NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 4 Rumah Makan Darah Biru

“Prajurit!” sebut Purwasaga kepada salah satu lelaki berbadan besar lagi berotot yang memakai seragam warna merah terang.

“Kami bukan prajurit, Lelaki Manusia,” kata lelaki yang dipanggil. Ia dan rekannya yang lain sama-sama memakai topi sewarna bajunya yang menutupi kepala dan rambutnya.

“Lalu apa?” tanya Purwasaga.

“Bonur. Nama pekerjaan kami adalah bonur. Orang yang bertanggung jawab untuk menjaga keamanan di sini,” jawab lelaki besar itu. “Panggil aku Bonur Galangha.”

“Baik. Aku ingin tahu, Bonur. Apa bunyi tulisan di plang papan itu?” Purwasaga menunjuk plang di atas gerbang masuk gedung.

“Tulisan itu berbunyi Rumah Makan Darah Biru,” jawab Galangha.

“Oh, rumah makan,” ucapnya lirih.

“Apakah kau mau masuk, Lelaki Manusia?” tanya Galangha.

“Aku ingin masuk, tetapi aku tidak memiliki uang untuk membayar makanan. Lebih baik tidak,” jawab Purwasaga.

“Hahaha!” tawa Galangha dan dua rekan terdekatnya mendengar perkataan manusia itu.

“Kenapa kalian menertawakan aku?” tanya Purwasaga.

“Karena kau tidak tahu ini tempat apa,” jawab rekan Galangha.

“Banyak orang yang tidak beruang masuk ke sini, lalu keluar dengan membawa uang banyak,” kata Galangha.

“Berarti aku boleh masuk?” tanya Purwasaga.

“Sebutkan namamu dan tunjukkan Gelang Penanggung,” kata Galangha.

“Namaku Purwasaga. Ini Gelang Penangguku,” kata Purwasaga lalu menunjukkan gelang peraknya.

Tangan bercahaya ungu Galangha lalu memegang tangan Purwasaga yang memiliki Gelang Penanggung.

“Penjaminmu ternyata Rungga Zamar,” ucap Galangha. “Kau boleh masuk, tetapi jangan membuat onar di dalam.”

“Baik.”

Purwasaga lalu pergi ke gerbang yang terbuka lebar. Bukan hanya dia yang masuk, tetapi banyak yang lain pula dari kalangan Bangsa Penjaga Biru.

Setelah masuk menyusuri lorong besar sejauh beberapa tombak, mendadak ada aroma harum masakan dan makanan yang menyapa penciuman Purwasaga.

Akhirnya Purwasaga memasuki pusat isi dari bangunan Rumah Makan Darah Biru.

Ada banyak orang bertangan ungu berposisi di sekililing tepian lingkaran raksasa. Lingkaran itu merupakan lubang dan semua orang Negeri Elindra tersebut sedang menonton sesuatu di dasar lubang. Namun, posisi penonton yang puluhan orang itu dikelompokkan menjadi dua.

Anggaplah di pinggir lubang raksasa ada empat arah. Di sisi timur dan barat adalah undakan-undakan lantai seperti tangga lebar dan luas. Di setiap lantai di pasang set-set meja makan layaknya tempat orang makan. Meja-meja di sisi timur dan barat itu ditempati oleh para pelanggan yang sambil makan mereka memandang ke dasar lubang. Mereka bisa melihat secara penuh.

Di sisi utara dan selatan ada dua pagar tembok dengan ketinggian yang berbeda. Tembok di depan lebih rendah dari tembok yang di belakang. Di belakang tembok yang setinggi perut itu, berdiri berdesakan kanan dan kiri orang-orang yang menonton pertunjukan di dasar lubang yang merupakan sebuah arena. Jadi ada dua kerumunan di sisi utara, dua kerumunan di sisi selatan.

Mereka yang makan sambil menonton jelas menunjukkan bahwa mereka memiliki uang karena sajian yang mereka makan memiliki harga. Sedangkan yang berada di sisi utara dan selatan terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang punya uang tapi memang tidak berniat makan dan kelompok yang tidak punya uang seperti Purwasaga.

