NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: VeLynme

Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.

Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.

Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.

Melainkan kesepakatan.

Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.

Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.

Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.

Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?

Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengantin yang Tidak Menginginkan Pernikahan Ini

Hujan turun deras ketika Aruna berdiri di depan ruang administrasi rumah sakit.

Tangannya gemetar memegang selembar kertas yang baru saja diberikan petugas.

Tagihan biaya perawatan ayahnya.

Matanya terpaku pada angka yang tercetak di bagian bawah.

Delapan ratus juta rupiah.

Napasnya tercekat.

Selama dua puluh empat tahun hidup, ia belum pernah melihat angka sebesar itu menjadi tanggung jawabnya.

"Maaf, Bu Aruna," kata petugas administrasi dengan nada hati-hati. "Jika pembayaran tidak segera dilakukan, beberapa tindakan medis lanjutan untuk pasien terpaksa ditunda."

Aruna hanya mampu mengangguk.

Kakinya terasa lemas.

Begitu keluar dari ruangan, ia langsung bersandar pada dinding koridor.

Kepalanya berdenyut.

Ayahnya masih terbaring lemah di ruang perawatan jantung.

Sudah dua bulan terakhir kondisi pria itu terus menurun.

Semua tabungan keluarga habis.

Motor satu-satunya sudah dijual.

Perhiasan peninggalan ibunya sudah lama tergadai.

Bahkan rumah yang mereka tinggali sejak kecil kini terancam disita bank.

Aruna menutup mata.

Ia berusaha berpikir.

Mencari jalan keluar.

Namun semakin dipikirkan, semakin ia merasa terjebak.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Nama yang muncul membuatnya mengernyit.

Pak Surya.

Mantan rekan bisnis ayahnya.

Dengan cepat Aruna mengangkat telepon.

"Selamat sore, Pak."

"Aruna, kamu sedang di rumah sakit?"

"Iya, Pak."

"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."

Aruna mengerutkan dahi.

"Siapa?"

"Kamu datang saja ke Hotel Grand Palace sekarang."

"Sekarang?"

"Ini menyangkut utang ayahmu."

Jantung Aruna langsung berdebar.

"Ada apa sebenarnya, Pak?"

"Nanti kamu akan tahu."

Sambungan telepon terputus.

Aruna menatap layar ponselnya beberapa saat.

Perasaan tidak nyaman mulai muncul.

Namun jika memang ada hubungannya dengan masalah keluarganya, ia tidak bisa mengabaikannya.

Satu jam kemudian, Aruna tiba di Hotel Grand Palace.

Ia langsung merasa canggung.

Lobi hotel itu terlihat begitu mewah.

Lampu kristal besar menggantung di langit-langit.

Orang-orang berlalu lalang dengan pakaian mahal.

Sedangkan dirinya hanya mengenakan kemeja putih sederhana dan celana bahan yang sudah mulai kusam.

Seorang pelayan mengantarnya menuju ruang VIP restoran.

Ketika pintu dibuka, langkah Aruna langsung terhenti.

Matanya membelalak.

Pria yang duduk di dalam ruangan itu sangat dikenalnya.

Adrian Mahesa.

CEO muda Mahesa Group.

Pewaris salah satu kerajaan bisnis terbesar di Indonesia.

Wajahnya sering muncul di televisi dan majalah bisnis.

Pria yang terkenal dingin.

Sulit didekati.

Dan sangat berkuasa.

Pak Surya segera berdiri.

"Silakan duduk, Aruna."

Namun Aruna tidak bergerak.

Tatapannya tetap tertuju pada Adrian.

"Apa maksud semua ini?"

Adrian mengangkat pandangan.

Tatapan tajamnya langsung bertemu dengan mata Aruna.

Untuk beberapa detik, suasana menjadi sunyi.

"Aku ingin berbicara denganmu," ujar Adrian tenang.

"Aku tidak punya urusan dengan Anda."

"Aku rasa kau punya."

Aruna mengepalkan tangan.

Entah mengapa, nada bicara pria itu membuatnya kesal.

Seolah semua orang harus mengikuti keinginannya.

"Aku sedang tidak punya waktu."

Adrian tetap terlihat santai.

"Lima tahun lalu perusahaan ayahmu bangkrut."

Aruna membeku.

"Aku tahu."

"Sejak saat itu keluargamu hidup dalam utang."

"Aku juga tahu."

"Dan rumah kalian akan disita minggu depan."

Wajah Aruna langsung berubah.

Bagaimana pria ini bisa mengetahui semua itu?

"Apa Anda menyelidiki keluarga saya?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku hanya memiliki informasi."

Aruna semakin tidak menyukai percakapan ini.

Ia merasa sedang dibaca seperti buku terbuka.

"Apa tujuan Anda memanggil saya ke sini?"

Adrian melipat kedua tangannya.

"Aku ingin membuat kesepakatan."

"Aku tidak tertarik."

"Kau bahkan belum mendengarnya."

"Aku tidak peduli."

Pak Surya terlihat gugup.

Sebaliknya, Adrian justru tersenyum tipis.

Namun senyum itu tidak membuatnya terlihat ramah.

Malah membuat Aruna semakin waspada.

"Aku akan melunasi seluruh utang keluargamu."

