NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — FOTO LAMA

BAB 10 — FOTO LAMA

Suasana di dalam toko permen `Sweet Memory` mendadak hening.

Hanya terdengar suara lonceng angin dari pintu.

Lolipop rasa stroberi yang terjatuh dari tangan Eiri masih menggelinding di lantai kayu. Plastiknya pecah.

Mahendra segera menopang tubuh Eiri yang hampir kehilangan keseimbangan. Tangannya kuat melingkar di pinggang gadis itu.

"Eiri!"

"A-aku..."

Eiri memegang kepalanya erat. Napasnya memburu, sementara bayangan-bayangan asing terus bermunculan di benaknya seperti film rusak.

Seorang remaja laki-laki berdiri di bawah pohon mangga sambil tersenyum lebar.

Rambut maroon. Mata hangat.

Di tangannya terdapat dua buah lolipop.

"Kalau kamu sedih, makan lolipop ini. Aku janji akan selalu ada di sampingmu. Gak akan ninggalin kamu lagi."

Bayangan itu menghilang secepat kilat. Digantikan rasa sakit yang menusuk.

"Ahh!"

Eiri memejamkan matanya. Air mata hampir jatuh.

Mahendra menatapnya penuh kekhawatiran. Jantungnya sakit melihatnya seperti ini.

"Kita pulang saja. Sekarang."

Eiri menggeleng pelan. Ia memaksakan diri berdiri.

"Tidak... aku sudah lebih baik, Tuan. Sungguh."

Namun wajahnya masih terlihat pucat seperti kertas.

Pemilik toko yang sedari tadi memperhatikan mereka dari balik kasir akhirnya menghampiri sambil tersenyum ramah. Rambutnya sudah putih semua.

"Maaf, Nona tidak apa-apa?"

"Iya, Pak. Hanya sedikit pusing." jawab Eiri lemah.

Pria tua itu mengangguk. Lalu matanya menatap Mahendra cukup lama.

"Lama sekali aku tidak melihat Tuan Mahendra datang ke sini. Sudah... berapa? 10 tahun?"

Eiri menoleh cepat. "Anda mengenal Tuan Mahendra?"

"Tentu, Nona." Pria itu tertawa kecil. "Tuan Mahendra dulu sering datang ke sini. Hampir tiap minggu."

Ucapan itu membuat Mahendra langsung menegang. "Pak..."

Namun pria tua itu hanya tersenyum penuh arti, lalu melanjutkan.

"Dulu beliau sering membeli lolipop rasa stroberi. Selalu dua. Katanya buat dia dan temannya. Gadis kecil yang cerewet."

Eiri tampak heran. Ia menatap Mahendra. "Benarkah, Tuan?"

Mahendra menghela napas pelan. Ia mengalihkan pandangan.

"Hanya kebetulan, Pak. Saya suka rasa stroberi."

Pemilik toko mengangguk, tapi senyumnya tidak hilang. Ia tahu. Dia tahu segalanya.

Setelah membayar beberapa bungkus permen, Mahendra dan Eiri keluar dari toko. Udara luar terasa lebih lega.

Saat mereka hendak masuk ke mobil...

Seorang pria berlari kecil menghampiri dengan seragam kurir.

"Permisi! Apakah Anda Tuan Mahendra Axlarta?"

"Iya."

"Ada paket untuk Anda. Tanpa nama pengirim."

Mahendra menerima sebuah amplop cokelat tebal. Tangannya langsung terasa dingin.

"Aneh..." gumamnya.

Kurir itu segera pergi naik motor.

Mahendra membuka amplop tersebut di kap mobil.

Di dalamnya hanya ada...

Sebuah foto lama. Kertasnya sudah menguning dan pinggirnya sobek.

Foto tiga anak kecil yang sedang tersenyum lebar sambil memegang lolipop warna-warni.

Duduk di ayunan taman.

Wajah mereka sudah mulai pudar karena usia.

Namun...

Mahendra langsung mengenali salah satu anak dalam foto itu. Anak laki-laki dengan lolipop di tangan. Dirinya.

Dan gadis di tengah... dengan dua kuncir.

"Eiri..." bisiknya pelan. Suaranya bergetar.

Eiri yang berdiri di sampingnya ikut melihat foto tersebut.

Entah mengapa... dadanya terasa sesak. Seperti ditusuk.

"Aku..."

"Sepertinya pernah melihat foto ini. Di mana ya..."

Mahendra segera memasukkan foto itu kembali ke dalam amplop. Wajahnya kembali datar.

"Sudah, ayo pulang. Jangan dipikirkan dulu."

Ia tidak ingin memaksa Eiri mengingat terlalu cepat. Tidak setelah apa yang dikatakan dokter.