“Apa yang mereka tonton?” tanya Purwasaga di dalam hati karena ia belum melihat dasar lubang raksasa itu. Namun, dia sudah curiga dari reaksi para penonton yang bising.

“Hajar tenggorokannya, Rendhang!” teriak salah satu penonton di sisi utara.

“Lindungi lehermu, Dodhong!” teriak salah satu penonton di sisi selatan meneriaki orang yang ada di dasar arena.

“Jangan jadi pecundang, Dodhong!”

“Langsung kirim ke Kamar Beku!”

“Mainkan Pasukan Tiga Jarum, Rendhang!”

“Pasukan Tiga Jarum tidak ada apa-apanya menghadapi Zirah Dewa Perang!”

“Namanya saja yang hebat, tapi tetap seperti zirah manusia!”

“Jangan bawa-bawa bangsa manusia di sini!”

Terbeliak terkejut Purwasaga mendengar “manusia” disebut dan diperdebatkan.

“Hahaha! Nyatanya Zirah Dewa Pedang memang selemah kulit telur!” ejek pendukung Rendhang.

“Ayo, Rendhang! Hancurkan Zirah Dewa Perang palsu itu!” teriak seorang wanita pendukung Rendhang.

Itulah sedikit keramaian dan keributan para pendukung yang menonton dari pinggiran atas.

Karena Purwasaga tidak memiliki uang, pastinya dia tidak akan pergi ke sisi timur atau barat. Mau tidak mau ia pergi bergabung di sisi selatan.

Kedatangan Purwasaga cukup menjadi perhatian para Bangsa Penjaga Biru, seolah-olah mereka langsung mengenali ada orang yang bukan dari spesies mereka. Namun, Purwasaga tidak mendapat gangguan, hanya perhatian saja.

Meski tempat penonton penuh, tetapi Purwasaga bisa mendapat tempat karena ada penonton yang memilih mengosongkan tempatnya saat mengenali Gelang Penanggung si manusia.

Akhirnya Purwasaga bisa menonton dengan leluasa pertunjukan yang digelar di dasar arena.

Di bawah sana, di dasar lubang raksasa itu, ada dua orang Elindra sedang bertarung. Dipastikan mereka orang Negeri Elindra karena kedua tangannya bercahaya ungu gelap.

Orang pertama yang bernama Rendhang adalah sosok lelaki berbadan besar dan berotot besar. Lelaki berkumis cokelat itu memiliki rambut gondrong berwarna kuning pirang. Entah bagaimana rumusnya, rambut kumis warna cokelat tapi rambut kepala kuning. Kedua batang tangannya memakai pelapis logam yang terkesan tebal. Dia tidak berbaju, tapi bercelana hitam gombrong.

Orang kedua mengenakan zirah logam warna hitam bernama Dodhong. Nyaris total kepala dan tubuhnya terlindungi oleh zirah logam hitam. Namun, ada celah di bagian leher yang menunjukkan kulitnya. Karena itulah ada yang menyarankan Rendhang agar menyerang leher Dodhong. Jari-jari tangannya yang bersarung tangan besi memegang dua senjata di kanan dan kiri. Senjata di tangan kanan adalah pedang dan di tangan kiri adalah rantai yang menyala membara.

Arena itu tidak rata polos, tetapi ada beberapa bagian yang memiliki tiang, bebatuan, hingga beberapa gawang di sejumlah titik yang menjadi tempat bergantungnya berbagai macam senjata.

Arena itu berwarna putih. Lantai dan dinding ada sedikit hiasan cat warna biru terang berpola seperti dipercikkan.

Ting ting ting!

Berulang kali Dodhong menyerang Rendhang dengan sabetan dan tusukan pedang. Meski mengenakan zirah logam total, tetapi gerakan Dodhong dalam bertarung tetap cepat. Itu terbukti Rendhang melakukan tangkisan berulang dan tidak mudah untuk memiliki waktu menyerang balik.

Rendhang menangkis serangan pedang menggunakan dua pelindung di batang tangannya. Kuatnya setiap peraduan dua jenis logam itu memunculkan percikan kembang api.

Crakr!

