Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Bagas yang Tidak berarti Lagi
Bagas menoleh perlahan. Wajahnya yang biasanya penuh dengan ketenangan yang angkuh kini tampak kacau. "Ibu, ini bukan lagi tentang siapa yang berkuasa," sahut Bagas datar. "Dia sudah pergi, Bu. Alara sudah tidak ada di sini untuk diperintah."
"Wanita itu hanya sedang melarikan diri, Bagas!" potong Wendah dengan nada meremehkan.
"Alara tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Tanpa uangmu, tanpa fasilitas dari rumah ini, dia akan kembali merangkak dalam hitungan hari. Kamu tahu betul seberapa besar ketergantungannya padamu selama ini."
Bagas terdiam. Kata-kata ibunya yang dulu selalu ia anggap sebagai kebenaran mutlak, kini terdengar seperti ocehan orang asing yang sama sekali tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bagas tidak bisa lagi melihat Alara sebagai wanita yang lemah dan bergantung.
Bayangan Alara saat menandatangani dokumen itu dengan tatapan mata yang begitu dingin dan tegas, terus menghantuinya. Ada sebuah transformasi yang tidak sempat Bagas saksikan dari proses di mana Alara perlahan-lahan melepaskan ketergantungan itu, satu demi satu, hingga tidak ada lagi yang tersisa untuk ditarik kembali.
---
Sementara itu, di sebuah kedai kopi kecil di pinggiran kota, Alara duduk berhadapan dengan pengacara yang sama, menyelesaikan detail terakhir terkait prosedur perceraian. Alara tidak membawa banyak barang; hanya sebuah tas punggung kecil yang berisi dokumen-dokumen penting dan sedikit pakaian. Ia tidak mengambil perhiasan pemberian Bagas, tidak pula mengambil tabungan yang memang ia kumpulkan dari sisa-sisa gajinya sebelum menikah.
"Semuanya sudah beres, Ibu Alara. Minggu depan kita akan menjalani mediasi pertama," ucap Bu Sarah dengan nada lembut.
Alara mengangguk. "Terima kasih, Bu. Saya hanya ingin semuanya berjalan dengan cepat. Saya tidak mengharapkan pembagian harta. Saya hanya ingin memutus hubungan hukum ini sesegera mungkin."
Bu Sarah menatap Alara dengan penuh rasa penasaran. "Banyak orang yang bertaruh untuk mendapatkan segalanya dalam sebuah perceraian, terutama setelah belasan tahun menikah. Apakah Anda yakin tidak ingin menuntut hak-hak Anda?"
Alara tersenyum tipis. "Kebebasan saya jauh lebih mahal daripada harta apa pun yang ada di rumah itu, Bu. Jika saya menerima harta mereka, itu sama saja dengan membiarkan mereka membeli sisa harga diri saya. Saya lebih memilih memulai dari nol dengan tangan yang bersih."
Percakapan itu berakhir dengan kesepakatan bahwa Alara tidak akan berkomunikasi dengan pihak Bagas sama sekali. Segala bentuk negosiasi akan diserahkan kepada tim pengacara. Bagi Alara, menutup jalur komunikasi adalah kunci untuk menjaga kewarasannya agar tidak goyah. Ia tahu, jika Bagas menelepon, jika Bagas meminta maaf dengan nada memelas yang khas, ia mungkin akan goyah. Ia mengenali kelemahan hatinya sendiri, dan itulah sebabnya ia membentengi diri dengan batas yang sangat ketat.
---
Malam harinya, di rumah keluarga Bagas, suasana benar-benar mencekam. Bagas duduk di meja makan, menatap kursi kosong yang biasanya ditempati Alara. Nindy mencoba duduk di sana, berusaha mengisi kekosongan, namun kehadirannya justru membuat Bagas merasa jijik.
"Mas, kamu belum menyentuh makanannya sama sekali loh," suara Nindy terdengar sangat hati-hati, berusaha mengambil simpati. "Kamu harus menjaga kesehatanmu. Masalah ini pasti akan segera selesai, aku yakin dia akan kembali."
Bagas menatap Nindy lekat-lekat. Kali ini ia melihat wanita di depannya ini bukan sebagai malaikat penolong, melainkan sebagai sumber dari segala keretakan yang terjadi. "Kenapa kamu begitu yakin dia akan kembali, Nindy?"
