NovelToon NovelToon
Tirai Hitam Para Pewaris

Tirai Hitam Para Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.

Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.

Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Di Kantor Keluarga Anugerah, Anton sedang berbincang dengan Angga—putranya yang dipersiapkan untuk meneruskan perusahaan keluarga. Angga terus dibimbing dan ditempa agar memiliki karakter sesuai harapan ayahnya.

“Papa ingin kau yang meneruskan perusahaan ini,” ucap Anton sambil menikmati minuman anggurnya.

“Mengapa secepat ini, Pa?” tanya Angga.

“Umur Papa sebentar lagi menginjak enam puluh tahun. Seharusnya di usia seperti ini, Papa sudah tidak perlu lagi memikirkan urusan perusahaan,” jawab Anton.

Angga hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak mungkin menolak, sebab sebenarnya ia sudah lama menantikan saat ayahnya menyerahkan kendali perusahaan kepadanya.

“Lalu, bagaimana dengan Rico dan Kiara, Pa?” tanya Angga.

Mendengar itu, Anton menoleh ke arah putranya.

“Untuk Rico, Papa bisa menempatkannya di salah satu cabang perusahaan,” jawabnya singkat.

“Lalu… Kiara?”

Anton melirik sekilas ke arah Angga, lalu kembali menyesap minumannya.

“Kiara tidak akan mendapatkan sepeser pun dari harta yang Papa miliki,” tegasnya. Ia lalu meletakkan gelas itu di atas meja.

Angga tersenyum tipis mendengar keputusan ayahnya itu.

“Baiklah, kalau begitu Angga permisi keluar dulu, Pa. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Anton hanya mengangguk. Tak lama kemudian, Angga pun keluar dari ruangan itu.

Saat sendirian, Anton meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Halo, Bos,” sapa suara di seberang sana.

“Bagaimana keadaan wanita itu?” tanya Anton langsung.

“Keadaannya aman, Bos. Ia tidak memberontak. Saat ini ia sedang tertidur setelah kami berikan makanan dan obat.”

“Baik. Pastikan ia tidak bisa melarikan diri dari tempat itu. Dan satu hal lagi…”

“Apa itu, Bos?”

“Rahasiakan semua ini dari Kiara maupun dari anak-anakku yang lain.”

“Tenang saja, Bos. Semuanya aman dan tidak akan ada yang bocor.”

“Baiklah.”

Sambungan telepon pun terputus. Anton meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Pandangannya lalu tertuju pada sebuah foto yang memperlihatkan wajah Kiara—yang terlihat sangat mirip dengan mendiang Yuda. Ia pun memasukkan foto itu ke dalam laci meja kerjanya.

.

.

.

 

Sementara itu, di Kantor Keluarga Kencana, seorang pemuda yang seumuran dengan Rico tampak gelisah dan marah. Ia melempar barang-barang di sekitarnya karena kesal mengetahui bahwa asisten terbaiknya, Kiara, memilih berhenti bekerja setelah ayahnya mengetahui bahwa Kiara bekerja di sana.

Di luar ruangan, dua orang karyawan yang sekaligus sahabatnya hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat tingkah laku pemuda itu.

“Bagaimana bisa Pak Seno memiliki anak dengan watak seperti itu?” bisik salah seorang dari mereka.

“Entahlah. Aku juga bingung. Ia sampai semarah itu hanya karena asisten terbaiknya mengundurkan diri,” jawab temannya.

“Rasanya ia seperti kesurupan, ya?”

“Iya, sepertinya perlu didoakan dan dibersihkan hatinya.”

“Kalau sampai Pak Seno tahu kelakuannya, bisa tambah runyam urusannya.”

Ehem…

Keduanya serentak menoleh ke belakang karena terkejut. Tanpa disadari, pemilik perusahaan—Pak Seno—dan istrinya telah berdiri di sana.

“Kalian ini kenapa malah berdiri di depan ruangan Bos? Ada apa hah?” tanya Pak Seno.

“Anu… Pak, duh, bingung juga harus menjelaskannya bagaimana,” jawab salah seorang karyawan itu dengan raut bingung.

“Begini, Pak Seno. Sebaiknya Bapak masuk saja dan lihat sendiri keadaannya,” timpal yang lain.

“Apa-apaan kalian ini, membuat kami jadi penasaran dan bingung,” sahut istri Pak Seno.

“Iya, Bu. Saya juga bingung harus menjelaskannya dari mana,” ucap karyawan itu lagi.

Akhirnya Pak Seno memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan. Begitu pintu terbuka, ia terkejut bukan main melihat pemandangan di dalam sana.

“Astaghfirullah… Bara!!!” teriak Pak Seno dengan suara menggelegar.

Pemuda yang bernama Bara itu pun menoleh dengan cepat.

“Papa? Kenapa masuk tidak mengetuk pintu dulu?” tanyanya.

“Untuk apa mengetuk pintu? Pintunya saja tidak kau tutup rapat,” sahut Pak Seno tegas. Ia pun melangkah masuk, diikuti oleh istrinya dan kedua karyawan tadi.

