Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Pagi tanggal enam belas Juli, Kiana memakai setelan yang dikirim Mama dari Vila Lim.
Blazer putih gading itu tidak terlalu mencolok, tetapi potongannya jatuh tegas di bahu. Di bagian dalam, Kiana mengenakan blouse sutra warna biru pucat. Mama tidak menulis pesan panjang bersama pakaian itu, hanya satu kartu kecil.
Kia, berdirilah seperti cucu Engkong.
Kiana membaca kartu itu sekali sebelum memasukkannya ke tas kerja hitam.
Di dalam tas itu ada akta perkawinan legalisir, salinan wasiat Mendiang Engkong Lim, flashdisk demo Langit AI, laporan Navara Tech, dan matriks Cakrawala AI yang sudah diringkas Fang. Setiap dokumen punya tempat sendiri. Setiap tempat punya fungsi.
Di lobi Bintang Grup, beberapa karyawan yang mengenalinya menunduk sopan, tetapi bisik-bisik muncul begitu ia melewati pintu kaca.
"Bu Kiana datang?"
"Bukannya rapat hari ini tertutup?"
"Katanya Pak Hendro mau angkat Vanya..."
Kiana berjalan tanpa memperlambat langkah.
Vani menunggunya di depan lift khusus eksekutif, mengenakan blazer hitam dan membawa map hukum tipis. Begitu melihat Kiana, ia mengamati dari kepala sampai kaki, lalu mengangkat ibu jari.
"Mama lo punya selera perang yang elegan."
Kiana hampir tersenyum. "Jangan bikin aku ketawa sebelum masuk."
"Nggak. Lo harus masuk dengan wajah mahal dan dingin."
"Wajahku sekarang apa?"
"Mahal, tapi kurang tidur."
Lift berdenting.
Di dalam lift, Vani menurunkan suara. "Dokumen asli?"
"Di tas."
"Salinan?"
"Tiga set."
"Kalau mereka minta verifikasi?"
"Nomor registrasi Catatan Sipil sudah siap."
Vani mengangguk. "Bagus. Ingat, lo bukan datang minta izin. Lo datang mengaktifkan hak."
Kalimat itu menempel di dada Kiana sampai pintu lift terbuka di lantai rapat.
Ruang RUPS Bintang Grup berada di ujung koridor, dikelilingi kaca buram dan panel kayu gelap. Di dalam, meja oval panjang sudah penuh setengah. Beberapa komisaris senior duduk dengan wajah berat, seolah udara pagi telah berubah menjadi perkara warisan. Kepala legal perusahaan berdiri di sisi layar proyektor, sibuk menata dokumen agenda.
Di kursi utama, Hendro Lim menoleh saat pintu terbuka.
Wajahnya langsung mengeras.
Di sebelah kirinya duduk Vanya Pai, mengenakan dress pastel dan blazer tipis, wajahnya dibuat lembut seperti seseorang yang tidak tahu mengapa ia berada di tengah badai. Di depan kursinya, papan nama sementara bertuliskan Kandidat VP Teknologi.
Kiana melihat tulisan itu.
Lalu ia melihat Papa.
"Kiana." Suara Hendro rendah, tetapi cukup tajam untuk membuat beberapa orang berhenti berbicara. "Kamu datang untuk apa?"
Vani berdiri sedikit di belakang Kiana, tidak bicara, tetapi kehadirannya seperti garis hukum yang tidak terlihat.
Kiana melangkah masuk. "Saya pemegang hak waris keluarga Lim. Saya berhak hadir saat agenda menyentuh struktur pengendalian Bintang Grup."
Hendro menatap tas kerja di tangannya. "Rapat ini untuk komisaris dan pemegang hak suara aktif."
"Maka saya datang tepat waktu."
Bisik-bisik kecil muncul di sisi meja.
Vanya mengangkat wajah. "Kiana, mungkin Papa hanya khawatir kamu terlalu lelah. Rapat hari ini banyak membahas teknis. Kalau kamu mau, aku bisa jelaskan hasilnya nanti."
Kiana menoleh padanya.
"Tidak perlu. Aku lebih suka mendengar langsung saat namaku disingkirkan."
Wajah Vanya memucat sedikit, tetapi ia segera menunduk, seolah Kiana baru saja melukainya di depan banyak orang.
Hendro mengetuk meja dengan buku jarinya. "Cukup. Karena kamu sudah masuk, duduk dan jangan mengganggu agenda."
Kiana duduk di sisi kanan, bukan di ujung. Vani duduk di kursi pendamping hukum di belakangnya.
Rapat dimulai.
Kepala legal membaca agenda pertama dengan suara formal: pengesahan laporan kinerja kuartal, pembaruan proyek Cakrawala AI, dan penunjukan pejabat baru untuk memimpin transformasi teknologi Bintang Grup.