"Karena ... karena dia mencintaimu," jawab Nindy, meski suaranya sedikit ragu.
Bagas tertawa sinis. Tawa itu kering, tanpa ada nada humor di dalamnya. "Cinta? Apakah kamu pikir cinta bisa bertahan setelah ribuan kali dikhianati? Apakah kamu pikir cinta bisa bertahan di bawah atap yang penuh dengan hinaan? Aku mulai sadar, kita tidak mencintainya. Kita hanya memanfaatkannya. Kita menganggapnya sebagai pelayan yang harus berterima kasih karena telah kita beri tempat tinggal."
Nindy tertegun, wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. "Mas! Kenapa kamu bicara begitu? Bukankah ini yang kamu inginkan? Bukankah kamu yang membiarkan semuanya terjadi?"
Bagas terdiam. Itu adalah tamparan kenyataan yang paling telak. Ya, dialah yang membiarkan semuanya terjadi. Dialah yang diam saat ibunya mencaci Alara, dialah yang diam saat Nindy mempermainkan perasaan istrinya. Diamnya Bagas selama ini bukanlah bentuk netralitas, melainkan bentuk pengkhianatan yang paling kejam.
---
Keesokan harinya, berita tentang gugatan cerai tersebut mulai menyebar ke keluarga besar. Telepon rumah tidak berhenti berdering. Setiap kerabat menelepon untuk menanyakan kebenaran rumor tersebut. Beberapa di antaranya merasa iba pada Alara, namun lebih banyak yang menyalahkan Alara karena dianggap "tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangga."
Bagas harus menghadapi rentetan pertanyaan dari para kolega dan saudara. Setiap orang menuntut jawaban, setiap orang bertanya mengapa ia membiarkan istrinya pergi. Bagas yang biasanya pandai berargumen, kini mendadak bisu. Ia tidak punya jawaban yang masuk akal. Bagaimana mungkin ia menjelaskan pada dunia bahwa istrinya pergi bukan karena orang ketiga, bukan karena ekonomi, melainkan karena ia telah mematikan harapan wanita itu hingga titik nadir?
Di tengah kemelut itu, Bagas memutuskan untuk mendatangi kantor hukum tempat Alara mendaftarkan gugatannya. Ia berharap bisa bertemu dengan Alara, berharap bisa berbicara empat mata, sekali saja.
Namun, setibanya di sana, ia justru dihadang oleh Bu Sarah, pengacara Alara.
"Bapak Bagas, saya rasa Anda tidak memiliki hak untuk menemui klien saya tanpa prosedur yang resmi," ucap Bu Sarah dengan nada dingin yang profesional.
"Saya hanya ingin bicara! Saya suaminya!" sahut Bagas dengan suara yang hampir putus asa.
"Anda adalah suami yang statusnya sedang dalam proses perpisahan. Klien saya tidak ingin ditemui. Jika Anda memaksa, kami tidak akan segan-segan mengajukan tuntutan atas gangguan atau intimidasi," balas Bu Sarah dengan tatapan yang tidak memberi ruang bagi negosiasi.
Bagas terpaku di lobi kantor itu. Ia melihat ke sekeliling, mencari sosok Alara, namun wanita itu tidak ada di sana. Ia merasa seolah-olah dunia sedang berkomplot untuk memisahkannya dari wanita yang baru saja ia sadari begitu berharga.
Saat ia keluar dari gedung, hujan deras turun tiba-tiba, seolah menertawakan penderitaannya. Bagas berdiri di bawah atap gedung, memandang jalanan yang basah. Ia teringat masa lalu, masa di mana Alara selalu ada di sana, menunggunya dengan payung jika hujan turun saat mereka berjanji bertemu. Alara selalu memikirkannya, selalu mengutamakannya. Dan kini, di tengah hujan yang sama, ia benar-benar sendirian.
Ia meraih ponselnya, mengetik pesan panjang lebar, sebuah permohonan maaf, janji untuk berubah, janji untuk memperbaiki segalanya. Namun, sebelum ia menekan tombol kirim, ia melihat pesan otomatis dari sistem.
'Pesan ini tidak dapat dikirim karena Anda telah diblokir.'
