu mendukungnya.
Daichi melihat wajah Haruto dan tersenyum hangat. “Apa kata gurumu?”
“Dia bilang ingin mengajariku teknik baru sore ini,” jawab Haruto dengan suara yang penuh semangat.
“Bagus sekali! Kamu pasti akan semakin kuat ya,” ucap Daichi dengan bangga.
Kemudian, mereka berjalan ke sudut guild yang terdapat warung kecil yang menjual makanan dan minuman. Haruto merasa sangat lapar setelah seharian berada di hutan.
“Aku akan beli makanan untuk kita berdua ya,” kata Haruto sambil mengambil koin perak yang baru saja diterimanya. “Ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu selalu mendukungku dan khawatir padaku.”
Daichi tersenyum lebar dan mengangguk. “Baiklah, aku akan tunggu di sini ya.”
Saat Haruto berdiri di depan antrian warung, ia melihat keluar jendela guild ke arah jalanan yang ramai. Matahari sudah mulai merunduk ke arah barat, memberikan warna jingga yang indah pada langit kota. Pochi sedang bermain dengan beberapa anak kecil di luar yang melihatnya dengan rasa kagum karena warnanya yang unik.
Haruto tersenyum puas. Misi pertamanya memang tidak sesederhana yang ia bayangkan—ia hampir mati di tangan dua Beruang Hutan, bertemu dengan kelompok petualang senior yang luar biasa, dan menyadari bahwa dunia ini jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
Namun di saat yang sama, ia juga merasa lebih kuat dan lebih yakin dengan dirinya sendiri. Ia memiliki teman yang baik, guru yang luar biasa, dan sahabat setia seperti Pochi yang selalu ada untuknya. Dan tanpa disadarinya, misi pertamanya yang telah selesai itu bukan hanya akhir dari satu bab dalam hidupnya—melainkan awal dari perjalanan panjang yang akan membawanya menjadi seorang petualang yang benar-benar hebat.
“Haruto, makanan sudah siap!”
Suara penjual warung membuatnya kembali fokus pada saat ini. Ia mengambil mangkuk makanan panas yang diisinya mie dengan potongan daging dan sayuran, kemudian berjalan ke arah Daichi yang sudah menunggu dengan senyum lebar.