Hendro berdiri setelah agenda dibacakan.
"Bintang Grup sedang berada di titik penting," katanya. "Cakrawala AI adalah proyek strategis. Kita membutuhkan pemimpin muda dengan latar belakang internasional, jaringan akademik global, dan kemampuan komunikasi yang bisa membawa Bintang ke tingkat berikutnya."
Beberapa orang menatap Vanya.
Vanya menunduk manis.
"Saya mengusulkan Vanya Pai sebagai Vice President Teknologi Bintang Grup, bertanggung jawab langsung atas pengembangan Cakrawala AI dan integrasi teknologi anak perusahaan."
Ruangan tidak langsung menyambut.
Om Song, salah satu komisaris senior yang sudah mengikuti Engkong sejak masa awal Bintang, mengangkat tangan. Rambutnya memutih, tetapi suaranya masih mantap.
"Hendro," katanya, tidak memakai Pak, seperti orang yang pernah melihat Hendro datang ke keluarga Lim tanpa apa-apa. "Sebelum kita bicara Vanya, saya ingin bertanya tentang Kiana."
Hendro mengerutkan alis. "Kiana sudah ditempatkan di Navara Tech."
"Saya bukan bertanya posisinya. Saya bertanya haknya." Om Song menoleh pada beberapa komisaris lain. "Mendiang Engkong Lim meninggalkan klausul khusus. Anak garis langsung keluarga Lim, jika sudah memenuhi syarat, berhak mengaktifkan empat puluh persen saham dengan hak suara. Kita semua tahu klausul itu."
Udara di ruangan berubah.
Hendro tersenyum tipis. "Om Song, saya menghormati Anda. Tapi klausul itu jelas punya syarat. Kiana belum menikah. Dia belum memenuhi ketentuan keluarga."
Kiana meletakkan tangan di atas tas kerja.
Jantungnya berdetak keras, tetapi wajahnya tetap tenang.
Hendro melanjutkan, "Karena itu, membahas hak suara empat puluh persen hari ini tidak relevan. Kita fokus pada agenda yang nyata."
"Apakah Anda sudah memastikan status Kiana?" tanya Om Song.
"Saya ayahnya."
"Itu bukan jawaban hukum."
Beberapa komisaris saling pandang.
Hendro menahan marah. "Sebagai ayahnya, saya tahu dia belum menikah."
Kiana berdiri.
Kursinya bergeser sedikit di lantai, suaranya kecil tetapi cukup untuk membuat semua kepala menoleh.
Ia membuka tas kerja hitam.
Klik kunci yang kemarin malam terdengar di apartemennya kini terdengar lagi di ruang rapat Bintang Grup.
Kiana mengeluarkan map bening, lalu meletakkan satu lembar akta perkawinan legalisir di atas meja.
Tidak cepat.
Tidak ragu.
Ia membiarkan semua orang melihat lambang Catatan Sipil, nomor registrasi, nama Kiana Lim, dan nama Hans Kei.
Baru setelah itu ia mengangkat wajah pada Hendro.
"Papa," katanya tenang, "saya sudah menikah."
Untuk beberapa detik, tidak ada suara sama sekali.
Bukan hening biasa.
Ini hening yang jatuh setelah seseorang memecahkan kaca besar di tengah ruangan.
Seorang komisaris senior yang sejak tadi sibuk membolak-balik agenda berhenti total. Kepala legal perusahaan menahan pena di udara. Bahkan staf notulen di sudut ruangan lupa mengetik, kursor di layar kecilnya berkedip sendiri seperti jantung yang terlambat memahami kabar.
Mata Hendro turun ke dokumen itu.
Lalu naik ke wajah Kiana.
"Apa ini?"
"Akta perkawinan saya."
"Kapan?"
"Sembilan belas Mei."
"Dengan siapa?"
Kiana menatapnya tanpa berkedip. "Hans Kei."
Vanya mengangkat kepala terlalu cepat.
Nama itu mungkin tidak berarti banyak bagi komisaris senior, tetapi Vanya pernah melihat pria itu. Pemadam kebakaran yang berdiri di sisi Kiana. Pria yang membuat Jovian kehilangan kendali di pesta. Pria yang wajahnya terlalu mirip Erlan Kei.
Wajah Vanya kehilangan warna.
Hendro berdiri sampai kursinya terdorong ke belakang. "Kamu menikah tanpa memberi tahu Papa?"
"Saya menikah secara sah di Catatan Sipil."
"Aku bertanya kenapa kamu tidak memberi tahu keluarga!"
"Karena saat saya meminta hak saya, Papa selalu memakai keluarga untuk menunda."
"Kiana!"
Suara Hendro menghantam meja.