Pada satu kesempatan, tangan kiri Dodhong membabatkan rantai panasnya di saat keduanya sedang beradu pedang dan pelindung tangan.

Namun, Rendhang sigap melompat bersalto ke belakang.

Ting! Bdak!

Di saat Rendhang bersalto di udara, Dodhong cepat maju mencoba menusuk Rendhang. Namun, Rendhang tetap mampu menangkis dengan pelindung tangannya.

Ternyata, Dodhong langsung menabrak tubuh Rendhang di saat ia mendarat dari saltonya. Ditabrak zirah logam membuat Rendhang terlempar dan jatuh terjengkang.

“Jangan bodoh, Rendhang! Gunakan Pasukan Tiga Jarum!” teriak seorang penonton.

Crakr!

Rendhang tidak mengindahkan karena dia harus cepat berguling ke samping ketika rantai membara datang menggebuk dari atas.

Zuss! Sluss!

Sambil berguling, Rendhang menghentakkan lengan kanannya dengan jari-jari mengepal. Sebola sinar merah melesat dan langsung menghantam perut Dodhong yang jaraknya dekat.

Hantaman sinar merah dari kesaktian Tinju Lebur Gunung membuat Dodhong hanya terdorong dua tindak tanpa melukai atau merusak pakaian logam hitam tersebut.

“Rendhang bodoh! Tinju Lebur Gunung tidak bisa. Gunakan Pasukan Tiga Jarum!” teriak seorang penonton lagi.

“Lihat kekuatan Zirah Dewa Perang, belum menyala saja sudah sekuat itu, apalagi jika menyala!” teriak pendukung Dodhong membalas pendukung Rendhang.

“Setan! Sekuat itu zirah si Dodhong. Dengan Bola Petir Hijau milikku, Dodhong pasti mati tersengat,” kata Purwasaga, tetapi di dalam hati. (RH)

1
rajes salam lubis
zonk udah kena suap,ciri khas warga +62
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
burung yang suka menggelitik sampai ketawa Kik Kik Kik 🤣🤣🤣😁😆
Om Rudi: burung apakah itu?
total 1 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
wahhhh kendaraan yang di pakai cukur , pakai rem cakram om 🫢😃
Om Rudi: kayaknya 🤭
total 1 replies
rajes salam lubis
pinisirin
rajes salam lubis
alamak
rajes salam lubis
gak perlu di jelaskan la om,buang buang tenaga..bukan buang hajat y!
Om Rudi: 🤣🤣🤣 biar jumlah katanya cepat terpenuhi
total 1 replies
rajes salam lubis
terong ungunya y terang om
Om Rudi: heheheheh
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
oseng kates wae om dr pada kol wes lah mboh om mumet aq enek rendang enek oon
hahhhh
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: iyo maosk zonk barang 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
gak handukan dulu om kan masih basah kuyup abis berenang 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: widihhhh 🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
terong dicabein maknyuzzz 🤤😂😂
Om Rudi: jiahahahah
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Selabak level berapa om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: pedes cukupan 😃😄
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
kalo pepatah negeri Konoha " walau bapak salah asal bahagia kita diam saja" 🤣🤣🤣😁😆🤪
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: ok gas polll mpe jeboll 😂😂😂
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
nama singa jantannya siapa om 🤔🤔😆
Om Rudi: aduh, lupa Om kasih nama
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Ozeng Bazo lebih enak om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: minta tolong istri suruh masakin 😉
total 2 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
Azhmar itu bangsa Demit om
Om Rudi: Om juga belum tahu🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
hatiku gak sedalam itu lho Om. cukup dengan menyentuh dadaku, pasti Om dapatkan hatiku 🙄😘🤣
Om Rudi: hihihihi 🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ingat, Om. yg oon nya gak boleh nular ke authornya itu kan?😂
Om Rudi: kenapa?
total 1 replies
👣Sandaria🦋
asli ini pasangan kodok, Om🙄😂
Om Rudi: asli dong🤣🤣
total 1 replies
👣Sandaria🦋
anak didiknya Rajes Salam pasti🙄
👣Sandaria🦋
plus tali pengikat burungnya kemarin 🤣
Om Rudi: Om mah sudah lupa, Mak Imut mah ingat aja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!