Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01. SBR
...~•Happy Reading•~...
Hari menjelang malam di minggu kedua bulan Juni, Janet keluar dari kamar mandi sambil mengenakan bathrobe tanpa diikat. Dia seperti petinju yang memakai juba longgar menuju ring.
Wajahnya terlihat panik dan was-was. Ada yang mengganggu pikirannya, hingga dia berjalan cepat menuju lemari pakaian dengan tali bathrobe menjuntai, tanpa peduli ada yang akan masuk ke kamar.
Dengan satu sentakan, dia membuka pintu lemari pakaian, hingga bisa melihat seluruh tubuhnya pada cermin yang menempel pada pintu lemari.
Perlahan bathrobe dilepas ke lantai hingga bayangan tubuhnya di dalam cermin terlihat jelas tanpa penutup, tidak terhalang oleh sehelai benang.
'Ini adalah bentuk tubuh yang diidam-idamkan seorang wanita berusia 20 tahun.' Janet berkata sendiri sambil menatap tubuhnya di dalam cermin.
Tubuhnya bagaikan patung yang dipahat sempurna pada setiap lekukan oleh seniman jenius. Hingga pria dewasa yang melihatnya akan berimajinasi liar.
Janet menyentuh perut rata dan panggul padat berisi. 'Ini akan bertahan berapa lama?' Janet bertanya kepada bayangan di dalam cermin.
Dia gelisah melihat wajahnya yang terlihat biasa dan cendrung pucat. Mata coklat gelap tanpa sinar kehidupan. Sangat kontras dengan bentuk tubuhnya.
Walau matanya tenang, teduh, tapi menyimpan derita panjang seorang gadis belia yang tidak bisa diungkapkan.
Janet masih diam memandang bayangan tubuhnya di dalam cermin dan melihat dua buah bukit indah yang menyembul sempurna pada tempatnya. 'Apakah ini akan bertahan berapa lama?' Janet bertanya sambil menyentuh puncak bukit miliknya.
Janet terus memandang bayangan tubuhnya, seakan takut ada yang tidak terekam oleh matanya. 'Apakah kau bahagia setelah ini?' Janet bertanya pada bayangan di cermin. Tidak ada jawaban, tapi terlihat air bening mengenangi mata, tanpa bisa dicegah.
'Kau membentuk dan menjaga tubuh ini, karna mulai menyukainya?' Janet kembali bertanya pada cermin. Tidak ada jawaban, tapi butiran bening mulai mengalir di pipi. Hatinya penuh oleh kesedihan dan ketakutan.
Ketika hampir menangis, terdengar suara pintu apartemen dibuka. Janet segera merai pakaian dari dalam lemari dan kenakan dengan cepat. Sambil mengikat rambutnya yang lebat, dia mendekati tempat tidur dan berjalan cepat keluar kamar.
Tanpa suara, dia menuju dapur untuk membuat minuman hangat. "Mas Devan mau makan malam?" Tanya Janet sambil meletakan dua cangkir kopi instan di atas meja.
"Apa kau tidak bosan menanyakan hal itu?"
"Saya berusaha ada percakapan, Mas." Tenggorokan Janet seakan tersumbat.
"Tapi bukan menanyakan makan. Apa saya pernah makan malam di sini?"
"Belum pernah... Tapi siapa tau Mas mau makan hari ini." Janet meneruskan dalam hati sambil berpikir kalimat dan topik yang tepat untuk mengajak bicara Devan.
Ketika tidak menemukan kalimat yang tepat, Janet meletakan benda kecil di atas meja. "Apa itu?" Tanya Devan singkat tanpa melihat Janet.
"Tespek." Jawab Janet singkat tanpa mengalihkan matanya dari wajah Devan.
"Saya tahu nama benda itu. Tapi bukan itu maksud pertanyaan saya. Mengapa kau tunjukan benda itu pada saya." Devan jadi emosi melihat Janet tetap duduk di depannya, menunggu.
Namun Janet tidak mundur, bahkan dia tertegun mendengar kalimat paling panjang yang dikatakan Devan selama hampir setahun mereka tinggal bersama.
"Dua garis itu, menunjukan tanda positif. Kemungkinan besar saya hamil, Mas" Janet memberanikan diri menjelaskan, agar tidak terlambat dan akan berhadapan dengan amarah Devan.
