“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 Hidup Baru
Arumi menghentikan langkahnya, mendongak hingga topi di kepala nya nyaris jatuh. Di hadapannya, berdiri sebuah menara raksasa yang seolah menembus awan. Gadis desa itu terpaku
Menatap ratusan kotak kaca yang berjejer rapi, memantul kan kilau cahaya rembulan di malam hati bagai permata. Baginya yang biasa melihat pondok kayu dan hamparan sawah,
bangunan vertikal itu tampak seperti keajaiban yang mustahil — sebuah istana modern yang megah, tempat hidup orang-orang kota yang melayang di angkasa.
Langkah kaki Arumi mendadak kaku saat matanya membentur dinding beton yang menjulang angkuh. Gedung apartemen itu seperti raksasa abu-abu yang dingin seolah siap menelan tubuh kecilnya.
Arumi menatap deretan jendela yang tak terhitung jumlahnya, merasa ngeri membayangkan manusia hidup berjejalan di dalam kotak-kotak tinggi tanpa menyentuh tanah. Di mata gadis desa itu, bangunan mewah tersebut tidak tampak ramah, melainkan seperti labirin vertikal yang asing dan mengintimidasi
" Gimana? " Tanya Adrian memecahkan kesunyian yang ada di tengah-tengah mereka.matanya menoleh ke gadis desa yang berdiri di sebelahnya
" Bagus sekali Bang, tapi maaf kayanya ini terlalu berlebihan deh " Kata Arumi tidak enak membuat Adrian tersenyum tangannya membuka pintu unit apartemen mewah miliknya.
Pintu kayu ek seberat ratusan kilo itu terbuka tanpa suara, mengantarkan langkah masuk ke dalam sebuah istana diatas awan. Sunyi langsung menyergap, membasuh seluruh keriuhan yang tertinggal di bawah sana.
" Silakan masuk! "
Langkah pertama di sambut oleh lantai marmer kelabu yang berkilau senyap, memantulkan sisa langit malam biru kehitaman. Di ujung ruangan, dinding-dinding beton runtuh, berganti kaca raksasa yang menjulang angkuh menantang langit.
Di balik kaca itu, kota Jakarta Perlahan bangun, menyalakan ribuan lampu kecil yang tampak seperti pelukan kunang-kunang diatas beludru hitam. Langit-langit yang tinggi memberi ruang bagi udara mengalir tenang, Sementara sebuah lampu gangung berbentuk rantinh ekas membiaskan cahaya temaram yang hangat.
" Kamu mau lihat-lihat? " Tanya Adrian menatap gadis yang sesekali berdecak kagum dengan apa yang ia lihat.
" Kalau abang tidak keberatan apakah boleh?, kalau tidak " Sahut Arumi sedikit tidak enak
" Tentu inikan akan menjadi kost kamu, silakan jangan sungkan anggap saja rumah sendiri asalkan tidak di jual saja " Kata Adrian langsung di sambut kekehan canggung Arumi memberanikan diri pergi melihat-lihat ruangan yang ada di dalam unit apartemen tersebut.
Di sudut ruang tengah, sebuah meja panjang dari batu kuarsa hitam pekat berdiri diam bak altar pemujaan. Guratan emas tipis mengalir di permukaannya, berkilau setiap kali menangkap bias cahaya kota.
Kabinet-kabinet kayu walnut yang gelap berjejer rapi tanpa celah, menyembunyikan segala kesibukan dapur dalam kesunyian yanh mahal. Disini, dinginnya teknologi modern terpadu indah dengan kehangatan malam yang mulai larut.
Mata Arumi berkaca-kaca saat melihat dapur mewah yang dulu ia membayangkan saja tidak berani, namun sekarang lihat ia tinggal di tempat yang begitu mengagumkan sekali " Nenek " Gumam Arumi
Kaki nya melangkah ke arah kamar tidur dengan tangan bergetar ia membuka pintu yang terbuat dari kayu berkualitas itu, sungguh beda dengan kamarnya
Pintu kamar utama terbuka, menawarkan kelembutan yang memanjakan tubuh lelah. Kaki tenggelam dalam karpet wol tebal yang membungkam setiap suara langkah. Sebuah ranjang besar dengan balutan katun putih sehalus sutra bersandar lada dinding belundru kelabu.
Di sudut ruangan, sebuah bilik pakaian berbahan kaca gelap berdiri anggun. Lampu-lampu LED kecil di dalamnya menyala otomatis saat di dekati, memamerkan deretan pakaian yabg tergantung kaku seperti kaya seni di galeri sepi.
" Bagaimana? " Tanya Adrian yang berdiri di ambang pintu kamar membuat bayangan nya menantul di lantai marmer kelabu tersebut.
" Aku bayar untuk bulan ini bang dan Uang Dp nya terimakasih banyak " Kata Arumi ia memberikan beberapa lembar uang biru miliknya ke Adrian yang menerimanya.
" Semoga kamu betah ya " Sahut Adrian senyuman mengembang di bibir tebalnya
" Semoga saja, terimakasih ya bang sudah membawaku kesini semoga aku tidak mengecewakan abang " Kata Arumi dengan nada canggung
" Pastinya kamu ngga kecewakan abang, kamu istirahat lah abang pergi dulu " Sahut Adrian tangannya mengelus pelan rambut Arumi
" Asalamualaikum dek "
" Walaikumsalam "