“Ya ampun, Bara! Apa yang kau lakukan ini? Ada masalah apa sampai-sampai kau membanting barang-barang seperti ini? Lihatlah, semuanya berantakan!” ketus ibu Bara.

“Bara kesal, Ma! Kiara berhenti bekerja di sini hanya karena ayahnya mengetahui bahwa ia bekerja di Perusahaan Kencana,” jelas Bara.

Mendengar penjelasan itu, Pak Seno dan istrinya pun terkejut.

“Hah? Apa benar Kiara berhenti bekerja? Dan bagaimana bisa ayahnya mengetahui hal itu?” tanya mereka berdua hampir bersamaan.

“Bara tidak tahu pasti, Pa. Tadi malam Kiara menghubungi Bara. Katanya sepulang kerja, ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya. Belum lagi ayahnya yang baru pulang dari urusan bisnis di luar kota, langsung menegur Kiara dan melarangnya untuk bekerja lagi di kantor ini,” ungkap Bara.

“Aneh sekali, ya, Pa. Kiara dilarang bekerja di sini, padahal ia tidak bekerja di perusahaan ayahnya sendiri. Lalu apa sebenarnya maksud dan tujuan ayah Kiara itu?” gumam sang istri.

“Entahlah, Ma. Papa pun sedang berusaha mencari tahu segala hal tentang keluarga Kiara itu,” jawab Pak Seno.

“Untuk apa sih, Pa, repot-repot memikirkan urusan keluarga orang lain?” sahut Bara dengan nada kesal.

“Kenapa kau sewot begitu? Mau apa saja itu urusan Papa!” ketus Pak Seno.

“Sudahlah, sudah! Kalau kalian berdua berkumpul, tak pernah ada yang akur. Mama jadi heran melihatnya. Bara, bereskan segera semua barang-barangmu ini. Jangan sampai saat Mama kembali ke kantor nanti, semuanya masih berserakan di lantai,” perintah wanita itu.

“Mama dan Papa mau pergi ke mana?” tanya Bara.

“Mau berbulan madu lagi,” jawab Pak Seno singkat.

Jawaban itu membuat Bara semakin kesal.

“Sudah tua begitu masih saja sok-sokan berbulan madu,” desis Bara pelan.

.

.

.

 

Di luar gedung, Pak Seno dan istrinya masuk ke dalam mobil. Hari itu mereka akan menghadiri acara penggalangan dana di sebuah hotel.

Di dalam perjalanan, Pak Seno tampak melamun seolah sedang memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Melihat hal itu, istrinya menegurnya dengan lembut.

“Pa… Papa kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanyanya pelan.

“Ah, tidak apa-apa, Ma. Hanya sedang memikirkan sesuatu saja,” jawab Pak Seno singkat.

“Memikirkan apa? Jangan bilang Papa berniat menikah lagi, ya? Ingat, usiamu sudah hampir enam puluh tahun. Masih saja kepikiran hal-hal seperti itu?” sahut istrinya dengan nada kesal.

“Eh, bukan itu yang Papa pikirkan, Ma. Kenapa sih Mama selalu berpikir ke arah sana?”

“Lalu apa yang sebenarnya Papa pikirkan?”

“Sebenarnya Papa sedang memikirkan nasib anak mendiang Yuda, Ma. Entah di mana keberadaannya sekarang dan bagaimana kabarnya.”

“Bukankah Anton dan Linda sendiri yang membuat laporan bahwa Linda telah pergi meninggalkan rumah bersama pria lain dan membawa serta anak yang dikandungnya?”

“Memang begitu kabarnya, Ma. Tapi rasanya sulit dipercaya. Berita itu terasa janggal, tidak masuk akal. Apakah Mama sebagai sahabat dekatnya tidak mengenal sifat Linda yang sebenarnya?”

“Benar juga apa kata Papa. Tapi tahukah Papa? Saat Kiara datang ke rumah untuk mengantarkan berkas yang tertinggal, sekilas wajahnya sangat mirip dengan Yuda maupun Linda,” ucap istrinya.

“Benarkah begitu, Ma?”

“Benar, Pa. Mana mungkin Mama berbohong soal hal seperti ini.”

“Kalau begitu, memang sudah seharusnya kita mencari tahu kebenarannya, Ma. Di mana sebenarnya anak Yuda itu berada. Papa juga sudah sangat lama tidak pernah melihat Bu Amira lagi.”

“Iya, Pa. Bagaimana kabarnya beliau sekarang ya? Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, Pa.”

“Amin, Ma. Besok Papa akan memerintahkan orang-orang kepercayaan Papa untuk menyelidiki dan mencari tahu keberadaan istri dan anak mendiang Yuda itu.”

Sang istri pun mengangguk setuju mendengar keputusan suaminya itu.

Bersambung

1
Noviyanti
satu bunga untuk kiara
Noviyanti
semangat Thor, salam kenal
Abyyasdemons: oke KK , salam kenal kembali 😍💪👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!