Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Sama-sama buas.
Sejak saat itu semua berjalan tenang seperti biasanya. Bang Riegan bekerja di Batalyon sebagaimana mestinya, Phia juga melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiswi kesehatan.
Namun di pagi ini ada hal yang tidak biasa. Phia merasa tidak enak badan. Ia menuju dapur rumah.
"Mbok.. Mau ke pasar ya? Phia titip permen asam ya?" Pinta Phia.
"Tumben Non Phia pengen permen asam. Nanti Si Mbok carikan ya, Non." Kata si Mbok.
Phia hanya tersenyum kecut kemudian menjauh dari Mbok Sum.
Saat itu Letnan Maliq yang sedang bertugas, mendengar hal itu. Keningnya berkerut tapi kemudian menghubungi seseorang di seberang sana.
~
"Ada apa??"
"Nggak apel, Rieg?? Sudah jam berapa nih??" Bang Maliq menegur lettingnya.
"Sudah, tapi ijin sebentar, asam lambungku naik. Sudah berobat di unit kesehatan tapi tetap belum reda." Jawab Bang Riegan.
"Ada-ada saja kau, Rieg. Tumbenan tumbang begini, perasaan selesai kumpul letting semalam, kau masih baik-baik saja." Ujar Bang Maliq.
"Tak tau lah, mendadak aja begini."
"Oya, seperti yang kau minta. Hari ini si Phia agak aneh. Dia minta Mbok Sum belikan permen asam ke pasar. Kira-kira menurut pendapatmu, apakah ini aneh?" Laporan Bang Maliq.
"Apa hari ini Phia berangkat ke kampus??" Tanya Bang Riegan.
"Baru saja berangkat."
"Kalau begitu, saya minta tolong..!!" Pinta Bang Riegan.
...
Sore hari, matahari nyaris meredup. Phia duduk di bawah pohon sambil menatap jam tangan berkali-kali, hingga kemudian ada panggilan telepon masuk. Mudi yang selalu di siapkan Abangnya tidak bisa menjemput karena tiba-tiba ban mobil yang di kendari kempes.
Saat itu sebuah mobil datang. Phia melihat sosok pria yang sama sekali tidak ingin ia lihat, datang menghampiri.
"Saya antar pulang." Ajak Bang Riegan.
"Aku bisa naik ojeg online." Kata Phia kemudian beranjak berdiri.
Namun karena terlalu tergesa, kepalanya mendadak pusing, sejenak pandangannya kabur hingga ambruk bersandar pada dada bidang Bang Riegan. Tas milik Phia terjatuh, isinya pun berserakan.
Paham gadis di hadapannya sedang tidak baik-baik saja, secepatnya Bang Riegan menahan tubuh tersebut. Tak sengaja Bang Riegan melihat ada benda yang tidak biasa, Bang Riegan memungutnya. Tapi tangan itu kalah cepat dari refleks Phia.
"Untuk apa obat itu??" Tatapan mata Bang Riegan sudah tajam menekan gadis yang kini sibuk membereskan barangnya.
"Bukan apa-apa."
"Jangan kira saya tidak tau guna obat itu. Kamu hamil???? Mau kamu gugurkan????" Tanya Bang Riegan penuh selidik.
"Bukan urusanmu. Kita tidak saling kenal dan tidak ada hubungan apapun. Mau aku hamil, mau aku gugurkan, itu bukan urusanmu." Jawab Phia.
"Bukan urusan saya, kau bilang???? Anak itu ada karena kekhilafan kita berdua, terutama saya. Dan saya... Bahkan seujung kuku pun tidak mengijinkan kamu mengusik atau menyakiti dia." Ucap tegas Bang Riegan. Deretan giginya rapat hingga rahangnya mengeras. Ia mengangkat dagu Phia setengah mencengkeram pipinya. "Berani kamu sakiti anak saya.. Habis kamu, Phia..!!!" Ancam Bang Riegan.
Phia kesal dan emosional. Ia memukuli dada bidang Bang Riegan, menendang, mencakar, menggigit bahkan menampar pria berpangkat Letnan itu untuk menumpahkan segala amarah, tapi tak sedikit pun pria kasar dan dingin itu membalasnya.
"Kamu nggak tau bagaimana galaknya Abangku. Kalau Bang Reigar tau aku hamil, aku bisa di bunuhnya." Kata Phia setengah berteriak. Seakan lelah dengan beban perasaannya selama ini, Phia mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu melemparnya ke wajah Bang Riegan. "Dia sudah enam minggu?? Aku harus bilang apa??? Aku tidak siap jadi ibu, aku tidak sanggup menanggungnya sendirian."
