Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 01 - Ketahuan di Rumah Sakit
"Bu Ratna, uang les Bima bulan ini kapan dibayar, ya? Sudah lewat lima hari."
Pesan WhatsApp itu masuk tepat ketika Ratna sedang mengganti seprai di salah satu kamar hotel kecil di daerah Kuningan. Tangannya yang tadi bergerak cepat langsung berhenti.
Ia membaca pesan itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Dadanya terasa berat.
Bukan karena ia tidak mau membayar. Ia hanya belum punya uangnya.
Gaji dari menjaga pasien baru cair dua hari lagi. Upah bersih-bersih hotel pun baru diberikan akhir minggu. Sementara uang belanja dari Hendra, suaminya, sudah habis untuk membeli obat darah tinggi Mama Sulastri, vitamin, susu Bima, dan kebutuhan rumah.
Ratna mengetik balasan dengan jari agak gemetar.
"Maaf, Bu Nisa. Nanti sore saya usahakan bayar. Jangan keluarkan Bima dulu dari kelas, ya. Anak itu suka sekali menggambar."
Ia menatap layar beberapa detik sebelum menekan kirim.
Begitu pesan terkirim, ia mengembuskan napas panjang.
"Bu Ratna, kamar 508 sudah?" tanya seorang supervisor dari ujung lorong.
"Sudah, Mbak. Saya tinggal turun."
Ratna merapikan kerudungnya, mengambil tas lusuh, lalu berjalan cepat ke lift karyawan. Usianya lima puluh tahun, tapi langkahnya masih cekatan. Sejak muda ia terbiasa bekerja. Pernah berdagang sayur di pasar, membuka warung makan kecil, membantu Hendra membangun usaha ritel sembako dari nol sampai punya belasan ruko.
Dulu orang bilang ia perempuan tangguh.
Sekarang, di rumah suaminya sendiri, ia lebih sering dipanggil jika ada cucian menumpuk, sayur belum matang, atau Bima belum dijemput dari les.
Hendra selalu berkata usaha sedang berat.
"Sabar dulu, Ratna. Toko banyak yang tutup. Cash flow kacau."
Ratna percaya.
Karena ia sudah percaya pada laki-laki itu sejak umur enam belas.
Ia percaya ketika Hendra tidak punya apa-apa. Ia percaya ketika Hendra minta ditemani merintis usaha. Ia percaya ketika Hendra memintanya berhenti mengurus warung karena anak mereka, Raka, butuh ibu di rumah.
Maka ketika uang belanja dikurangi, ia tidak protes.
Ketika harus bekerja diam-diam agar Hendra tidak merasa terbebani, ia tetap tidak protes.
Ia hanya berkata dalam hati, rumah tangga memang harus saling menolong.
Sore itu Ratna langsung menuju rumah sakit swasta tempat ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga pasien. Seorang pasien lama, Bu Laras, meminta khusus agar Ratna yang menemaninya. Katanya, tangan Ratna telaten dan mulutnya tidak banyak mengeluh.
Saat memasuki lobi rumah sakit, Ratna mendengar dua perawat muda berbisik sambil menahan tawa.
"Tadi ada bapak-bapak panik banget. Katanya pacarnya hampir pingsan di apartemen."
"Iya, aku dengar. Usianya sudah lima puluhan, tapi gayanya masih kayak anak muda."
"Kasihan istrinya kalau tahu."
Ratna menunduk, malu sendiri mendengar pembicaraan seperti itu. Ia tidak suka ikut urusan orang. Apalagi soal hubungan laki-laki dan perempuan. Di usia seperti dirinya, hal semacam itu terasa jauh.
Ia dan Hendra sudah lama tidak benar-benar dekat sebagai suami istri. Hendra selalu pulang lelah. Kalau Ratna mencoba bicara sedikit manja, suaminya hanya berkata, "Kita sudah tua. Jangan macam-macam."
Ratna menerimanya.
Mungkin memang begitu pernikahan panjang.
Ia baru hendak menuju lift ketika suara laki-laki yang terlalu ia kenal membuat langkahnya membeku.
"Dok, pacar saya tidak apa-apa, kan?"
Ratna menoleh pelan.
Di depan ruang pemeriksaan kandungan, Hendra berdiri dengan wajah panik. Kemeja birunya kusut. Rambutnya berantakan. Satu tangannya mencengkeram lengan dokter.
Ratna merasa seluruh suara di lobi mendadak menjauh.
Pacar?
Hendra?
Ia refleks mundur ke balik pilar besar dekat lift. Tangannya mencengkeram tali tas.
Dokter itu berbicara dengan suara tenang. "Kondisinya tidak berbahaya. Tapi lain kali harus lebih hati-hati. Tubuh perempuan tidak bisa dipaksa seperti itu, Pak."
Wajah Hendra langsung lega.
"Iya, Dok. Saya janji tidak akan sekeras itu lagi. Yang penting dia baik-baik saja."
Ratna menutup mulutnya.
Perutnya terasa seperti dipukul.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang perempuan keluar sambil menangis manja. Usianya sekitar tiga puluh lima. Rambutnya tertata, tas bermerek menggantung di lengan, pakaian mahal membungkus tubuhnya dengan rapi.