"Hamil? Dengan siapa?" Devan terkejut, hingga bertanya dengan nada suara tinggi.
"Hamil dengan siapa? Apa ada pria lain yang tinggal di sini selain Mas Devan?" Janet bertanya dengan suara bergetar. Rasa takut terhadap respon Devan mendorong Janet bertanya.
"Apa kau cuma tinggal di sini, saat saya tidak ada? Kau tidak pernah keluar?" Devan bertanya sambil memikirkan cara untuk meredahkan kegelisahan hatinya.
Janet menatap Devan tanpa beralih. Jantungnya berdegup tidak teratur, sebab pertanyaan Devan mengisyaratkan bahwa kesetiaannya sedang dicurigai.
"Selama saya dibawa ke sini, cuma satu kali keluar dari sini, ke villa itu." Janet mengatakan penuh tekanan pada villa milik keluarga Devan. Mata Janet mulai mendung, tapi coba membela diri dengan suara bergetar.
"Apa kau kira saya tidak tahu kau turun ke lobby?" Devan menatap tajam.
"Saya cuma beli kebutuhan. Jadi Mas Devan mau mengelak, kalau ini bukan anak Mas?" Janet bertanya sambil memegang perutnya yang masih rata.
"Pergi minta tanggung jawab lelaki yang menghamilimu." Devan berkeras kalau dia tidak menghamili Janet.
"Apa Mas Devan mau ingkar, kalau saat saya di bawa ke sini belum disentuh oleh lelaki? Saya baru 19 tahun, masih suci." Hujan mulai turun di mata Janet. Hatinya gemetar membayangkan dia hamil dan Devan tidak mau bertanggung jawab.
"Kau jangan mengkhayal bisa punya anak dari saya. Kau kira saya tidak mengamankan diri, supaya tidak menghamilimu? Kau dan Papamu tidak bisa menjebak saya dengan cara ini." Devan berkata tegas dan panjang.
Devan jadi ingat hampir setahun lalu, Maminya datang mengantar seorang gadis muda belia bersahaja kepadanya. 'Devan, ini hadiah ulang tahunmu. Kau boleh tinggal dengannya dan buat dia hamil. Kalau bisa hamil, nikahi dan kau jadi pewaris.' Ucap Maminya tegas dan tidak bisa ditawar.
Devan yang sudah punya kekasih, tidak bisa terima pemberian Maminya begitu saja. Namun dia tidak bisa menolak Janet yang diberikan padanya sebagai hadiah.
Oleh sebab itu, setiap kali berhubungan intim dengan Janet dia selalu menggunakan pengaman, agar tidak terjadi seperti rencana Maminya. Dia ingin punya anak dan menikahi kekasihnya.
Tetapi dia tidak bisa menyingkirkan Janet setelah tahu Maminya mendapatkan Janet dengan membayar hutang Papanya. Jadi dia menerima dan jadikan Janet sebagai pemuas nafsu, kalau dibutuhkan.
"Menjebak? Bukannya saya yang dijebak di sini, Mas?" Janet berani bertanya.
"Kau berada di sini bukan dijebak, tapi akibat ulah orang tuamu yang membayar hutang dengan anaknya."
Ucapan Devan seperti menggores luka masa lalu yang coba dilupakan Janet dengan menerima nasib sebagai anak biasa dari orang tua yang biasa berjudi online. Hingga menjual segala miliknya, termasuk anak perempuan satu-satunya.
"Pergi ke lelaki yang menghamilimu, atau kembali ke rumah orang tuamu." Devan kembali mengatakan sambil menggerakan tangan.
"Semua hutang orang tuamu saya anggap lunas, kalau kau menutup mulut, tidak hamil. Tapi jika tidak, saya akan membuat kau dan orang tuamu membayar hutang dan berakhir di penjara." Ancam Devan dengan wajah keras, hingga tulang rahangnya terlihat jelas.
Wajah Janet seketika pucat pasih mendengar ancaman Devan. Kakinya seakan terpantek ke lantai, tidak bergerak. 'Bagaimana kalau benar aku hamil?' Janet bertanya dalam hati yang panik.
Rasa takut mulai menjalar ke hati, kalau harus kembali ke rumah. Dia tidak mau terulang yang dialami setahun lalu, menjadi alat tukar Papanya untuk memperoleh uang buat berjudi.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...