Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Topeng Ketenangan
Aula utama yang luas itu mendadak terasa menyempit. Jarak beberapa langkah di antara Kai, Rei, dan Yuki kini terasa seperti jurang maut yang dipenuhi oleh belati tak kasatmata. Lilin-lilin besar di dinding batu berkedip gelisah, melemparkan bayangan tubuh mereka yang meliuk-liuk cacat di atas lantai kayu, seolah ikut menertawakan kehancuran kepercayaan yang baru saja terjadi.
Rei adalah yang pertama menguasai diri. Wanita itu menarik napas perlahan, meluruskan jubah bersisik naganya yang sempat kusut, lalu melangkah satu ayunan ke samping. Ketegangan di wajahnya berganti dengan tatapan dingin seorang politikus yang sadar bahwa negosiasinya telah gagal.
"Jadi, kau sudah tahu," ucap Rei, suaranya kini tidak lagi menyembunyikan ketajaman yang selama ini ia bungkus dengan keanggunan formal. "Sangat disayangkan. Padahal jika kau tetap menjadi pemuda penurut yang bodoh sedikit lebih lama lagi, jalanmu menuju kematian tidak akan seberantakan ini, Kai."
Kai mendengus, seulas senyuman sinis terukir di wajahnya yang pucat. "Kematian yang rapi demi membuka gerbang utama untuk ambisimu, begitu maksudmu, Rei?"
"Itu bukan sekadar ambisiku!" potong Rei dengan nada yang meninggi, matanya berkilat kelabu menatap Kai. "Ini demi masa depan perbatasan! Klanmu sudah melemah, Kai. Kau hanya bertahan karena ketakutan orang-orang pada monster di dalam dadamu. Jika segel itu dibuka dengan darahmu, kita tidak perlu lagi berlutut pada klan selatan ataupun utusan kuil suci!"
Sementara Rei meluapkan amarahnya, Yuki tetap berdiri bergeming di tempatnya. Keheningan siluman rubah itu justru terasa lebih mengerikan. Perlahan, Yuki mengangkat wajahnya. Sepasang matanya yang semula jernih kini telah berubah menjadi manik mata vertikal yang pekat, berkilau dengan warna keemasan yang ganjil di kegelapan.
"Kau kecewa padaku, Kai?" suara Yuki terdengar sangat lirih, namun memiliki gaung magis yang aneh, seolah ada beberapa suara yang berbicara bersamaan di balik bibir tipisnya. "Kau merasa dikhianati karena aku menginginkan nagamu?"
Kai menoleh pada Yuki, dadanya terasa nyeri bukan karena denyutan naga, melainkan karena sisa-sisa rasa percaya yang kini telah hancur menjadi debu. "Kau menghabiskan waktu bertahun-tahun di sisiku, meredam panas ini hanya untuk memastikan 'buahmu' tidak busuk sebelum kau telan. Kau menjijikkan, Yuki."
Yuki melangkah mendekat, mengabaikan peringatan Kai sebelumnya. Setiap langkahnya tidak lagi memedulikan kelembutan seorang pelayan benteng; ia berjalan dengan aura predator yang pekat. "Menjijikkan? Aku adalah makhluk yang hidup dari energi, Kai. Naga Merah di dalam dirimu adalah puncak dari segala keindahan magis di dunia ini. Membiarkannya mati bersamamu di tangan wanita-wanita klan selatan yang licik itu... justru itulah yang menjijikkan bagi seororang kitsune sepertiku."
"Jangan bergerak selangkah lagi, Rubah," gertak Kai. Semburat merah di pupil matanya kini menyebar dengan cepat, membakar seluruh warna hitam di matanya. Hawa panas yang luar biasa pekat mulai menguar dari pori-pori kulitnya, membuat udara di sekitar mereka mendadak kering dan pengap.
Tepat saat situasi berada di ambang ledakan, sebuah tawa renyah yang sarat akan provokasi terdengar dari arah langit-langit aula.
Srek!
Sesosok tubuh melompat turun dari salah satu balok kayu penyangga atap, mendarat dengan posisi berlutut yang sempurna tepat di antara Kai dan kedua wanita itu. Mai bangkit berdiri sambil meregangkan lehernya, belati kecilnya berputar cepat di antara sela jarinya yang lincah.
"Wah, wah, sepertinya rahasia kecil kita sudah bocor sebelum fajar menyingsing," ucap Mai sambil melirik Rei dengan pandangan mengejek. "Sudah kubilang, Rei, taktik halusmu itu membosankan dan mudah dibaca. Sekarang lihat, singa kecil kita sudah berubah menjadi naga yang siap membakar rumahnya sendiri."
Rei mengepalkan tangannya melihat kedatangan Mai yang tidak tepat waktu. "Diam kau, Mai! Ini semua karena provokasimu yang berlebihan di koridor tadi!"
Kai menatap ketiga wanita di hadapannya dengan pandangan yang kosong namun mematikan. Di kepalanya, bisikan Naga Merah tidak lagi berupa rintihan kesakitan, melainkan raungan amarah yang menuntut darah. Mereka semua, Rei dengan taktik politiknya, Yuki dengan ambisi magisnya, dan Mai dengan kelicikan liarnya telah mengepungnya. Dan di luar sana, Hana yang ia anggap sama liciknya mungkin sedang tertawa menunggu kehancurannya.
"Kalian semua..." Kai mengangkat tangan kanannya. Udara di sekeliling jemarinya tampak bergetar dan membias karena gelombang panas yang teramat sangat. "Telah membuat kesalahan besar karena mengira bisa mengatur akhir dari cerita ini."