Bagas mematung. Kebenaran itu terasa lebih dingin daripada air hujan yang mengguyur tubuhnya. Alara telah menutup setiap pintu, setiap jendela, setiap celah komunikasi. Alara telah benar-benar menutup buku tentang mereka, dan kini Bagas harus hidup dengan sisa-sisa dari lembaran yang telah robek.
Ia tidak tahu harus ke mana lagi. Pulang ke rumah berarti menghadapi ibunya yang menuntut kemenangan dan Nindy yang menuntut kepastian. Sementara hatinya sendiri tidak lagi memiliki tujuan. Bagas akhirnya merasakan arti dari kehilangan yang sesungguhnya. Itu bukan tentang harta yang lenyap atau jabatan yang hilang melainkan tentang menyadari bahwa ia telah membiarkan orang yang paling mencintainya pergi, dan tidak ada lagi jalan untuk memutar waktu kembali.
Di tengah hujan yang semakin deras, Bagas hanya bisa berdiri diam. Ia teringat kata-kata terakhir yang pernah diucapkan Alara padanya sebelum wanita itu pergi.
"Aku sudah lelah, Bagas. Jangan cari aku, karena aku pun sedang belajar untuk melupakan bahwa kamu pernah ada di hidupku."
Dulu, Bagas menganggap kata-kata itu sebagai ancaman kosong. Sekarang, ia sadar bahwa itu adalah sebuah vonis. Dan vonis itu tidak bisa lagi ia bandingkan ke pengadilan mana pun di dunia ini.
Penderitaan baru saja dimulai, dan Bagas harus belajar hidup di dalamnya. Sementara itu, di suatu tempat di luar sana, Alara memulai hari yang baru dengan napas yang lebih ringan, memandang masa depan yang mungkin penuh tantangan, namun setidaknya, masa depan itu adalah miliknya sendiri, bukan lagi milik keluarga Bagas yang penuh dengan racun dan kepalsuan.
Setiap detik yang berlalu tanpa kehadiran Alara di sisinya, Bagas perlahan mengerti satu hal bahwa kehilangan seseorang yang baik adalah kerugian yang tidak akan pernah bisa dihitung nilainya. Ia telah memenangkan segalanya dalam hal bisnis dan kedudukan, namun ia telah kalah telak dalam hal yang paling mendasar sebagai seorang manusia: menjaga kepercayaan dan kasih sayang. Kini, yang tersisa hanyalah bayangan Alara yang terus menghantuinya di setiap sudut rumah yang luas dan kosong itu.
Bagas masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, namun ia tidak tahu arah mana yang harus ia tuju. Rumah bukan lagi tempatnya pulang, dan di mana pun ia berada, kehampaan itu akan tetap mengikutinya. Gugatan cerai itu bukan hanya memutus ikatan hukum mereka, tapi juga memutus identitas Bagas yang selama ini merasa tidak terkalahkan. Ia kini hanyalah pria yang kalah, pria yang ditinggalkan, dan pria yang harus menghadapi sisa hidupnya dengan membawa penyesalan yang tidak akan pernah memiliki obat.
Di sisi lain, Alara melangkah dengan pasti menyusuri trotoar, tidak menoleh ke belakang, tidak mempedulikan masa lalu. Ia telah melepaskan segalanya, dan dalam pelepasan itu, ia menemukan dirinya kembali. Untuk pertama kalinya, ia melihat langit bukan lagi sebagai atap yang menekan, melainkan sebagai ruang luas yang menunggunya untuk terbang bebas. Perjalanan ini masih panjang, tapi ia sudah tidak lagi takut. Karena yang terburuk sudah ia lalui, dan kini, ia siap untuk melangkah tanpa lagi dibayangi oleh pria yang tidak pernah menghargai kehadirannya.
Dan begitulah, babak baru dalam hidup Alara dimulai. Sebuah babak yang tidak tertulis di dalam buku kehidupan keluarga Bagas, melainkan babak yang ia tulis sendiri dengan tinta keberanian dan keteguhan hati. Ia telah memilih pergi, dan dalam kepergian itu, ia menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Ia bukan lagi Alara yang pasrah, ia adalah Alara yang merdeka. Dan itu adalah harga yang jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa diberikan oleh dunia ini.
Bersambung
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