Kepala legal perusahaan bergerak gelisah, tetapi Vani sudah berdiri setengah dari kursinya.
"Pak Hendro," kata Vani, suaranya formal dan dingin, "mohon jaga forum. Status perkawinan sah tidak memerlukan izin ayah jika para pihak dewasa dan memenuhi syarat hukum."
Hendro menoleh tajam. "Ini urusan keluarga Lim."
"Ini RUPS Bintang Grup," balas Vani. "Dan dokumen di meja adalah dokumen hukum."
Kiana tidak duduk.
Ia mengambil salinan wasiat Engkong dan membuka halaman yang sudah diberi penanda.
"Saya akan membaca klausul yang relevan," katanya.
Hendro hendak memotong, tetapi Om Song mengangkat tangan. "Biarkan dia membaca."
Kiana menatap halaman itu.
"Berdasarkan Akta Wasiat Mendiang Engkong Lim, ahli waris garis langsung keluarga Lim yang telah berusia dua puluh lima tahun dan telah mencatatkan perkawinan yang sah menurut hukum Republik Indonesia berhak mengajukan aktivasi empat puluh persen saham dengan hak suara Bintang Group. Aktivasi dilakukan melalui verifikasi dokumen perkawinan, berita acara RUPS, dan pencatatan notaris yang ditunjuk keluarga."
Ia menutup dokumen.
"Saya sudah memenuhi syarat usia. Saya sudah memenuhi syarat perkawinan. Hari ini saya mengajukan aktivasi hak suara tersebut."
Ruangan meledak dalam bisik-bisik tertahan.
"Empat puluh persen..."
"Kalau aktif, komposisi berubah."
"Akta itu asli?"
"Nomor registrasinya ada."
Hendro menatap Kiana seperti baru melihat orang asing duduk di tubuh anaknya.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan?"
"Saya tahu."
"Menikah dengan pemadam kebakaran untuk merebut saham keluarga? Kamu pikir ini permainan?"
Kiana merasakan darah naik ke wajah, tetapi bukan karena malu.
Karena marah.
Namun ia teringat sticky note Hans di buku catatannya.
Makan dulu. Langit belum runtuh.
Ia menarik napas.
"Profesi suami saya tidak menghapus sahnya akta perkawinan. Dan hak waris saya tidak berubah hanya karena Papa tidak menyukai pilihan saya."
"Dia tidak pantas masuk keluarga Lim."
"Yang sedang dibahas bukan apakah Papa menyukainya. Yang dibahas adalah apakah saya memenuhi klausul Engkong."
Om Song mengambil akta itu, memeriksanya dengan kacamata baca. Ia menyerahkannya pada kepala legal.
"Periksa nomor registrasi," katanya.
Kepala legal menerima dokumen itu dengan kedua tangan. "Baik."
Hendro menahan napas seolah kata itu penghinaan.
Beberapa menit berikutnya terasa panjang. Kepala legal mengetik nomor registrasi ke laptop, memeriksa salinan legalisir, lalu membandingkan dengan data yang dibawa Vani.
Kiana berdiri diam.
Vanya duduk dengan tangan di pangkuan. Jari-jarinya saling meremas. Senyum lembutnya sudah retak, tetapi ia masih mencoba menutupinya dengan mata berkaca-kaca.
Akhirnya kepala legal mengangkat wajah.
"Dokumen ini memenuhi bentuk legalisir. Nomor registrasi tercatat. Untuk aktivasi hak suara, proses notaris tetap harus dilakukan, tetapi secara administratif, syarat perkawinan dapat dianggap terpenuhi untuk membuka prosedur."
Om Song menaruh telapak tangan di meja. "Kalau begitu saya mendukung dimulainya prosedur notaris."
Seorang komisaris lain mengangguk pelan. "Saya juga. Kita tidak bisa mengabaikan klausul Engkong."
"Setidaknya harus masuk berita acara," kata yang lain.
Kiana duduk kembali perlahan.
Di dalam dadanya, ada sesuatu yang panas dan diam.
Ini belum kemenangan penuh.
Tapi ini pertama kalinya pintu yang ditahan Papa terbuka di depan semua orang.
Hendro menatap para komisaris satu per satu. Wajahnya tetap kaku, tetapi urat di lehernya muncul. "Baik. Jika semua ingin bermain prosedur, kita akan ikuti prosedur."
Kiana tahu nada itu.
Itu bukan menyerah.
Itu ancaman yang dibungkus rapat.
Di seberang meja, Vanya menunduk. Di bawah permukaan meja, ponselnya menyala tanpa suara.
Jari-jarinya bergerak cepat.
Kiana melihat kilatan layar, tetapi tidak melihat nama penerima.
Beberapa detik kemudian, Vanya menekan tombol kirim.