Bang Riegan mengambilnya lalu melihat foto hasil USG. Ada gambar yang sudah terlihat jelas, jika di hitung dari hari 'petaka' tersebut, semuanya memang benar. Hatinya terasa sesak, tapi ia pun paham keadaannya.
"Siapa yang memintamu menanggungnya sendirian? Pernahkah kamu lihat saya lari dari tanggung jawab?? Kamu sendiri kan, yang menghalangi saya. Sekarang kamu pulang sama saya. Saya akan temui Abangmu..!!" Ucap tegas Bang Riegan.
"Nggak, jangan..!!! Abangku sangat galak, aku nggak mau lihat ada pertengkaran lagi, aku takut, aku capek." Cegah Phia.
"Kalau kamu takut, tutup mata dan telingamu. Biar Abangmu jadi urusan saya. Saya hanya minta kau jaga saja anak saya baik-baik..!!!"
"Nggak mau, aku nggak kuat, aku takuuuuutt..!!!!!" Tolak Phia.
"Saya tanggung jawab, Phia..!!!" Nada tinggi itu seketika membuat Phia terdiam tanpa kata.
...
Jilly terduduk lemas, beliau nyaris pingsan mendengar kabar tersebut.
"Ini.. ini yang Abang sembunyikan dari Jill??"
Bang Reigar meremas hasil USG beserta surat keterangan kehamilan Phia. Jemarinya kemudian memijat pelipisnya yang terasa pening.
"Baaang.. Ma_af..!!!!!" Phia terisak-isak ketakutan. Ia mencoba menyentuh tangan Abangnya tapi Bang Reigar menepisnya dengan kasar.
Phia nyaris terpelanting tapi Bang Riegan menahannya.
"Gugurkan..!!!!!!"
"Astaghfirullah hal adzim, Baaang..!!!" Jilly begitu syok mendengar ucapan suaminya. Suami yang biasanya bijaksana kini jauh dari kata tersebut.
"Tidak ada yang boleh menyakiti Phia ataupun anak saya." Jawab Bang Riegan.
"Tau apa kamu??? Phia masih kuliah semester pertama, dia masih punya cita-cita dan sekarang kau datang merusaknya. Jangan belaga seolah kau tau segalanya. Masa depan Phia masih panjang." Bentak Bang Reigar, kemudian beliau menarik lengan Phia dengan kasar.
"Tolong jangan menekannya..!!! Saya akan bertanggung jawab, apapun yang Komandan minta, akan saya penuhi, asal jangan sakiti Phia dan anak saya." Kata Bang Riegan.
"Kalau kamu tau diri, pergi dari sini. Biar saya selesaikan masalah keluarga ini." Usir Bang Reigar. Pandangannya lalu mengarah tajam pada Phia. "Kamu.. Ikut Abang.. Gugurkan kandunganmu..!!" Perintahnya tegas.
Siapa sangka Bang Riegan mengambil pistol dari sisi kanan sakunya, ia mengokang lalu menarik Phia ke belakang punggungnya dan menodongkan pistol tersebut tepat di depan mata komandannya tersebut, tapi wajah sang komandan nampak tenang meskipun istrinya berteriak ketakutan.
"Lebih baik kau, atau saya yang mati. Anak itu tidak pernah meminta ada di rahim Phia, dalam situasi ini, salahkan saya sepenuhnya. Jangan mengusik Phia, jangan sakiti anak saya..!!"
"Karirmu cemerlang Letnan, karirmu bagus. Tapi kelakuanmu bi*dab. Sekarang kau coba mengusik saya. Jika ada hukuman yang harus kau terima, apa kau mampu??" Ucap Bang Reigar tak kalah mengancam. "Ingat Letnan, menodongkan senjata pada atasanmu saja sudah pelanggaran."
"Jika itu bisa meringankan beban Phia dan juga anak saya, saya siap." Jawab Bang Riegan.
"Kau rela melepaskan seragam mu dan keluar dari rumah ini tanpa pangkat Letnan??" Tanya Bang Reigar.
Tanpa ragu, Bang Riegan meletakan senjata pada meja nakas di sampingnya lalu melepas seragamnya dan juga meletakannya di atas meja nakas.
"Keluar..!!!! Saya tidak mau melihat wajahmu..!!" Perintah Bang Reigar.
"Saya tidak akan keluar tanpa ada kejelasan dan jaminan bahwa Phia dan kandungannya akan baik-baik saja." Jawab Bang Riegan.
"Lancaaang..!!!!!!!"
Tak ada yang menduga, sebuah belati sudah mengunci leher Kolonel Reigar. "Saya datang kesini untuk bertanggung jawab dan meminang baik-baik."
Seringai senyum Bang Reigar menghias wajahnya yang jauh dari kata tua. "B*****t, enak saja."
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