Aruna terdiam.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Aku juga akan membayar semua biaya rumah sakit ayahmu."

Tangannya perlahan menegang.

Adrian melanjutkan.

"Dan aku akan memastikan rumah keluargamu tidak jadi disita."

Ruangan terasa sunyi.

Untuk sesaat Aruna bahkan tidak yakin dirinya mendengar dengan benar.

Tidak mungkin ada orang yang menawarkan bantuan sebesar itu tanpa alasan.

"Sebagai gantinya apa?" tanyanya akhirnya.

Tatapan Adrian berubah serius.

Sangat serius.

"Menikahlah denganku."

Aruna membeku.

Ia menatap pria itu tanpa berkedip.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Lalu Aruna tertawa pendek karena mengira dirinya salah dengar.

"Apa?"

"Aku ingin kau menjadi istriku."

"Kau bercanda?"

"Tidak."

"Kita bahkan tidak saling mengenal."

"Aku mengenalmu."

Jawaban itu membuat Aruna semakin bingung.

"Aku tidak mengenal Anda."

"Itu tidak masalah."

Aruna mulai kehilangan kesabaran.

"Ini gila."

"Mungkin."

"Kenapa saya?"

Untuk pertama kalinya Adrian terlihat berpikir sebelum menjawab.

"Aku membutuhkan seorang istri."

"Itu alasan paling tidak masuk akal yang pernah kudengar."

Meski begitu, Adrian tidak terlihat tersinggung.

Sebaliknya, ia tetap tenang.

Sangat tenang.

Seolah semua reaksi Aruna sudah diperkirakan sejak awal.

"Aku tidak akan menikah dengan orang asing."

"Baik."

Aruna berkedip.

"Hanya itu?"

"Aku tidak akan memaksamu."

Mendengar itu, Aruna langsung berdiri.

"Kalau begitu pembicaraan kita selesai."

Namun saat ia hendak pergi, suara Adrian kembali menghentikannya.

"Sebelum pergi, lihat ini."

Pria itu membuka sebuah map hitam.

Lalu mendorong beberapa dokumen ke arahnya.

Aruna mengambilnya.

Wajahnya langsung pucat.

Itu adalah surat pemberitahuan penyitaan rumah keluarganya.

Lengkap dengan cap resmi bank.

Ia membuka dokumen berikutnya.

Hasil pemeriksaan terbaru ayahnya.

Di bagian bawah terdapat rekomendasi tindakan operasi lanjutan.

Biaya yang dibutuhkan jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Tangannya mulai gemetar.

Adrian memperhatikannya tanpa ekspresi.

"Keluargamu hanya memiliki waktu enam hari."

Aruna menggigit bibir.

"Kau sedang mengancamku?"

"Tidak."

"Lalu apa ini?"

"Aku memberimu pilihan."

Pilihan?

Bagaimana mungkin ini disebut pilihan?

Di satu sisi ada harga dirinya.

Di sisi lain ada keselamatan ayahnya.

Aruna merasa dadanya sesak.

Sangat sesak.

Ia membenci situasi ini.

Membenci kenyataan bahwa dirinya tidak memiliki jalan keluar.

Adrian berdiri dari kursinya.

Pria itu berjalan perlahan mendekatinya.

Lalu berhenti tepat di hadapannya.

"Aku memberimu waktu sampai besok malam."

Aruna menatapnya.

"Jika aku menolak?"

"Keputusan tetap ada di tanganmu."

Jawaban itu justru terasa lebih menekan.

Karena mereka berdua tahu konsekuensinya.

Adrian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Aku akan menunggu jawabanmu."

Lalu ia berbalik pergi.

Namun sebelum meninggalkan ruangan, pria itu kembali menoleh.

Tatapannya kali ini berbeda.

Lebih dalam.

Lebih sulit dibaca.

"Percaya atau tidak, Aruna..."

Jantung Aruna berdetak semakin cepat.

"...aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun."

Setelah mengatakan itu, Adrian benar-benar pergi.

Meninggalkan Aruna yang berdiri mematung.

Kepalanya dipenuhi ribuan pertanyaan.

Apa maksud semua ini?

Mengapa pria seperti Adrian ingin menikahinya?

Dan mengapa pria itu mengatakan telah menunggunya selama bertahun-tahun?

 

Di dalam mobil mewah yang melaju meninggalkan hotel, Adrian duduk sendirian di kursi belakang.

Wajahnya tetap datar.

Namun ketika tidak ada seorang pun yang melihat, ia mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam dari sakunya.

Perlahan ia membuka dompet itu.

Di dalamnya tersimpan sebuah foto lama yang sudah mulai kusam.

Foto seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun.

Gadis itu tersenyum cerah di bawah hujan.

Gadis itu adalah Aruna.

Jari Adrian menyentuh foto tersebut selama beberapa detik.

Lalu ia membaliknya.

Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan yang mulai memudar karena usia.

Tulisan seseorang yang sudah lama meninggal.

"Tolong lindungi putriku jika suatu hari aku tidak ada."

Tatapan Adrian mengeras.

Rahangnya menegang.

Karena ia tahu satu hal yang tidak diketahui Aruna.

Kematian ibu gadis itu bukanlah kecelakaan.

Dan orang-orang yang bertanggung jawab masih hidup hingga hari ini.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!