Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
[ Di Antara Peluru ]
Hujan turun sejak sore. Rhea menutup tokonya lebih awal karena jalanan mulai sepi. Saat hendak mengunci pintu, sebuah mobil hitam berhenti di depan toko.
Kaca mobil perlahan terbuka.
"Sudah tutup?" tanya Vincent.
Rhea tersenyum kecil. "Hari ini hujan deras."
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu. Apartemenku dekat."
Vincent menatap langit yang semakin gelap.
"Sudah kubilang... jangan terlalu sering pulang sendirian."
Rhea akhirnya mengangguk. "Baik."
Mobil melaju membelah hujan. Di dalamnya hanya terdengar suara rintik air yang menghantam kaca.
"Apa kau takut hujan?" tanya Vincent tiba-tiba.
Rhea menggeleng.
"Aku suka hujan."
"Kenapa?"
"Karena hujan bisa menyembunyikan air mata."
Vincent menoleh sebentar. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi seolah menyimpan luka yang dalam.
"Aku justru membenci hujan."
"Kenapa?"
"Karena setiap kali hujan turun..."
"...selalu ada seseorang yang pergi."
Rhea ingin bertanya lebih jauh, tetapi memilih mengurungkan niatnya.
Mobil berhenti di lampu merah.
Tiba-tiba...
DOR!
Suara tembakan memecahkan keheningan.
Kaca belakang mobil langsung retak.
"Bos!"
Sopir spontan menginjak pedal gas.
"Lindungi Bos!"
Dua mobil hitam di belakang segera bergerak menutup jalan.
Vincent langsung menarik tubuh Rhea hingga menunduk di bawah dashboard.
"Jangan angkat kepala!"
Rhea membeku.
Rentetan peluru kembali menghujani mobil mereka.
DOR! DOR! DOR!
"Itu Red Viper!" teriak salah satu pengawal melalui radio.
"Serangan mendadak!"
Vincent mengambil pistol dari balik jasnya.
Tatapannya yang semula tenang berubah tajam.
"Damian."
"Ya, Bos."
"Bawa Rhea pergi."
"Lalu Bos?"
"Aku akan menyelesaikan ini."
"Jangan!"
Tanpa sadar Rhea menggenggam lengan Vincent.
Vincent menoleh.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan yang begitu jelas di mata gadis itu.
"Kalau kau turun..."
"...kau bisa mati."
Vincent tersenyum tipis.
"Itu bukan pertama kalinya."
Sebelum Rhea sempat mengatakan apa pun, Vincent sudah membuka pintu mobil.
Tubuhnya langsung berlindung di balik kendaraan.
Suara tembakan kembali bersahutan.
Rhea hanya mampu menutup mulutnya.
Ia melihat Vincent bergerak dengan tenang di tengah hujan dan rentetan peluru, seolah semua itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Beberapa pria bersenjata mencoba mengepung dari arah kanan.
Vincent lebih cepat.
DOR! DOR!
Dua orang langsung terjatuh.
Namun dari arah belakang...
Seorang pria mengangkat senapan dan membidik Vincent.
"Bos! Belakang!" teriak Damian.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Tanpa berpikir panjang, Rhea membuka pintu mobil dan berlari.
"Vincent!"
Ia mendorong tubuh Vincent hingga keduanya terjatuh ke aspal.
DOR!
Peluru itu meleset beberapa sentimeter dari kepala Vincent.
Semua orang terdiam.
Vincent menatap Rhea yang masih memeluknya erat.
"Apa yang kau lakukan?"
Rhea baru sadar apa yang telah diperbuatnya.
"A-Aku..."
"Aku tidak ingin kau mati."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Bahkan Rhea sendiri tidak sempat memikirkannya.
Tatapan Vincent berubah.
Belum pernah ada orang yang mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.
Belum pernah.
Damian segera datang bersama para pengawal.
"Bos, mereka mundur!"
Vincent tetap menatap Rhea beberapa detik.
Perlahan, ia mengangkat tangan dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel di wajah gadis itu.
"Kau bodoh."
Rhea menunduk.
"Mungkin."
"Tapi..."
"...aku senang kau masih hidup."
Vincent tersenyum kecil.
Senyum yang hampir tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Malam itu, setelah mengantar Rhea pulang, Vincent duduk sendirian di dalam mobil.
"Bos," ucap Damian pelan. "Kenapa tadi Anda tersenyum?"
Vincent menatap hujan di balik kaca.
"Untuk pertama kalinya..."
"...ada seseorang yang memilih menyelamatkanku."
Damian ikut terdiam.
Sementara di apartemennya, Rhea bersandar di balik pintu.
Tangannya masih gemetar.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
"Apa yang baru saja kulakukan...?"
Ia adalah seorang polisi.
Seharusnya keselamatan Vincent bukanlah prioritasnya.
Namun saat peluru itu mengarah kepadanya...
Tubuh Rhea bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
Dan malam itu...
Untuk pertama kalinya, Zhava Vianzya mulai takut bahwa perasaannya pada Vincent Lawson bukan lagi sekadar bagian dari penyamaran.