Clara.
Sekretaris Hendra.
Perempuan itu langsung menubruk dada Hendra.
"Mas Hendra jahat. Aku sudah bilang pelan-pelan. Lihat, aku sampai dibawa ke rumah sakit."
"Iya, sayang. Maaf. Aku panik tadi."
Sayang.
Ratna ingin maju. Ingin menampar wajah suaminya. Ingin bertanya kenapa.
Namun kakinya seperti dipaku.
Selama ini Hendra menolak menyentuhnya dengan alasan usia. Selama ini Hendra mengurangi uang rumah dengan alasan usaha turun. Selama ini Ratna menawar sayur di pasar agar hemat seribu dua ribu.
Sementara Clara memakai tas yang harganya mungkin cukup untuk membayar les Bima setahun.
Ratna mengeluarkan ponsel dari tas.
Tangannya gemetar saat membuka kamera.
Ia merekam.
Bukan karena ia kuat.
Karena jika ia tidak merekam, mungkin besok Hendra akan berkata ia salah lihat. Mungkin keluarganya akan menyebut ia perempuan tua yang cemburuan. Mungkin Mama Sulastri akan berkata, "Jangan buka aib suami."
Ratna terus merekam.
Hendra mengusap rambut Clara, lalu menunduk mencium keningnya.
"Anak kita bagaimana?" tanya Clara pelan. "Dia tadi nangis. Takut aku kenapa-kenapa."
Anak?
Ratna hampir menjatuhkan ponselnya.
Dari arah kursi tunggu, seorang anak laki-laki sekitar sepuluh tahun berlari mendekat. Wajahnya mirip Hendra saat muda. Anak itu memeluk pinggang Hendra tanpa ragu.
"Papa, Mama sudah sembuh?"
Hendra berjongkok dan memeluk anak itu.
"Mama baik-baik saja, Alif. Jangan nangis. Papa di sini."
Papa.
Mama.
Ratna tidak lagi mendengar apa pun setelah itu.
Yang ia lihat hanya tiga orang di depan ruang pemeriksaan itu. Hendra, Clara, dan anak laki-laki bernama Alif. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang utuh.
Lalu Ratna mengingat rumahnya sendiri.
Mama Sulastri yang selalu minta dilayani.
Raka yang masih menyuruhnya memasak seolah ia pembantu.
Maya, menantunya, yang menitipkan Bima tiap hari sambil pergi salon atau arisan.
Dan dirinya.
Istri sah yang sudah dua puluh delapan tahun menikah, tapi bahkan tidak tahu suaminya punya keluarga lain.
Air mata Ratna jatuh tanpa suara.
Ia menghapusnya cepat.
Tidak.
Ia tidak boleh menangis di sini.
Ratna menekan tombol berhenti pada rekaman. Ia menyimpan video itu, lalu mengirim salinannya ke akun email pribadinya. Setelah itu ia memasukkan ponsel ke tas dan menarik napas panjang.
Hendra masih tertawa kecil bersama Clara dan Alif.
Ratna menatap mereka dari balik pilar.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia merasa rumah tangganya bukan retak.
Rumah itu sejak lama sudah rubuh.
Hanya ia yang masih berdiri di dalamnya, pura-pura atapnya belum jatuh.
Lift terbuka di belakangnya.
Ratna masuk dengan kaki dingin.
Di layar lift, angka lantai bergerak naik menuju ruang VIP tempat Bu Laras menunggunya.
Ratna menatap bayangannya di pintu lift yang mengilap.
Wajahnya pucat. Kerudungnya sederhana. Bajunya sudah pudar.
Namun matanya berbeda.
Ia tidak lagi tampak bingung.
"Aku akan bercerai," bisiknya.
Kali ini, ia tidak main-main.
Lift berhenti di lantai VIP, tapi Ratna tidak langsung keluar. Ia menekan tombol buka dengan jari yang masih dingin, memberi dirinya satu tarikan napas lagi.
Di lorong, seorang perawat menyapanya. Ratna membalas dengan anggukan. Ia berjalan seperti biasa, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Hanya Tuhan yang tahu betapa lututnya nyaris tidak kuat.
Sebelum masuk kamar Bu Laras, ia membuka galeri ponsel sekali lagi. Video itu ada. Suara Hendra ada. Wajah Clara ada. Suara Alif memanggil Papa juga ada.
Ratna menekan tombol kunci layar.
Selama puluhan tahun ia selalu pulang membawa sayur, obat, atau cucian.
Hari ini ia membawa bukti.
Sebelum mengetuk pintu kamar VIP, Ratna mengusap wajahnya dengan tisu. Ia tidak ingin Bu Laras melihatnya berantakan. Namun semakin kuat ia menghapus air mata, semakin jelas matanya memerah.
Ia pernah berpikir luka paling besar dalam hidup adalah lelah yang tidak dihargai.
Ternyata ada luka yang lebih sunyi: menyadari orang yang ia bela seumur hidup sudah lama membangun tempat pulang tanpa dirinya.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