Di sisi lain kota.

Di dalam mobil tua berwarna hitam.

Seorang pria bertopi hitam duduk sambil menyalakan rokok. Asapnya mengepul.

Ia memperhatikan rumah keluarga Axlarta dari kejauhan lewat teropong.

Di pangkuannya terdapat beberapa dokumen lama dan map biru bertuliskan `KELUARGA ALDRICK`.

"Sudah waktunya..." gumamnya. Suaranya serak.

"Tapi belum sekarang. Belum."

Ia kembali menyimpan dokumen itu dengan hati-hati.

"Kalau mereka mengetahui semuanya terlalu cepat..."

"Nyawa Eiri justru akan berada dalam bahaya. Sama seperti 10 tahun lalu."

Pria itu adalah...

`Rivan Arkendra.`

Seseorang yang selama bertahun-tahun diam-diam mencari ketiga anak keluarga Aldrick.

Dan ia tidak datang untuk menyelamatkan.

Sore hari.

Jam 5.

Mobil Mahendra akhirnya tiba di kediaman keluarga Axlarta.

Baru saja mereka turun...

"Mahendra! Eiri!"

Marchel datang sambil melambaikan tangan dari teras.

"Kalian dari mana? Bulan madu?"

"Keluar sebentar." jawab Mahendra singkat.

Marchel kemudian tersenyum kepada Eiri. Matanya berbinar.

"Eiri. Aku tadi mampir ke toko buku. Membawa beberapa buku resep kue."

"Mungkin bisa membantumu nanti kalau ingin membuka kafe lagi. Kan cita-citamu dulu."

Mata Eiri langsung berbinar. "Benarkah? Terima kasih, Marchel!"

Melihat senyum Eiri yang tulus...

Marchel ikut tersenyum puas. Dadanya hangat.

Namun...

Mahendra hanya memasang wajah datar. Rahangnya mengeras.

"Marchel."

"Hm?"

"Ayo ke ruang kerjaku. Sekarang."

"Wah, wajahmu menyeramkan. Cemburu ya?"

Meski begitu, Marchel tetap mengikuti sahabatnya.

Di ruang kerja.

Mahendra menutup pintu rapat-rapat.

Marchel langsung duduk santai di sofa kulit. "Ada apa sih? Serius amat."

Mahendra meletakkan amplop cokelat di atas meja.

"Kau pernah melihat foto ini?"

Marchel mengambilnya. Begitu melihat isi foto tersebut...

Entah kenapa dadanya berdebar. Kepalanya sedikit pusing.

"Kok... a aneh ya."

Mahendra menatapnya tajam. "Kau mengenalnya?"

Marchel menggeleng. "Tidak."

"Tapi rasanya..."

"Aku seperti pernah berada di tempat itu. Ada tawa anak kecil... dan pohon mangga."

Mahendra terdiam. Ia mulai berpikir.

Apakah foto ini memang berkaitan dengan masa lalu mereka bertiga?

Malam hari. Jam 10.

Eiri duduk sendirian di balkon kamar.

Angin malam meniup rambut panjangnya yang tergerai.

Tangannya memainkan sebuah lolipop rasa stroberi yang baru ia beli.

Ia membuka bungkusnya perlahan. `Kresek.`

Saat rasa manis memenuhi mulutnya...

Senyum kecil muncul di wajahnya. Tulus.

"Kenapa..." bisiknya pada bulan.

"Setiap makan lolipop... hatiku terasa tenang. Seperti... pulang."

Tanpa ia sadari...

Di balik pintu balkon yang sedikit terbuka...

Mahendra memperhatikannya dari dalam. Bersandar di kusen.

Ia tersenyum tipis melihat Eiri.

"Syukurlah... kamu masih menyukainya."

Namun senyuman itu perlahan memudar.

Ia teringat ucapan dokter 3 tahun lalu saat ia pertama kali menemukan Eiri.

`"Jika ingatan Nona Eiri kembali terlalu cepat, trauma masa lalunya juga bisa ikut kembali. Bisa berbahaya untuk mentalnya, Tuan."`

Mahendra mengepalkan tangannya.

"Aku harus melindungimu..."

"Meski kamu belum mengingatku. Meski aku harus jadi orang jahat di matamu."

Sementara itu...

Di atas meja ruang kerja Mahendra...

Amplop cokelat yang tadi diterimanya ternyata masih menyimpan satu benda lagi yang terselip.

Sebuah secarik kertas kecil. Kertasnya lusuh.

Di sana hanya tertulis satu kalimat dengan tulisan tangan yang berantakan.

`"Rahasia keluarga Aldrick akan segera terbuka. Dan darah akan membayar darah."`

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!